Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Perdebatan Antara Konglomerat


__ADS_3

Tentu acara yang megah dan dihadiri beberapa pihak penting, saat ini terlihat terjadi sebuah perdebatan yang terjadi ditempat tersebut. Tentu beberapa pihak saat ini sedang menonton saja sesuatu yang terjadi di sana, karena bisa dikatakan mereka tidak bisa melakukan apapun atas perdebatan tersebut.


Karena bisa dibilang, perdebatan yang sedang terjadi itu saat ini dilakukan oleh beberapa pihak yang status mereka sangatlah penting di negara ini. Tentu mereka tidak akan bisa ikut campur dalam permasalahan tersebut, karena bisa dikatakan mereka akan langsung hancur saat melakukannya.


Apalagi, munculnya sesosok pria yang merupakan pewaris dari keluarga yang sangat berkuasa di negara ini, tentu saja tidak mampu membuat beberapa pihak akan ikut campur dalam permasalahan tersebut. Tetapi anehnya, kedua orang yang saat ini sedang berdebat dengannya, seakan tidak takut atas status yang dirinya miliki itu.


“Setidaknya, Nona Vero menggunakan hasil kerja kerasnya, dalam melakukan sesuatu. Tidak seperti kalian yang saat ini menggunakan harta keluarga kalian dalam menggapai sebuah hal yang kalian inginkan” ucap Bram dengan tajam, yang saat ini mulai mengejek beberapa pihak yang sedang berdebat dengan dirinya.


Memang jika itu dahulu, Bram akan diam saja jika pria bernama Tristan itu sedang mencari masalah dengan seseorang. Karena bisa dikatakan, keluarga dari pria itu merupakan keluarga terkaya di negara ini dan dirinya masih belum mampu menghadapi mereka.


Maka dari itu, pada saat itu Bram tidak akan mencari masalah dengan mereka, karena dirinya takut permasalahan itu akan merembet kepada dirinya. Apalagi kekayaan yang dimiliki orang tuanya dan dirinya bisa dikatakan terpaut sangatlah jauh.


Namun status dirinya sekarang berbeda. Karena dirinya lebih takut dari pihak yang saat ini duduk dengan tentang dan tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Karena dipastikan, pihak itu bisa menghancurkan semua pihak yang saat ini mencari masalah dengan dirinya dengan sangat mudah.


Sikap tenang yang dirinya tunjukan itu menjadi buktinya. Karena, jika memang dirinya hendak bergerak, dipastikan seluruh pihak yang berada disini akan berlutut dibawah kakinya. Bahkan, jika seluruh pihak yang berada disini membentuk kelompok dan melawannya, dipastikan mereka masihlah menjadi semut dibawah sepatunya.


“Ya... aku juga heran. Mengapa orang terkaya di negara ini, mempunyai keturunan yang terlihat tidak kompeten seperti dirimu” balas Vero yang melanjutkan hinaan yang dirinya berikan kepada pihak yang berada didepannya.


Sangat diketahui, kedua orang tua dari pria bernama Tristan itu dikenal sangatlah ramah dan baik hati kepada siapapun. Namun yang sering mencoreng nama keluarga mereka adalah tindakan dari putranya yang selama ini terus berbuat masalah.


Contohnya saja, dirinya sering sekali keluar masuk penjara akibat melakukan berbagai hal kriminal. Tetapi, sebagai keluarga terkaya di negara ini, tentu saja membuat keluarganya berusaha untuk selalu membantu putra mereka untuk bebas dari jeratan yang sering dirinya terima.


Maka dari itu, kelakuannya itu semakin menjadi dan membuat beberapa pihak akan membenci dirinya hingga menyeret nama keluarga yang saat ini tersemat pada namanya. Apalagi, perilaku sangat manja yang terus diberikan oleh kedua orang tuanya kepada putranya itu, membuatnya menjadi seperti ini.


“Apa katamu?!” teriak pria bernama Tristan itu yang mulai emosi mendengar cemoohan kedua belah pihak yang saat ini terang-terangan menghina dirinya.


Memang dirinya mulai sangat murka saat ini, karena dirinya merasa tidak dianggap oleh kedua pihak yang dirinya sedang ajak berdebat saat ini. Bahkan dirinya bingung, mengapa kedua belah pihak itu seakan sangat berani terhadap dirinya.


Bahkan, Bram yang selalu bersikap patuh dengan keluarganya, seakan mulai mencari masalah dengan dirinya. Dan hal tersebutlah, yang membuat pria bernama Tristan itu semakin emosi dibuatnya, karena merasa harga dirinya mulai dicoreng oleh kedua pihak yang berada dihadapannya saat ini.


Bahkan Richard yang awalnya sangat senang dengan kedatangan sahabatnya untuk membantunya, cukup terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Karena dirinya juga tidak menyangka bahwa sahabatnya itu mulai dihina secara terang-terangan oleh orang yang sepatutnya takut dengan statusnya.


“Wah... sepertinya anda lupa, dengan sosok orang tua dari sahabatku, Tuan Bram” lanjut Richard yang saat ini tentu saja mulai membela sahabatnya tersebut.


“Aku tidak pernah melupakannya. Dan juga, segeralah periksakan dirimu, Tuan Richard. Karena bisa dikatakan penyakitmu akan bertambah parah jika tidak segera diperiksakan” ucap Bram yang dengan terang-terangan mulai menghina sosok Tristan dan Richard secara bersamaan.


"Apa maksudmu itu, Tuan Bram?" dan begitulah lonjakan emosi yang terasa dari suara yang dikeluarkan oleh Richard, karena dirinya cukup emosi dengan semua hinaan yang dirinya terima.


"Maksudku, mintalah uang kepada orang tuamu, agar dirimu bisa dirawat dengan baik untuk menyembuhkan kondisi penyakit delusi yang kamu alami itu" ucap Bram yang semakin menegaskan hinaannya kepada Richard.

__ADS_1


Perdebatan itu semakin mejadi, yang dimana saat ini Tristan dan Richard mulai menunjukan kemurkaan diri mereka atas sikap yang mereka terima dari sisi Bram dan Vero. Bahkan perdebatan itu seakan semakin panas, karena para penonton yang juga sedang menyaksikan perdebatan tersebut juga semakin banyak jumlahnya.


Vero juga saat ini semakin tidak tinggal diam. Dirinya juga mulai terang-terangan bersama Bram menghina kedua orang tersebut. Karena dirinya juga tidak ingin, bahwa dirinya beserta suaminya akan direndahkan oleh mereka berdua ditempat ini, hanya karena status mereka lebih tinggi dari dirinya.


"Ya... sama dengan dirimu, Tuan Tristan. Tetapi pastikan mintalah uang yang banyak, karena kondisi anda lebih parah dari sampah yang berada disebelah anda" ucap Vero yang melanjutkan perkataan Bram dan menyerang sosok kedua orang tersebut.


Jalannya perdebatan tersebut sepertinya semakin panas. Bahkan niat awal Richard yang ingin merendahkan sosok Zen, terpaksa harus dirinya hentikan karena dirinya sedang fokus untuk membela keberadaan sahabatnya yang saat ini terus dihina oleh kedua pihak yang berada didepannya.


Apalagi, dirinya dan sahabatnya itu tidak memiliki cela sama sekali dalam membalas perkataan mereka. Karena selain semua perkataan mereka adalah kebenaran, mereka berdua juga tidak tahu harus melakukan apa dalam membalas semua hinaan yang mereka terima sedari tadi.


Namun sepertinya perdebatan itu akhirnya mulai terhenti, setelah pihak yang menyelenggarakan acara ini akhirnya tiba. Dengan beberapa pihak yang mulai menyambut kedatangannya, saat ini dengan terpaksa perdebatan mereka itu harus dihentikan.


“Akhirnya mereka tiba. Aku ingin tahu, apakah kalian masih bisa berani melawan diriku” ucap Tristan yang percaya diri, setelah melihat kedua orang tuanya akhirnya tiba ditempat ini.


"Ya... silahkan merengek pada orang tuamu, anak cengeng" ucap Bram yang semakin menjadi menghina Tristan, yang berniat mengadukan perbuatan mereka kepada orang tuanya.


Emosi Tristan semakin menjadi mendengarkan hinaannya yang terakhir. Namun dirinya sepertinya tidak sanggup lagi melawan perdebatan yang dirinya lakukan terhadap Bram. Jadi, dengan ekspresi kemarahannya dirinya mulai beranjak dari tempatnya bersama keempat Istrinya, untuk menuju ketempat kedua orang Tuanya berada.


Apalagi, dirinya mulai merasa di atas angin, dan membuat pria bernama Tristan itu semakin menjadi kelakuannya. Karena memang dirinya akan melaporkan semua kejadian yang dirinya alami kepada keluarganya, dan dirinya ingin langsung menghancurkan pihak yang sedari tadi menghinanya.


Namun Vero dan Bram bisa dikatakan tetap tenang ditempatnya. Karena memang Vero sama sekali tidak takut dengan apa yang akan terjadi, karena dirinya akan melawan semua hal yang saat ini mencoba menjatuhkan dirinya maupun suaminya.


Terlebih lagi Bram. Yang dimana pria itu tidak akan takut karena dirinya membela pihak yang paling berkuasa di dunia ini. Jadi, dengan sikapnya yang santai, dirinya mulai bergabung pada meja tempat dimana Vero dan Zen dan mulai duduk bersama Istrinya di sana.


Richard yang mendengarnya tentu saja semakin marah dibuatnya. Tetapi dirinya tidak bisa melakukan apapun, karena sahabatnya yang merupakan pendukungnya sudah melarikan diri dari perdebatan tersebut, karena bisa dikatakan dirinya kalah sepenuhnya dalam perdebatan yang sedang mereka lakukan.


Apalagi Richard saat ini merasakan sebuah situasi yang aneh. Karena sepertinya dirinya mulai terjebak pada sesuatu skema yang dirinya tidak ketahui. Namun, dirinya memutuskan untuk tetap tenang, apalagi keluarganya juga akhirnya tiba ditempat ini dan mulai menghampiri mereka.


"Ya.. pergilah anak mami" ucap Bram setelah mengakhiri kalimatnya.


Tentu dirinya merasa senang bisa membalas perbuatan semena-mena mereka terhadapnya dahulu. Karena mereka seakan bertindak seperti seorang yang berkuasa, padahal hasil yang mereka gunakan untuk melakukan semua itu hanya berada dari keluarga mereka.


Jadi, mendapatkan kesempatan membalas semua perbuatan mereka, tidak akan disia-siakan oleh Bram yang saat ini memiliki pihak yang sangat amat penting melebihi pihak yang dirinya hina, dan dirinya tahu dengan pasti pihak tersebut berada disisinya.


Apalagi, sikapnya masihlah tenang saat ini, disaat dirinya melihat sendiri bahwa pria yang menggandeng keempat Istrinya itu, mulai mendekat kearah Ayahnya dan mungkin akan mencoba membingkai dirinya dengan sebuah permasalahan, agar dirinya akan terkena sebuah masalah.


“Ayah aku ingin mengat-”


“Diamlah, Tuan Alfred saat ini akan tiba ditempat ini, jadi jangan membuat onar” ucap orang Tua Tristan yang menghentikan perkataan putranya tersebut, karena dirinya tahu putranya itu pasti sudah membuat sebuah permasalahan.

__ADS_1


“Tapi aku harus melaporkan sesuatu, agar kedatangan Tuan Alfred tidak terganggu, Ayah” ucap Tristan kembali yang mencoba mencuri perhatian Ayahnya.


Tentu mendengarkan perkataan putranya, pria yang merupakan orang terkaya di negara ini saat ini mulai mendengarkan tentang informasi yang diberikan oleh putranya tersebut. Karena bisa dikatakan, dirinya juga tidak mau kedatangan pihak yang paling berpengaruh di dunia yang akan datang ditempat ini akan sangat terganggu.


Maka dari itu, dirinya mencoba mendengarkan penjelasan tentang perkataan putranya, yang saat ini sudah tersenyum senang bahwa apa yang dirinya rencanakan untuk menghancurkan sosok Bram dan Vero yang sudah menghina dirinya dipastikan akan berhasil.


“Coba ayah lihat pada meja itu” ucap Tristan yang menunjuk meja tempat dimana Zen, Vero, Bram dan Istrinya berada.


“Kenapa dengan mereka?” tanya Ayahnya yang menuntut penjelasan dengan cepat dari putranya itu.


Tentu Tristan langsung membeberkan tentang apa yang terjadi, dan tentu saja dirinya menambahkan beberapa hal agar ayahnya akan mengikuti perkataannya. Bakan dibantu dengan keempat Istrinya, saat ini Tristan mulai meyakinkan Ayahnya atas permasalahan yang dirinya alami tadi.


"Baiklah... nanti Ayah bereskan mereka." ucap Ayah dari Tristan yang sudah mendengar semua perkataan putranya itu.


"Nanti? Ayah harus megambil tindakan sekarang. Karena takutnya, mereka akan membuat masalah" ucap Tristan yang tidak terima dengan keputusan Ayahnya itu.


"Diamlah. Ayah bilang nanti ya nanti. Apakah kamu tidak tahu, siapa yang akan datang ketempat ini?" ucap Ayahnya yang kesal, karena Putranya seakan tidak mengerti dengan perkataannya.


Mendengar perkataan Ayahnya, tentu membuat Tristan hanya bisa bungkam. Bahkan rasa kesalnya bisa dikatakan semakin meningkat atas perkataan Ayahnya tadi. Namun, dirinya memutuskan untuk tidak tinggal diam. Karena dirinya harus membalaskan semua penghinaan yang dirinya terima secara langsung.


Maka dari itu, dirinya mulai memakai cara lain, agar hinaan yang dirinya terima dari Bram dan Vero tadi bisa dengan segera dirinya balas. Apalagi, bisa dikatakan emosinya semakin meningkat, saat dirinya memperhatikan meja dimana Bram dan Vero berada yang memperlihatkan mereka masih santai ditempat mereka.


“Hm.. tetapi mengapa semua orang mulai berdiri?” ucap Zen yang akhirnya sudah menyelesaikan kegiatan makannya dan akhirnya mulai memperhatikan keadaan sekitarnya.


Zen memang mendengar semua perdebatan yang terjadi tadi. Namun, dirinya memutuskan untuk tetap tenang, karena Zen pasti akan membalaskan perbuatan mereka. Maka dari itu, Zen memutuskan untuk menghabiskan makanannya saja, karena menurutnya hal tersebut lebih penting daripada berdebat dengan para kecoa.


Namun anehnya, disaat dirinya memperhatikan keadaan sekitar, Zen yang masih saja duduk ditempatnya melihat Vero, Bram beserta Istrinya yang saat ini sedang berdiri dan akan menyambut seseorang. Jadi, Zen bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.


“Kamu sudah selesai makan? Kalau begitu, mari temani aku untuk bertemu dengan Tuan Alfred” ucap Vero, yang ingin mengajak Zen untuk ikut berbaris dan bergabung dengan beberapa pihak yang akan menyambut sosok yang sangat besar itu.


“Kenapa kita harus menyambutnya?” tanya Zen bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Istrinya itu.


“Tentu saja karena dirinya orang yang sangat penting” balas Vero yang menjawab perkataan dari suaminya dan dengan segera ingin menyeretnya beranjak dari tempat mereka.


Melihat kegiatan pasangan suami istri itu, tentu membuat Bram dan Istrinya hanya tersenyum saja melihatnya. Karena mereka merasa sangat lucu dari interaksi mereka berdua. Apalagi, Vero yang tidak mengenal sosok Zen sama sekali membuat semakin lucu melihat tingkah mereka berdua.


“Anda tidak perlu khawatir, Nona Vero. Karena Tuan Alfred pasti akan menghampiri meja ini” ucap Bram yang menenangkan sosok Istri dari Zen tersebut, yang memaksa Zen untuk ikut dengan dirinya.


Vero cukup kebingungan dengan perkataan yang baru saja dirinya dengar tersebut. Apalagi suaminya yang saat ini masih menggenggam tangannya, juga mengangguk saja mendengar perkataan dari pria yang menghalangi tindakannya itu.

__ADS_1


Hingga akhirnya apa yang ingin dirinya benar-benar lakukan itu harus dirinya urungkan, karena sebuah pihak saat ini sedang mendekati mereka. Dari raut wajahnya bisa terlihat pria itu tidak bersahabat, hingga akhirnya dirinya tiba ditempat mereka berada dan mengutarakan maksud kedatangannya pada meja tempat mereka sedang berada saat ini.


“Maaf, tetapi kalian semua harus pergi dari acara ini”


__ADS_2