
Pada awalnya, memang Zen sudah merasakan sesuatu yang aneh saat dirinya diculik. Namun karena apa yang dirinya rasakan itu mulai menghilang keberadaannya, Zen memutuskan untuk membiarkan saja apa yang dirinya rasakan itu dan melanjutkan rencananya.
Dengan mulai membantai beberapa pihak yang menculik dirinya, bisa dikatakan Zen menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan kepada Santi terlebih dahulu, sebelum dirinya membantai pihak yang merupakan dalang yang menculik keberadaannya dan hendak melakukan sesuatu yang buruk terhadap Vero.
Namun, disaat dirinya sedang menikmati apa yang sedang dirinya lakukan di sana. Tiba-tiba saja apa yang dirinya rasakan tadi akhirnya mulai muncul kembali. Tetapi tidak seperti tadi, saat ini pihak yang mengeluarkan aura tersebut, seakan terang-terangan melakukannya dan mulai menunjukan sosok mereka tepat dihadapan Zen.
Kedatangan mereka tentu tidak membuat Zen merasa waspada saat ini. Karena bisa dikatakan, sebuah ikatan yang baru saja dirinya bentuk bersama Vero tadi, entah mengapa mulai meningkatkan kekuatannya cukup signifikan. Jadi, dirinya mulai menunggu beberapa pihak yang dirinya rasakan itu, untuk mendatangi dirinya.
Karena memang, Zen sudah cukup lama mencari keberadaan mereka. Jadi, dirinya cukup senang jika mereka berinisiatif untuk datang mencari keberadaannya sendiri, dan tidak merepotkan Zen dalam mencari keberadaan mereka, yang saat ini sepertinya mereka sangat yakin bisa mengalahkan Zen ditempat ini.
"Hmm... Akhirnya, kami menemukanmu" ucap seorang pria yang saat ini sudah muncul dihadapan Zen, dan menunjukan gestur seperti sedang mengejek dirinya.
Tentu Zen masih bersikap dengan tenang dengan kedatangan pihak tersebut. Apalagi, bisa dibilang saat ini bukan pria itu saja yang saat ini datang ketempat ini. Karena Zen bisa merasakan beberapa keberadaan yang bisa dirinya rasakan mulai datang ketempat ini.
Maka dari itu, Zen memastikan mereka untuk berkumpul terlebih dahulu, dan barulah dirinya akan membantai mereka sekaligus. Apalagi, bisa dikatakan Zen cukup malas untuk mengejar keberadaan mereka yang terpisah, karena menurutnya hal itu akan sangat merepotkan
"Hahh... mengapa banyak sekali sampah yang datang ketempat ini?" Ucap Zen yang saat ini menatap beberapa pihak yang seakan percaya diri untuk melawan dirinya.
"Ho... kamu masih bisa bertindak dengan sombong saat ini, dasar manusia rendahan." ucap pria itu yang menyahuti perkataan Zen, dan menganggap perkataanya hanya sebuah gertakan yang tidak mempan kepada mereka.
Memang Zen sudah diperingati keberadaan mereka dari informasi yang diberitahukan oleh Bram tempo hari. Apalagi dirinya sudah menyuruh Bari memeriksa kebenaran informasi tersebut, dan bawahannya itu sudah menyelidiki sepenuhnya informasi yang dirinya selidiki dan mendapati keikutsertaan para Kultivator pada permasalahan Zen.
Dan hal itulah yang menyebabkan beberapa pihak yang merupakan Kultivator, saat ini bisa berada ditempat ini dan akan melenyapkan sosok Zen yang berada ditempat ini. Apalagi bisa dikatakan apa yang sudah diperbuat oleh Zen, membuat mereka harus menghabisinya karena perintah yang mereka terima.
Tentu maksud kedatangan mereka ketempat ini adalah untuk menghabisi sosok Zen. Jadi sebagai pihak yang saat ini sedang diincar beberapa orang, membuat Zen merasa terhormat untuk melakukan hal yang sama kepada mereka, atau bisa dikatakan dirinya akan melakukannya lebih parah.
"Hm... Manusia rendahan ya...? Lalu, apa sebutan untuk kalian, jika diriku merupakan sosok yang rendah?" tanya Zen yang masih bersikap santai dengan keadaannya ditempat ini.
"Tentu saja kami adalah Dewa, dasar manusia rendahan." ucap pria itu membalas perkataan Zen sambil tertawa. "Dan juga, dari perguruan atau sekte mana dirimu berasal?" tanya pria itu kembali kepada Zen, setelah menghentikan tawanya karena menganggap perkataannya tadi sangat lucu menurutnya.
Memang informasi yang mereka terima tentang identitas dari Zen, hanya sebatas bahwa pria itu juga merupakan seorang Kultivator seperti mereka. Apalagi informasi yang diberikan oleh Richard beserta keluarganya kepada mereka, menyebutkan bahwa Zen merupakan seorang Kultivator.
Karena memang, Xin Wei sang mantan bawahan dari keluarga tersebut, pernah berkata kepada mereka bahwa Zen sepertinya penggiat kekuatan seperti dirinya. Jadi, perkataannya itu digunakan sebagai acuan informasi yang digunakan untuk mendeskripsikan sosok Zen, yang mampu membunuh para Kultivator yang ditugaskan untuk membunuhnya.
__ADS_1
Jadi jangan heran, jika beberapa pihak akan menganggap Zen sebagai seorang Kultivator saat ini. Karena bisa dikatakan, beberapa pihak hanya asal dalam menyelidiki identitasnya yang bisa dikatakan sangat susah untuk digali informasinya.
"Ho... manusia yang baru saja mampu memiliki sebuah kekuatan, sudah menganggap mereka seakan seorang Dewa. Kalau begitu, mari kita lihat seberapa kuat kekuatan Dewa tersebut" ucap Zen sambil tersenyum menyeramkan kepada beberapa pihak yang ingin menyergap dirinya ditempat ini.
Tentu suasana di sana mulai berubah menjadi intens. Karena memang, Zen baru saja mengeluarkan auranya untuk menekan pihak yang saat ini sangat percaya diri dengan kekuatan mereka. Bahkan pihak Kultivator yang akan menyerangnya, seakan mulai waspada dengan aura yang menekan dan dikeluarkan oleh Zen saat ini.
Terkejut, tentu saja. Karena pada awalnya mereka tidak bisa sama sekali mendeteksi kekuatan dari Zen. Hingga akhirnya suasana yang gelap dan mencekam saat ini mulai menekan keberadaan mereka. Bahkan saat mereka merasakan suasana tersebut, entah mengapa mereka bisa merasakan sebuah kengerian.
Biasanya, sesuatu yang gelap tidak akan mengganggu sesuatu yang sedang terlelap dengan nyaman ditempatnya. Namun berbeda dengan insting masing-masing dari mereka, karena bisa dikatakan Insting mereka yang pada awalnya sedang tidur dengan nyaman didalam diri mereka, saat ini seakan mulai meronta-ronta dan menyuruh mereka dengan bergegas melarikan diri dari sana.
"Karena kalian merupakan bahan ujicoba dari kekuatan baruku, jadi harap maklum jika apa yang akan terjadi nanti, bisa membuat kalian tidak nyaman" ucap Zen yang saat ini mulai mengambil langkah pertamanya, dan melesat dengan sangat cepat dari tempatnya berada.
Memang perilaku dari Zen tidak disangka oleh pihak yang akan menyerangnya. Karena bisa dikatakan karena kurangnya informasi yang mereka terima membuat mereka mulai celaka saat ini. Apalagi informasi yang mereka terima tentang Zen, hanya sebatas hipotesa yang dibuat atas keterangan sebuah pihak.
Kekurangan informasi tentang dirinya, tentu membuat mereka saat ini berada disebuah tepi jurang. Yang dimana, saat ini jika mereka tidak benar dalam mengambil langkah mereka, dipastikan dasar jurang yang gelap dan menyeramkan itu, akan menyambut kedatangan mereka kedalamnya.
Dan hal itu terbukti, karena salah satu dari mereka seakan sudah salah mengambil langkahnya, dan saat ini dirinya sudah jatuh kedalam sebuah jurang yang sangat amat dalam. Apalagi saat dirinya mendarat, tubuhnya yang sedang mengikuti tarikan gravitasi itu, seakan hancur dan seluruh organ tubuhnya berceceran kemana-mana
Saat ini mereka tidak bisa mengidentifikasi kekuatan dari Zen yang mulai mengancam nyawa mereka. Karena bisa dibilang kekuatan yang dirinya gunakan itu, mulai menekan dan meneror keberadaan mereka yang sedang berusaha melangkah dengan baik pada sebuah tepi jurang yang sedang mereka lewati.
Namun masalahnya, disaat mereka ingin dengan selamat melewati tepi jurang yang terjal itu, sapuan angin terus saja mengganggu kegiatan mereka, yang mencoba melangkah dengan selamat dari tempat mereka. Karena bisa dikatakan sapuan angin yang merupakan Zen itu, tindak pandang bulu dalam menghembuskan dirinya kepada mereka.
“Baiklah, siapa selanjutnya?” ucap Zen, yang sudah mematahkan leher dari pihak yang tidak menyangka bahwa sosok dari Zen, sudah mencengkram lehernya dan langsung mematahkannya.
Memang tidak sampai di sana saja tindakan Zen. Karena disaat dirinya tidak mendapatkan jawaban dari pihak yang dirinya sedang tanyai tadi, Zen yang mulai melemparkan seorang korban yang baru saja dirinya bunuh keluar dari gubuk tempatnya berada, dan langsung melanjutkan aksinya dengan sangat amat cepat.
Bahkan seorang pria yang masih waspada, saat ini tidak sadar bahwa sebuah kepalan tangan sudah akan mendarat dengan mulus menuju perutnya. Bahkan setelah dirinya menerima serangan tersebut, dampak dari serangan Zen yang langsung menembus bagian belakang punggungnya, membuat pria itu mulai terpental keluar.
Dengan usus, jantung, tulang dan beberapa organ tubuhnya yang mulai keluar dari tubuhnya, pria itu mulai melayang dengan mulus keluar dari dalam gubuk tempat dimana Zen berada. Namun kebrutalan itu tidak kunjung dihentikan oleh Zen saat ini.
Karena bisa dikatakan, hampir semua pihak yang dirinya serang dengan cara yang sama, saat ini organ dalam mereka seakan pasrah untuk berpindah dari tempat mereka berada sebelumnya, dan mulai berterbangan keluar mengikuti tubuh yang sudah tak bernyawa yang saat ini sedang terpental keluar dari sana.
“Selanjutnya” ucap Zen yang merasa senang dengan kekuatan barunya, dan mulai melanjutkan aksinya.
__ADS_1
Tentu dirinya sedang merasa sangat senang saat ini. Karena memang, disaat dirinya menerima perasaan dari Vero tadi, kekuatan yang dirinya dapatkan dari kebahagiaan Vero yang selama ini masih tersimpan didalam dirinya, bisa dipastikan berlipat ganda jumlahnya
Bahkan bisa dikatakan kekuatan itu sangat asing dan belum pernah Zen temui sebelumnya. Dan hal itulah yang membuat dirinya cukup bersemangat untuk mencoba kekuatan barunya itu, yang bisa dikatakan sangat efektif dalam melawan musuhnya saat ini.
“Bersiaplah, sebuah serangan datang!” teriak pemimpin dari para Kultivator yang sedang melawan keberadaan sebuah monster yang menyerang mereka, setelah melihat beberapa rekannya sudah terkena sebuah serangan mematikan dari Zen.
Memang jika mereka tidak berbuat sesuatu atas tindakan dari Zen itu, bisa dikatakan mereka akan tewas dengan cara yang mengenaskan. Maka dari itu, mereka berinisiatif untuk melawan pria itu bersama-sama dan mungkin mereka bisa menahan dirinya bahkan bisa membunuhnya.
Namun sayangnya, ekspetasi yang sudah mereka bentuk itu, harus hancur sepenuhnya setelah Zen dengan membabi buta mulai membuat beberapa pihak terpental dan tewas seketika. Bahkan dari ekspresi wajah yang dirinya perlihatkan saat ini, bisa dikatakan dirinya sangat menikmati pertempuran itu.
Organ-organ tubuh saat ini sudah berjatuhan seperti hujan pada tempat tersebut. Bukan hanya itu saja, beberapa bagian tubuh, dan serpihan tulang bercampur dengan darah, seakan menjadi bukti bahwa saat ini sesuatu yang sedang jatuh seperti hujan pada umumnya itu, seakan menjadi bukti kebengisan seorang pihak yang sangat bahagia melakukan tindakannya.
“Jangan mengendorkan pertahanan kalian!” teriak pemimpin mereka kembali, namun kali ini dirinya sudah menggunakan nada yang terdengar sangat memperlihatkan keputusasaan dirinya.
Tentu Zen yang saat ini membabi-buta, tidak menghiraukan apa yang mereka lakukan untuk melindungi diri mereka, dan terus membunuh beberapa pihak yang berada di sana satu-persatu. Bahkan perlawanan yang dirinya terima, bisa dikatakan sia-sia karena dirinya tidak bisa dihentikan.
Apalagi beberapa pihak yang menyerangnya, entah mengapa langsung pupus harapan mereka untuk mencoba untuk mempertahankan nyawa mereka, karena bisa dikatakan apa yang mereka lakukan sangat percuma disaat mereka melawan sesosok monster saat ini.
“Sial, mengapa dirinya datang cukup cepat” Namun sepertinya kesenangan dari Zen harus kembali tertunda, karena dirinya merasakan sesuatu yang saat ini mulai mendekati keberadaannya.
Memang Zen tidak berharap wanita itu akan datang secepat ini. Apalagi dirinya belum sepenuhnya puas untuk membantai beberapa pihak yang saat ini seakan sudah berputus asa melihat kebengisan dirinya. Jadi, Zen dengan terpaksa mulai mempercepat apa yang dirinya lakukan itu.
“Tunggu!” Namun disaat Zen akan menghabisi seorang lagi, tindakannya itu mulai terhenti disaat salah satu dari mereka meneriaki dirinya.
“Apa lagi, cepat katakan karena aku tidak punya waktu” ucap Zen yang dengan berbaik hati mempersilahkan pria itu mengucapkan kata-kata terakhirnya.
“Kami tahu keberadaan Istrimu, dan mungkin saat ini rekan kami sudah berada ditempatnya. Jadi, jika kamu ingin dirinya selamat cepat lepaskan kami” ucap pria itu yang berusaha mengancam Zen menggunakan sosok dari Vero.
Perkataannya itu bisa dikatakan bukan sekedar gertakan semata. Karena Zen tidak merasakan jejak kebohongan dari dirinya. Maka bisa dipastikan keberadaan Vero saat ini dalam marah bahaya, karena bisa dikatakan dirinya juga sedang diincar oleh pihak yang sedang menyerangnya saat ini.
Bahkan Zen seakan mulai menghentikan tindakannya itu setelah mendengar ancaman tersebut, dan membuat beberapa pihak yang berada di sana mulai tersenyum. Namun, apa yang mereka lakukan itu tidak bertahan lama, karena Zen saat ini kembali membunuh seseorang dengan seketika.
“Memangnya, aku peduli”
__ADS_1