
Takut, itulah yang sedang dirasakan oleh Kileni saat ini. Dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa, harus menjadi korban penculikan dari pihak yang ingin berbuat sesuatu yang jahat kepada Ibunya. Tentu Kileni terus meronta saat ini, namun sayangnya dirinya malah dipukuli oleh beberapa pihak saat ini.
Tentu dirinya sangat terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Karena selain dirinya mulai merasakan rasa sakit karena pukulan yang sudah dirinya terima berkali-kali, bisa dikatakan apa yang dirinya alami saat ini merupakan pertama kalinya dirinya merasakannya.
Ketakutan gadis kecil itu semakin menjadi, karena memang dengan mata kepalanya sendiri dirinya menyaksikan beberapa orang dengan kondisi yang buruk, seakan sedang diperlakukan sangat jahat oleh pihak-pihak yang menculiknya itu.
Apalagi, dirinya juga tidak tahu lagi harus berbuat apa, karena wajahnya yang imut dan terdapat beberapa luka lebam akibat pukulan yang dirinya terima, membuat dirinya sangat takut untuk melakukan apapun pada tempat dirinya sedang terikat saat ini.
“I-Ibu... to-tolong aku” ucapnya sambil terisak, karena memang dirinya merasa sangat takut berada ditempat ini.
Cukup malang memang nasib dirinya yang terlihat sangat mengenaskan sat ini. Karena bisa dikatakan dirinya merupakan korban dari ketamakan Ayahnya, yang membuat dirinya dan Ibunya harus menjalani kehidupan yang sangat tragis, bahkan dirinya menjadi korban dari sesuatu yang keji dan dialami oleh dirinya saat ini.
Apalagi, sepertinya orang-orang yang sedang berbuat jahat kepada dirinya itu, seakan tidak peduli bahwa dirinya masih seorang anak kecil. Hal itu terlihat dari beberapa luka lebam yang dirinya dapatkan, saat dirinya coba meronta dan menangis histeris ditempat ini.
Karena disaat dirinya melakukan hal tersebut, dirinya langsung mendapatkan sebuah siksaan dari beberapa pihak yang menculik keberadaannya, dan membuatnya langsung merasa trauma dengan seluruh hal yang dirinya alami ditempat ini.
“KABOOOMMMMM”
Namun, sepertinya sebuah kegiatan yang merupakan penyiksaan yang harus dirinya jalani, bisa dikatakan akan berakhir disaat suara pertempuran yang didengarnya semakin jelas saat ini. Apalagi, beberapa pihak yang sedang menjaga ruangan tempat dimana dirinya berada, mulai terlihat panik disaat mereka mendengarnya.
Tentu mendengar suara-suara itu membuat Kileni berharap bahwa dirinya bisa dikeluarkan dari tempat ini. Karena bisa dikatakan, tempat ini sudah membuatnya sangat ketakutan, apalagi dirinya harus menjalani sebuah penyiksaan yang sama sekali tidak pernah dirinya terima selama ini.
“I-Ibu....” dan begitulah sebuah kata dari Kileni yang semakin merasa ketakutan dengan apa yang sedang terjadi.
Karena bisa dibilang, dirinya sama sekali tidak paham dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi ditempat dimana dirinya sedang disekap. Apalagi, rasa sakit yang semakin dirinya rasakan, membuat dirinya semakin ketakutan tentang apa yang sedang terjadi.
Hingga akhirnya, dirinya melihat beberapa pihak memasuki ruangan dari tempat dirinya berada. Bukan saja pihak yang bisa dikatakan pihak yang sama yang menculik dirinya yang memasuki tempat ini, tetapi beberapa orang yang dirinya lihat kondisinya sangat kacau juga berada di sana.
Bahkan, saat ini beberapa pihak dari orang-orang yang menculiknya, mulai menempelkan senjata mereka pada masing-masing orang yang kondisinya terlihat lemah tersebut. Apalagi, saat ini sebuah bilah tajam dari pisau, mulai menempel dengan mulus pada leher dari Kileni.
Semakin ketakutan, itulah yang saat ini dirasakan oleh Kileni. Bahkan tubuhnya yang kecil itu mulai gemetaran dengan apa yang dirinya alami, apalagi sesuatu yang sangat tipis dan dingin saat ini mulai menempel pada lehernya.
“Bersiaplah, disaat mereka teralihkan dengan para sandera yang sedang kita ancam, barulah kita menyerang mereka” ucap pria yang saat ini menempelkan bilah pisaunya pada leher dari Kileni.
__ADS_1
Kileni sendiri hanya bisa diam ditempatnya sambil gemetar ketakutan. Karena selain rasa sakit yang saat ini sedang dirinya rasakan, bilah pisau yang terdapat pada lehernya mulai menggores sedikit kulitnya, sehingga rasa perih mulai dirinya rasakan.
Darah dengan perlahan keluar dari kulit lehernya yang terlihat ada beberapa bekas luka lebam itu. Namun dirinya tidak bisa melakukan apapun untuk menghindarinya dan hanya bisa diam ditempatnya dan berharap semua itu akan segera berakhir.
“I-Ibu... tolong akuuu....” dan begitulah gumaman dari Kileni, yang berharap bahwa Ibunya akan datang dan membawa dirinya pergi dari sini.
Tetapi setelah dirinya berkata seperti itu, sebuah asap berwarna merah muda mulai memasuki ruangan pada tempatnya berada saat ini. Tentu asap berwarna merah mudah itu mulai menyebar dengan cepat pada ruangan tempat dirinya berada dan semua orang yang berada di sana mulai menghirupnya.
Gejolak aneh mulai dirasakan oleh Kileni. Dirinya tidak tahu perasaan apa yang sedang dirinya rasakan disaat dirinya juga menghirup asap yang memasuki ruangan tempatnya berada. Bahkan pria yang menodongnya dengan pisau tadi, mulai menarik kembali pisaunya dan bahkan membuangnya setelah dirinya menghirupnya.
Namun, disaat Kileni menatap pria yang menodong dirinya itu, ekspresi aneh mulai dikeluarkan oleh pria tersebut. Tentu Kileni semakin merasa ketakutan, namun asap yang dirinya hirup tadi sepertinya mulai bereaksi dengan cepat kepadanya.
Dirinya mulai bingung dengan apa yang terjadi kepadanya. Jadi, dirinya saat ini hanya bisa menangis menanggapi semua hal yang sudah dirinya alami. Apalagi, pria yang saat ini menatapnya sangat aneh, juga sepertinya mulai berperilaku dengan aneh saat ini.
“Tolong... aku tidak tahu apa yang terjadi denganku...” teriak Kileni yang merasa panik dengan perasaan yang dirinya rasakan saat ini, dan mulai meronta-ronta pada tempat dimana dirinya diikat sambil menangis histeris akan keadaannya.
Pria yang menodongnya dan menatapnya dengan tatapan aneh itu, juga sepertinya ingin memulai aksinya kepada Kileni. Tetapi untung saja, pintu dari ruangan tempat dimana dirinya berada, tiba-tiba saja mulai terpental mengarah kearah dirinya berada dan mengenai pria yang tangannya hendak menyentuh tubuhnya.
Kileni bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun disaat dirinya ingin mencari tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi, sesosok siluet pria saat ini mulai mendekat kearahnya dan tiba-tiba saja langsung membuat dirinya tak sadarkan diri.
“Tidurlah... oke. Biar aku bahwa dirimu kepada Ibumu nanti” dan begitulah suara seorang pria yang berbisik dengan lembut pada telinganya dan membuat Kileni mulai masuk kedalam dunia mimpinya.
“B-Baiklah Ayah....” dan begitulah jawaban dari gadis kecil itu, yang secara otomatis menjawab perkataan pria yang saat ini sudah menggendong tubuhnya yang sedang tertidur dengan pulas.
Zen saat ini berhasil menyelamatkan gadis kecil yang diminta oleh seseorang untuk diselamatkan oleh dirinya. Dengan langsung menghadang tindakan bejat yang akan diterima oleh gadis kecil tersebut, Zen akhirnya berhasil untuk melepaskannya dari jeratan kekejaman yang dirinya alami.
Dengan sudah memastikan gadis kecil itu sudah aman di pelukan dirinya, Zen saat ini mulai memperhatikan keadaan sekitar dan mulai bersiap melanjutkan aksinya dalam membasmi semua pihak yang membuatnya kesal, dan saat ini berada ditempat ini.
“Mari kita bereskan tempat ini” ucap Zen kepada Freya, karena bisa dikatakan hanya mereka berdua saja yang tersisa dalam misi ini.
Tentu Amaterasu sudah Zen baringkan pada tempat dimana dirinya berada dan sedang terlelap dengan nyaman pada tempatnya. Karena bisa dibilang, dirinya tidak akan sanggup menahan aura pemikat dari Freya yang dirinya keluarkan dari tubuhnya tadi.
Maka dari itu, saat ini Zen yang sedang menggendong Kileni berusaha dengan keras melawan beberapa pihak yang saat ini sudah dipenuhi nafsu birahi kepada mereka. Apalagi, mereka saat ini ingin menyerang Freya, karena mereka ingin sekali mencicipi tubuhnya.
__ADS_1
“Dasar mahluk rendahan. Apakah kalian tidak tahu, seberapa rendahnya kalian” ucap Freya yang mulai membantai habis seluruh Vampire yang berada di sana.
Zen juga tidak tinggal diam. Dirinya mulai membuat pingsan beberapa pihak yang menjadi bahan sandera untuk melindungi sosok para Vampire yang menyandera mereka tadi. Hingga akhirnya seluruh kegiatan mereka sudah hampir selesai sepenuhnya pada tempat tersebut.
Seluruh pihak yang merupakan ras Vampire hampir mereka kalahkan sepenuhnya. Para manusia dengan kondisi yang lemah dan digunakan sebagai sandera, juga sudah diamankan oleh Zen dengan membuat mereka tak sadarkan diri agar tak terpengaruh dengan aura dari Freya.
Jadi, mereka tinggal menyelesaikan beberapa urusan saja ditempat ini, dan tugas mereka akan segera berakhir dalam membantai pihak yang membuat Zen cukup kesal atas keberadaan mereka, yang bisa dikatakan mereka sedang bersembunyi ditempat ini.
“Tunggu, Freya. Sepertinya, kita akan membutuhkan pria ini” ucap Zen yang menangkap pedang dari Freya, yang akan membunuh pria yang Zen buat tersungkur dengan pintu yang dirinya lontarkan kearahnya tadi.
Freya saat ini bisa dikatakan sedang memancarkan sikap seperti seorang Dewa Perang atas pembantaian yang dirinya lakukan ditempat ini. Karena bisa dilihat ekspresi wajahnya sangat amat dingin dalam membantai beberapa pihak yang dirinya bunuh dengan dengan sangat keji.
Namun anehnya, saat Zen menghentikan tindakannya, wanita itu kembali menunjukan sikap malu-malunya kepada Zen. Apalagi, sikapnya itu sangat berbanding terbalik dengan sikap yang dirinya tunjukan saat dirinya membantai berbagai pihak tadi.
“Serap semua aura pemikat milikmu, dan aku akan membangunkan Amaterasu” ucap Zen dan mendapatkan anggukan dari Freya yang langsung mengerjakan perintah dari Zen.
Asap merah muda yang memenuhi tempat ini perlahan mulai menghilang, yang dimana Zen saat ini mulai membangunkan Amaterasu yang sedang tidur dengan nyaman ditempatnya, agar dirinya mulai sadar dari tidurnya yang nyaman tersebut.
“A-Apa yang kamu lakukan Zen, mengapa kamu membuatkan tertidur!” teriak wanita itu yang kesal dengan sikap Zen kepadanya, yang tiba-tiba saja membuat dirinya tak sadarkan diri.
“Cihh... lalu kamu mau terbawa nafsu dan semua pihak yang berada disini akan menjadi mainan mu dalam memuaskan nafsumu itu?” tanya Zen kembali yang membuat Amaterasu langsung bungkam.
Tentu Amaterasu langsung bungkam mendengarkan perkataan Zen, karena dirinya juga tidak ingin sesuatu yang dikatakan oleh Zen itu terjadi kepadanya. Apalagi, dirinya langsung merasa jijik saat membayangkan kejadian itu jika memang benar-benar terjadi kepadanya.
Hingga akhirnya Zen lalu mulai memimpin langkah wanita yang terlihat kesal itu, menuju kearah seorang Vampire yang masih pingsan pada tempatnya. Bahkan Freya juga mulai mengikuti langkahnya dan mereka bertiga mulai menatap pria tersebut.
“Siapa pria ini?” tanya Amaterasu, setelah Zen mulai menyingkirkan pintu yang dirinya tendang tadi, dari tubuh Vampire yang ditimpa oleh pintu tersebut.
“Dirinya pemimpin dari tempat ini, dan dipastikan dirinya mempunyai informasi yang kamu butuhkan.” Balas Zen kemudian.
“Tetapi, Zen. Bagiamana jika dirinya bersikeras untuk tidak membocorkan informasi apapun? Apalagi, didalam pikiran mereka sudah dipasangi sebuah sihir yang akan langsung membuat dirinya tewas untuk mencegah pengetahuannya itu bocor” ucap Amaterasu yang mengingat dengan jelas apa yang terjadi jika mereka mencari tahu isi kepala para Vampire tersebut.
Namun Zen tidak menjawab perkataannya dan langsung menempelkan telapak tangannya menuju kepala dari Vampire yang masih pingsan itu. Dengan mencari sebuah sihir seperti apa yang dikatakan oleh Amaterasu, dirinya langsung menghancurkannya dan membuat Vampire itu akan menjadi aset yang bagus dalam mengorek semua informasi yang mereka inginkan.
__ADS_1
“Sekarang, dirinya akan memberikan dirimu berbagai informasi yang dirimu mau”