Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Terkuak


__ADS_3

Ada perasaan ketakutan yang saat ini dirasakan oleh Jane. Apalagi dirinya disuruh tinggal sendirian pada sebuah rumah yang sangat amat mewah, dan saat ini seseorang yang seharusnya menjaga dirinya pergi meninggalkan dirinya sendirian di tempat ini.


Zen memang menyuruhnya jangan khawatir, karena bisa dikatakan kediaman ini sangatlah aman untuk dirinya bersembunyi dari kejaran beberapa orang yang mengincarnya. Namun tetap saja, dirinya masih was-was, apalagi wilayah dari kediaman tempatnya berada saat ini berada di wilayah yang membuat dirinya risau selama ini.


Bahkan kemewahan kediaman ini sama sekali tidak membuat Jane merasa tenang, karena dirinya berada ditempat ini hanya sendirian, apalagi dirinya saat ini berada pada wilayah dari beberapa pihak yang memang selama ini mengejar keberadaannya.


Maka dari itu sedari tadi Jane bisa dikatakan sangatlah gelisah dengan keadaannya, hingga akhirnya dirinya dikejutkan dengan suara pintu kediaman itu yang mulai terbuka. Tentu Jane tidak langsung melihat siapa yang memasuki kediaman itu, hingga akhirnya dirinya menemukan sosok Zen yang saat ini terlihat sudah kembali.


"Kemana saja kamu, Zen. Aku sangat ketakutan sedari tadi" ucap Jane yang saat ini mulai menghampiri sosok Zen yang baru saja memasuki kediaman tempatnya berada saat ini.


"Bukankah aku berkata bahwa aku akan keluar sebentar. Apalagi kamu bisa tenang, Karena kediaman ini mampu melindungi dirimu dari pihak-pihak yang mengincar keberadaan dirimu" balas Zen yang mulai duduk di sofa dari kediaman itu dan mencoba beristirahat sejenak.


Jane yang merasa lega bahwa yang saat ini memasuki kediaman tempatnya berada adalah Zen. Sehingga saat ini dirinya mulai duduk disebelah sofa tempat dimana Zen duduk, karena entah mengapa berdekatan dengan dirinya seakan membuat dirinya aman.


"Tetapi tetap saja, Zen. Aku merasa tidak merasa aman ditinggal sendirian" ucap Jane yang mengutarakan rasa kegelisahan yang sedari tadi dirinya rasakan kepada Zen.


"Lalu, apakah aku juga harus membawamu berkeliling sehingga sosok dirimu yang terkenal itu akan diketahui oleh semua pihak dan menyatakan bahwa keberadaan dirimu berada ditempat ini?" tanya Zen kembali yang langsung membuat Jane bungkam atas perkataannya.


Memang selain banyak yang mengincar keberadaan dirinya, sosoknya juga sangat amat terkenal. Jadi, jika mereka lengah, mungkin Jane akan ketahuan keberadaannya oleh beberapa orang, apalagi sosoknya sangat mudah untuk dikenali karena dirinya sangat populer di dunia ini.


Memang dirinya bisa menyembunyikan rupanya menggunakan berbagai hal contohnya topi dan masker untuk menutupi wajahnya, namun fitur sosoknya yang bisa dikatakan sangat amat terkenal bisa dikenali dengan mudah walaupun dirinya menyembunyikan rupanya dengan menggunakan barang-barang seperti itu.


Apalagi jika dirinya bergerak menggunakan jaket berhoodie seperti pelarian yang dirinya lakukan bersama Zen, membuat sosoknya akan semakin dicurigai karena terlihat dengan jelas wanita itu sedang menyembunyikan sosoknya karena selalu saja mengenakan pakaian seperti itu saat berkeliaran.


Jadi percuma saja jika memang Zen mengajak sosok Jane keluar dari kediaman ini karena sosoknya pasti akan dicurigai oleh banyak pihak, dan pelarian yang mereka lakukan akan sia-sia. Apalagi saat ini memang mereka tidak sedang melarikan diri, melainkan sedang menyelesaikan sebuah permalasahan.


"Tapi aku benar-benar takut ditinggal sendirian, Zen." dan begitulah gumaman Jane yang saat ini entah mengapa mulai bergantung kepada sosok Zen.


Seperti yang diketahui Jane saat ini merasa aman jika dirinya terus berada disisi dari Zen. Maka dari itu, jika Zen sudah tidak berada disisinya dirinya langsung merasa khawatir dengan keadaannya, yang merasa tidak terlindungi jika Zen tidak ada dan berada disekitar dirinya.

__ADS_1


"Kamu bisa tenang. Bukankah katamu kamu akan mempercayai perkataan diriku mulai sekarang. Jadi, kamu bisa memegang kata-kataku itu, dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaanmu lagi" balas Zen yang mulai menenangkan wanita tersebut tentang keadaannya.


Walaupun bisa dikatakan Zen tidak mempunyai rasa simpati kepada wanita tersebut, tetapi Zen bisa merasakan perasannya yang memang selama ini menjadi bahan incaran beberapa pihak. Maka dari itu Zen hanya memaklumi saja perilakunya itu karena Jane juga selama ini merasa tertekan dengan kondisinya.


Perasan selalu diawasi dan diincar tentu membuat dirinya sangat tidak nyaman. Jadi, Zen saat ini berusaha memaklumi semua hal yang terjadi dan disebabkan oleh wanita itu kepadanya, karena hal itu dirinya gunakan untuk mengungkapkan bentuk rasa kegelisahan yang dirinya rasakan.


"Baiklah. Aku akan mengikuti saja perkataannya, Zen" balas Jane yang akhirnya bisa tenang dengan permalasahan yang dirinya alami, karena perkataan Zen kembali menenangkan dirinya.


"Ya... kamu bisa tenang. Apalagi aku berjanji akan mengeluarkan dirimu dari permasalahan ini, Ha Rin" dan begitulah Zen mengakhiri perkataannya itu.


Jane awalnya sudah mulai merasa tenang dengan peristiwa tadi. Namun sebuah kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Zen langsung membuat Jane membulatkan matanya dan saat ini langsung menatap Zen dengan sebuah tatapan cukup terkejut dengan apa yang baru saja dirinya lontarkan kepadanya.


"S-siapa sebenarnya d-dirimu? me-mengapa kamu mengetahui nama a-asliku?" ucap Jane yang terkejut dengan perkataan Zen tersebut.


Melihat ekspresi dari Jane yang seperti itu, bisa dikatakan apa yang diperkirakan oleh Zen ternyata benar. Karena dirinya akhirnya menemukan sosok Ha Rin yang memang terus disebutkan oleh beberapa pihak yang dirinya temui tadi dan tertera diberbagai beberapa informasi yang dirinya temukan sedari tadi.


Dan benar saja perkiraannya. Karena saat ini ekspresi Jane sudah menunjukkan semuanya, apalagi dari mulutnya sendiri dirinya sudah mengkonfirmasi bahwa benar dirinya merupakan Ha Rin yang merupakan sosok yang mungkin menjadi petunjuk selanjutnya dari apa yang sedang diselidiki oleh Zen nantinya.


"Ho... namamu yang sebenarnya adalah Ha Rin ya..." gumam Zen mengangguk mendengar konfirmasi dari Jane atas perkataannya tadi.


Jane tentu saja merasa terkejut karena selama ini dirinya selalu menyembunyikan nama aslinya dari semua pihak dan bisa dikatakan hanya Ibunya dan Pamannya saja yang mengetahui namanya aslinya tersebut. Namun saat ini, entah mengapa Zen seolah mengetahui nama aslinya tersebut.


Apalagi dirinya sangat yakin Pamannya tidak mungkin memberitahukan nama aslinya, karena dirinya sudah tewas sebelum memberitahukannya kepada Zen. Jadi Jane bingung darimana pria itu mengetahui nama aslinya yang sebenarnya itu.


Tapi belumlah dirinya memastikan hal itu kepada Zen, saat ini pria itu seakan sedang merogoh sesuatu dari kantung jaketnya saat ini, dan saat ini mengeluarkan sebuah foto yang dirinya dapatkan tadi dan saat ini mulai menunjukannya kepada sosok Jane yang dikenal sebagai Ha Rin tersebut.


"Apakah kamu mengenalnya?" dan begitulah ucapan Zen sambil menunjukan selembar buah foto yang berisikan tangkapan gambar seorang wanita dewasa dan gadis kecil.


Tentu foto itu dirinya dapatkan pada penyimpanan barang-barang berharga atas nama asli Jane pada sebuah Bank tadi. Maka dari itu Zen saat ini menunjukkannya kepada Jane untuk mengkonfirmasi semua hal yang dirinya perkirakan agar semuanya bisa jelas dan Zen bisa mudah mengidentifikasi semua hal yang sedang dirinya selidiki.

__ADS_1


"D-Dari mana kamu mendapatkan foto ini?" ucapnya yang langsung berlinang air mata saat Jane saat ini mulai mengambil foto tersebut dari tangan Zen.


"Aku hanya menemukannya saja. Lalu, apakah itu foto dirimu dan Ibumu?" tanya Zen lagi yang secara langsung menanyakan siapa sosok dalam foto tersebut.


Jane hanya mengangguk mendengar perkataannya itu. Apalagi dirinya saat ini semakin terisak melihat foto tersebut dan dirinya mulai mengelus sosok wanita dewasa yang saat ini berada dalam foto yang sedang dirinya lihat tersebut. Dan begitulah Zen akhirnya mendapatkan konfirmasi dari apa yang ingin dirinya ketahui itu.


"M-Mama" ucapnya yang masih menangis menatap gambar yang sudah berada pada genggamannya tersebut.


Siapa yang tidak sedih melihat satu-satunya kenangan tentang Ibu kandungnya saat ini sudah berada ditangannya. Apalagi selama ini Jane sama sekali tidak mempunyai sesuatu yang dapat membuatnya mengenang sosok Ibunya yang paling dirinya sayangi itu.


Apalagi kehidupan dirinya dan Ibunya bisa dikatakan disibukkan dengan melarikan diri dari kejaran beberapa pihak, sehingga tidak ada satupun peninggalan apapun yang dirinya miliki untuk dapat mengenang mendiang Ibunya yang sudah meninggal sejak dirinya masih kecil.


Bahkan masih teringat dengan jelas sosok Ibunya saat itu yang dibunuh didepan matanya. Maka dari itu, setelah bisa melihat sosoknya lagi yang selama ini hanya berada didalam kenangannya, membuat Jane mulai menangis haru mengenang semua hal tentang sosok yang selama ini sudah pergi meninggalkan dirinya itu.


"Maafkan aku, Ha Rin. Tetapi apakah kamu mengingat sesuatu tentang Ibumu?" tanya Zen yang memutuskan untuk mencari informasi tentang dirinya.


Bukannya Zen tidak bersimpati dengan keadaannya, tetapi dirinya juga dikejar oleh waktu saat ini. Apalagi dengan sangat jelas, sebuah kekacauan saat ini bisa dikatakan akan terjadi dihadapannya. Jadi, dirinya memutuskan untuk mencari sebuah informasi secepat mungkin agar semua hal yang dirinya tidak inginkan itu tidak terjadi.


Tentu Zen yang memang orang yang cuek, merasa cukup bersalah untuk langsung menanyakan sesuatu yang sensitif bagi Jane saat ini, hingga akhirnya wanita yang mendengar perkataan Zen itu mulai mengusap air matanya dan mencoba menghentikan sejenak tangisannya saat ini.


"Yang A-Aku tahu. Ibuku merupakan seorang peneliti pada sebuah perusahaan Farmasi" Balas Jane yang saat ini sudah merasa sedikit tenang, dan mulai menjawab perkataan dari Zen itu.


"Lalu, apakah kamu tahu apa yang sedang dirinya teliti?" tanya Zen kembali atas jawaban yang dirinya berikan tersebut.


Zen tentu apa yang sebenarnya dilakukan oleh Ibunya. Namun Zen ingin tahu dari sudut pandang Jane sendiri tentang sosok Ibunya itu. Apalagi, informasi yang diterima oleh Zen hanya sebatas Ibunya merupakan pencipta sesuatu yang akan menjadi sebuah kekacauan.


Jadi, dirinya ingin dengan jelas mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepadanya, dan mengapa dirinya dan Jane harus melarikan diri selama ini dari kejaran beberapa pihak, karena hal itulah yang menjadi garis akhir dari semua benang merah yang coba Zen sambungkan saat ini.


"Aku tidak tahu, Zen. Tetapi yang aku tahu, karena pekerjaannya itu, M-Mama malah terbunuh ditangan Ayah kandungku"

__ADS_1


__ADS_2