Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Proposal


__ADS_3

Seorang wanita yang pada lehernya terdapat sebuah plester luka, saat ini sedang terlelap dengan nyaman pada sebuah tempat tidur dikamar hotel tempatnya berada.


Cukup aneh memang dirinya tidur ditempat seperti itu, karena kamar hotel tempatnya berada saat ini merupakan kamar hotel yang bisa dibilang sangat standard.


Biasanya, jika dirinya ingin menginap pada sebuah tempat, wanita itu akan menyewa sebuah kamar hotel dengan fasilitas yang mewah dan menginap di sana. Namun saat ini dirinya malah tidur pada sebuah hotel yang bisa dibilang harga sewanya sangat amat murah.


“Hm... sudah pagi ya...” ucap wanita itu setelah beberapa cahaya matahari mulai menembus gorden kamar hotel tempat dirinya berada.


Dengan mulai bangkit dari tempat tidurnya dan mulai duduk diatasnya, saat ini dirinya masih mencoba mengumpulkan kesadarannya sambil melihat sekeliling kamar tempatnya menginap semalam.


“Tunggu....” ucap wanita itu yang akhirnya menyadari sesuatu, karena saat ini pemandangan asing sedang dirinya lihat saat melihat sekeliling tempatnya berada.


Hingga akhirnya, dirinya menyadari sesuatu. Apalagi kesadarannya sudah sepenuhnya terkumpul dan menyadari bahwa dirinya sebenarnya tidak sepatutnya berada ditempat ini, karena dirinya mengingat apa yang dia lakukan tadi malam.


Tentu wanita itu langsung memeriksa seluruh keadaan tubuhnya menggunakan kedua tangannya secara detail. Walaupun saat ini sebuah selimut masih menutupi seluruh tubuhnya, tetapi dirinya ingin memastikan apakah dirinya baik-baik saja setelah kejadian yang dimana dirinya terjatuh dari atas sebuah jembatan.


“Apakah kejadian semalam hanyalah sebuah mimp-” namun sebelum dirinya menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar hotel tempatnya berada saat ini mulai terbuka dan memunculkan sesosok pria yang membawa nampan berisi berbagai makanan.


“Ho... kamu sudah bangun?” ucap Zen yang baru saja masuk kembali kedalam kamarnya, sambil membawa sarapan untuk disantap oleh dirinya dan wanita yang masih terlihat kebingungan dengan keberadaan dirinya saat ini.


“Z-Zen?” ucap wanita yang menatap keberadaan seorang pria yang mulai masuk kedalam kamar tempat dirinya bermalam.


“Kenapa? Apakah kamu menyesal tidak mati saat percobaan bunuh dirimu tadi malam Vero?” ucap Zen kepada wanita yang saat ini menatapnya, karena melihat ekspresinya yang terlihat cukup terkejut melihat keberadaan Zen ditempat ini.


Tentu perkataan Zen membuat Vero langsung membulatkan matanya karena terkejut. Karena sebenarnya, dirinya mengira bahwa apa yang dirinya ingat tadi malam adalah sebuah mimpi.


“L-Lalu, mengapa aku berada disini?” ucapnya karena memang dirinya mengingat bahwa dia hampir saja terjatuh kebawah, dan mendarat pada dasar jurang tempatnya terjatuh sebelumnya.


“Karena aku menyelamatkanmu tadi malam” ucap Zen sambil menata makanan yang dibawanya di atas sebuah meja.

__ADS_1


Memang karena hotel yang dirinya sewa itu cukup standard, saat ini bisa terlihat sebuah meja terletak tepat di samping tempat tidur Vero, karena memang bisa dikatakan hotel yang mereka berdua tinggali saat ini cukup sempit.


Jadi, saat ini mereka bisa berbincang dengan normal, walaupun Zen sedang menata makanan yang dibawanya, karena keberadaan mereka tidak terlalu jauh satu sama lainnya.


“Lalu dimana aku sekarang?” tanya Vero kemudian, sambil sekali lagi melihat kearah sekitar tempatnya berada.


“Di kamar hotel yang aku sewa” ucap Zen yang mengakhiri kegiatannya, setelah semua makanan yang dirinya pesan sudah tertata rapi di atas sebuah meja.


“I-Ini kamar hotel yang kamu tinggali?” balas Vero kemudian yang terkejut mendengar perkataan Zen, dan langsung membuka selimut yang masih dikenakan olehnya dan memeriksa keadaan tubuhnya.


Vero langsung bernafas lega karena memang pakaiannya masihlah lengkap, karena dirinya mengira Zen melakukan sesuatu yang buruk kepadanya, saat pria itu membawanya menuju kamar hotel yang disewanya.


“Apa yang kamu cari? Cepatlah kesini dan makanlah sarapan yang sudah aku bawakan” ucap Zen yang memperhatikan bahwa Vero seperti sedang mencari sesuatu didalam selimut yang dikenakan olehnya.


“A-Ah... baiklah” ucap Vero yang bangkit dari tempat tidurnya, dan mulai mendekat kearah meja makan dari kamar hotel yang sempit tersebut.


Vero mulai duduk pada meja makannya dan saat ini sudah menyaksikan bahwa Zen sudah memulai kegiatan memakan makanannya. Tentu saja karena Vero sudah lapar, dirinya mulai menyusul Zen dalam menyantap makanannya juga.


“Terima kasih sudah menyelamatkanku tadi malam Zen” ucap Vero yang sudah menyelesaikan sarapannya, dan memutuskan untuk memulai percakapan mereka dengan ucapan terima kasih.


“Hem..” balas Zen sambil mengangguk dan terlihat mulutnya penuh dengan makanan, sehingga dirinya tidak bisa membalas satu katapun kepada Vero.


Vero lalu melihat kondisi kamar yang disewa oleh Zen. Memang jika dilihat kamar hotel ini sangatlah sederhana dan membuat Vero paham mengapa Zen bisa menginap ditempat ini, karena mungkin harganya sesuai dengan kemampuan keuangannya.


“Sebenarnya aku tidak berniat untuk bunu-” ucap Vero yang ingin menjelaskan bahwa kejadian tadi malam bukan niat dirinya untuk melakukan hal tersebut. Tetapi sekali lagi perkataannya terpotong setelah Zen menelan habis makanan didalam mulutnya dan berkata sesuatu.


“Baiklah, Baiklah. Aku akan menjadi bodyguard untuk dirimu” ucap Zen yang menyela perkataan Vero yang hendak mengungkit tentang kejadian dirinya ingin bunuh diri tadi malam.


“Benarkah?” tanya Vero memastikan dan mencoba mengkonfirmasi kembali perkataan dari Zen.

__ADS_1


Namun, Vero mulai memikirkan sesuatu kembali. Menurutnya membuat Zen menjadi suaminya lebih menguntungkan daripada menjadikannya seorang Bodyguard. Seorang bodyguard mungkin akan selalu ada bersamanya dan akan selalu melindunginya. Namun ada sesuatu yang tidak bisa dilindungi oleh seorang bodyguard.


Membuat Zen menjadi suaminya menurutnya akan sangat menguntungkan, karena statusnya saja bisa melindungi Vero dari beberapa orang yang ingin menjadikan dirinya sebagai istri mereka seperti halnya Richard.


Jika Zen menjadi suaminya apalagi sudah terdata dimata hukum negara ini, tidak ada yang bisa kembali memaksanya untuk menikahi siapapun kedepannya, karena memang Vero sudah mempunyai seorang suami yang sah.


“Tapi aku ingin kamu menjadi suami b-” ucap Vero yang berniat menjadikan Zen menjadi suaminya, namun sekali lagi perkataannya kembali terpotong oleh Zen.


“Aku tahu kamu sangat ingin menjadikan diriku suamimu. Tetapi maafkan aku karena aku hanya ingin menjadi bodyguard untukmu saja” ucap Zen yang menolak perkataan Vero yang belum sempat dirinya selesaikan.


“Cih.... siapa yang ingin menjadikanmu suamiku. Aku hanya ingin memberikan tawaran untuk menjadi suami bayaran untukku” balas Vero kemudian, yang mengajukan sebuah proposal kepada Zen.


Tentu rencana Vero untuk mencari suami bayaran sudah lama dirinya rencanakan. Bahkan Kelly sudah dirinya suruh untuk mencari pria yang cocok untuk dijadikan suami bayarannya, namun mereka semua sangat tidak cocok untuk menjadi suami bayaran dari Vero.


Vero bisa melihat tatapan nafsu dari pria-pria tersebut, bahkan beberapa diantara mereka mempunyai niat lain yaitu ingin menguras habis harta Vero, karena mereka terang-terangan meminta berbagai hal yang mahal untuk bayaran menjadi suami bayaran dari Vero.


Tentu hal itu membuat Vero mengurungkan niatnya mencari seorang suami bayaran untuk melindungi dirinya, yang selalu dikejar oleh pria hidung belang yang ingin menikahinya. Sampai akhirnya dirinya bertemu dengan Zen.


“Bukankah itu sama saja?” tanya Zen yang kebingungan dengan arah pembicaraan dari Vero


“Tentu saja berbeda. Ini seperti seorang bodyguard tetapi dalam kedok suami” balas Vero meyakinkan Zen untuk menerima tawarannya.


“Cih... apakah seniat itukah dirimu untuk membuatku menjadi suamimu, hingga kamu merubah beberapa kosakata yang menurutku rumit itu?” ucap Zen kemudian.


“Sudah kubilang, siapa juga yang ingin membuat orang sepertimu mejadi suamiku. Aku hanya menawarkan sebuah pilihan yang mungkin akan membuatmu kaya dimasa depan” ucap Vero yang merasa sedikit kesal karena perkataannya disalah artikan oleh Zen sedari tadi.


“Cih... aku tidak butuh uangmu. Aku hanya ingin menjadi bodyguard untukmu” balas Zen bersikeras.


Dan inilah yang membuat Vero semakin yakin membuat Zen menjadi suami bayarannya. Pria tersebut seakan tidak memperdulikan permasalahan apapun terlebih lagi tentang uang, dan membuatnya sangat cocok untuk menjadi suaminya, tanpa Vero mengkhawatirkan hartanya akan terancam.

__ADS_1


“Sudah kubilang, kamu akan menjadi bodyguard untukku, tetapi dalam kedok menjadi suamiku”


__ADS_2