
Pada sebuah kamar, sepasang suami istri sedang melakukan kegiatan panas mereka. Suara pihak yang sedang menikmati kegiatan tersebut, saat ini terus terdengar dengan jelas keluar dari dalam kamar yang menjadi saksi bisu dari permainan panas yang sedang mereka lakukan.
Didalamnya, bisa dilihat seorang pria dengan ganasnya menyambar bibir Istrinya, sedangkan tubuh bagian bawah mereka saat ini sedang bersatu, dan sang pria yang sedang menindih wanita tersebut terus melakukan aksinya untuk menikmati tubuh wanita yang sedang ditindihnya itu.
"Ahnnn~" begitulah suara terus keluar disaat permainan mereka semakin panas, apalagi mereka sangat menikmati permainan tersebut.
Butir keringat saat ini mulai turun dari persatu mengalir melalui tubuh polos dari Santi. Dengan terus mendapat penetrasi dari Zen, wanita itu saat ini terus memejamkan matanya sambil menikmati aksi suaminya itu yang sedang bersenang-senang di atas tubuhnya.
Bibir mereka memang sudah saling berpisah saat ini, namun bibir Zen seakan tidak tinggal diam dan terus menyerang kearah bagian tubuh lain dari wanita yang sudah tidak mengenakan apapun pada tubuhnya itu.
Pergerakan mereka semakin intens. Santi juga mulai mengikuti irama pergerakan suaminya, untuk mencoba mendapatkan kenikmatan lebih dari apa yang sedang mereka lakukan. Bahkan saat ini tubuhnya seakan menegang karena terus merasakan perasaan yang membuatnya merasa bahagia.
Hingga tanpa disadari ada sesuatu yang akan memuncak dari dirinya, sehingga Tiba-tiba saja tanpa dikomandoi saat ini tubuhnya menegang dan merasa sangat keenakan, setelah tubuhnya sudah sampai kepada puncak kebahagiaan atas hasil dari apa yang sedang dirinya lakukan saat ini.
"Hahh... Hahh... Hahh. Terima kasih, Zen" dan begitulah ucapan Santi yang mulai berbaring lemas di atas tempat tidur yang menjadi saksi aksi panas mereka.
Tentu karena merasakan Istirnya sudah mencapai batasnya, Zen mengehentikan sejenak aksinya agar membuat wanita itu menikmati semua rasa kenyamanan dari apa yang sedang mereka lakukan. Hingga tubuhnya yang polos itu mulai melemah, karena ini sudah kesekian kalinya wanita itu merasa sesuatu seperti itu terjadi kepadanya.
"Berarti sekarang giliran diriku, bukan?" hingga seorang wanita yang sebelumnya sudah terkapar tak berdaya terlebih dahulu, seakan mulai bersemangat kembali melihat saudarinya sudah lemas ditempatnya.
"Sepertinya kamu tidak pernah puas, Kana. Padahal kita sudah melakukannya sedari tadi." Balas Zen yang saat ini mengecup singkat bibir Santi sebelum dirinya mulai melepaskan tubuhnya.
__ADS_1
Kana yang melihat suaminya mendekat kearahnya tentu merasa bersemangat. Apalagi wanita yang berada pada wujud rubah berekor sembilan itu, memang kembali bersemangat setelah menyaksikan aksi suaminya dengan salah satu saudarinya tadi yang sedang melakukan kegiatan panas mereka.
Memang pada awalnya mereka sudah melakukannya, sebelum Zen akhirnya melakukan kepada Santi. Namun sepertinya wanita rubah itu belum puas sepenuhnya, padahal tadi Zen sudah membuat lemas wanita yang saat ini sudah berbaring dan bersiap menerima penetrasi dari sosok suaminya.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan" Dan begitulah Zen mulai melanjutkan permainannya dengan Istrinya Kana, yang saat ini mulai mengerang kenikmatan atas perlakuan dari Zen kepadanya.
****
Sudah sebulan berlalu setelah kejadian kebangkitan seorang Titan dan berubahnya status Zen yang saat ini menjadi Sang Pencipta. Saat ini Zen hanya disibukkan dengan terus menyesuaikan kekuatannya agar bisa menggunakan sepenuhnya otoritasnya yang merupakan Sang Pencipta.
Kekuatan besar itu tentu saja sangat amat lama untuk disesuaikan pada tubuhnya. Jadi, yang bisa dirinya lakukan adalah bersabar untuk menjalani proses tersebut, setelah akhirnya dirinya sepenuhnya akan berubah menjadi entitas paling puncak pada seluruh semesta yang luas ini.
"Lalu, apa yang sedang dipikirkan oleh istri tersayang ku subuh-subuh begini?" hingga Zen saat ini mulai memeluk mesra sosok Vero yang memang sedang berdiri pada balkon dari kediaman mereka.
"Bukankah aku sudah mengundang dirimu tadi malam, namun kamu yang menolaknya" ucap Zen kembali kepada wanita itu.
"Aku masih malu, Zen. Aku belum terbiasa melakukan hal itu bersama yang lainnya. Jadi, aku menolak permintaanmu itu" balas Vero kepadanya.
Memang semenjak kejadian yang terjadi sebulan yang lalu, Zen hanya menghabiskan waktunya untuk bercengkrama dengan Istri-istrinya. Dirinya mulai memanjakan mereka satu-persatu, mulai dari jalan-jalan, kencan, dan sebagainya untuk menghabiskan waktu mereka bersama satu sama lain.
Semua wanita Zen tentu sangat bahagia dengan perilaku Zen itu, apalagi setelah kejadian yang terjadi sebulan yang lalu, tidak ada sesuatu yang penting yang dilakukan oleh Zen, sehingga dirinya bisa menghabiskan waktunya bersama-sama dengan Istri-istrinya dan beberapa calon Istrinya yang lain.
__ADS_1
"Lalu, Bukankah kamu akan mengesahkan hubunganku dengan Freya, Amaterasu, dan Alice hari ini, Zen? Seharusnya kamu mulai bersiap-siap" hingga Vero saat ini membalikan badannya dan saat ini mulai menatap suaminya itu.
"Memang. Tapi aku melakukannya setelah akuĀ berhasil menenangkan rasa gejolak Istriku ini" Dan begitulah Zen saat ini mulai mengangkat tubuh Istrinya itu dan membawa kembali kedalam kamarnya.
"Ahn~ hentikan Zen." dan begitulah akhir dari kalimat Vero, sebelum dirinya dibungkam mulutnya oleh bibir Zen, dan dibawa menuju kamar yang terdapat Santi dan Kana yang masih terkapar lemas atas kegiatan mereka dengan Zen tadi.
Begitulah malam yang sempurna bagi Zen, yang saat ini akhirnya bersiap-siap untuk melanjutkan harinya. Apalagi hari ini merupakan hari yang penting bagi dirinya, setelah beberapa calon Istrinya akan mengesahkan hubungan mereka dengan Zen pada hari ini.
"Kenapa kamu membuat mereka lemas semuanya, Zen. Apakah kamu tidak ingin istri-istrimu ini hadir dalam pernikahanmu?" Kata Kelly yang memasuki kamar suaminya itu, dan menemukan tiga tubuh wanita tanpa sehelai benangpun sedang terbaring di atas kasurnya.
"Tenanglah. Nanti Axillia yang akan membantu mereka untuk bisa bangkit kembali" balas Zen yang mengecup singkat bibir Kelly yang terlihat sedikit merasa kesal dengan kelakuan suaminya itu.
"Hahh.. kalau begitu bersiap-siaplah. Karena sebentar lagi, kamu akan mengesahkan hubunganmu satu-persatu dengan yang lainnya" balas Kelly yang saat ini mulai membalas ciuman bibir suaminya.
Awalnya mereka memang Kelly berniat memberikan sebuah ciuman singkat kepadanya. Namun ternyata ciuman itu berubah menjadi ******* yang dalam, sebelum akhirnya mereka memisahkan diri masing-masing setelah sudah puas melakukannya.
"Cih... coba saja aku tidak kelelahan karena pekerjaan tadi malam" balas Kelly yang sebenarnya juga sangat ingin menghabiskan waktu yang panas dengan suaminya.
Pernikahan Zen nanti akan cukup berbeda dari biasanya. Walaupun nanti Alice akan menjalani prosesi seperti biasa, namun untuk kedua Dewi yang akan dirinya nikahi, akan langsung menjalani prosesi pernikahan pada lokasi Faksi Dewa mereka masing-masing berada.
Tentu untuk Amaterasu, Zen akan melakukan pernikahan kerjaan pada Kerajaan Jepang sebentar lagi. Dan untuk Freya, tentu dirinya akan menjalani pernikahan mereka pada sebuah pulau khusus yang menjadi lokasi keberadaan Dewa-dewa Nordik yang terdapat di Utara wilayah Eropa tempat dimana mereka berada.
__ADS_1
Maka dari itu, sejak pagi Zen sudah disibukkan dengan berbagai hal, karena dirinya akan menjalani prosesi yang berbeda-beda nantinya untuk dapat menikahi ketiga calon Istrinya yang baru, dan nantinya akan menjadi keluarga baru bagi dirinya dan seluruh Istri-istrinya.
"Baiklah, aku sudah siap"