Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Pulang


__ADS_3

Zen memutuskan kembali menuju hotel tempat dirinya menginap, setelah memastikan keadaan Angel baik-baik saja. Walaupun dirinya tadi memang juga melihat keadaan Santi, tetapi Zen lebih memfokuskan untuk memastikan apakah keadaan Angel baik-baik saja.


Seperti biasa, dirinya yang mulai memasuki gedung hotel yang terlihat megah itu, saat ini langsung disambut dengan ramah oleh staf dari hotel tempatnya menginap itu. Hingga akhirnya, Zen sudah tepat berada didepan kamarnya dan ingin memasukinya.


“Oh... kamu sudah pulang?” balas seorang wanita yang saat ini sedang berbaring dengan nyaman di atas sebuah tempat tidur, sambil menonton sebuah acara televisi.


Ya, wanita itu merupakan Vero yang ternyata sudah kembali terlebih dahulu dari Zen, dan memutuskan untuk langsung memonopoli tempat tidur tempat dirinya berada, untuk beristirahat sejenak sebelum dirinya akan meninggalkan kamar hotel yang disewanya.


“Hem...” dan seperti biasa, Zen akan membalasnya dengan hanya gumaman saja.


Karena sudah terbiasa mendapatkan jawaban seperti itu dari Zen, jadi Vero hanya biasa saja menanggapinya. Hingga kemudian, Zen terlihat sudah bersiap untuk ikut beristirahat setelah melalui beberapa kegiatan yang sangat melelahkan baginya.


“Ah... kantong belanjaan yang berada di lemarimu adalah pakaian yang aku belikan untukmu” ucap Vero sambil menunjuk lemari yang dikhususkan untuk Zen pada kamar ini.


Zen hanya mengangguk saja mendengar bahwa dirinya dibelikan beberapa barang oleh Vero, dan langsung ingin menaiki tempat tidur yang dimana Vero sudah dengan nyaman berada diatasnya, untuk setidaknya beristirahat sejenak.


“Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Vero yang melihat Zen sudah bersiap naik keatas tempat tidur tempat dirinya berada.


“Ikut beristirahat?” jawab Zen yang kebingungan dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Vero, karena jelas-jelas dirinya saat ini akan menaiki tempat tidurnya dan berniat untuk ikut beristirahat di sana.


Namun Vero yang melihat tindakan Zen akan menaiki tempat tidur yang sudah ditempati olehnya, tentu saja menghalangi dirinya untuk melakukan hal tersebut, karena memang Vero sudah berada ditempat itu terlebih dahulu dan Zen tidak boleh menempatinya.


“Beristirahatlah di sofa.” Ucap Vero yang menghalangi tindakan Zen yang ingin naik pada tempat dirinya sedang beristirahat.


Dan seperti biasa, kegiatan suami istri itu didalam kamar ini akan diawali dengan meributkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting, karena memang mereka bersikeras untuk memonopoli sebuah tempat yang seharusnya mereka bisa gunakan bersama.


Hingga akhirnya perebutan kekuasaan pada sebuah tempat tidur harus berakhir, setelah Zen memutuskan mengalah dan mulai duduk di atas sebuah sofa, karena dirinya malas untuk berdebat dengan wanita yang merupakan istrinya itu.


“Seharusnya kamu dari awal mengalah Zen, terlebih lagi pada seorang wanita” ucap Vero yang merasa menang setelah berhasil merebut keseluruhan wilayah tempat tidurnya.


Tentu karena bukan jam untuk tidur, jadi Zen lebih memilih mengalah dan membiarkan wanita itu menempati tempat tidur yang sudah ditempatinya. Bahkan Zen saat ini lebih memilih bersantai di atas sebuah sofa, sambil menunggu jam keberangkatan mereka untuk kembali menuju kota Marlet.

__ADS_1


Dan akhirnya, itulah kegiatan terakhir yang dilakukan oleh kedua pasangan itu, sebelum mereka sudah mempersiapkan kepergian mereka menuju bandara, untuk kembali menuju kota tempat mereka berasal karena urusan mereka ditempat ini sudah selesai.


“Akhirnya kalian sudah siap. Padahal aku sudah menunggu kalian sedari tadi” ucap Kelly yang terlihat sudah berada di lobby hotel tempatnya menginap, dan terlihat cukup kesal karena kedua pasangan itu cukup lama untuk turun dari kamar mereka.


“Maafkan kami Kel” balas Vero yang menanggapi kekesalan dari sahabatnya itu, dan mulai melakukan prosedur check out dari hotel tempat dirinya menginap.


Memang Kelly mengerti bahwa mereka berdua merupakan sepasang pengantin baru, dan saat ini sedang menikmati waktu mereka bersama. Tetapi seharusnya mereka tidak merepotkan dirinya yang selalu mengurusi berbagai hal yang mereka butuhkan.


"Hahh... baiklah-baiklah." ucap Kelly setelah mendapat permintaan maaf dari sahabatnya itu. Namun setelah dirinya berucap seperti itu, pandangannya saat ini langsung menuju kearah seorang pria yang ekspresinya cukup datar dan hanya memperhatikan saja kegiatan dirinya dengan Vero sedari tadi.


“Wah.. kamu terlihat lebih tampan sekarang Zen. Apalagi dirimu mengenakan pakaian yang dibelikan oleh istrimu tadi” ucap Kelly yang memuji penampilan dari Zen saat ini.


Saat ingin membelikan pakaian untuk Zen, memang Vero berniat ingin membeli beberapa pakaian asal saat dirinya berbelanja tadi. Namun karena memang pernikahannya dengan Zen harus terlihat harmonis, dirinya mulai berpura-pura didepan Kelly untuk mencarikan Zen beberapa pakaian seolah-olah dirinya sangat serius melakukannya.


Namun anehnya, dirinya entah mengapa merasa senang saat Zen menggunakan pakaian yang dibelinya dan sangat cocok dikenakan olehnya. Bahkan perasaan kesal saat mereka kembali berdebat tadi, langsung sirna saat dirinya cukup puas bahwa pilihan baju yang dipilihnya tadi, akan sangat cocok saat dikenakan oleh Zen.


“Hmm.. benarkah?” tanya Zen yang mulai melihat penampilannya sendiri saat ini.


Apalagi, semua pakaian Zen saat ini sudah diganti menjadi pakaian yang sangat biasa, untuk setidaknya menyembunyikan identitasnya sementara dan juga untuk mencegah sesuatu yang dahulu terjadi, agar tidak akan terulang kembali.


“Tentu saja, karena aku yang memilihkannya secara khusus, maka membuat suamiku terlihat sempurna saat ini” ucap Vero yang membanggakan keputusannya dalam memilih beberapa pakaian kepada Zen.


Kelly hanya mengangguk saja mendengar perkataan sahabatnya itu, hingga akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk mulai meninggalkan hotel tempat mereka menginap, untuk menuju ke bandara dan akan berangkat dari sana menuju kota asal tempat mereka tinggal.


.


.


“Apa katamu, pihak Darkness Company yang membantunya?” ucap seorang pria yang mendengar laporan dari bawahannya.


“Benar Tuan.” Balas bawahannya yang mengkonfirmasi perkataan atasannya, melalui sambungan telpon yang sedang mereka lakukan.

__ADS_1


Saat ini disebuah ruangan pada sebuah perusahaan yang cukup besar, seseorang yang duduk di kursi kebesarannya sedang menerima laporan oleh bawahannya. Laporan tersebut berisikan hasil pemantauan bawahannya tentang seseorang yang ditugaskan olehnya untuk diselidiki oleh atasannya itu.


Pria yang sedang menelpon bawahannya itu merupakan Bram, pengusaha pemilik usaha tambang yang pernah ditemui oleh Uriel dahulu. Tentu saja pria itu saat ini sangat penasaran dengan identitas dari pria yang ditemui oleh Uriel dulu, dan membuatnya memutuskan untuk menyelidiki identitas pria itu lebih jauh.


“Hmm.... Seorang bangsawan Vatikan memanggilnya Kakak, lalu saat dirinya hendak dijebloskan dipenjara, pihak Darkness Company menyelamatkannya?” gumam Bram yang bingung dengan status dari pria yang dirinya selidiki itu.


Memang setelah pertemuannya dengan Uriel dan seorang pria yang terlihat sangat amat dekat dengan bangsawan tersebut, Bram memutuskan untuk terus menyelidiki pria yang dekat dengan bangsawan itu, karena firasatnya berkata jika dirinya memperlakukan kenalan Uriel itu dengan baik, maka keberuntungan akan menghampiri dirinya.


“Benar Tuan. Aku sendiri yang memperhatikan bahwa pengacara yang membantunya di Bali, merupakan pengacara milik Darkness Company.” ucap bawahannya itu kembali.


Tentu, bukan hanya bantuan dari bawahan Santi saja yang membuat Zen bisa dibebaskan oleh jeratan hukum dari permasalahan yang dirinya buat di Bali. Tentu Alfred yang mendengar bahwa Tuannya akan dipenjara tidak ingin hal itu terjadi.


Bahkan Alfred sendiri mengirimkan malaikat maut yang bertugas menjadi kuasa hukum dari perusahaannya untuk membantu Zen terbebas dari jeratan hukum yang menjeratnya. Apalagi dirinya juga menggunakan nama besar dari Darkness Company untuk melakukannya.


“Dan juga, sepertinya pihak pemerintah Indonesia juga mulai menyelidikinya Tuan” lanjut bawahannya itu kembali.


Tentu Negara tempat Zen tinggal, langsung menyelidiki pihak yang membuat sebuah perusahaan terbesar di dunia ini untuk melindunginya. Apalagi mereka tidak ingin menyia-nyiakan sebuah kesempatan untuk mendapatkan sebuah keuntungan jika Zen memang sangatlah penting bagi Darkness Company.


“Sial... Berarti bukan kita saja yang akan mengetahui bahwa Zen Gwillyn merupakan seorang yang sangat spesial. Kalau begitu sebisa mungkin kita harus mendekati dirinya terlebih dahulu” ucap Bram yang bertekad untuk melangkah terlebih dahulu untuk mencoba mendekati Zen.


Tentu kabar tentang sebuah perusahaan paling berkuasa di dunia ini menyelamatkan seseorang, dipastikan tidak akan luput dari beberapa orang yang akan memanfaatkan kabar tersebut. Termasuk beberapa perusahaan yang ingin mencari keuntungan dengan pihak Darkness Company.


Jadi, Bram memutuskan untuk mengambil langkah terlebih dahulu, sebelum kabar tentang Zen mulai menyebar dan membuat beberapa perusahaan mungkin akan melakukan hal yang sama, dengan apa yang akan dirinya lakukan dan membuat dirinya kehilangan sebuah kesempatan.


“Untuk itu Anda bisa tenang Tuan. Karena pihak Darkness Company melarang pihak yang membantu mereka menyelesaikan urusan pria bernama Zen Gwillyn itu, untuk menyebarkan tentang situasinya kepada siapapun. Jadi dipastikan hanya Perusahaan Tuan dan pihak pemerintah saja yang mengetahui hal ini” ucap bawahannya itu sekali lagi.


“Benarkah?” ucap Bram yang cukup senang mendengar hal tersebut.


Tentu sebagai seorang pengusaha, Bram ingin memonopoli sendiri sesuatu yang sangat menguntungkan baginya. Apalagi status orang yang pernah menginjakan kaki dikantornya itu, dipastikan merupakan orang yang sangat amat penting.


“Baiklah, kalau begitu kita hanya harus mencari cara untuk membuat kesan baik dengannya”

__ADS_1


__ADS_2