Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Ancaman


__ADS_3

Seorang pria berumur sekitar 40 tahunan saat ini sudah menindih seorang wanita muda yang sudah dia sewa jasanya untuk memuaskan nafsu birahinya. Dengan sudah dikuasai oleh nafsu sepenuhnya, kedua pasang manusia itu sedang menikmati sesi panas itu bersama.


Sudah sekitar 30 menit mereka melakukan itu, hingga akhirnya kedua insan itu sudah berbaring di atas tempat tidur yang mereka jadikan tempat kegiatan mereka, yang dimana raut wajah sang pria terlihat sangat puas dengan apa yang dirinya lakukan.


“Beristirahatlah, aku akan pergi menuju kamar mandi sejenak” ucap pria itu kepada pelacur yang dia sewa itu.


Pria yang terlihat perutnya cukup menonjol itu mulai bangkit dari tempat tidurnya dan pergi menuju kamar mandi, untuk sekedar membersihkan tubuhnya yang sudah penuh dengan keringat karena adegan panas yang dirinya lakukan sedari tadi.


Setelah selesai, pria yang sudah menggunakan jubah mandinya mulai keluar dari kamar mandi yang dirinya gunakan tadi, dan mulai menyeduh kopi untuk diminumnya lalu langsung duduk pada teras dari Villa yang dimiliki oleh keluarganya.


“Hm... akhirnya sudah tidak ada yang mengejar diriku, saat kelompok laknat itu sudah musnah sepenuhnya” ucap pria itu sambil meminum kopi yang dibuatnya tadi.


Pria itu memang mempunyai utang yang banyak untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu hutang yang dimilikinya berasal dari kelompok yang pernah Zen bantai, yang merupakan kelompok bentukan dari Vampire.


Karena kelompok itu sudah musnah sepenuhnya, jadi utangnya juga bisa dianggap hangus karena tidak ada orang lagi yang akan menagih hutang tersebut, karena memang seluruh anggota dari kelompok yang memberikan utang kepadanya sudah musnah.


“Yang harus aku lakukan sekarang adalah menguras habis seluruh harta putriku kalau begitu” ucap pria serakah itu dan mulai meneguk habis kopi yang di seduhnya tadi.


Entah mengapa sesi panas yang dia lakukan tadi, membuat salah satu bagian tubuhnya mulai menegang kembali karena mengingat kegiatannya tersebut. Walaupun dirinya sudah membersihkan dirinya tadi, entah mengapa dirinya sudah merasa bernafsu dan ingin kembali melakukan kegiatan panasnya kembali.


Akhirnya pria itu mulai beranjak dari bangkunya dan mulai menuju kearah kamar yang dimana seorang wanita masih terbaring diatasnya. Dengan selimut menutupi tubuh montoknya, pria itu seakan tidak sabar untuk melahapnya dan mulai membuka selimutnya untuk menikmati kembali wanita yang sedang terbaring itu.


“AHHHHHHHH”


Teriak pria itu terkejut dan langsung mundur beberapa langkah dari tempatnya dan mulai jatuh terduduk, karena dirinya cukup terkejut dengan apa yang sedang dirinya lihat itu.

__ADS_1


“S-Siapa yang melakukannya?” ucap pria itu yang melihat wanita pelacur yang disewanya tadi sudah tewas dengan darah yang sudah merembes melalui sprei putih tempatnya tidur.


Pria itu mulai bangkit dari tempat dirinya jatuh terduduk tadi dan mulai memperhatikan area sekitar dirinya berada. Namun alangkah terkejutnya dirinya merasakan sebuah moncong pistol sudah menempel pada bagian belakang kepalanya.


“Halo Thomas” ucap pria yang menodongkan pistolnya kepada pria yang bernama Thomas tersebut.


Tentu Thomas sangat mengenal suara yang sedang menyapa dirinya itu. Cukup terkejut memang dirinya mendengar suara pria tersebut, karena tidak menyangka bahwa pria itu bisa ada disini dan sedang mengancamnya.


“S-Selamat malam Tuan B-Black” ucap Thomas sambil gemetar ketakutan menyapa kembali pria yang sedang menodongnya.


“Hm... anda terlihat sangat menikmati kehidupan anda Thomas” ucap pria bernama Black itu sambil memperhatikan seorang wanita yang masih telanjang dan sudah bersimbah darah di atas kasur tempat dirinya tidur tadi.


“A-Ah... s-saya hanya mencoba menikmati w-waktu senggang saya saja t-tuan” ucap Thomas kembali yang masih ketakutan dengan kejadian yang dirinya alami.


“Hm... benar katamu. Sebagai seorang manusia, kita harus menyempatkan diri untuk menikmati waktu yang kita miliki. Jadi, apakah kamu sudah siap mati karena sudah menikmati waktu terakhirmu menjadi seorang manusia?” ucap Black yang mendorong sedikit moncong pistol yang menempel pada kepala pria yang dipanggil Thomas itu.


“S-Saya bingung harus membaya-” namun sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, Black langsung menarik pelatuknya dan menembak lampu yang berada di atas meja di samping tempat tidur dimana mayat pelacur yang disewa Thomas berada.


Tentu Thomas semakin gemetaran karena ketakutan. Bahkan seluruh tubuhnya sudah mengeluarkan keringat dingin karena saking takutnya dengan keberadaan pria yang sangat terkenal tidak berperikemanusiaan tersebut.


“Kamu bisa menikmati waktumu dan tidak membayar hutangmu. Apakah kamu ingin melihat seorang malaikat maut lebih cepat?” kata Black kembali.


“A-Aku akan membayarnya tuan. Aku akan membayar semua hutangku” ucap Thomas yang mulai berlutut dan memohon kepada pria yang masih menodongkan pistolnya kearahnya.


“Bukankah kamu sangat senang tadi, saat mengetahui kelompokku sudah musnah?” tanya Black kembali yang mendengar semua ocehan yang diucapkan oleh Thomas saat bersantai tadi.

__ADS_1


“M-Maafkan aku tuan. Aku berjanji akan melunasi semua hutangku secepat mungkin” ucap Thomas.


“Tiga hari” ucap Black kemudian.


“T-Tapi tuan wak-”


Namun sebelum Thomas menyelesaikan kalimatnya, sebuah tembakan kembali terdengar namun kali ini tembakan itu berhasil mengenai daun telinganya. Tentu Thomas langsung mengerang kesakitan mendapati daun telinganya sudah tertembak timah panas.


“Baiklah!!! Tiga hari... aku akan melunasi semua hutangku dalam waktu Tiga hari!” teriak Thomas sambil memegang telinganya yang sudah mengeluarkan darah.


Mendengar itu Black mulai tersenyum dan menurunkan bidikan pistolnya kearah bawah, dan sudah tidak menodongkan senjatanya lagi kearah Thomas. Namun Black saat ini langsung mendekat kearah Thomas dan berjongkok didekatnya.


Tentu Thomas berusaha untuk mundur karena ketakutan melihat pria yang menembaknya tadi mendekat kearahnya. Namun ternyata langkah pria itu lebih cepat dan saat ini sudah berjongkok, lalu sedang menatapnya dengan tatapan yang menyeramkan.


“Tiga hari. Kalau tidak, dirimu akan mengetahui apa yang akan terjadi kepadamu selanjutnya” balas Black dan mendapatkan anggukan dari Thomas yang masih memegang telinganya yang tertembak tadi.


“Anak pintar. Kalau begitu, aku pamit dulu. Dan juga jangan lupa bayar hutangmu itu oke, karena aku cukup malas untuk menyiksa orang saat ini” balas Black yang sudah bangkit dari tempatnya dan mulai beranjak dari sana.


Thomas tentu saja langsung merasa lega setelah kepergian pria yang menembaknya itu. Namun belum sempat dirinya menenangkan diri, dia kembali mengingat perkataan pria itu dan segera mencari ponsel miliknya.


Tidak menghiraukan darah yang terus mengucur dari daun telinga sebelah kirinya. Pria itu sesegera mungkin mencoba menghubungi seseorang yang menurutnya bisa membantu dirinya dalam menangani permasalahan yang sedang dihadapi olehnya.


“Halo Tuan Richard, bagaimana kabarmu....” ucap pria tersebut kepada seseorang melalui sambungan ponselnya.


Namun yang dirinya tidak tahu dan pria yang menembaknya juga tidak tahu, sedari tadi pertunjukan yang mereka lakukan itu sedang disaksikan oleh seseorang dari jarak jauh, karena memang dirinya tidak sengaja merasakan aura yang akrab.

__ADS_1


“Ho... semakin menarik”


__ADS_2