
Inilah waktu yang ditunggu-tunggu oleh Zen, yang dimana dirinya memutuskan untuk pergi dari kamar tempatnya berada pada kediaman dari Vero, untuk menuju sebuah tempat agar dapat menyelesaikan sesuatu yang harusnya dirinya selesaikan sedari tadi.
Tentu karena sedari tadi dirinya disibukan dengan berbagai hal, membuat Zen akhirnya tidak sempat untuk menyelesaikan permasalahan yang seharusnya sudah dirinya selesaikan sedari tadi, saat dirinya menangani permasalahan tersebut.
Apalagi perasaan tidak sabar yang sedari tadi dirinya tahan untuk tidak menyelesaikan permasalahan tersebut, membuatnya langsung beranjak menuju tempat tujuannya, untuk secara langsung menyelesaikan semua hal yang sudah dirinya persiapkan untuk diselesaikan.
“Hahaha... bagaimana kondisimu, apakah kamu sudah siap menerima perawatan dari diriku?” ucap Zen, yang saat ini sudah berada disebuah kediaman lusuh ditengah hutan, dan bertemu dengan seorang pria di sana.
“Cih... lepaskan diriku brengsek” namun, berbeda dengan beberapa pihak yang ditemui Zen, sepertinya pria itu sama sekali tidak ketakutan melihat Zen.
Zen akhirnya sudah tiba ditempatnya, yang dimana saat ini dirinya sudah menemukan sesosok pria yang sedang terikat dengan kuat di atas sebuah kursi, sehingga seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan sedikitpun, apalagi saat dirinya mencoba untuk melepaskan dirinya dari ikatan tersebut.
Apalagi saat dirinya tiba, sepertinya pria yang terikat itu cukup berbeda dari beberapa pihak yang pernah dirinya siksa. Sehingga semangat Zen untuk melaksanakan kegiatannya malam ini semakin meninggi, karena dirinya sangat senang bertemu dengan seseorang yang memiliki semangat untuk menerima perawatannya itu.
“Ho... baiklah. Tetapi sebelum itu, apakah kamu mempunyai gejala sebuah penyakit tertentu, karena aku sangat ahli dalam menyembuhkan sesuatu” balas Zen kemudian, yang saat ini mulai mengeluarkan senyum menyeramkan miliknya dan sudah tidak sabar menyiksa pihak yang berada didepannya.
Pria yang ditemui oleh Zen saat ini merupakan Agus, pria yang memang mencoba berbuat sesuatu yang tidak senonoh kepada Kelly tadi. Tentu Zen langsung mengamankan pria itu, dan menyekap dirinya ditempat ini agar Zen bisa berurusan dengannya saat waktunya sudah senggang.
Apalagi, Zen sudah menemukan sosok pihak yang beberapa hari ini dirinya cari keberadaannya atas kasus penusukan yang dirinya terima. Karena bisa dikatakan, otak dari pelaku yang melakukan semua itu, ternyata pria yang saat ini sedang meronta untuk minta dilepaskan dari ikatan yang menjeratnya.
Jadi, karena pria itu sudah sangat repot-repot mencari masalah kepada dirinya, membuat Zen memutuskan untuk membalas semua perlakuannya secara sekaligus. Apalagi, malam ini, sepertinya malam yang sangat membahagiakan bagi Zen, apalagi perilaku pria itu berbeda dari beberapa pihak yang sudah pernah menjalani perawatannya.
“Diam lah sampah. Lebih baik kamu melepaskan diriku sebelum dirimu akan menyesal” namun, pernyataan yang dilontarkan oleh Zen, ternyata dijawabnya dengan memberikan sebuah ancaman kepada Zen.
Namun, sayangnya pria yang dirinya ancam merupakan sesosok yang sangat bahagia, jika ada yang berani untuk mengancamnya. Jadi, Zen saat ini sudah tersenyum senang dengan apa yang baru saja diucapkan, oleh pria yang saat ini duduk sambil terikat didepannya.
“Menyesal? Apakah jika aku tidak melepaskan dirimu, kamu akan membunuhku?” tanya Zen kembali.
"Tentu saja. Lalu cepatlah lepaskan diriku, sebelum aku melakukan sesuatu yang buruk kepadamu" ucap pria itu kembali, yang merasa bahwa Zen akan mendengarkan perkataannya karena dirinya takut dengan ancamannya.
"Ho... tetapi bukankah kamu pernah melakukannya dan gagal?" kata Zen kembali, yang membuat pria itu terkejut dengan ucapan yang dilontarkan Zen kepadanya itu.
__ADS_1
“Hahahaha.... ternyata kamu mengetahui perbuatan ku ya... Tentu saja, aku akan membuat hidupmu itu menjadi buruk, karena dirimu berani-beraninya berebut sesuatu yang seharusnya tidak kamu rebut” balas pria itu kemudian.
Ya, seperti yang diketahui, pria yang berada dihadapan Zen memang merupakan tersangka utama dari pria yang mencoba menusuk Zen beberapa hari yang lalu. Tentu Zen baru mengetahui hal itu setelah dirinya bertemu dengan pria yang berada didepannya secara langsung.
“Baiklah, karena kamu memintanya, aku akan melepaskan dirimu. Tetapi sebelum itu, mari kita bermain terlebih dahulu, oke” ucap Zen, yang saat ini mendekatkan dirinya kearah pria yang sedang terikat ditempatnya itu.
Ditangan Zen, saat ini terdapat sebuah timah yang berbentuk bulat seukuran kelereng sedang berada di genggamannya. Dirinya saat ini akan menaruh timah berbentuk bulat itu, tepat di atas paha dari Agus yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan sinis.
Pria yang hanya mengenakan ****** ******** saja saat ini, merasa tindakan Zen yang ingin membuatnya terintimidasi, merasa tindakannya itu gagal. Karena memang, Agus merasa tidak terintimidasi sama sekali dengan perbuatan Zen hingga saat ini.
Bahkan Zen cukup kagum dengan sikap yang ditunjukan oleh pria yang berada dihadapannya itu. Namun Zen ingin tahu, sampai dimana pria itu akan bertahan dari semua perlakuan yang akan dirinya lakukan terhadapnya, dan bersikap seperti seorang yang memegang kendali dari kegiatan ini.
“Cih... permainan apa yang sedang kam- Ahhhhhhhhhh” teriak Agus kemudian, setelah timah bulat itu mulai menembus kulit pahanya seakan ingin menembus masuk pahanya saat ini.
Suara sesuatu seperti daging terpanggang, mulai terdengar setelah Zen menempatkan sebuah timah yang sudah dirinya panaskan dengan api neraka, tepat keatas paha dari pria yang saat ini sedang berteriak kesakitan dan sedang merasakan sesuatu yang saat ini seakan memanggang bagian pahanya.
Tentu karena panas dari timah tersebut yang bisa dikatakan sangat amat panas, saat ini daging pahanya seakan mulai meleleh karena timah bulat itu akan menembus pahanya yang mulus dan berwana pucat itu, karena saking panasnya.
Tentu Agus tidak bisa menjawab pertanyaan dari Zen, karena saat ini dirinya berusaha menahan rasa sakit yang teramat sangat, yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, walaupun dirinya hanya mengalami sebuah luka pada pahanya saja.
Namun apa yang dirinya lihat selanjutnya, membuat Agus semakin panik. Karena tindakan Zen selanjutnya, dirinya sudah bersiap mengarahkan timah yang panas pada tangannya itu, menuju ke sesuatu yang paling berharga pada tubuhnya.
Benda yang masih tertidur dengan nyaman didalam ****** ******** itu, saat ini dipastikan akan menjadi korban setelah timah panas itu semakin mendekat kearahnya. Namun belum juga sempat Agus bereaksi dengan apa yang akan mendatangi benda berharganya itu, Zen sudah melepaskan timah panas itu kearah area tersebut.
“Hmm... akhirnya aku menemukan permasalahan yang terdapat pada tubuhmu. Karena sepertinya benda yang akan hilang dari tubuhmu itu, merupakan dalang dari perilaku dirimu selama ini” balas Zen, yang sudah tidak memperdulikan teriakan dari Agus, saat timah panas itu mulai memanggang barang berharganya.
Tentu teriakan Agus semakin keras disaat kain dari ****** ******** mulai terbakar dengan perlahan, hingga timah yang panas itu seakan mulai mengenai kulit dari benda berharganya itu. Bahkan saat ini bisa terdengar suara mendesis sesuatu yang terpanggang dan suaranya semakin terdengar sangat jelas.
Bahkan beberapa orang yang hanya mendengar suara mendesis itu saja, mungkin akan menelan ludahnya karena mereka menganggap bahwa seseorang sedang memanggang sebuah daging saat ini. Namun mereka sepertinya akan berfikir ulang, karena setelah suara sebuah daging terpanggang itu mulai terdengar, sebuah teriakan kesakitan mulai mengikutinya.
“Ahhhhhh.... m-maafkan aku.... maafkan aku....” teriak Agus, yang merasakan bahwa dirinya tidak mempunyai kendali lagi dari benda yang saat ini berada dibawah perutnya, karena sepertinya benda itu sudah tidak berfungsi lagi.
__ADS_1
“Tolong lepaskan a-aku... l-lepaskan aku” teriaknya yang saat ini merasa sangat amat kesakitan, tentang apa yang baru saja dirinya alami saat ini.
Tentu dirinya tidak mengira bahwa pria yang berada didepannya akan sekejam itu kepadanya. Apalagi dengan mata kepalanya sendiri, daging yang menonjol dan berada dibawah perutnya, seakan mulai matang dan mulai menjadi gosong.
Bahkan benda yang sebelumnya berwarna kecokelatan, saat ini dipastikan sudah berubah warna sepenuhnya menjadi berwarna hitam. Karena bisa dikatakan, Zen tidak sempat memperhatikan bahwa daging yang dipanggangnya itu sudah menjadi gosong.
“Ho... kamu ingin aku lepaskan, baiklah” ucap Zen, yang akan selalu mendengarkan permintaan pasiennya dan akhirnya mulai mengikuti perkataannya.
Zen dengan senang hati langsung memotong tali yang mengikat seluruh tubuh dari Agus yang terikat di kursi saat ini. Tentu karena dirinya sudah merasa terbebas, Agus langsung hendak menyingkirkan timah panas yang saat ini membakar benda berharganya dan ingin membuangnya.
“Arghh....” namun saat dirinya ingin meraih timah bulat itu, tangannya saat ini mulai terpanggang karena memang timah itu sangatlah panas.
Namun dirinya menghiraukan rasa panas yang dirasakan tangannya dan mulai menyingkirkan timah itu dari benda berharganya. Namun, ternyata apa yang dirinya lakukan sepertinya cukup terlambat, karena sepertinya benda berharganya itu sudah tidak berbentuk lagi.
Bahkan rasa terpanggang yang baru dirinya rasakan pada tangannya, sepertinya tidak bisa menggantikan rasa sakit yang saat ini mulai menjalar dari bagian bawah perutnya, menuju ke seluruh tubuhnya. Bahkan, entah mengapa seluruh tubuhnya seakan terasa nyeri setelah mengalami kejadian yang dialaminya itu.
“S-Sialan... a-aku akan membunuhmu” ucapnya emosi, saat melihat sosok Zen yang saat ini berdiri dengan tenang ditempatnya, sambil memperhatikan dirinya.
Tangannya mulai kesakitan dan mulai melepuh, benda berharganya tidak bisa lagi dirinya rasakan, dan salah satu pahanya terlihat sedikit berlubang akibat ulah Zen. Jadi, dirinya merasa sangat marah dengan kelakuan Zen dan seakan ingin membalaskan perbuatannya itu kepada dirinya.
Namun, hal pertama yang harus dirinya lakukan, yaitu meredakan rasa sakit, perih, panas dan sebagainya karena apa yang baru saja terjadi. Namun, dirinya memutuskan untuk mengambil langkahnya, untuk mendekat kearah Zen dan ingin membalas perbuatannya.
Tetapi saat dirinya dalam perjalanan menuju kearah tempat Zen berada, entah mengapa suara sesuatu yang berdesis seperti sebuah daging terpanggang kembali terdengar. Bahkan Agus yang mendengar suara tersebut, langsung melompat kesakitan sambil berteriak karena merasakan sesuatu yang menyakitkan kembali.
“Ahhhhhh....”
Memang barulah sebuah langkah dirinya ambil, kakinya saat ini seperti sedang menginjak ribuan paku yang dimana rasa sakit di telapak kakinya saat ini langsung membuatnya tersungkur. Namun tidak sampai di sana saja rasa sakit itu dirinya rasakan, karena saat dirinya mulai tersungkur, bagian tubuhnya yang menyentuh lantai akan merasakan hal yang sama.
Bahkan suara daging yang terpanggang saat ini semakin jelas suaranya, setelah seluruh tubuh dari Agus saat ini seakan mulai terpanggang pada tempatnya sedang tersungkur saat ini. Apalagi, seorang pria yang melihat semua itu, hanya tersenyum bahagia melihatnya dan tidak berniat untuk membantu pria yang terlihat sangat kesakitan tersebut.
“Ah.... bagaimana rasanya berjalan di atas sebuah tempat yang panasnya sepanas sebuah lava”
__ADS_1