Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Depresi


__ADS_3

Santi memang menanggap perkataan Zen yang datang ke kantornya tadi, sebagai sebuah rasa kekhawatiran pria itu kepada dirinya saja. Tentu dirinya mengetahui kondisi tubuhnya sendiri, jadi dirinya memang tidak perlu untuk mengikuti perkataan pria itu.


Bahkan dirinya menyangkal semua hal yang dikatakan oleh Zen kepadanya tadi. Walaupun bisa dikatakan apa yang dirinya katakan itu merupakan kebenaran, tetapi dirinya masih menganggap keadaan dirinya baik-baik saja dan apa yang dikatakan Zen kepadanya tadi merupakan sebuah bentuk kekhawatiran saja.


"Ya, aku baik-baik saja" ucap Santi meyakinkan dirinya tentang perkataan Zen tentang kondisinya itu.


Hingga akhirnya beberapa hari sudah berlalu, yang dimana Santi saat ini sudah berada pada sebuah mobil Van yang digunakan sebagai pusat operasi dari apa yang sedang dirinya kerjakan saat ini. Tentu dirinya datang ketempat ini juga berkat pemberitahuan dari Zen sebelumnya.


“Anda tidak apa-apa, Komandan?” tanya bawahannya kepada Santi, disaat dirinya mulai memasuki sebuah kediaman yang baru saja diamankan oleh pasukan yang dipimpin olehnya.


“Ah... aku hanya kepanasan saja tadi” ucap Santi memberi alasan saat ini.


Santi memang memasuki sebuah kediaman yang diberitahukan kepada Zen melalui sambungan telfonnya tadi, tentang keberadaan orang-orang yang menjadi korban penculikan dan saat ini sedang diusut oleh dirinya bersama beberapa pasukan yang dipimpinnya.


Namun sayangnya, saat Santi melihat beberapa orang korban yang berada di sana dengan kondisi yang bisa dikatakan mengenaskan, Santi entah mengapa mulai merasa panik karena beberapa bayangan aneh muncul didalam kepalanya. Bahkan dirinya sampai mengeluarkan keringat dingin memperhatikan para korban yang berhasil dirinya selamatkan.


Jadi, saat ini Santi memutuskan untuk mulai menenangkan dirinya diluar kediaman tersebut, sambil mencoba mengeringkan keringat dingin yang membasahi tubuhnya, setelah bayangan masa lalu saat dirinya diculik dan kematian tunangannya kembali terpahat didalam kepalanya.


“Yang terpenting, aku sudah memberitahumu” dan begitulah lamunan Santi terhenti, saat Zen kembali mengatakan sesuatu kepadanya.


Memang Santi sedari tadi sedang melamun kan tentang apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, tentang apa yang terjadi sebenarnya pada dirinya. Tentu dirinya mengingat tentang saat Zen mengunjungi dirinya pada kantor tempatnya bekerja beberapa hari yang lalu, hingga perkataannya terus terngiang didalam kepalanya hingga saat ini.


“Sudah kubilang Zen, aku tidak apa-apa. Aku hanya masih terbawa saja dengan kasus penculikan yang aku alami kemarin” balas Santi yang menyangkal perkataan Zen sekali lagi tentang kondisinya.


“Ya... ya... ya... terserah dirimu saja” balas Zen, yang mengiyakan perkataan dari wanita itu, karena dirinya cukup malas untuk memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu.


“Lalu, bagaimana dengan kasus penusukan yang kamu alami tadi?” tanya Santi kemudian, yang mulai merubah arah pembicaraan mereka saat ini.


Memang saat ini, mereka berdua masih membicarakan kasus yang dialami Zen tadi, pada ruang pertemuan yang disediakan oleh Vero pada perusahaannya saat ini. Tetapi Zen tadi mulai mengungkit tentang permasalahan dari Santi tentang keadaannya tersebut.


Tentu Zen sangat paham dengan apa yang terjadi kepada wanita yang sedang duduk dihadapannya. Yaitu sebuah kerusakan mental atau bisa dikatakan depresi yang sedang dialami olehnya. Karena memang Zen sering melihat beberapa pihak mengalami hal yang sama dengan Santi dahulu.

__ADS_1


Saat Zen masih tinggal di neraka, dirinya sering melihat jiwa dengan keadaan mental yang sangat amat hancur, setelah menjalani berbagai hukuman yang mereka terima atas perbuatan mereka. Jadi, Zen sangat paham dengan apa yang terjadi dengan Santi saat ini.


“Tenanglah. Aku bisa menemukan dirinya dengan mudah. Pokoknya dirimu tinggal menunggu saja panggilan dariku nanti” balas Zen kemudian.


Tentu Santi mempercayai saja perkataan dari Zen, dan memutuskan untuk menunggu panggilannya saja. Apalagi Santi saat ini sudah kembali menuju kantor tempat dirinya bekerja dan sedang menunggu laporan dari Zen sambil menyelesaikan beberapa berkas yang harus dirinya selesaikan saat ini.


Tetapi, tentu saja perkataan Zen saat dirinya bertemu dengannya tadi, masih terngiang dengan jelas di kepalanya. Jadi, dirinya tidak bisa berkonsentrasi untuk mengerjakan semua tugasnya dengan baik saat ini. Apalagi bagi orang yang depresi, mereka akan selalu menyangkal bahwa mereka sedang depresi.


Termasuk apa yang sedang dialami oleh Santi, yang dimana pemikirannya terus menyangkal bahwa dirinya sedang depresi, sama seperti apa yang dikatakan Zen kepadanya. Pemikirannya langsung kalut saat ini, hingga akhirnya suara ponselnya membuyarkan lamunannya itu.


“Kamu sudah menemukannya?” ucap Santi setelah mendengar suara pria yang saat ini sedang menghubunginya.


“Ya, akan aku kirim alamatnya saat ini” balas suara tersebut kepada Santi.


Santi langsung mengiyakan perkataan dari pria itu, hingga sebuah pesan masuk yang berisikan alamat dari target yang harus dirinya ringkus sudah dirinya terima. Tentu Santi langsung memanggil beberapa bawahannya dan bersiap untuk pergi ke sana.


Didalam perjalanan, Santi terus melamun kan sesuatu. Entah apa yang sedang dirinya lamunkan, tetapi bayang-bayang rasa bersalahnya terus terngiang didalam benaknya. Dirinya merasa menyalahkan dirinya sendiri saat ini, dan tidak bisa lepas dari pemikiran tersebut.


Walaupun dirinya mulai merasa perkataan Zen tentang kondisinya bisa saja benar. Namun dirinya kembali mulai membuang pemikirannya itu dan menanggap hal itu merupakan hal biasa. Karena memang dirinya merasa bersalah dengan kejadian yang pernah terjadi, termasuk tentang permasalahan tunangannya yang sudah meninggal dunia yang menurutnya penyebabnya adalah dirinya.


Dengan bersama para anak buahnya, saat ini  Santi mulai memimpin mereka untuk memasuki kediaman yang cukup mewah yang sudah didatangi olehnya. Namun tempat tersebut saat ini amat sangat gelap, karena memang lampu dari kediaman itu saat ini sedang tidak dinyalakan.


Jadi, Santi dan beberapa anak buahnya mulai menggunakan senter yang dibawanya dan mengarahkannya menuju ke depan, untuk menuntun mereka masuk kedalam kediaman yang sangat gelap gulita itu dan menemukan pelaku yang keberadaannya berada didalam kediaman tersebut.


“Kami dari pihak kepolisian kota Marlet, buka pintunya!” Ucap bawahan dari Santi saat mulai menggedor pintu dari kediaman itu.


Namun setelah mereka mengetok dengan keras pintu kediaman itu, mereka mulai mendengarkan suara rintihan kesakitan yang bisa mereka dengarkan dari dalam kediaman dari pelaku yang akan mereka ringkus. Walaupun bisa dikatakan suara rintihan itu sangat amat pelan, tetapi mereka saat ini bisa mendengarnya dan bersiap untuk memaksa masuk kedalam kediaman tersebut.


“Keluarkan senjata kalian” perintah Santi saat ini, kepada bawahannya.


Tentu dirinya ingin mewaspadai sesuatu yang tidak dirinya inginkan, terjadi didalam kediaman itu. Jadi dirinya memutuskan untuk menyuruh anak buahnya mengeluarkan senjatanya, untuk melindungi diri mereka masing-masing, jika memang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di sana.

__ADS_1


“Dobrak pintunya” perintah Santi kemudian, kepada bawahannya.


Setelah mendapatkan perintah dari atasannya, beberapa bawahan Santi langsung mengangguk dan mulai menjalankan perintahnya. Dua orang anak buahnya, saat ini sudah mengambil ancang-ancang untuk bersiap mendobrak pintu kediaman itu.


Hingga akhirnya suara sesuatu yang rusak mulai terdengar, disusul oleh beberapa suara kaki yang mulai memasuki kediaman itu dengan bermodalkan cahaya senter untuk menerangi perjalanan mereka. Santi mulai fokus dan berusaha mencari sang pelaku yang berada pada kediaman yang dimasuki olehnya, hingga akhirnya suara rintihan semakin jelas bisa mereka dengar saat memasuki kediaman tersebut semakin dalam.


“Suaranya dari sana, Komandan” ucap bawahan dari Santi, sambil menunjukan arah suara rintihan kesakitan yang mereka dengar, menggunakan sorot senternya.


“Halo... apakah anda baik-baik saja?!” teriak Santi kemudian, sambil perlahan maju mengikuti suara yang didengarnya saat ini.


Memang keadaan tempat itu seakan seperti sebuah keadaan yang horor, dimana sebuah tempat yang gelap, saat ini hanya terdengar suara rintihan yang menuntun beberapa petugas kepolisian untuk mencari tahu asal suara tersebut.


Bahkan mereka saat ini memasuki tempat itu semakin dalam untuk mencari tahu asal suara yang mereka dengar sedari tadi, hingga suara rintihan yang mereka dengar itu semakin jelas saat mereka memasuki tempat itu semakin dalam. Hingga akhirnya sebuah siluet pria yang sedang duduk di atas kursi saat ini mulai menyambut kedatangan mereka pada sebuah ruangan.


Tentu mereka semua langsung menghentikan langkah mereka, dan memfokuskan semua pencahayaan yang berasal dari senter yang mereka bawa, menuju kearah siluet tersebut. Namun karena memang siluet itu menghadap kebelakang, jadi mereka tidak bisa dengan jelas melihat keadaannya saat ini.


“Halo.... apakah kamu baik-baik saja?” teriak Santi kemudian, yang kembali memastikan kondisi dari sosok yang sedang duduk pada tempatnya itu.


Tidak ada jawaban yang dirinya terima dari sosok orang yang sedang duduk di atas kursi itu, namun suara rintihannya semakin jelas bisa mereka dengar saat ini. Apalagi dengan suasana yang gelap, dan perilaku dari orang tersebut yang aneh, beberapa anak buah Santi saat ini entah mengapa juga mulai merasa ketakutan.


“Komandan, aku menemukan sakelar lampu” ucap bawahannya, sambil menunjukan sebuah sakelar menggunakan cahaya senternya kepada Santi.


“Coba kamu hidupkan.” Perintah santi kemudian dan bawahannya itu langsung melaksanakan perintahnya.


Setelah dinyalakan, sakelar itu langsung menghidupkan semua lampu yang berada di ruangan tempat mereka berada saat ini. Bahkan sosok orang yang sedang duduk di atas kursi itu, bisa mereka lihat dengan jelas saat ini, yang dimana terlihat dirinya sedang terikat di atas sebuah kursi.


“Halo....” ucap Santi kembali, sambil mencoba mendekati sosok orang yang merupakan seorang pria itu.


Santi harus mengitari tubuh pria itu, barulah dirinya bisa melihat sosoknya dari depan dengan jelas. Karena memang tubuh pria yang terikat itu menghadap kebelakang, jika mereka melihatnya dari tempat mereka berada saat ini dan cukup sulit mengidentifikasi apa yang terjadi dengan dirinya.


“Anda tid- AHHHHHHHHHHHHH” teriak Santi kemudian, yang mengejutkan seluruh orang yang berada di sana.

__ADS_1


Santi entah mengapa langsung memegangi kepalanya dan mulai berteriak histeris setelah melihat keadaan pria itu saat berhasil mengitari tubuhnya yang sedang terikat ditempatnya. Bahkan bawahan dari Santi langsung bingung dengan apa yang terjadi dengan atasannya, hingga akhirnya Santi mulai tak sadarkan diri pada tempat dirinya berada sebelumnya.


“Komandan!”


__ADS_2