Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Pengganggu Kecil


__ADS_3

Seorang pria saat ini sedang tertidur dengan nyaman pada kursi santainya yang berada di atas sebuah Yacth mewah yang dia tumpangi tadi. Dengan hembusan angin yang menyejukkan, tentu saja membuat pria itu semakin nyaman terlelap pada bagian yang teduh dari Yacth mewah tersebut.


Padahal, kapal yang membawa dirinya menuju pulau pribadi miliknya saat ini sudah sampai ditempat tujuan sedari tadi. Namun orang-orang yang berada di sana, hanya membiarkan pria itu untuk terlelap dan menikmati waktu tidurnya ditempat itu.


“Hoamm.......”


Dan begitulah suara orang menguap setelah pria yang terlelap tadi mulai membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya yang sebelumnya tertutup. Setelah dirinya mulai sepenuhnya sadar, akhirnya dirinya mulai bangkit dari tempat dirinya tidur dan mulai duduk di atas kursi santai tempat dirinya terlelap tadi.


“Anda sudah bangun Tuan Zen?” begitulah sambutan suara dari orang yang menyapa Zen, setelah dirinya sudah bangun dari tidur siangnya yang nyaman.


“Ah... aku ketiduran ya” Balas Zen yang mulai meregangkan tubuhnya sejenak sambil melihat area sekeliling tempatnya berada.


“Anda sudah tertidur selama tiga jam tuan, dan kami tidak ingin mengganggu waktu tidur anda tadi” balas wanita itu yang memang ditugaskan untuk mengawasi Zen.


Memang membangunkan atau mengganggu tidur dari seorang Sloth adalah dosa besar bagi orang yang melakukannya. Jadi Mira, Nia dan semua pegawai yang bekerja ditempat dimana Zen tertidur tadi, tidak akan mengganggu tidurnya karena mereka tahu itu merupakan hal yang sangat salah.


Jadi saat Zen tertidur tadi hingga sekarang, dirinya tidak dibangunkan oleh siapapun, walaupun tujuan mereka yaitu menuju pulau pribadi milik Zen sudah sampai sedari tadi.


“Ya... terima kasih kalau begitu” ucap Zen yang mulai bangkit dari tempat duduknya dan bersiap meninggalkan kapal mewah tersebut.


“Apakah perlu saya hantarkan menuju kediaman anda Tuan?” tanya wanita itu sekali lagi.


“Tidak perlu. Lagipula aku bisa menuju sana sendirian. Apalagi aku bisa merasakan aura dari Mira yang akan menjadi panduan diriku untuk menuju ke sana” ucap Zen.

__ADS_1


Memang semua pegawai yang bekerja untuk Zen mengetahui semua rahasianya dan mereka sudah diikat sumpah untuk tidak membocorkan tentang identitas Zen kepada siapapun. Jadi wanita yang mendengar tentang merasakan aura dari Mira hanya mengangguk saja, karena dirinya sudah mengerti tentang apa yang dikatakan oleh Zen.


“Baiklah tuan, kalau begitu selama menikmati waktu anda ditempat ini” ucap wanita itu kembali dan mendapatkan anggukan dari Zen, dan dirinya mulai turun dari Yacth mewah yang ditumpanginya lalu menuju sebuah kediaman yang mewah pada pulau tempatnya berada saat ini.


Pulau pribadi Zen memang merupakan pulau buatan yang sengaja dibuat oleh adiknya Pride yang merupakan deadly sins terakhir yang meninggal. Tiga ratus tahun yang lalu, Pride sangat jatuh cinta dengan pulau ini dan memutuskan membuat sebuah kediaman miliknya ditempat ini.


Karena dirinya sudah meninggal, akhirnya pulau dan kediaman yang sudah dia ciptakan terpaksa harus ditinggalkan dan hanya diurus oleh malaikat maut yang bertugas di wilayah ini untuk merawatnya.


“Ya... selera dari seseorang yang mempunyai kebanggan tingkat tinggi memang sangat menakjubkan” ucap Zen yang cukup takjub dengan hasil karya adiknya.


Pulau tersebut memang berjarak tiga puluh menit dari pelabuhan khusus yang menjadi satu-satunya akses menuju tempat ini. Pulau yang seluas sekitar 15 hektar itu memiliki berbagai fasilitas mewah diatasnya dan akan membuat beberapa orang akan terpesona dengan keindahan dari pulau tersebut.


Salah satunya adalah sebuah resort mewah yang dimana Zen saat ini sudah berjalan menuju ke sana. Sambil menikmati perjalanannya ditempat itu dan melihat keindahan pulai pribadinya, Zen dikejutkan dengan suara langkah kecil yang mendekat kearahnya.


Dengan langkah kecilnya, gadis kecil itu terus berlari sambil melihat kearah belakang, sehingga dirinya saat ini tidak menyadari bahwa dia sedang berlari kearah Zen dan akan menabraknya. Apalagi memang penglihatan gadis kecil itu sangat fokus kearah belakangnya dan tidak melihat arah depan saat dirinya berlari.


“Cih... mereka semua pembohong. Katanya pa-” namun sebelum gadis kecil itu menyelesaikan gumaman yang keluar dari mulut kecilnya, dirinya malah menabrak tubuh Zen yang masih diam ditempatnya dengan tenang.


Tentu gadis kecil itu langsung terperosok kebawah tempat dimana Zen berdiri, dan saat ini dirinya sudah terjatuh di atas pasir pantai putih dan seluruh tubuhnya sudah dipenuhi oleh pasir pantai tersebut.


Zen yang melihat itu mulai mengitari gadis kecil itu sejenak, hingga gadis itu mulai bangkit dari tempat dirinya jatuh dan langsung menatap Zen dengan tatapan emosi.


“Siapa kamu? mengapa kamu menghalangi jalanku!” teriak gadis kecil itu kepada Zen.

__ADS_1


Zen dengan wajah datarnya tidak menjawab pertanyaan gadis kecil itu, tetapi masih fokus mencari tahu aura yang dikeluarkan oleh gadis kecil yang terlihat sangat marah itu, yang menurutnya auranya sangat akrab.


Namun disisi lain, karena melihat pria yang dia ajak berbicara tidak menjawabnya, gadis itu akhirnya mulai mendekat kearah Zen dan mencoba menginjak kakinya karena dirinya sangat kesal.


“Aku akan melaporkanmu kepada Ayahku... pasti kamu akan langsung dipecat dari sini” teriaknya yang mengira bahwa Zen merupakan pegawai ditempat ini, namun tentu saja Zen tidak menghiraukannya dan hanya menatap gadis kecil itu semakin intens.


Melihat pria didepannya tidak menghiraukannya, gadis kecil itu semakin emosi dan dengan lengan mungilnya yang sudah mengepal, gadis itu mencoba memukul bagian perut dari Zen, karena memang tinggi badan gadis itu hanya bisa menggapai bagian perutnya saja.


“Ini... rasakan... pukulan... dariku” gumam gadis itu sambil mendaratkan satu persatu pukulannya kearah Zen.


Anehnya, pukulan dari gadis itu tidak membuat Zen terpengaruh, bahkan gadis kecil itu bingung mengapa pria itu tidak bergeming dengan pukulannya. Namun saat sedang asik memukul, Zen mulai meraih dress bagian belakang dari gadis kecil itu dan mengangkatnya keatas.


“A-Apa yang kamu lakukan... turunkan aku!” teriaknya sambil mencoba memukul Zen, namun tangannya tidak sampai untuk menggapai Zen.


Zen mulai mengangkat gadis kecil itu hingga saat ini wajah mereka sudah sejajar. Tentu saja seluruh tubuh gadis kecil itu mulai meronta agar bisa lolos dari cengkraman Zen, tetapi Zen tidak memperdulikannya dan terus menatap gadis kecil tersebut.


“Siapa sebenarnya dirimu?” tanya Zen yang merasa pernah merasakan aura dari gadis kecil itu, namun dirinya lupa dimana dirinya pernah merasakannya.


Walaupun dirinya merasa akrab dengan setengah aura yang dimilikinya, tetapi setengahnya lagi adalah sebuah aura baru yang pernah Zen rasakan. Jadi sampai saat ini Zen masih belum bisa mengidentifikasi gadis kecil yang saat ini dirinya perhatikan.


“Lepaskan aku... atau aku akan memberitahu Ayahku tentang perilaku yang aku terima ini, dan pasti kamu akan langsung dihukum olehnya!” teriak gadis itu yang tidak memperdulikan pertanyaan yang dilontarkan oleh Zen dan malah fokus untuk mencoba melarikan diri dari cengkraman Zen.


Dengan butiran pasir pantai yang terus terjatuh dari tubuh gadis itu dari sisa-sisa pasir pantai yang masih menempel pada tubuhnya, gadis itu mulai meronta namun tidak dihiraukan oleh Zen. Hingga akhirnya sebuah pedang yang bersinar berwarna putih mulai menempel pada leher dari Zen.

__ADS_1


“Lepaskanlah Nona Muda Ana atau akan aku hilangkan jiwamu seutuhnya dan akan menerima siksaan yang sangat amat berat”


__ADS_2