Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Siuman


__ADS_3

Seorang wanita saat ini masih terbaring dengan nyaman ditempatnya, pada sebuah ruangan VIP dari rumah sakit tempatnya berada. Memang tadi dirinya dibawa oleh seseorang ketempat ini, karena dirinya tidak sadarkan diri setelah mengalami sebuah kejadian.


Sudah hampir beberapa jam dirinya berbaring ditempatnya, hingga akhirnya kelopak matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Dengan mulai menyesuaikan cahaya yang saat ini langsung menyorot ke bagian matanya, wanita itu saat ini berusaha mencari tahu dimana dirinya berada saat ini.


“Z-Zen?” dan begitulah sebuah kata awal yang dirinya lontarkan, saat berhasil sadar dari pingsannya itu.


Memang ruangan yang serba putih dan bersih saat ini mulai menyambut pemandangan matanya. Dengan melihat sekeliling tempatnya berada, akhirnya dirinya menyadari bahwa saat ini dirinya sedang berada disebuah ruangan rumah sakit.


Namun, bukan hal tersebutlah yang dirinya coba cari setelah dirinya siuman. Karena sosok yang sedang dirinya cari, saat ini tidak bisa dirinya temukan didalam ruangan tempatnya berada, padahal dirinya sangat yakin bahwa sosok itulah yang membawa dirinya ketempat ini.


“Zen?!” namun setelah dirinya menyadari keberadaannya, tentu orang yang pertama kali dirinya cari merupakan seseorang yang menyelamatkan dirinya tadi, karena memang dirinya belum menemukan sosok suami bayarannya itu.


Tentu wanita tersebut sangat mengkhawatirkan sosok yang sudah menyelamatkan dirinya dari sebuah kejadian yang dialami dirinya tadi. Karena memang dengan mata kepalanya sendiri, dirinya menyaksikan pria tersebut menerima berbagai tembakan saat sedang berusaha menyelamatkan dirinya.


Maka dari itu, dirinya saat ini mulai bangkit dari tempatnya, dan berniat mencari sosok pria yang sudah menyelamatkan dirinya itu. Apalagi dirinya sangat takut, jika memang kondisi pria itu sedang tidak baik-baik saja dan mungkin keadaannya lebih parah dari apa yang dialami oleh dirinya sendiri.


“Nona Veronica!” namun sebelum dirinya melakukan aksinya yang ingin mencari pria yang menyelamatkan dirinya, seorang perawat saat ini langsung menghampirinya.


Tentu perawat itu panik melihat seorang pasien yang sedari tadi tidak sadarkan diri, saat ini mencoba untuk turun dari tempat tidurnya. Bahkan dirinya juga sudah bersiap untuk mencabut dengan paksa selang infus yang menancap ditangannya.


“Berbaringlah kembali, Nona Veronica. Biar aku panggilkan dokter agar anda diperiksa terlebih dahulu” ucap perawat itu, yang mulai menghalangi tindakan dari Vero yang ingin beranjak dari tempatnya.


Ya, Vero saat ini sudah sadar sepenuhnya dari kejadian yang dialami oleh dirinya tadi. Entah mengapa dirinya bisa tidak sadarkan diri, dan tiba-tiba tersadar pada sebuah rumah sakit tempat dirinya berada saat ini. Maka dari itu, awalnya dirinya sedikit kebingungan mengapa dirinya bisa berada ditempat ini


Bahkan saat dirinya sadar, dirinya tidak bisa menemukan keberadaan suami bayarannya, yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya tadi. Apalagi dirinya tidak tahu dimana dan kondisi dari suami bayarannya itu dan ingin segera mencari keberadaannya.


“Zen... dimana Zen?” tanya Vero kemudian, kepada perawat yang menghalangi tindakannya itu.


“Zen? Siapa Zen, Nona?” tanya perawat itu sekali lagi.


“Pria yang membawaku kesini, dimana pria yang membawaku kesini?” ucap Vero kemudian, yang menuntut untuk perawat itu memberitahukan keberadaan Zen.


“Oh... Laki-laki yang membawa anda ketempat ini, sedang keluar sebentar Nona. Dirinya berkata ingin mencari makan” ucap perawat tersebut menjelaskan.


Mendengar penuturan dari perawat itu tentang dimana Zen berada, tentu membuat Vero merasa lega. Apalagi dari penuturannya sepertinya kondisi dari pria yang menyelamatkan dirinya itu baik-baik saja. Namun dirinya tentu tidak langsung untuk merasa terlalu lega saat ini, apalagi dirinya belum melihat dengan mata kepalanya sendiri, tentang kondisi dari Zen.

__ADS_1


Maka dari itu, dirinya kembali menuntut untuk untuk mengetahui dengan detail kondisi dari suami bayarannya itu, yang saat ini dirinya belum sempat melihat keadaannya secara langsung, karena memang sosoknya tidak berada ditempat ini.


“Lalu, apakah dirinya baik-baik saja. Apakah dirinya terluka?” tanya Vero kemudian.


“Terluka? pria itu terlihat baik-baik saja, Nona. Bahkan dirinya menyempatkan diri untuk menjaga anda sejenak tadi, sebelum memutuskan untuk mencari makan” balas perawat itu, yang sedikit kebingungan dengan perkataan yang dilontarkan oleh Vero.


Memang, kondisi Zen saat membawa Vero ketempat ini bisa dikatakan cukup baik. Dirinya membawa Vero seakan hanya sedang mengantarkan orang yang pingsan, dan tidak terlihat mengalami sesuatu, yang membuat beberapa pihak akan berfikiran bahwa mereka berdua baru saja terkena sebuah musibah.


Tetapi Vero masih belum merasa tenang mendengar penuturan perawat yang berada di ruangannya itu. Walaupun sudah mendengar jawaban dari perawat yang saat ini mencoba memenangkannya, tetapi dirinya belum sepenuhnya mempercayai perkataannya, sebelum dirinya melihat sendiri kondisi dari suami bayarannya itu.


Apalagi dirinya menyangka, bahwa pasti Zen setidaknya mendapat sebuah luka dari pertempuran yang dirinya lakukan tadi. Karena memang kejadian yang dirinya alami tadi, merupakan sebuh pertempuran senjata antara suami bayarannya dengan beberapa pihak yang ingin mencelakai mereka berdua.


Jadi, dirinya ingin memastikan sendiri kondisi dari pria tersebut. Apalagi Vero akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu kepada suami bayarannya itu, dan membuatnya akan menyesal karena pria yang keberadaannya hanya untuk diperalat olehnya itu, mengorbankan dirinya untuk menyelamatkannya.


“Jadi, Nona mohon tenanglah oke, saya akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan anda terlebih dahulu” ucap perawat itu kembali, yang mencoba membujuk Vero agar tidak melanjutkan tindakannya yang ingin mencari keberadaan Zen.


Tentu perawat itu tidak keluar dari ruangan Vero, untuk memberi tahu tentang kondisinya kepada dokter yang merawat dirinya. Karena memang dirinya hanya memanggil dokter yang akan memeriksa keadaan Vero melalui sambungan telfon yang ada didalam ruangan tersebut.


Jadi, niat awal Vero yang ingin mencari keberadaan Zen secara langsung, disaat perawat itu mungkin akan beranjak dari tempatnya. Dipastikan harus dirinya urungkan kembali, karena sepertinya perawat itu tidak akan meninggalkan dirinya sendirian ditempat ini.


Memang benar kata perawat tersebut, karena dokter yang akan merawatnya saat ini, sudah berada didalam ruangannya tempat dimana dirinya berada. Bahkan saat pemeriksaan, Vero seakan menjawab semua pertanyaan dilontarkan kepadanya dengan acuh.


Karena memang pikirannya saat ini masih mengkhawatirkan keadaan Zen yang hingga saat ini, keberadaannya tidak kunjung bisa ditemukan olehnya. Bahkan dirinya seakan ingin meledak, saat dokter tersebut menanyakan berbagai pertanyaan kepada dirinya.


“Sepertinya, kondisi anda yang kelelahan dan berbagai tekanan yang anda terima, mungkin menyebabkan anda tidak sadarkan diri, Nona Veronica” ucap sang dokter wanita yang memeriksa keadaan Vero, setelah mendiagnosa apa yang dialami oleh wanita yang terlihat tidak memperdulikan perkataannya itu.


Memang apa yang dikatakan oleh dokter itu bisa dikatakan cukup benar. Karena memang Vero bisa dikatakan sangat kelelahan, dan tekanan yang dirinya terima atas dipermainkan dan penyerangan yang terjadi kepada dirinya, membuat dirinya menjadi seperti itu.


Maka dari itu, cukup wajar jika dirinya tidak sadarkan diri karena berbagai tekanan yang dirinya alami selama beberapa hari ini. Karena memang, bukan saja kejadian yang terjadi hari ini saja yang membuatnya sedikit pusing menjalaninya, tetapi keadaan perusahaannya beberapa hari ini yang cukup membuatnya sedikit stres.


“Sebelum saya pergi, apakah anda membutuhkan sesuatu, Nona Veronica?” tanya dokter tersebut, setelah dirinya menyelesaikan pemeriksaannya kepada Vero.


“Aku hanya ingin pria yang menyelamatkanku, berada disini” ucap Vero kemudian, karena memang yang dirinya butuhkan adalah untuk melihat kondisi Zen yang benar-benar baik-baik saja.


“Kalau begitu, saya bisa saja mengutus beberapa staf rumah sakit ini, untuk mencari keberadaan orang yang anda cari Nona. Kalau boleh tahu, siapa yang yang ingin kami temukan keberadaannya?” tanya dokter itu kembali.

__ADS_1


“Suamiku” balasnya singkat.


Tentu dokter yang merawat Vero cukup terkejut dengan perkataan yang dilontarkan oleh Vero. Karena memang, siapa yang tidak mengenal seorang Veronica Safira. Namun sebuah pernyataan dari mulut wanita itu, cukup membuat dokter itu cukup tidak menyangka bahwa dirinya sudah menikah.


Apalagi tidak ada kabar satupun, yang menyatakan wanita yang cukup disegani sosoknya itu, sudah memiliki seorang suami. Bahkan, Vero sendiri sudah tidak memperdulikan bahwa statusnya itu akan diketahui oleh beberapa pihak, karena memang yang dirinya inginkan saat ini adalah bertemu dengan suami bayarannya itu.


"Baiklah, kamu akan mencari keberadaan Suami anda, Nona" jawab sang dokter.


"Ya... terima kasih" balas Vero kemudian, yang berharap bahwa keberadaan suami bayarannya itu cepat ditemukan, agar dirinya bisa memeriksa sendiri keadaannya.


Dokter itu hanya mengangguk saja mendengar perkataan dari Vero, dan berjanji kepada Vero untuk menemukan suaminya. Hingga akhirnya dirinya sudah berpamitan kepada Vero, yang saat ini memutuskan untuk menunggu Zen kembali didalam ruangannya.


Namun perasaan kesal dan gelisah mulai menghampiri diri Vero kembali, karena memang saat dirinya sudah memutuskan menunggu, tetapi keberadaan Zen tidak kunjung muncul dihadapannya. Tentu karena dirinya sudah muak untuk menunggu, dirinya memutuskan untuk mencari keberadaan Zen sendiri.


Tetapi sebelum dirinya melakukan semua itu, pintu kamarnya mulai terbuka dan memunculkan sosok pria yang sedari tadi dirinya cari keberadaannya. Bahkan tanpa basa-basi, Vero entah mengapa langsung mendekat kearah pria itu dan langsung memeluknya dengan erat.


“K-Kamu tidak apa-apa Zen?” ucap Vero yang kembali menangis, karena dirinya mengingat kejadian yang dimana pria itu seakan mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkannya.


“Tenanglah, aku tidak apa-apa saat ini.” ucap Zen kemudian, yang mencoba menenangkan wanita yang berada di pelukannya itu.


Tentu saat pelukannya mulai dibalas oleh Zen, dan pria itu mulai menenangkan dirinya, membuat Vero saat ini merasakan sebuah perasaan yang sangat nyaman. Tentu, dirinya sekali lagi menanyakan tentang kondisi Zen, yang dijawab bahwa kondisinya baik-baik saja.


Tetapi Vero tidak langsung mempercayai perkataan pria itu, dan langsung melepaskan pelukannya dari Zen. Bahkan dirinya saat ini langsung menyibakkan pakaian dari Zen secara paksa, untuk memastikan sendiri keadaannya.


“Sudah kubilang, aku tidak apa-apa, bukan?” ucap Zen kemudian, yang dimana bisa dikatakan pakaian bagian atasnya sudah sedikit terbuka dan menunjukan tubuhnya yang atletis itu.


“Tapi, aku melihat kamu tertembak Zen. Tidak mungkin kamu tidak apa-apa” ucap Vero sekali lagi, yang mulai memeriksa dengan detail tubuh dari Zen, dan mencari sebuah luka pada tubuhnya.


“Bukankah, awalnya aku mengenakan rompi anti peluru tadi. Jadi kamu tidak usah khawatir, karena aku memang tidak terkena sebuah tembakan saat penyerangan tadi” ucap Zen kemudian, yang mencoba kembali menenangkan wanita yang terlihat sangat serius melakukan kegiatannya itu.


Memang jika diperhatikan dengan seksama, kondisi Zen bisa dikatakan baik-baik saja. Bahkan Zen terlihat sudah mengganti pakaian yang dirinya pakai tadi, menjadi sebuah pakaian yang bersih. Bahkan orang awam yang melihatnya, tidak akan menyangka bahwa Zen baru saja menjalani sebuah pertempuran senjata tadi.


Tetapi entah mengapa, Vero masih tidak mempercayai perkataan dari pria yang saat ini sudah berada dihadapannya. Tentu tidak mungkin bukan, seseorang tidak terkena luka sedikitpun, saat terjadi sebuah kejadian baku tembak tadi.


“Kita akan memeriksakan dirimu oke... ayo aku akan memanggil dokter untuk melakukannya”

__ADS_1


__ADS_2