
Suara helikopter yang menggelegar, saat ini mulai membuat beberapa pihak merasa senang saat mendengarnya. Apalagi, pihak yang menumpang pada helikopter yang sedang mendekat itu, saat ini sangat dinantikan kedatangannya ditempat tersebut.
Mereka sudah tidak sabar dalam menantikan sosok yang sangat mereka cintai itu untuk tiba. Apalagi, kedatangannya saat ini bisa dikatakan datang bersama orang yang sangat dicintainya, dan maksud kedatangan mereka ketempat ini adalah untuk saling mengenal dan mengesahkan hubungan mereka pada kerajaan ini.
Jadi, kedatangan dari pihak yang sedang menumpang sebuah helikopter yang akan mendarat itu, saat ini kehadirannya ditempat ini sangat dinantikan oleh seluruh pihak yang sudah menunggunya, bahkan mereka merasa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sosoknya tersebut.
"Ah... aku sudah tidak sabar bertemu Paman Zen lagi" ucap seorang gadis kecil, yang sangat bersemangat menantikan pihak yang mereka tunggu itu.
Bisa dikatakan, gadis kecil yang mengoceh itu sudah pernah bertemu dengan sosok yang sangat mereka nantikan kedatangannya itu, dan bisa dikatakan pernah menghabiskan waktu bersama dengan dirinya. Jadi, beberapa pihak saat ini semakin penasaran dengan sosok yang sedang mereka nantikan kedatangannya itu.
"Aku juga nanti akan bertemu dengan Paman Zen." dan begitulah tanggapan yang dirinya terima, dari salah satu saudaranya yang berada juga di sana.
Tentu dengan cerita yang dilebih-lebihkan oleh gadis kecil itu disaat dirinya bertemu dengan sosok Paman mereka, membuat seluruh saudara yang seumuran dengannya mulai penasaran dengan sosok tersebut. Apalagi memang mereka belum sama sekali bertemu dengannya.
"Tenanglah oke. Kalian bisa bertemu dengannya nanti" dan begitulah ucapan dari seorang wanita, yang mencoba menenangkan putrinya dan seluruh keponakannya yang bisa dikatakan sedang bersemangat saat ini.
Seluruh Seven Heavenly Sin atau bisa dikatakan adik-adik Zen sudah berkumpul semuanya dan bersiap menyambut kedatangan Kakak mereka. Tidak lupa juga, seluruh saudara Ipar Zen yang berdiri di samping suami mereka masing-masing, juga sedang menantikan kedatangan Zen dan saat ini mereka juga berada di sana.
Seluruh malaikat maut dan para malaikat yang berada di sana, juga mulai berkumpul dan bersiap menyambut Zen. Tetapi, beberapa pihak yang menggemaskan ternyata juga ikut bersiap dalam menyambut kedatangan Pamannya, yang saat ini helikopter yang sedang dirinya tumpangi akan mendarat.
"Ingat, jangan meminta macam-macam kepada Paman kalian, oke?" ucap salah satu adik dari Zen, kepada seluruh seluruh keponakannya yang sangat bersemangat menantikan kedatangan Paman mereka.
"Baik, Paman Azrael" balas mereka semua serempak atas peringatan yang diberikan oleh Paman mereka.
Seperti yang diketahui, Zen akan mengikuti semua permintaan dari seluruh keluarganya. Maka dari itu, Azrael sudah mewanti-wanti seluruh keponakannya, agar bersikap yang wajar kepada Kakaknya itu. Apalagi, mereka tidak ingin merepotkan Kakaknya, yang mungkin datang kesini dengan maksud untuk bersenang-senang bersama Istrinya.
"Baiklah, akhirnya mereka tiba" hingga akhirnya, Azrael akhirnya mulai melihat bahwa Helikopter yang membawa Kakaknya beserta keluarganya mulai mendarat pada tanah lapang dari Istana tempat dimana mereka berada.
Helikopter yang membawa Zen, Vero dan Bibi Leni akhirnya mendarat tepat didepan Istana yang besar yang bernama King Palace. Dengan baling-baling helikopternya yang sudah mulai melambat, saat ini beberapa orang sudah membukakan pintu helikopter itu agar Zen dan yang lainnya bisa keluar dari sana.
Dengan turun satu persatu, Zen saat ini akhirnya mulai menggandeng tangan dari Vero dan bersama dengannya mulai berjalan menuju kearah keluarganya berada yang terlihat sudah menunggu mereka di sana. Bibi Leni juga mulai mengikuti langkah mereka, dengan didampingi oleh Alfred yang menemani keberadaanya.
Hingga akhirnya sosok-sosok yang baru turun dari helikopter tersebut sudah mulai terlihat jelas oleh semua pihak yang sudah menantikan kedatangan mereka. Bahkan seluruh adik dari Zen, tidak kuasa menahan senyum mereka saat melihat pemandangan kedatangan Kakaknya itu bersama Istri yang sangat dirinya cintai itu.
__ADS_1
"Sial, mereka semua sekumpulan orang yang penting pada Dunia ini, Zen" Namun disisi lain, Vero malah mulai gugup melihat beberapa pihak yang akan menyambut kedatangannya, yang dirinya tahu merupakan keluarga dari Zen.
Tentu siapa yang tidak mengenal pihak yang sedang menantikan kedatangan Zen ditempat tersebut. Mulai dari tujuh bangsawan utama dari Kerajaan Vatikan beserta keluarga mereka, beserta beberapa pebisnis ternama yang juga akan menyambut kedatangan mereka saat ini.
Memang, keberadaan mereka sangat mengintimidasi sosok Vero yang mulai merasa sedikit risau untuk bertemu dengan mereka. Karena bisa dibilang, statusnya yang merupakan orang penting di negaranya, tidak akan bisa menandingi pihak-pihak tersebut yang sedang menanti kedatangan mereka di sana.
"Tenanglah. Kamu akan lebih terkejut saat melihat sikap mereka yang tidak seperti bayanganmu nanti" ucap Zen yang menenangkan Istrinya itu yang terlihat risau tersebut.
Zen yang saat ini menggandeng Istrinya, tentu saja membuat beberapa pihak yang melihatnya sangat bahagia. Apalagi, seluruh adik-adiknya yang merasa sangat senang, bahwa Kakak mereka yang paling mereka sayangi itu akhirnya mempunyai orang yang sangat mencintai dirinya.
Bahkan mereka sudah tidak sabar menyambut kedatangannya, yang saat ini sudah berjalan kearah mereka semua. Tetapi, sepertinya apa yang ingin mereka lakukan itu harus tertunda sejenak, karena sepertinya beberapa pihak lebih antusias dalam menyambut kedatangan Zen ketempat ini.
"Paman Zen!" teriak beberapa anak kecil yang saat ini langsung berlarian kearah Zen.
Anak-anak yang tingkahnya imut itu, tentu langsung berhamburan menyambut Pamannya yang terkenal sangat baik itu. Apalagi, ada seorang gadis kecil yang menyebarkan rumor berlebihan tentang Paman mereka yang baru datang itu, karena bisa dikatakan dirinya pernah bertemu dengannya.
"Hahh.. seperti biasa. Dirinya menjadi magnet dari pemilik darah kita" ucap Mikhael yang melihat anaknya dan beberapa keponakannya mulai berlari kearah Zen.
Tentu tidak ada yang heran melihat pemandangan itu. Karena bisa dikatakan, sikap seluruh Heavenly Sins juga pernah seperti itu disaat mereka masih diasuh oleh Zen yang notabennya lebih dewasa dari mereka, pada saat mereka masih tinggal di alam mereka masing-masing
Disisi lain, Zen langsung mulai tersenyum melihat beberapa anak kecil saat ini berlari menghampirinya. Dengan melepaskan sejenak genggaman tangan dari Vero sejenak, akhirnya Zen mulai menyambut semua keponakannya itu yang berlari kearahnya.
"Paman!" teriak para keponakan Zen yang saat ini sudah berebutan untuk memeluk sosok Zen, yang dimana saat ini dirinya dengan senang hati menyambut pelukan mereka.
Walaupun tidak semua keponakan dari Zen saat ini datang menghampirinya. Namun tetap saja, Zen merasa senang melihat keponakan-keponakannya itu yang saat ini sudah datang dan menyambutnya secara langsung, dan saat ini sudah memeluk dirinya.
Bahkan Vero yang tangannya dilepaskan genggamannya oleh Zen, tidak merasa kesal dengan sikap suaminya. Karena memang, bisa dikatakan dirinya juga sangat senang melihat interaksi suaminya bersama seluruh keponakannya itu.
Apalagi sama seperti Zen, dirinya merasa seluruh keponakan dari Suaminya itu sangatlah imut-imut. Bahkan dirinya juga ingin melakukan hal yang sama dengan suaminya, dalam menyambut sosok-sosok yang menggemaskan itu.
“Ho... ayo cepat perkenalkan diri kalian” ucap Zen yang saat ini mulai menanyakan satu persatu nama mereka.
Memang dirinya sudah mengenal Ana, si gadis kecil yang umurnya setara 6 tahun itu. Tetapi masih ada empat orang lagi keponakannya yang saat ini datang bersamaan dengan Ana, untuk mendekat kearah Zen dan saat ini akhirnya mereka sudah mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing kepada Zen.
__ADS_1
Pertama adalah Gerald, yang merupakan keponakan Zen yang tertua. Lalu, ada si kembar Meta dan Mela. Lalu selanjutnya Agnes dan terakhir Kesi yang terlihat paling kecil diantara mereka. Memang bukan hanya itu saja keponakan dari Zen yang menyambut kedatangannya.
Karena beberapa dari mereka yang lain, terlihat berada di gendongan orang tua mereka masing-masing, karena umur mereka masihlah belum cukup untuk setidaknya bergerak sendiri seperti seluruh keponakannya yang menyambut kedatangan Zen.
“Hoho... kalau begitu, perkenalkan Ini Istri Paman” Ucap Zen yang mulai memperkenalkan Istrinya kepada mereka.
“Halo semuanya. Nama Bibi, Veronica. Kalian bisa panggil Bibi Vero saja kalau kalian mau” ucap Vero yang juga merasa bersemangat menyambut kedatangan anak-anak yang imut itu saat menyambut kedatangan dirinya bersama suaminya tadi.
Vero langsung merasa melupakan semua kegugupannya disaat dirinya akan bertemu dengan seluruh keluarga dari Zen, setelah melihat mereka. Apalagi, tingkah mereka kepada Zen bisa dibilang sangat menggemaskan dan Vero juga sangat penasaran dengan mereka.
Maka dari itu, dirinya sangat amat senang melihat keberadaan keponakan dari suaminya itu dan sudah tidak sabar berinteraksi bersama mereka satu persatu karena menurutnya akan sangat menyenangkan jika dirinya bisa berinteraksi dengan mereka.
“Kalau begitu, ayo kita menuju ke orang tua kalian” ucap Zen yang akan beranjak dari sana.
“Aku mau gendong” tetapi seperti biasa, ada saja keponakannya yang mulai bersikap manja kepada Zen dan saat ini sudah meminta untuk digendong kepadanya.
Zen dengan senang hati menuruti perkataan dari keponakannya. Maka dari itu, Zen mulai menaruh Agnes dipundaknya lalu meraih Ana dan Kesi pada gendongan tangannya. Sedangkan, si kembar Meta dan Mela karena tidak mendapatkan kesempatan, saat ini mulai menatap sosok Vero.
Tentu melihat tatapan yang diberikan kepadanya, Vero saat ini mulai menggendong kedua keponakan dari suaminya itu dan mulai melangkahkan kakinya mengikuti dirinya, yang sudah berjalan beriringan dengan Gerald yang memutuskan untuk berjalan beriringan dengan Pamannya saja.
“Hahh... maafkan mereka sudah merepotkan kalian Kak, Kakak Ipar” ucap Mikhael yang merupakan pihak yang pertama kali yang menyambut sosok Zen di sana.
“Siapa yang merasa merepotkan, kami sangat senang melakukannya. Bukan begitu Istriku?” tanya Zen dan langsung membuat Vero cukup terkejut mendengar perkataan suaminya itu.
Memang diakui sebagai Istri dari Zen merupakan sebuah kesenangan bagi Vero. Namun, diakui oleh Zen didepan seluruh keluarga dari suaminya yang bisa dikatakan status mereka sangatlah tinggi merupakan sesuatu yang sangat berbeda.
Tentu dirinya masih merasa sedikit gugup dengan semua pemikiran yang dirinya pikirkan tentang mereka. Apalagi, dirinya sangat takut pemikiran yang selalu mengganggunya itu akan terjadi dan membuat dirinya tidak disukai oleh seluruh keluarga dari Zen.
Maka dari itu, dirinya berusaha bersikap yang normal dan sebisa mungkin tidak menyinggung beberapa pihak yang saat ini sudah menyambut kedatangannya dengan suaminya, yang bisa dikatakan mereka semua adalah keluarga besar dari Suaminya.
“T-Tentu saja. Kami tidak kerepotan” balas Vero yang akhirnya menjawab perkataan suaminya itu.
Mendengar perkataan Vero dan kegugupan dari dirinya, tentu beberapa diantara keluarga Zen hanya tersenyum saja mendengarkan dirinya. Karena bisa dibilang, beberapa dari mereka juga awalnya bersikap seperti Vero saat pertama kali mengalami hal seperti itu.
__ADS_1
Jadi wajar, beberapa dari mereka mulai tersenyum karena mereka mulai mengingat masa lalu mereka, yang bisa dikatakan pernah bersikap yang sama seperti Vero saat mengetahui semua hal tentang sosok yang mereka nikahi.
“Kalau begitu, bagaimana jika kita semua masuk dan berbincang lebih jauh didalam”