Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Ternyata!


__ADS_3

Sebuah pelukan hangat saat ini bisa dirasakan oleh Zen saat ini. Sosok yang sebelumnya menyambut dirinya pada kediaman yang dirinya datangi ini, tiba-tiba saja langsung memeluknya dengan erat, seakan sangat amat bahagia dengan kemunculan dirinya ditempat ini.


Zen tentu cukup kebingungan dengan keadaan yang terjadi saat ini. Apalagi seorang wanita yang sangat amat cantik saat ini langsung memeluknya dengan erat. Masalahnya mendapat perlakuan seperti itu, bukan perasaan aneh-aneh yang dirasakan oleh Zen, melainkan sebuah rasa kenyamanan yang hangat bisa dirasakan oleh Zen.


Bahkan tanpa sadar, Zen saat ini mulai membalas pelukan wanita itu, dan saat ini mulai memeluknya dengan erat, seakan dirinya merasa nyaman dengan pelukan yang saling berbalas itu, sehingga Zen merasa sangat amat senang memeluk wanita yang saat ini sedang memeluk dirinya itu.


"Akhirnya kamu datang juga Putraku" balas wanita itu yang saat ini melepaskan pelukan Zen dan mulai memperhatikan wajahnya.


Air mata haru bisa dikatakan mulai turun dari mata dari wanita itu yang terlihat indah. Bahkan bisa dilihat dirinya sangat merasa bahagia melihat wajah Zen yang saat ini mulai dielus dengan lembut menggunakan tangannya. Zen seakan terpaku mendapatkan perhatian seperti itu dari wanita yang berada dihadapannya.


Entah kenapa dirinya merasa sangat amat nyaman dengan sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh wanita itu. Maka dari itu Zen akan membiarkan wanita itu melakukan apa yang dirinya lakukan kepadanya, dan mulai menikmati setiap sentuhan yang membuat hatinya mulai menghangat itu.


"Rafa, siapa yang datang sayang?" hingga sebuah suara berat khas seorang pria, saat ini mulai menyusul keberadaan mereka yang masih menikmati waktu mereka itu.


"Putra kita sudah datang, Suamiku" hingga disaat wanita yang memberi rasa nyaman itu menjawab perkataan pria itu, seorang sosok pria yang sedikit berumur mulai muncul pada pandangan Zen.


"A-Ayah" Dan begitulah tanggapan Zen yang terdengar sangat amat terkejut, melihat siapa yang muncul dibalik wanita yang masih menyentuh lembut wajahnya.


"Akhirnya, kamu tiba juga Putraku" Hingga sebuah jawaban yang diterima oleh Zen itu, langsung membuat air mata haru miliknya, mulai jatuh dan membasahi pipinya dan mereka mulai saling berpelukan.

__ADS_1


Ruang makan sederhana saat ini menjadi tempat bagi sebuah keluarga kecil mulai berkumpul. Apalagi setelah Zen melepaskan rindunya kepada Ayahnya, saat ini dirinya dibawa menuju meja makan dari kediaman ini, karena wanita yang memeluknya tadi sedang melanjutkan masakannya yang belum selesai.


"Aku kira, Ayah benar-benar mati" balas Zen yang merasa sangat amat bahagia melihat Ayahnya masih hidup dan sangat amat sehat.


Saat ini Ayahnya sudah menggunakan wujud humanoid miliknya. Walaupun memang selama ini dirinya hanya menggunakan wujud cahaya putih dalam penampakan dirinya, tapi sebagai anak tertua dari keluarga dari Sang Pencipta, Zen bisa dikatakan satu-satunya pihak yang diperlihatkan wujud aslinya, sehingga Zen saat ini mampu mengenalinya.


"Hahahaha... Apakah kamu mengira Ayah akan selemah itu. Tentu Ayah melakukannya karena Ayah ingin pensiun." balas Ayahnya yang tentu membuat Zen terkejut mendengarnya.


"Apa maksud Ayah?" balas Zen yang cukup kebingungan dengan perkataan Ayahnya itu.


Memang munculnya sisi gelap Ayahnya bukanlah sesuatu yang sengaja. Namun, dirinya menganggap bukan waktunya lagi untuk mengurus sesuatu seperti itu untuk dihentikan. Maka dari itu, dirinya menugaskan saja anak-anaknya untuk menyelesaikan semua hal yang menyusahkan itu dan meninggalkan mereka untuk menjalani masa pensiunnya.


Sudah kelelahan memang Sang Pencipta mengawasi kehidupan seluruh semesta yang dirinya ciptakan. Berjuta-juta hingga sampai milenium tahun dirinya mengawasi dan dirinya sudah merasa cukup untuk melakukannya dan memutuskan pensiun. Hingga setelah menemukan waktu yang tepat, akhirnya Sang Pencipta akhirnya melakukannya.


"Bisa dibilang seperti itu." balas Sang Pencipta kepada Zen.


Zen sama sekali tidak menyangka. Dirinya bisa dikatakan dipermainkan dengan sosok yang dirinya anggap sudah meninggal. Bahkan dirinya bertahun-tahun mengalami perasaan sedih atas kehilangannya, dan bisa-bisanya pria yang dirinya hormati itu malah bersembunyi dan menikah dengan wanita asing pada kediaman ini.


"Hahahaha... Padahal Ibu sudah melarangnya melakukannya, Putraku. Tapi kamu tahu sendiri, Ayahmu memaksa untuk melakukannya" hingga wanita yang tadi memasuki wilayah dapur dan melanjutkan proses memasaknya, saat ini kembali dengan membawa berbagai hidangan bersamanya.

__ADS_1


Masalahnya yang lebih membingungkan bagi Zen adalah siapa sebenarnya sosok wanita yang dinikahi oleh Ayahnya itu. Tentu Zen sama sekali tidak merasa keberatan memiliki seorang Ibu sambung, namun bukankah wanita itu terlalu akrab dengannya, sehingga Zen cukup bingung untuk menghadapi sosok wanita tersebut.


"Cih... padahal kamu merupakan satu-satunya Putra kami yang masih mendapatkan perhatian dari Ibu kandungmu, tetapi kamu sepertinya sudah melupakan sosok Ibumu" balas Sang Pencipta yang langsung membulatkan mata Zen saat mendengarkan perkataannya.


"APA!" teriak Zen yang sangat amat terkejut mendengarkan perkataan Ayahnya.


Siapa yang tidak terkejut mendengarkan perkataan Ayahnya itu. Bahkan Zen sempat bolak-balik memandang sosok Ayahnya dan wanita yang dikatakan sebagai Ibu kandungnya itu. Karena bisa dikatakan Zen sama sekali tidak menyangka dengan jalannya alur dari pembicaraan yang sedang dirinya lakukan saat ini bersama Ayahnya.


"Memangnya kamu kira kamu lahir dari batu? Tentu dari kamu dan adik-adikmu lahir dari sebuah rahim, Putraku" Balas Sang Pencipta kembali.


"Wajar dirinya tidak ingat, Suamiku. Dulu aku meninggalkannya saat dirinya masih sangat kecil" balas sosok yang merupakan Ibu dari Zen itu, yang saat ini terlihat sibuk mempersiapkan makan siang untuk mereka.


Zen sendiri masih membatu ditempatnya saat ini. Dirinya sama sekali belum mampu memproses semua kejadian yang sedang terjadi. Apalagi sebuah kenyataan yang sama sekali tidak dirinya ketahui, saat ini langsung ditemukan olehnya dan kenyataan itu sama sekali tidak disangka oleh Zen untuk diketahui olehnya.


"L-Lalu I-Ibu kemana s-selama ini?" ucap Zen yang mulai memandangi sosok yang dengan cekatan mempersiapkan meja tempat mereka makan itu.


"Salahkan Ayahmu, karena dirinya menghukum Ibu, sehingga Ibu tidak bisa bertemu dengan kalian dan merawat anak Ibu satu-persatu" ucap Wanita itu sambil menunjukan senyum candaan kepada suaminya.


Namun Zen tentu saja tidak melihat senyum candaan itu dan saat ini mulai menatap tajam sosok Ayahnya, yang sudah berani-beraninya menyembunyikan kenyataan ini dari adik-adiknya dan dirinya selama ini, hingga sebuah kenyataan yang dilontarkan Ibunya itu membuat Zen seakan merasa kesal dengan Ayahnya yang menunjukan senyum kecutnya mendengar perkataan Istrinya.

__ADS_1


Memang tidak salah juga ucapan dari wanita yang menjadi Ibu dari Zen itu. Karena terpisahnya dirinya dengan Zen dan adik-adiknya dengan Ibu kandungnya pada saat itu bisa dikatakan dikarenakan oleh Sang Pencipta sendiri, sehingga selama ini Zen tidak pernah sama sekali mengetahui sosok yang merupakan Ibu kandung mereka, bahkan Sang Pencipta sama sekali tidak pernah menyinggung keberadaannya.


"Hahh... baiklah, kalau begitu Ayah ceritakan bagaimana Ibumu tidak bisa merawat keberadaan dirimu dan adik-adikmu"


__ADS_2