Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Waktu Bersama


__ADS_3

Seorang wanita saat ini sudah memasangkan masker pada wajahnya untuk menyembunyikan rupanya, setelah dirinya bersama suaminya sudah tiba pada sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Dengan memarkirkan mobil yang mereka tumpangi, akhirnya mereka bersiap untuk menghabiskan waktu mereka ditempat ini.


Dengan mobil yang sudah terparkir rapi pada daerah basemen, saat ini kedua pasang suami istri itu akhirnya turun dari dalamnya. Dengan berjalan berdampingan, saat ini mereka berdua akan memasuki kawasan pusat perbelanjaan tempat mereka berada, dan siap menghabiskan waktu bersama ditempat tersebut.


Namun, sang wanita yang sedang berjalan berdampingan bersama suaminya, sangat berharap bahwa suaminya itu saat ini menggenggam tangannya. Namun ternyata apa yang dirinya harapkan itu harus pupus, karena mereka hanya berjalan berdampingan saja saat menuju kesebuah pintu masuk, yang membawa mereka untuk masuk menuju pusat perbelanjaan tersebut.


"Apa yang kamu harapkan, Vero" dan begitulah gumaman yang wanita itu lakukan didalam hatinya, yang dimana dirinya merasa kecewa bahwa apa yang dirinya harapkan tidak terjadi.


Mereka masihlah berjalan berdampingan saat menuju pintu masuk dari pusat perbelanjaan dimana mereka berada. Bahkan Vero saat ini mulai murung, karena memang dirinya menganggap bahwa kemajuan hubungannya dengan Zen, sepertinya hanya diam ditempat dan tidak mengalami kemajuan apapun.


Hal itu terlihat, disaat Zen seakan tidak memperlakukan dirinya seperti seseorang yang spesial bagi pria tersebut. Apalagi, keberadaan beberapa pasangan yang terlihat sangat romantis, saat ini terlihat melewati Vero dan langsung membuat Vero cukup iri dengan kebahagiaan mereka dengan pasangan mereka masing-masing, yang terlihat sangat romantis


Tetapi, tiba-tiba saja perasaan murung yang dirasakan oleh Vero, mulai berubah sepenuhnya saat dirinya dan suaminya akan melewati pintu otomatis dari pusat perbelanjaan tersebut. Hal itu dikarenakan, saat ini Zen tiba-tiba saja sudah meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat.


Terkejut tentu saja, apalagi Vero sempat menghentikan langkahnya sejenak dan mulai menatap suaminya atas perilaku yang baru saja dirinya lakukan itu. Karena memang, dirinya seakan meminta penjelasan tentang apa yang sedang Zen lakukan itu kepadanya.


“Bukankah jika pasangan sedang berkencan, mereka harus bergandengan tangan?” ucap Zen yang membuat Vero langsung tersenyum mendengarkannya.


“S-Sepertinya begitu” balas Vero yang berusaha tidak menunjukan perasaan semangatnya, dengan berusaha bersikap seperti biasa atas perilaku yang dilakukan oleh Zen kepadanya.


Namun ada satu hal yang mengganggu Vero saat ini. Karena bisa dikatakan dirinya kebingungan dengan perilaku Zen yang dirinya tunjukan kepadanya. Tentu Vero sangat bingung, karena dirinya menganggap apakah tindakan dari suaminya itu termasuk jawaban dari ungkapan perasaan yang dirinya berikan kemarin.


Karena bisa dikatakan, Vero tidak tahu harus bereaksi seperti apa dalam menyikapi perhatian yang diberikan oleh Zen kepadanya saat ini. Apalagi, tanda tanya besar masih memenuhi kepalanya atas perasaan sebenarnya dari pria itu kepadanya, yang belum dirinya ketahui hingga saat ini.


Tetapi sepertinya Vero memilih untuk tidak memikirkannya lagi apa yang sedang mengganggu pemikirannya itu. Karena dengan genggaman tangannya yang sudah digenggam oleh Zen saat ini, dirinya lebih memilih untuk menikmati waktunya itu bersama suaminya.


“Selamat datang Nona Vero, ada yang bisa saya bantu” dan begitulah sambutan yang diterima oleh pasangan suami istri tersebut, disaat mereka tiba pada sebuah tempat yang mereka datangi, apalagi setelah Vero mulai melepaskan masker yang dirinya gunakan.


Tentu sosok Vero sangatlah terkenal dimata beberapa pihak. Jadi untuk mencegah dirinya dikerumuni beberapa orang, sedari tadi wanita itu sudah menggunakan masker untuk menyembunyikan rupanya, hingga akhirnya dirinya melepaskannya ditempat ini.


Memang tempat yang dirinya datangi saat ini merupakan langganan dari Vero, sehingga mereka langsung mengenali dirinya dan menyambutnya dengan hangat. Jadi, Vero dengan cepat langsung memberitahukan apa keinginannya saat datang ketempat ini.


Tentu awalnya semua pegawai yang menyambut dirinya cukup terkejut, karena memang dirinya mulai memperkenalkan Zen sebagai suaminya didepan mereka. Apalagi bisa dikatakan maksud kedatangan dirinya ketempat ini, adalah untuk membuatkan setelan yang elegan untuk suaminya.

__ADS_1


Maka dari itu semua pihak yang berada di sana cukup terkejut mendengar kenyataan bahwa pria yang bersamanya merupakan suaminya. Karena bisa dikatakan, mereka tidak pernah mendengar ada pemberitaan tentang Vero yang sudah menikah dengan seseorang.


“B-Baiklah, Nona Vero. Kalau begitu, mari ikuti kami” ucap sang manager dari tempat tersebut yang menyambut sosok Vero secara langsung, dan mulai mengantarkan mereka berdua menuju sebuah tempat yang dikhususkan bagi mereka.


Tentu dengan cepat proses yang dilakukan akhirnya dimulai. Yang dimana, Zen saat ini tubuhnya mulai diukur agar setelan yang dibuatkan untuknya akan pas pada tubuhnya. Bahkan Vero saat ini dengan sabar menunggu proses yang dilakukan oleh Zen ditempat tersebut.


Memang bisa dikatakan, karena mereka bertindak secara hati-hati, proses itu memakan waktu yang cukup lama. Namun, Vero masih setia menunggu dan merasa senang dengan kegiatannya saat ini, yang melihat suaminya sedang diperlakukan dengan sangat baik.


Namun berbeda dengan Zen yang saat ini terjerat oleh berbagai pita pengukur yang masih mengukur tubuhnya. Karena dirinya sebenarnya sudah mulai bosan dengan apa yang dirinya lakukan saat ini. Tetapi karena dirinya merasakan bahwa Vero merasa bahagia, dirinya akhirnya hanya menjalaninya saja dengan tenang.


“Bisakah kalian mempercepat apa yang kalian lakukan?” Tetapi anehnya, tiba-tiba saja Vero yang merasa senang dengan perilaku para staf yang sedang mengukur tubuh dari Zen, mulai menyuruh mereka untuk menyelesaikan kegiatan mereka dengan cepat.


Bukannya Vero marah dengan sikap mereka, maupun karena dirinya ingin menghabiskan waktu dengan Zen lebih lama. Tetapi karena perasaan mereka berdua sudah saling berhubung, entah mengapa Vero bisa merasakan rasa ketidaksenangan dari Zen saat dirinya sedang diukur tubuhnya saat ini.


Memang dirinya cukup bingung mengapa dirinya seakan bisa merasakan perasaan dari Zen yang dirinya rasakan sudah sangat bosan. Maka dari itu dirinya langsung menyuruh beberapa pihak melakukan tugas mereka dengan cepat, karena dirinya tidak ingin membuat suaminya itu tidak nyaman.


Karena bisa dibilang, perilaku Vero saat ini seakan seperti perilaku yang dimana Zen selalu lakukan dulu. Yaitu dirinya seakan ingin membahagiakan seseorang yang mengeluarkan aura kebahagiaan bagi dirinya dan saat ini Vero seakan melakukan hal yang sama terhadap Zen.


“Maafkan kami, Nona Vero. Tetapi kami tidak ingin salah dalam melakukan tugas kami” ucap seseorang, yang saat ini masih mengukur tubuh dari Zen dengan sangat fokus.


Walaupun bisa dikatakan dirinya belum sepenuhnya mengerti tentang aura kebahagiaan yang dikeluarkan oleh Zen kepadanya, tetapi nalurinya seakan ingin terus mendapatkan aura tersebut. Maka dari itu, dirinya mencoba untuk menyenangkan sosok suaminya saat ini.


Tentu Zen sangat paham dengan apa yang sedang terjadi kepada wanita tersebut. Maka dari itu, Zen saat ini hanya memberikan senyum menawannya kepada Istrinya itu, karena dirinya merasa senang bahwa saat ini Vero seakan sedang memberikan sebuah perhatian untuk dirinya.


“Sudahlah Vero. Mereka hanya melakukan pekerjaan mereka.” balas Zen yang menenangkan Istrinya, yang menuntut agar apa yang sedang dilakukan oleh Zen cepat diselesaikan.


Memang berkah yang dikhususkan untuk para Deadly dan Heavenly sins sangat menguntungkan bagi mereka. Bukan hanya tentang mereka mendapatkan kekuatan atas berkah tersebut, tetapi perilaku mereka dengan pasangan mereka bisa dikatakan akan sangat harmonis dan bahagia.


Karena bisa dikatakan, pasangan yang terjerat dengan berkah tersebut akan saling membahagiakan satu sama lainnya. Jadi, dipastikan kehidupan mereka akan sangat harmonis kelak, karena hukum dunia sendiri yang akan memastikan mereka akan selalu bahagia.


“Aku tahu, Zen. Tetapi aku ingin menghabiskan waktu bersamamu” balas Vero dengan nada yang terkesan manja kepada Suaminya itu.


Zen memang saat ini hanya tersenyum saja mendengar perkataan dari Vero itu. Karena bisa dikatakan sepertinya wanita itu seakan tidak sadar mengatakan perkataan seperti itu kepadanya. Jadi, Zen hanya mengiyakan perkataan dari Istrinya itu dengan menanggapinya dengan mengangguk paham atas perkataannya tadi.

__ADS_1


Hingga akhirnya semua proses yang dilalui oleh Zen sudah sepenuhnya selesai. Dengan menyelesaikan pembayaran dan sebagainya, pakaian yang akan dibuat khusus oleh Zen akhirnya akan rampung sehari sebelum acara yang akan mereka hadiri itu dimulai.


Jadi, setelah kegiatan mereka ditempat tersebut sudah selesai sepenuhnya, kedua pasangan itu akhirnya memutuskan untuk beranjak dari sana. Apalagi, Vero sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktunya bersama Zen, yang akan berkencan di pusat perbelanjaan ini.


“Lalu, kita akan kemana?” tanya Zen kemudian, yang saat ini kembali menggandeng tangan dari wanita yang saat ini sudah mengenakan maskernya kembali.


“Bagaimana jika kita menonton sebuah film saat ini, Zen?” ajak Vero yang merasa bersemangat dalam menjalankan rencana kencan yang sudah dirinya persiapkan.


Ini merupakan pertama kalinya Vero berkencan dengan seseorang. Wanita yang sangat cantik itu, memang tidak pernah sama sekali berkencan dengan siapapun, karena dirinya sibuk dalam mengejar semua impian yang selama ini dirinya tuju.


Bahkan mantan pacarnya dulu, tidak pernah mampu untuk mengajak Vero untuk berkencan, karena memang Vero cukup malas untuk melakukannya. Apalagi disaat dirinya pacaran dulu, Vero sama sekali tidak mencintai sosok mantan pacarnya itu, dan dirinya pacaran hanya ingin mencoba hal tersebut.


Namun berbeda dengan saat ini. Seorang pria yang sudah mampu mencuri seluruh rasa cintanya sedang menggenggam tangannya dengan erat dan membawanya menuju tempat yang ingin dirinya tuju. Apalagi, Vero sangat ingin melakukan semua hal yang selama ini dirinya ingin lakukan, jika dirinya mempunyai seorang yang spesial bagi dirinya.


"Tetapi kenapa aku merasa kesal membawamu ketempat ini, Zen?" gumam Vero yang saat ini mulai memperhatikan beberapa wanita, yang mencoba mencuri pandang terhadap sosok suaminya saat ini.


Vero cukup kesal melihat mereka. Karena bisa dibilang beberapa wanita yang datang ketempat ini, bisa dikatakan datang dengan pasangan mereka masing-masing. Tetapi anehnya, mereka malah menatap dengan lekat sosok dari Zen, dan tidak menghiraukan pasangan yang bersama mereka.


“Cih... seharusnya kamu memakai masker sama sepertiku, Zen” ucap Vero yang saat ini semakin kesal, dan langsung mengubah genggaman tangan yang dirinya lakukan dengan Zen, menjadi sebuah pelukan pada lengannya saat ini.


Memang Zen bisa dikatakan sangatlah tampan. Maka dari itu, beberapa pihak dengan terang-terangan akan memandangi dirinya. Apalagi, saat mereka datang ketempat ini, Vero menyempatkan diri untuk mendandani suaminya tersebut.


Tentu dengan pakaian yang bagus dan cocok untuknya dan menata rambutnya tadi, membuat Zen terlihat sangatlah tampan saat ini. Jadi, dirinya sangat cemburu melihat beberapa pihak dengan terang-terangan sedang mencuri pandang dengan suaminya, yang sedang berjalan bersama dengan dirinya.


Apalagi tindakan yang dirinya lakukan saat ini, seakan menunjukan kepada beberapa wanita yang berada di sana, bahwa Zen merupakan miliknya. Sehingga dirinya saat ini tidak akan membiarkan mereka mencari kesempatan untuk berfikir, bahwa mereka bisa menggoda sosok suaminya yang datang bersamanya ketempat ini.


“Lalu, kamu mau menonton film apa?” namun, perasaan kesal Vero mulai menghilang sepenuhnya, disaat dirinya dan suaminya sudah berada ditempat penjualan tiket dari bioskop yang akan mereka masuki.


Zen sebenarnya sangat mengetahui tentang rasa cemburu yang dirasakan oleh Vero oleh beberapa pihak yang ada ditempat ini. Apalagi dirinya sangat senang bisa melihat rasa cemburu yang dikeluarkan oleh wanita itu kepada dirinya.


Dan juga, Zen saat ini merasa sangat bahagia, bahwa saat ini wanita itu dengan bersemangat sedang memilihkan film yang akan mereka tonton nanti. Bahkan sesekali dirinya menengok kearah Zen dan memberikan senyum kepada suaminya itu, karena terlihat bahwa dirinya sangat amat senang dengan kegiatan mereka hari ini.


Tentu, Zen ingin sekali kebahagiaan dari Vero akan selalu nampak pada dirinya. Karena memang, kebahagiaan bagi istrinya merupakan kebahagiaan juga bagi Zen. Maka dari itu, Zen ingin segera mengesahkan hubungan mereka dan melanjutkan hubungan mereka ketahap yang tidak akan terbayangkan oleh wanita tersebut.

__ADS_1


"Tunggulah, Vero. Sebentar lagi, aku akan benar-benar membuatmu menjadi Istriku."


__ADS_2