
Zen saat ini sudah mengambil ponselnya dan bersiap menghubungi seseorang, namun tiba-tiba saja kegiatannya itu dihalangi oleh Bari yang memberikan sebuah pandangan bahwa mereka seharusnya menghubungi seorang wanita karena menurutnya wanitalah yang akan mengerti dengan keadaan mereka saat ini.
“Hm... benar juga katamu. Kalau kita bertanya dengan pria, pasti dirinya akan memberikan saran dari sudut pandang yang pernah mereka alami.” Balas Zen.
“Benar tuan. Lalu apakah saya harus menghubungi tunangan saya?” tanya Bari yang sudah mengeluarkan ponselnya.
“Hm... sebaiknya jangan. Kita tidak boleh bertanya dari orang-orang yang berasal dari kalangan kita. Karena ini permasalahan dengan manusia, jadi kita harus bertanya dengan seorang manusia” balas Zen dan membuat Bari mengangguk setuju dengan perkataan tuannya.
“Lalu, apakah tuan mempunyai kenalan seorang wanita Tuan?” tanya Bari kemudian.
“Aku kenal dengan seseorang. Bahkan dia sudah hidup berkali-kali” balas Zen lalu mencari kontak adiknya dan berusaha menghubunginya.
“Halo Kak, selamat siang” balas seseorang setelah sambungan telfon yang dilakukan Zen berhasil.
“Bisakah kamu memberikan ponselmu kepada Kelani. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya” Tanya Zen yang cukup malas untuk berbasa-basi dan langsung mengutarakan maksud tujuannya menelfon adiknya Uriel.
Setelah Zen berkata seperti itu, sempat terjadi keheningan sejenak dari sambungan telfon tersebut. Namun akhirnya Uriel memutuskan untuk memberikan ponselnya kepada Istrinya saat itu juga.
“Halo Kakak Ipar” sapa seorang wanita kepada Zen.
“Yo... Adik Ipar ku Kelani, bisakah kamu membantuku” balas Zen kemudian.
“Tentu Kakak Ipar, apa yang bisa aku bantu?” tanya Kelani yang masih bingung mengapa Kakak iparnya itu ingin sekali berbicara dengannya.
“Jadi begini...” Zen lalu menjelaskan tentang dirinya yang mendapatkan surat cinta dari Angel, beserta dirinya menjelaskan dengan rinci isinya dan memberitahukan tentang teori yang dikatakan Bari tadi, tentang ketakutan dirinya yang membuat Angel akan gila jika dirinya tidak merespon isi surat tersebut.
__ADS_1
“Hahahahaha....” namun setelah Zen bercerita semua itu, Kelani langsung tertawa mendengar cerita yang disampaikan oleh Zen tadi.
“Mengapa kamu tertawa Adik ipar?” tanya Zen kemudian yang tidak mengerti mengapa adik iparnya itu tiba-tiba tertawa.
“Ah... maafkan aku Kak, aku hanya merasa lucu saja dengan keadaan Kakak saat ini” Balas Kelani.
Setelah pertemuannya dengan Zen sebelumnya, Kelani menganggap Kakaknya itu sangatlah ramah kepada suami serta dirinya. Jadi cukup menyenangkan memang mengajak Zen untuk sekedar berbincang pada saat itu.
Setelah pertemuan itu, karena penasaran Kelani meminta suaminya untuk menceritakan kisah Kakak iparnya itu lebih detail karena memang dirinya ingin mendengar kisahnya secara langsung, yang ternyata cerita dari Zen sangat berbanding terbalik dengan apa yang dirinya bayangkan.
“Sebenarnya, Kakak tidak perlu membalas isi surat tersebut, karena wanita itu membuatnya hanya untuk mengungkapkan isi perasaannya kepada Kakak saja. Dan untuk 'Gila', Kakak tenang saja. Karena wanita itu tidak akan menjadi gila seperti apa yang Kakak bayangkan” Balas Kelani
“Benarkah, lalu aku tidak perlu merespon surat itu seperti apa yang dikatakan Bari bukan?” tanya Zen memastikan sekali lagi penjelasan dari Kelani.
“Benar Kak. Dan juga, apa yang Kakak berikan untuk hadiah perpisahan dengan wanita itu?” tanya Kelani kemudian.
“Hahh... begitu ya. Andai saja Kakak memberikan sebuah hadiah untuknya, pasti dirinya sangat bahagia saat ini” balas Kelani.
Mendengar kata Bahagia, tentu Zen sedikit tertarik dengan arah pembicaraan dari adik iparnya itu. Tanpa pikir panjang, Zen langsung bertanya kepada Adik iparnya itu tentang hadiah yang cocok diberikan kepada Angel.
Pembicaraan mereka akhirnya terus berlanjut, dimana Zen saat ini dengan serius mendengar perkataan adik iparnya. Setelah puas mendapatkan saran dari adik iparnya itu, Zen langsung mematikan sambungan telfonnya dan langsung menatap Bari yang masih setia menunggunya berbicara pada saluran telfonnya.
“Bukalah portal kabut milikmu menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota ini Bari” Perintah Zen kepada Bari.
Bari tidak bertanya lebih lanjut tentang perintah tuannya itu, namun dirinya dengan sigap langsung membuat sebuah kabut hitam dan mulai mempersilahkan Tuannya untuk memasuki kabut tersebut terlebih dahulu lalu dirinya mulai mengikuti langkah tuannya itu dan menghilang dari sana.
__ADS_1
Kabut itu mulai menghilang setelah Bari sudah memasukinya dan membawa Zen beserta bawahannya itu pergi menuju kesebuah tempat. Namun disisi lain pada area basemen dari apartemen Zen, saat ini sebuah mobil Van sudah memasuki parkiran gedung tersebut.
Dengan tulisan petugas kelistrikan pada bagian samping mobil yang berjalan dengan pelan mencari tempat parkir yang strategis, mobil van itu mulai parkir pada sebuah area yang dimana sesaat kemudian dua orang pria memakai seragam dari sebuah kantor kelistrikan mulai memperhatikan keadaan sekitar dari dalam mobil yang mereka kendarai itu.
“Sepertinya para polisi yang bekerja sama dengan kita belum tiba” kata salah satu pria yang saat ini sedang berada dibalik kendali mobilnya.
“Sepertinya begitu. Dirinya berkata akan datang sebentar lagi untuk menghindari kecurigaan jika kita datang ketempat ini secara bersamaan” balas rekan yang berada disebelahnya dan dibalas anggukan oleh pria yang berbicara tadi.
“Apakah kalian sudah siap?” kata pria yang duduk di bangku pengemudi itu kearah belakang Van yang dikendarainya.
Dibelakang mobil Van tersebut, memang banyak sekali peralatan yang biasa digunakan beberapa orang yang memang bertugas sebagai tukang listrik. Namun ternyata, peralatan tersebut sedang menutupi beberapa orang yang sedang tersembunyi dibaliknya.
“Kami tinggal menunggu perintah anda saja bos” balas salah satu pria yang mulai muncul dari balik peralatan tersebut dan memunculkan rupanya ke depan tempat pengemudi itu berada.
Namun yang mereka tidak ketahui, saat ini ada seorang pria yang sedang memperhatikan mereka dari balik sebuah mobil. Pria itu memang merasa curiga dengan mobil van yang berpenampilan sebagai mobil dari perusahaan kelistrikan itu, bahkan sempat melihat seseorang berpenampilan memakai pakaian serba hitam muncul pada bagian belakang Van tersebut dan berbicara kepada pengemudinya.
“Hm... apakah aku harus melaporkan hal ini kepada Kapten ya?” gumam pria itu yang masih mengintai mobil tersebut.
Pria itu merupakan petugas kepolisian yang sedang menyamar dan ditugaskan oleh Santi untuk mengawasi dengan ketat tempat tinggal Zen. Memang bukan hanya dirinya sendiri yang ditugaskan untuk mengawasi Zen, tetapi hanya dirinyalah yang saat ini bertugas mengawasi tempat dimana dirinya berada saat ini.
Walaupun kecurigaan tentang Zen sudah dihapuskan karena alibi yang dikatakan oleh Zen saat diperiksa oleh Santi adalah benar. Tetapi Santi tetap menyuruh beberapa bawahannya untuk mengawasi gerak-gerik Zen karena Santi masih mencurigainya.
“Akan aku awasi saja mereka untuk saat ini” gumam pria tersebut yang saat ini masih berfokus mengawasi pergerakan beberapa orang yang berada didalam mobil tersebut.
Selang beberapa lama kemudian. Sebuah mobil berwarna hitam juga memasuki tempat ini dan mulai parkir disebuah area yang kosong, yang dimana saat ini pria yang sedang mengintai mobil van yang dicurigainya, mengenal beberapa orang yang baru saja keluar dari mobil berwarna hitam tersebut.
__ADS_1
“Mengapa Pak Tio berada disini dan membawa beberapa anak buahnya?”