Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Lega


__ADS_3

Beberapa pihak saat ini sudah memasuki sebuah ruangan kembali. Apalagi salah satu dari mereka sudah selesai untuk menenangkan dirinya, agar permasalahan yang dialami oleh dirinya tidak akan diketahui oleh Ibunya yang baru sembuh dan sedang dirawat ditempat dimana dirinya berada saat ini.


Karena memang, wanita itu berusaha dengan keras agar Ibunya tidak akan mencurigai dirinya, dan membuat kondisinya kembali memburuk karena mengetahui kejadian yang baru saja dialami oleh dirinya dan saat ini sedang diusut oleh pihak kepolisian.


"Maafkan Bibi, karena Bibi memakan waktu lama untuk kembali, Tuan Zen" Ucap Bibi Leni saat dirinya kembali bersama rombongan yang bersamanya, dan memasuki ruangan tempat dari Ibu Kelly dirawat.


"Hmm... tidak apa-apa. Lagipula aku bisa bersantai disini sambil berbincang dengan Bibi Lenneth" balas Zen, yang tidak mempermasalahkan kepergian mereka yang memakan waktu lama tadi.


Memang atas kepergian mereka sejenak tadi, bisa dikatakan Zen mulai mengetahui seluk beluk dari kisah Ibu kandung Kelly, yang sedari tadi dirinya dengar dan cermati. Apalagi, Zen mendapatkan sebuah fakta baru yang membuat dirinya sedikit terkejut, tentang kehidupan adiknya yang selama ini tidak diketahui.


Apalagi semenjak percakapan yang dilakukan oleh Zen bersama Lenneth tadi. Sudah diputuskan bahwa mereka berdua akan berpura-pura tidak mengenal satu sama lainnya. Jadi Zen saat ini akan menganggap Lenneth hanya sebatas Ibu dari sahabatnya dan Lenneth akan menganggap dirinya sebagai sahabat dari putrinya, bukan seorang Sloth yang dirinya sangat hormati dan dirinya kenal.


Jadi, saat ini Zen hanya bertindak seperti biasa saja karena memang dirinya sudah menolak proposal Lenneth yang ingin menjadi pelayannya, dan memutuskan agar wanita itu bisa menjalani hidupnya yang normal, setelah kesembuhannya sudah diberikan oleh Zen kepadanya.


“Lalu, apakah urusan kalian semua sudah selesai?” tanya Lenneth kepada Putrinya, yang dimana sepertinya dirinya sudah mampu menyembunyikan sesuatu dari sosok Ibunya itu.


“Ah... karena ada kendala dengan kediaman yang sudah aku beli, membuat kami belum memindahkan beberapa perabotan kediaman lamaku ke sana, Ibu. Jadi, apa yang kami lakukan tadi harus tertunda” balas Kelly kemudian, yang saat ini berpura-pura tidak terjadi sesuatu kepada Ibunya.


Ibunya hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar jawaban putrinya itu. Karena memang dirinya sangat bersyukur bahwa kehidupan dari Putrinya bisa dikatakan sangat bahagia. Apalagi dirinya menyaksikan sendiri bahwa putrinya saat ini hidup dengan berkecukupan dan tidak terlihat kesusahan sama sekali.


Tentu dirinya juga merasa bersyukur bahwa putrinya mempunyai seorang sahabat yang selalu ada bersama dengan dirinya. Sehingga membuat kehidupan putrinya tidak terlalu kesepian semenjak sepeninggalan dirinya, yang harus berjuang melawan penyakit dan hukum dunia ini yang akan merenggut nyawanya jika tidak ditolong oleh Zen.


“Benarkah. Kalau begitu, tidak usah terburu-buru, karena memang Ibu belum diizinkan pulang hingga saat ini” balas Lenneth kemudian, yang mulai mengusap kepala putrinya itu.


Memang jadwal Lenneth untuk bisa kembali pulang, bisa dikatakan harus ditunda. Karena memang, dirinya harus menjalani sebuah terapi untuk mengembalikan kondisi tubuhnya menjadi seperti semula. Apalagi, sudah cukup lama tubuhnya berbaring, dan membuat beberapa otot dan sarafnya sedikit terganggu saat ini.


"Aku bukannya terburu-buru, Ibu. Tetapi aku hanya ingin bahwa kediaman kita sudah siap, saat Ibu sudah sembuh sepenuhnya" balas Kelly, yang menjawab perkataan Ibunya tadi.


Hingga akhirnya, ruangan itu mulai kembali terjadi sebuah percakapan sederhana, hingga akhirnya hari memang sudah mulai menggelap. Apalagi beberapa dari mereka, sampai tidak sadar bahwa hari sudah mulai menggelap, karena mereka sangat seru berbincang satu sama lainnya.


Tentu semua pihak yang berada di sana masih senang bercengkrama bersama-sama ditempat tersebut. Namun, karena hari sudah semakin larut, membuat beberapa dari mereka memutuskan untuk kembali menuju kediaman mereka. Karena memang, masa berkunjung dari rumah sakit tempat mereka sudah habis, dan mereka memutuskan untuk beranjak dari sana.

__ADS_1


Apalagi mulai besok, Ibu dari Kelly akan menjalani terapi untuk mengembalikan kondisi tubuhnya, menjadi seperti semula. Jadi, mereka memutuskan untuk kembali karena mereka ingin Ibu dari Kelly bisa beristirahat lebih awal, agar dirinya merasa bugar saat menjalani terapi keesokan harinya.


“Kalau begitu, kami pamit Bibi” ucap Vero yang mulai berpamitan kepada Ibu dari Kelly, sebelum mereka mulai beranjak dari sana.


Memang saat ini Zen, Vero, Anabelle dan Bibi Leni sudah bersiap untuk kembali menuju kediaman mereka. Karena memang hari sudah mulai larut, dan Vero juga ada pertemuan penting besok untuk menyelesaikan permasalahan perusahaan miliknya.


Jadi, mereka memutuskan untuk kembali saat ini, dengan mulai berpamitan secara masing-masing kepada Lenneth dan mulai beranjak dari sana. Hingga akhirnya, pada ruangan tersebut hanya tersisa Lenneth dan putrinya saja yang berada di sana.


“Kelly, bisakah Ibu menanyakan sesuatu kepadamu?” tanya Lenneth kepada Putrinya, setelah melihat kepergian seluruh orang yang sedari tadi berada di ruangan tempatnya dirawat.


“Tentu saja, Ibu. Memangnya, Ibu mau bertanya soal apa?” balas Kelly yang penasaran dengan pertanyaan apa lagi, yang akan ditanyakan oleh Ibunya kepadanya.


Memang Ibunya sudah menanyakan berbagai hal seperti kehidupan sehari-harinya. Bahkan sampai menyangkut apakah dirinya sudah mempunyai pacar atau belum, sudah ditanyakan oleh Ibunya. Jadi, saat ini Kelly cukup penasaran dengan apa lagi yang akan ditanyakan oleh Ibunya.


“Apakah kamu pernah berperilaku yang buruk terhadap pria yang bernama Zen, suami dari sahabatmu itu?” tanya Ibunya.


Tentu pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibunya yang menyangkut tentang Zen, cukup membuat Kelly bingung. Karena dirinya masih tidak mengerti mengapa Ibunya harus bertanya sesuatu tentang sosok Zen, yang merupakan suami dari sahabatnya itu.


“Tentu saja aku selalu memperlakukan dirinya dengan Baik, Ibu. Karena memang kami bisa dikatakan seorang sahabat” ucap Kelly, yang menjawab pertanyaan dari Ibunya itu.


“Syukurlah kalau begitu” ucap Lenneth senang, mendengarkan penuturan dari putrinya itu dan mulai berbaring kembali pada tempat tidurnya dengan perasaan yang tenang.


Memang Lenneth akan merasa sangat bersalah jika memang putrinya itu pernah bersikap kurang ajar kepada Zen. Karena memang, mungkin dimasa depan putrinya itu akan menjadi pelayan dari Zen menggantikan dirinya, karena hal itu merupakan tugas turun temurun dari keluarga mereka.


Walaupun sebenarnya Zen sudah menolak dengan tegas, bahwa Lenneth akan menjadi bawahannya atau pelayannya. Tetapi Lenneth memastikan bahwa suatu saat nanti, dirinya harus melayani sosok yang harusnya dirinya layani itu dan memastikan bahwa putrinya juga siap untuk menggantikannya kelak.


“Memangnya ada apa Ibu, mengapa kamu menyinggung tentang dirinya?” tanya Kelly yang balik bertanya kepada Ibunya.


“Tidak ada. Karena menurut Ibu, pria itu merupakan sosok yang Baik. Jadi, sebisa mungkin kamu harus memperlakukan dirinya dengan baik, oke” Balas Lenneth.


Dan penyataan Ibunya itu, kembali membuat Kelly kebingungan saat ini. Namun dirinya memutuskan hanya menganggukkan kepalanya saja untuk menjawab pernyataan Ibunya, karena menurutnya dirinya selalu memperlakukan Zen dengan baik. Jadi dirinya tidak perlu untuk menolak permintaan Ibunya itu.

__ADS_1


Apalagi, permintaan itu adalah permintaan pertama Ibunya kepadanya. Jadi, sebisa mungkin Kelly akan senang hati menurutinya. Karena memang, permintaannya bukanlah sesuatu yang membuat Kelly rugi jika mengikutinya. Apalagi bisa dikatakan dirinya akan selalu memperlakukan Zen dengan baik, karena perasaannya terhadap pria tersebut.


“Lalu, kamu belum makan bukan?” ucap Lenneth kemudian, yang mulai mengingatkan putrinya itu untuk makan malam, karena memang Lenneth belum melihat putrinya itu memakan apapun.


Disisi lain, rombongan yang pergi bersama Zen saat ini sudah singgah pada sebuah rumah makan untuk makan malam di sana. Karena memang, jika mereka kembali saat ini pada kediaman dari Vero, mereka dipastikan tidak akan memiliki makanan untuk mereka santap sebagai makan malam mereka.


“Lalu Vero, bagaimana dengan kondisi perusahaan milikmu saat ini?” tanya Anabelle kemudian, yang memutuskan untuk menanyakan apa yang mulai dirinya risau kan sedari tadi.


Anabelle memang ingin sekali menanyakan permasalahan tersebut semenjak Vero baru saja tiba pada kediamannya dari Jakarta. Namun, karena tindakannya itu terhalangi dengan sebuah kabar yang sangat menghebohkan, membuat dirinya menunda menanyakan hal tersebut kepada Vero.


Apalagi, dirinya akan langsung merasa bersalah jika memang permasalahan dari perusahaan milik Vero tidak kunjung usai. Apalagi, bisa dibilang permasalahan itu disebabkan oleh dirinya, yang semakin membuatnya bersalah jika masalah itu terus berlarut.


“Kamu tenanglah. Karena aku sudah menyelesaikan semua permasalahan ini, dan kamu hanya harus mempersiapkan semua hal yang kamu butuhkan dalam memulai pengambilan gambar saja” ucap Vero, yang mulai mengurangi sedikit rasa bersalah dari Anabelle.


Tentu kerja sama dirinya dengan anak perusahaan milik Bram, membuat dirinya mampu melanjutkan kembali projek yang sempat terancam tertunda pembuatannya. Karena memang, beberapa pihak mulai menarik diri dari perusahaannya, dipastikan tidak akan kembali dan Vero memutuskan untuk menyelesaikan projek itu sendiri dengan dana dari StarFlix dan perusahaan milik Bram.


Apalagi berkat perusahaan milik Bram yang tiba-tiba membantunya. Bisa dipastikan apa yang akan dirinya lakukan nanti, akan bisa terlaksana tanpa ada halangan apapun lagi. Apalagi besok dirinya akan menandatangani kontrak kerja sama mereka pada perusahaan tersebut.


“Benarkah?” tanya Anabelle memastikan. Karena memang dirinya masih tidak mempercayai sepenuhnya perkataan dari Vero, karena selama ini temannya itu selalu menyembunyikan berbagai hal kepadanya.


“Tentu saja. Kamu bisa menanyakan suamiku, jika kamu tidak percaya” ucap Vero, yang saat ini langsung memandang Zen yang tidak memperdulikan percakapan yang sedang mereka lakukan, dan lebih memilih memakan makanannya dengan lahap.


Bahkan saat dirinya mendapatkan pernyataan seperti itu dari Vero, Zen hanya mengangguk saja untuk mengiyakan perkataannya. Karena memang, dirinya saat ini mulai kembali fokus dengan beberapa makanan yang sedari tadi sudah dirinya pesan dan mulai melahapnya dengan lahap.


“Sudahlah, mengapa kalian membahas sesuatu seperti itu, saat kita sedang menikmati sebuah santapan yang lezat” ucap Bibi Leni, yang mulai menghentikan percakapan mereka, dan menyuruh kedua wanita itu untuk memakan makanan mereka.


Tentu karena tindakan mereka mulai ditegur, Anabelle dan Vero akhirnya mulai ikut untuk menyantap makanan mereka. Apalagi mereka mulai menikmati apa yang sedang mereka lakukan dengan mengobrol dengan ringan sambil menyantap makanan mereka. masing-masing


Apalagi, sosok pria yang sedari tadi tidak memperdulikan mereka, saat ini sepertinya belum merasa puas dengan berbagai hidangan yang sedang disantapnya. Bahkan bisa dikatakan kegiatannya itu belumlah cukup, karena dirinya masih merasa lapar.


“Ah... sepertinya aku mau menambah lagi”

__ADS_1


__ADS_2