Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Sudut Pandang Zen


__ADS_3

Pada sebuah ruangan yang cukup besar, saat ini seorang pria sedang dijamu dengan berbagai makanan yang sangat amat banyak sudah tersedia disana. Hingga pria itu mulai merasa bahagia melihat itu semua dan bersiap untuk menyantap semua hal yang sudah disediakan untuk dirinya itu.


Pria itu tentu saja dengan senang hati menyantap semua makanan yang sudah disediakan untuk dirinya, apalagi sudah ribuan tahun dirinya tidak menikmati sesuatu seperti ini dan dirinya berusaha menikmati semua hal yang sudah disediakan baginya itu.


Zen pada saat itu, memang baru saja bangun dari tidur panjangnya yang sangat amat panjang, sehingga saat dirinya bangun bawahan setianya Alfred langung menyuguhkan berbagai makanan untuk dirinya, karena bawahannya itu tahu bahwa dipastikan Zen akan sangat senang disaat dirinya bangun, dirinya sudah disuguhkan oleh banyak sekali makanan.


Hingga Koki yang berada ditempat itu mulai terlihat sangat sibuk karena harus melayani rasa lapar dari Zen yang tak kunjung terpuaskan, dan saat ini dituntut untuk memberikan yang terbaik untuk dapat memuaskan nafsu makan dari Zen yang sangat amat tinggi dan susah untuk terpuaskan


"Oh... jadi maksudm-"


"Kak Zen... Kak Zen..." namun belum juga Zen menyelesaikan kalimatnya disaat dirinya sedang menanyakan berbagai hal kepada Alfred disela-sela memakan makanannya, dirinya dikejutkan dengan salah satu adiknya yang tiba-tiba datang ketempat dimana dirinya berada saat ini.


"Yo... Azrael adikku" hingga Zen yang merasa senang bisa melihat salah satu adiknya lagi, mulai menyapa dengan hangat keberadaan adiknya itu.


Azrael tentu saja langsung mendekat kearah Zen dan langsung memeluknya dengan erat. Apalagi dirinya yang terlihat paling bahagia mengetahui bahwa Zen sudah bangun dari tidur panjangnya saat ini. Hingga akhirnya dirinya secara langsung mendatangi tempat Zen berada dan langsung menghampiri dirinya.


"Kalau begitu, saya akan meninggalkan Anda berdua, Tuan" dan begitulah ucapan Alfred yang akhirnya undur diri dan membiarkan kedua saudara itu melepaskan kerinduan mereka masing-masing.


Kepergian Alfred dari dalam ruangan yang besar dan dipenuhi dengan berbagai makanan didalamnya itu, membuat tempat itu hanya menyisakan sosok Zen dan adik sepupunya Azrael di sana. Apalagi pelayan dari Zen itu sengaja memberikan ruang kepada mereka berdua untuk saling berbincang satu sama lainnya.


Hingga akhirnya mereka berdua mulai saling melepaskan pelukan mereka, sebelum akhirnya Zen dan Azrael kembali duduk pada meja makan dari ruangan ini dan saat ini mulai mendengarkan sesuatu yang akan disampaikan oleh Azrael, yang terlihat sangat ingin mengatakan sesuatu kepada sosok Kakaknya itu.


"Lalu, apa yang membuatmu dengan tergesa-gesa mencari keberadaan diriku. Tentu dirimu bukan datang hanya sekedar melepaskan rindu saja, bukan?" tanya Zen kepada adiknya tersebut.


Namun setelah Zen berkata demikian, bisa terlihat dengan jelas ada jejak raut wajah kesedihan pada raut wajah Azrael. Bahkan dirinya seakan tidak sanggup mengucapkan apa yang akan dirinya bicarakan kepada Kakaknya itu, karena hal tersebut sangatlah sensitif bagi dirinya sendiri untuk diucapkan olehnya.


"B-begini Kak, bisakah Kakak mencari keberadaan Istriku?" hingga sebuah kalimat permintaan mulai terlontar dari mulut adiknya itu.

__ADS_1


"Ho... kamu sudah menikah ya..." ucap Zen yang merasa senang bahwa salah satu adiknya itu ternyata sudah menemukan kebahagiaannya dalam berumah tangga.


Namun berbeda dengan Zen yang menunjukkan rasa senang mendengar kenyataan adiknya sudah menikah dan berkeluarga, Azrael semakin menunjukkan rasa sedih yang mendalam disaat membalas rasa bahagia dari Zen yang saat ini terlihat sangat amat senang mendengar perkataannya tadi.


"Tapi, dirinya kabur, Kak" hingga sebuah kalimat lagi, langsung membuat Zen bungkam dibuatnya.


"Apa maksudmu? Memangnya apa yang kamu lakukan kepadanya hingga membuat dirinya melarikan diri darimu?" selidik Zen yang memang sama sekali tidak mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga Adiknya tersebut.


"Bukan aku yang melakukan sesuatu yang membuat dirinya lari, Kak. Tetapi adik Kakak yang melakukannya" Hingga ucapan dari Azrael membuat Zen langsung mengerutkan keningnya mendengar perkataannya.


Lust pada saat itu tentu dipenuhi rasa bersalah yang sangat amat besar terhadap sosok Azrael. Jadi, sebelum dirinya ingin membunuh dirinya sendiri agar kejadian tersebut tidak terulang kembali, dirinya memutuskan untuk menyerahkan dirinya kepada saudaranya itu dan mengakui semua perbuatannya terhadap dirinya.


Lust pada saat ini sampai berlutut dihadapan Azrael dan menjelaskan semua hal yang sudah terjadi, mulai dari memperkosanya dan menyembunyikan keberadaanya dari keberadaan semua pihak menggunakan kekuatan kegelapan miliknya sesuai permintaan dari Ottavia.


Tentu mendengar semua itu membuat Azrael sangat terkejut dan tidak menyangka hal itu yang terjadi kepada Istrinya. Apalagi seorang sosok yang dirinya anggap sebagai saudaranya berani-beraninya melakukan hal tersebut kepadanya yang notabennya masih seorang keluarga.


Azrael sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi terhadapnya. Apalagi selain pengakuan tersebut, saat ini keberadaan Istrinya memang sampai saat ini belum ditemukan. Jadi, dirinya meminta tolong kepada Lust untuk membantu mencari keberadaannya karena memang auranya sendirilah yang ditanamkan kepada Istrinya.


Tetapi bisa dikatakan Lust juga pada saat itu lebih merasa bersalah dan memilih untuk membunuh dirinya sendiri daripada membantu sosok Azrael pada saat itu. Karena memang, dirinya tidak ingin kejadian itu terjadi kembali, disaat memang dirinya mampu menemukan Ottavia nantinya.


Jadi, pada saat itu Azrael langsung menghadap sosok Kakaknya Pride dan menjelaskan semuanya dan memberikannya jejak aura miliknya pada Ottavia, agar Kakaknya itu menemukan wanita itu dan mengembalikannya kepada Azrael yang masih mencari keberadaannya.


"Maafkan aku semuanya. Aku mengecewakan kalian semua. Maka dari itu, aku saat ini ingin menghilang sepenuhnya dari dunia ini" dan begitulah ucapan Lust disaat tubuhnya ditusuk oleh berbagai senjata dari pihak Dewa Shinto, karena dirinya berani mencoba melakukan hal buruk kepada salah satu Dewi mereka.


Rasa marah memang terus ada didalam diri Azrael setelah kejadian itu. Apalagi dirinya juga menyaksikan bahwa Istrinya memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri, atas apa yang sudah dialami olehnya. Maka dari itu, Azrael merasa amat sangat sedih dan sangat terpukul dengan kejadian tersebut.


Namun ada satu hal yang memang diyakini oleh dirinya sendiri atas permalasahan itu, bahwa Lust tidak mungkin melakukan hal itu dengan sengaja. Karena bisa dikatakan Anak-anak Sang Pencipta sama sekali tidak akan melukai ataupun menyakiti satu sama lain.

__ADS_1


Bahkan sangat mustahil mereka melakukan hal tersebut karena mereka tidak akan mampu melakukannya. Jadi, bisa dipastikan ada sesuatu yang membuat salah satu Saudaranya itu melakukan semua itu, karena mereka tidak diajarkan untuk saling menyakiti satu sama lainnya.


Contohnya disaat Pride yang mendengar hal ini pertama kali, dirinya bahkan ingin langsung membunuh Lust saat itu juga karena berperilaku yang sangat bejat terhadap keluarga mereka. Namun tetap saja, dirinya tidak bisa melakukannya karena mereka tidak pernah diajarkan oleh Ayah mereka untuk saling menyakiti satu sama lainnya.


Walaupun memang jika saat itu Zen yang mendengarkan perkataannya, dipastikan Lust akan langsung mati ditangannya sendiri karena perbuatannya itu. Namun masalahnya, dipastikan seluruh anak-anak Sang Pencipta tidak akan saling menyakiti satu sama lainnya.


Maka dari itu, Azrael tahu ada sesuatu yang terjadi yang menyebabkan saudaranya itu melakukan sesuatu terhadap dirinya. Walaupun bisa dikatakan dirinya akan susah memaafkan tindakannya, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada sesuatu yang membuat saudaranya melakukan hal tersebut kepada keluarganya sendiri.


"Cih... kalau saja aku masih hidup, aku sendiri yang akan membunuhnya. Tidak, tidak, tidak. Akan aku pastikan dirinya menyesal untuk hidup di dunia ini" ucap Zen yang kesal setelah mendengar penjelasan dari Azrael tentang kondisinya.


"Sudahlah, Kak. Aku sudah memaafkan dirinya. Lagipula, yang aku inginkan hanya bertemu dengan Istriku kembali" ucap Azrael yang terdengar tulus dengan perkataannya.


Yang dibutuhkan Azrael adalah dirinya ingin bertemu kembali dengan Istri yang sangat dirinya sayangi itu. Apalagi perbuatannya itu bukanlah kesalahannya, dan dirinya memang tidak akan mempermasalahkan permasalahan itu, karena hal tersebut hanya merupakan sebuah bencana yang terjadi pada rumah tangga mereka.


"Tenanglah. Atas penebusan kesalahan adikku yang biadab itu, akan aku temukan Istrimu apapun yang terjadi" balas Zen yang berjanji kepada adiknya tersebut.


Dan begitulah bagaimana Zen sudah mengetahui permalasahan ini sedari awal dari mulut Azrael. Tentu Zen berperilaku tidak mengetahui hal tersebut dan menyembunyikannya dari semua pihak bahwa dirinya mengetahui apa yang terjadi dengan Istri Azrael.


Bahkan dirinya bersikap seakan baru tahu bahwa Azrael sudah menikah dan Istrinya melarikan diri selama ini. Memang Azrael juga melarang Zen untuk melakukannya, karena dirinya tidak ingin mengungkapkan permasalahan ini kepada siapapun, karena memang dirinya masih menjaga nama baik Istrinya itu dimata semua pihak.


Hingga akhirnya, sosok yang sudah Zen janjikan untuk ditemukan saat ini sudah berada dihadapannya, dan saat ini Zen mulai menjelaskan kepada wanita yang merupakan adik iparnya itu tentang kenyataan sosok Suaminya yang terus mencari keberadaannya, walaupun dirinya sudah mengetahui semua hal tentang apa yang dilalui oleh dirinya.


"Maka dari itu, kenapa kamu tidak mencoba untuk bertemu dengannya dan malah terus melarikan diri?" tanya Zen kepada wanita yang cukup terkejut mendengar kenyataan yang baru dirinya ketahui dari mulut Kakak Iparnya itu.


Memang rasa bersalah dari Ottavia terhadap suaminya, yang membuat dirinya terus melarikan diri. Hingga dirinya mulai merasa bersalah kembali, bahwa saat ini suaminya ternyata masih mencari keberadaan dirinya, walaupun semua kesalahan masa lalunya sudah terungkap sepenuhnya dihadapan sosok yang sangat dirinya cintai tersebut.


Tentu Ottavia memang sudah memiliki niat untuk kembali kepadanya. Namun selain rasa bersalahnya yang terdapat kepada dirinya karena memang sudah melarikan diri dari hadapan Suaminya selama ini, dirinya juga mengalami sesuatu yang memang membuat dirinya belum mampu kembali kepada Suaminya hingga saat ini.

__ADS_1


"Jangan salahkan dirinya sepenuhnya, Tuan Zen. Apalagi memang dirinya sudah berniat untuk kembali kepada suaminya setelah aku mengeluarkan inang energi Lust dari dalam tubuhnya. Tetapi setelah aku berhasil mengeluarkan inang energi kehidupan dari Lust didalam tubuhnya, ada yang mengincar keberadaan kami"


__ADS_2