
Seorang wanita saat ini sudah gemetar ketakutan karena sebuah bilah tajam dari pisau yang menempel dilehernya sudah melukai leher mulusnya itu sedikit. Merasakan lehernya terluka, dirinya tahu bahwa orang yang menyanderanya saat ini sangat serius dengan perbuatannya.
“Cih... dimana keberanian kalian tadi saat ingin melawanku?” ucap seorang pria dengan nada mengejeknya, melihat seorang pria yang saat ini sangat ketakutan dan sudah menyandera seorang wanita.
Zen sebenarnya bisa saja membiarkan apa yang sedang terjadi kepada Vero yang sedang disandera itu terjadi. Namun karena dirinya membenci seseorang mengancamnya menggunakan nyawa orang lain, akhirnya Zen menggunakan sedikit auranya untuk melepaskan Vero dari jeratan penyanderaan yang dirinya alami.
“Ta-Tanganku” ucap pria yang merasa tangannya melemas, dan pisau yang dirinya pegang sudah terjatuh dari tangannya.
Melihat itu tentu Vero langsung mengsikut tubuh dari pria yang mencoba menyanderanya tadi dan langsung melarikan diri menuju ketempat Zen berada, setelah pria yang menyanderanya sudah tersungkur kebelakang.
Setelah Vero sudah mendekat kearah Zen, pria yang tadi menyanderanya akhirnya mulai mengeluarkan suara teriakan kesakitan, setelah Zen melemparkan pisau tepat kearah telapak tangannya, yang dirinya pegang sedari tadi dan dirinya dapatkan dari rekannya yang sudah tepar di tanah.
“Hm... akhirnya selesai, dan sepertinya hanya tersisa dalang dari ini semua” ucap Zen yang menatap kedua orang yang saat ini entah mengapa tidak bisa bergerak dari tempat mereka berada.
Zen mulai mendekati kedua orang yang terlihat ketakutan tersebut dengan langkah yang perlahan. Tentu Vero juga mengikuti langkah Zen karena dirinya tidak mau kejadian yang dirinya alami tadi terulang kembali.
“Hmm... Apa yang harus aku lakukan kepada kalian berdua” ucap Zen yang saat ini menatap satu persatu kedua pria yang saat ini tidak bisa melakukan apapun itu.
Tentu siapa yang menyangka pria yang bersama Vero akan sekuat itu. Bahkan beberapa preman yang sangat terkenal dengan kebengisan mereka, tidak sanggup untuk melawan seseorang yang dengan bringas mengalahkan mereka.
“Baiklah. Sebagai hukuman, pilihlah tanganmu atau kakimu yang akan aku patahkan?” ucap Zen kepada kedua pria yang saat ini sudah terlihat sangat ketakutan.
“A-Apa maksudmu T-Tuan?” balas ayah tiri dari Vero yang tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Zen kepadanya tadi.
“Salah satu tanganmu atau kakimu yang harus aku patahkan? Pilihlah cepat” ucap Zen yang saat ini menatap Richard.
“Cih... jika kamu ber- arghhhhhhhh” teriak Richard yang dimana Zen sudah mematahkan kaki kirinya menggunakan tendangannya yang tepat mengarah pada tulang keringnya, dan membuat dirinya tersungkur di tanah sambil meringkuk kesakitan.
Namun tidak sampai di sana, Zen kembali menginjak kearah lengan kiri dari tangan Richard dan mematahkannya sekaligus, karena memang dirinya tidak hendak memilih dan Zen cukup malas memberikan dirinya waktu kembali untuk memilih.
“Lalu, kamu tangan atau kaki?” ucap Zen kemudian kepada Ayah tiri dari Vero.
__ADS_1
“Ma-Maafkan aku tuan, tetap-”
“Keduanya kalau begitu” balas Zen kemudian yang cukup malas mendengar permohonan dari pria yang saat ini meminta keringanan hukumannya kepada Zen.
“Tangan! Tangan Tuan. Saya memilih tangan” teriak Thomas setelah sudah terlihat kaki dari Zen hendak menendang kearah tulang keringnya.
“Pilihan yang bijak” ucap Zen.
Dan akhirnya gang yang sepi itu menjadi saksi dengan suara teriakan kesakitan yang terus terdengar dari sana, hingga akhirnya beberapa aparat kepolisian dan beberapa ambulan datang kearah tempat tersebut.
.
.
Seorang wanita saat ini sedang kebingungan mencari keberadaan sahabatnya yang tidak ada didalam kamarnya saat ini. Bahkan ponsel miliknya saat ini masih terletak dengan rapi di atas nakas dari kamar hotelnya.
“Kemana kamu Vero” ucap Kelly yang sangat kebingungan dengan hilangnya keberadaan temannya.
“Sial... apakah dirinya pergi lari pagi seperti biasanya?” ucap Kelly yang menerka kemana sahabatnya itu pergi.
Namun anehnya, pagi hari sepertinya akan berakhir namun keberadaan sahabatnya itu tidak kunjung muncul, dan membuat Kelly sedikit khawatir dengan keberadaan dirinya. Hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk mencari keberadaan sahabatnya tersebut.
Jalur lari, pesisir pantai dan sekitaran area hotel tempat mereka menginap sudah ditelusuri oleh Kelly. Namun sampai saat ini, keberadaan sahabatnya itu tidak bisa ditemukan olehnya dan membuatnya semakin khawatir.
Hingga dirinya menemukan sebuah kerumunan beberapa orang yang sedang menyaksikan sesuatu pada sebuah tempat yang tidak jauh dari area hotel tempat dirinya menginap, setelah Kelly memutuskan mencari keberadaan Vero lebih jauh.
“Apa yang terjadi disini?” gumam Kelly yang sangat penasaran mengapa ada kerumunan orang ditempatnya berada.
Namun dirinya cukup terkejut karena mengenal dua orang yang saat ini sudah dinaikan kedalam sebuah ambulan, dan terlihat kondisi mereka sangat memprihatinkan.
“Maaf Bli... kalau boleh tahu apa yang sedang terjadi disini?” tanya Kelly kepada seorang pria yang berada disebelahnya.
__ADS_1
Akhirnya Kelly mengetahui garis besar tentang apa yang sebenarnya terjadi ditempat ini. Walaupun memang saat dirinya menanyakan kepada beberapa orang yang berada di sana, ceritanya akan selalu berubah.
Tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian Kelly saat mendengar cerita dari seseorang yang berada di sana, yaitu dalam ceritanya terlihat juga sepasang pria dan wanita keluar dari gang tempat dimana beberapa orang sedang terluka berada dan sedang dievakuasi.
“Cih.... apakah itu Vero?” gumam Kelly kemudian yang memastikan kembali apakah keberadaan sahabatnya itu berada di sana atau tidak.
Namun naas, hingga tempat itu kembali sepi karena semua korban sudah dipindahkan dari tempat itu, keberadaan Vero juga tidak kunjung ditemukan. Bahkan Kelly saat ini sudah beranjak menuju rumah sakit tempat beberapa korban dibawa untuk mencari keberadaan Vero, namun hasilnya juga nihil.
“Dimanakah dirimu Vero” ucap Kelly khawatir, karena dirinya kembali mendapati hasil nihil tentang keberadaan temannya.
Jam terus berjalan hingga hari mulai malam. Tetapi keberadaan Vero tetap saja belum bisa ditemukan. Bahkan Kelly yang sudah kembali dan berada didalam kamar hotel sahabatnya itu, tetap tidak menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan sahabatnya hingga saat ini.
“Sepertinya aku harus melapor polisi tentang hilangnya Vero” ucap Kelly yang akhirnya menggunakan cara terakhir, yaitu menuju kekantor kepolisian.
Setelah mengisi semua dokumen, akhirnya laporan Kelly diterima oleh pihak kepolisian dan Kelly disarankan untuk kembali menuju hotelnya dan menunggu saja hasil kerja dari pihak kepolisian dalam mencari keberadaan sahabatnya.
Tentu Kelly mematuhi perintah dari para polisi yang menerima laporannya, karena memang dirinya tidak mempunyai bukti keberadaan Vero dan dirinya bingung kemana lagi dirinya harus mencari keberadaan sahabatnya itu.
Hingga akhirnya hari baru mulai kembali muncul. Kelly tidak tidur semalaman karena memang dirinya menunggu hasil dari pencarian yang dilakukan oleh pihak kepolisian semalaman, namun hingga saat ini dirinya belum mendapatkan informasi apapun.
“Apakah aku sudah benar mengisi data kontak milikku kemarin ya...” gumam Kelly yang masih dengan sabar memegang ponselnya, untuk menunggu informasi yang sedang dirinya tunggu.
Namun tiba-tiba saja dirinya dikejutkan dengan suara ponsel. Tetapi bukan suara ponsel miliknya yang berbunyi, melainkan milik sahabatnya yang masih terletak di sebuah meja. Tentu Kelly melihat layarnya dan menemukan sebuah nomor asing sedang menghubungi ponsel sahabatnya itu.
Tentu Kelly langsung mengangkatnya, siapa tahu panggilan itu merupakan petunjuk keberadaan sahabatnya. Dan benar saja, panggilan itu ternyata berasal dari Vero yang menghubungi nomor ponselnya sendiri.
“Kamu dari mana saja Vero, aku sudah mencari keberadaan dirimu seharian penuh” ucap Kelly yang merasa lega bahwa sahabatnya itu baik-baik saja, dan sedang berbicara dengannya.
Tentu masih banyak hal yang ingin ditanyakan kepada Vero, seperti kemana dirinya pergi seharian dan sebagainya. Namun perkataannya itu langsung dipotong oleh sahabatnya itu, dan menyuruhnya melakukan sesuatu untuk Vero saat ini.
“Nanti aku jelaskan, tetapi bisakah kamu mempersiapkan beberapa dokumen untuk pernikahanku”
__ADS_1