Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Bersabarlah


__ADS_3

Sebuah kabar lebih mengejutkan saat ini mulai didengar oleh Santi, setelah dirinya menanyakan sesuatu kepada Zen. Tentu dirinya tidak menyangka dengan apa yang baru dirinya dengar tadi, apalagi perkataan itu keluar dari mulut pria yang dirinya cukup kenal sikapnya.


“Kamu sudah menikah?” tanya Santi yang kembali mengkonfirmasi apa yang dirinya dengar itu.


Awalnya Santi sempat menanyakan mengapa pria itu bisa berada pada konferensi pers yang diselenggarakan oleh Perusahaan Grand Media tadi. Apalagi dirinya tidak sengaja melihat keberadaan Zen tertangkap kamera dari stasiun televisi yang meliput konferensi pers tersebut.


Namun jawaban yang diberikan oleh Zen kepadanya langsung membuat dirinya terkejut. Karena Zen memberitahukannya semuanya, termasuk dirinya yang menikah dengan Veronica Safira, sang pemilik dari perusahaan tersebut.


“Kenapa, apakah aku tidak boleh menikah?” tanya Zen kemudian, yang cukup bingung dengan tanggapan yang diberikan Santi atas perkataannya itu.


Memang Zen belum memutuskan untuk meninggalkan gedung kepolisian yang dirinya datangi tadi, karena memang saat ini Santi sudah menyajikannya beberapa makanan ringan, dan dirinya memutuskan untuk menyantapnya terlebih dahulu sambil mengobrol dengan dirinya.


Apalagi sudah banyak hal yang mereka obrolkan sedari tadi, termasuk Zen yang merasa cukup khawatir dengan keadaan Santi saat ini. Tentu Santi langsung menyangkal apa yang dikatakan Zen kepadanya, Walaupun Zen sudah memberitahukannya, hingga membuat Santi saat ini mulai mengubah arah pembicaraan mereka.


“Memangnya kapan kamu menikah, dan mengapa kamu tidak memberitahuku?” tanya Santi kemudian.


“Aku menikah dengannya secara mendadak. Jadi aku belum sempat memberitahu siapapun” balas Zen kemudian.


Tentu mendengar jawaban Zen yang dirinya lontarkan dari mulutnya itu, membuat pemikiran liar dari Santi mulai memasuki kepalanya. Karena memang alasan apalagi yang membuat kedua orang itu menikah secara mendadak, kalau bukan dengan alasan yang sedang dipikirkan oleh Santi saat ini.


“Tapi aku tidak melihat sebuah tanda bahwa Istrimu itu sedang hamil, Zen.” Ucap Santi yang menggunakan spekulasi liarnya, untuk memberikan opininya kepada Zen.


Mendengar itu, tentu Zen juga mulai bingung dengan arah pembicaraan yang sedang dilakukan oleh wanita yang berada dihadapannya saat ini. Karena memang, apa hubungannya percakapan yang sedang dirinya lakukan saat ini, dengan istrinya yang sedang hamil sesuai dengan perkataan yang dilontarkan oleh Santi tadi.


“Siapa memangnya yang hamil?” tanya Zen bingung.


“Istrimu, siapa lagi? Bukankah kamu menikah dengan dirinya karena dirinya hamil?” tanya Kelly kemudian.


Sebenarnya perkataan Santi itu, dirinya lontarkan tanpa memikirkannya terlebih dahulu, karena memang dirinya sangat penasaran tentang hubungan dari Zen. Tentu kabar tentang dirinya menikah secara mendadak sangat mengejutkan Santi, dan membuatnya berspekulasi seperti itu.


Apalagi sebenarnya Santi bisa melihat saat konferensi pers tadi bahwa tubuh dari Vero sama sekali tidak berubah, jika apa yang dirinya katakan itu memanglah benar. Tubuh dari Vero terkenal sangat ideal. Maka dari itu dirinya cukup terkenal dan digandrungi banyak pria karena selain wajahnya yang cantik, lekuk tubuhnya juga sangatlah indah.

__ADS_1


Tetapi saat konferensi pers tadi, tentu bisa terlihat bahwa Vero tidak terlihat seperti wanita yang sedang mengandung. Bahkan bisa terlihat dirinya tidak menunjukan bahwa berat badannya meningkat seperti wanita hamil pada umumnya, apalagi tidak ada tanda-tanda bahwa bagian perutnya menonjol.


Apalagi jika dirinya benar-benar hamil, tidak mungkin bukan dirinya memberanikan diri untuk menggelar konferensi pers, yang dirinya gunakan untuk membersihkan namanya. Karena dipastikan namanya tidak akan bersih dan dirinya membuat sebuah masalah baru.


“Hahh... aku menikahinya bukan karena dirinya hamil Santi. Dan juga, dirinya belum hamil saat ini. Jadi, jangan berspekulasi seperti itu, karena aku mungkin akan menginginkannya” balas Zen kemudian.


Bagi seorang Zen, keluarga adalah nomor satu baginya. Jadi, keinginannya yang selama ini belum terwujud adalah mempunyai sebuah keluarga yang utuh yang saling melengkapi. Namun sayangnya, takdirnya selama ini selalu saja terhalangi dengan namanya wanita yang selalu saja ingin menggunakan statusnya saja.


Sebenarnya dirinya bisa saja menghamili sembarang orang dengan statusnya tersebut. Namun dirinya tentu tidak ingin anaknya kelak akan berperilaku seperti para wanita, yang kehidupan mereka hanya menjadi penjilat saja, dan mungkin akan mentelantarkan anaknya kelak.


Jadi, Zen cukup berhati-hati jika dirinya akan menginginkan seorang anak. Apalagi jika beberapa pihak memang kelak akan mengandung anaknya, maka mereka harus benar-benar diawasi secara ketat karena mungkin mereka bisa meregang nyawa saat menjalaninya.


“Lalu, mengapa kamu menikah dengannya?” tanya Santi kemudian.


“Hehh... pertanyaan bodoh apa yang sedang kamu tanyakan itu. Tentu saja aku menikahinya karena kami menginginkannya” balas Zen kemudian.


Mendengar itu, tentu Santi merasa malu karena rasa keingintahuannya itu, memperlihatkan sisi bodohnya kembali kepada Zen. Apalagi entah mengapa saat dirinya berbincang dengan Zen saat ini, rasa tidak bersemangat yang dirinya rasakan beberapa hari ini seakan menghilang.


“Lalu bagaimana dengan Angel, apakah kamu sudah memberitahukan dirinya?” tanya Santi kemudian, karena dirinya tahu perasaan yang dimiliki oleh wanita itu kepada Zen.


“Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku lupa memberitahukan kepada siapapun tentang statusku?” balas Zen kemudian, sambil menyantap makanan ringan yang disediakan untuknya.


Santi hanya mengangguk saja mendengar jawabannya, hingga akhirnya Zen sudah selesai menyantap semua makanan ringan yang Santi sediakan dan dirinya bersiap untuk beranjak dari sana untuk kembali menuju kediamannya.


“Lalu, kapan aku bisa mendengar hasil penyelidikan kasus tersebut, Zen?” tanya Santi kemudian.


“Bersabarlah. Kalau aku menemukan petunjuk, aku akan langsung memberitahukan dirimu secara langsung” ucap Zen yang sudah dipimpin menuju area luar dari gedung kepolisian ini oleh Santi.


Tentu pemandangan itu cukup aneh dari beberapa bawahan dari Santi saat ini, karena cukup jarang wanita itu berinteraksi dengan pria. Bahkan saat ini dirinya terlihat cukup senang dengan keberadaan pria tersebut, karena terlihat dari ekspresi wajah yang sedang dirinya tunjukan.


Apalagi memang dengan kecantikan dirinya, bisa dikatakan banyak pria sudah mencoba mendekatinya. Namun mereka semua hanya diacuhkan saja olehnya. Bahkan beberapa bawahannya yang merupakan seorang pria, yang termasuk beberapa orang yang dipercayainya tidak akan diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


“Kalau begitu, aku kembali” balas Zen, yang memutuskan untuk meninggalkan tempatnya, setelah dirinya sudah diantar menuju pintu keluar dari gedung tempatnya berada.


“Ingat untuk menghubungi diriku, setelah mendapatkan hasilnya” ucap Santi kemudian, yang dimana suaranya saat ini bisa terdengar dengan jelas oleh beberapa pihak.


Tentu hal itu langsung membuat beberapa pihak mulai berspekulasi tentang hubungan atasannya dengan pria yang baru saja keluar dari gedung ini. Namun Santi yang tidak sadar dengan tindakannya, yang saat ini menjadi bahan perhatian. Hanya menghiraukannya saja dan memutuskan untuk kembali menuju ke ruangannya.


Zen sendiri saat ini seperti biasa hanya mulai melangkahkan kakinya, menuju area tempat parkir dari mobil yang dikendarainya menuju tempat ini. Karena memang saat ini dirinya menggunakan kendaraan yang dipinjamkan oleh Vero kepadanya.


Memang wanita itu mempunyai banyak kendaraan mewah yang dimilikinya, sehingga Zen berkesempatan untuk menggunakan salah satunya, setelah Vero mengijinkan dirinya untuk membawanya. Jadi, Zen tadi langsung membawanya untuk dikendarainya menuju kantor kepolisian tempat Santi bekerja.


“Tuan Sloth” namun sebelum dirinya menaiki mobilnya, seseorang saat ini mulai menghampirinya.


Mendengar dirinya dipanggil, tentu Zen saat ini mulai menatap pihak yang memanggilnya itu. Hingga pandangannya saat ini sedang tertuju kepada seorang wanita, dengan senyum yang terpampang diwajahnya, yang menggenakan setelan kimono dan sedang membungkuk kepadanya.


“Maafkan karena saya mengganggu waktu anda Tuan Sloth. Tetapi Dewi yang aku layani ingin bertemu dengan anda” balasnya kemudian, sambil menunjukan sebuah mobil Rolls Royce yang saat ini terparkir tidak jauh dari tempat Zen memarkir kendaraannya.


“Siapa memangnya Dewimu?” tanya Zen kemudian.


“Tentu saja Sang Dewi Cahaya, Nona Amaterasu, Tuan.” Balasnya.


Zen hanya mengangguk saja mendengar pihak yang sedang mencarinya itu. Karena Zen ingin tahu apa yang sebenarnya sedang dicari oleh pihak itu darinya. Hingga akhirnya Zen mulai mengiyakan undangan tersebut dan saat ini langsung dibimbing menuju kearah mobil mewah tersebut.


Beberapa antek Dewa yang berpenampilan sebagai bodyguard, saat ini bisa terlihat sedang menjaga mobil tersebut. Dan saat Zen mendekati mereka, salah satu dari mereka mulai membuka pintu penumpang dari mobil yang mereka jaga tersebut.


“Silahkan masuk, Tuan Sloth” ucap seorang wanita yang sangat cantik dari dalamnya, saat pintu mobil yang terbuka itu, mulai menunjukan rupanya.


Zen dengan senang hati mulai masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan untuknya, dan saat ini sudah duduk disebelah wanita yang sangat cantik itu. Apalagi dirinya saat ini mempunyai firasat bahwa wanita itu mempunyai sesuatu yang dirinya butuhkan saat ini.


“Maaf, Tuan Sloth. Bisakah saya meminta kunci mobil anda?” tanya seorang bawahan dari Amaterasu, setelah Zen sudah duduk ditempatnya.


Zen langsung saja mengeluarkan kunci mobilnya, dan memberikannya kepada pria tersebut, tanpa bertanya untuk apa dirinya memintanya. Hingga akhirnya pria itu sudah menerima kuncinya lalu mulai beranjak dari tempatnya, setelah dirinya menutup pintu penumpang tempat dimana Zen masuk kedalam mobil tersebut tadi.

__ADS_1


“Kalau begitu. Bagaimana jika kita pergi menuju kesebuah tempat, untuk mendiskusikan sesuatu, Tuan Sloth”


__ADS_2