
Zen dengan senyum menyeramkan yang terukir di wajah tampannya, saat ini tidak menyangka menemukan sebuah lemon yang berada didalam sebuah kulkas dari tempat dirinya berada. Tentu setelah mendapatkan apa yang dirinya temukan itu, dirinya mulai memotong membagi dua beberapa lemon yang didapatnya itu.
Kalau ada yang berfikir bahwa dirinya sedang memasak sesuatu, mereka semua salah. Karena bisa dilihat Zen hanya memfokuskan dirinya dalam membelah beberapa buah lemon, yang akan dirinya gunakan sebagai bahan tambahan dalam melakukan sesuatu yang membuatnya senang.
Sambil bersiul senang, saat ini Zen mulai memasukan beberapa lemon yang sudah dirinya belah menjadi dua kedalam sebuah wadah, lalu membawanya menuju kearah seorang pria yang saat ini sedang duduk terikat di atas sebuah kursi. Dengan langkahnya yang santai itu, akhirnya dirinya sudah menatap pria yang kondisinya sangat mengenaskan, yang dimana dirinya sudah berada dihadapannya saat ini.
“Baiklah, aku dengar air lemon sangat bagus terhadap kulit. Jadi, kamu harus berterima kasih kepada diriku, karena aku akan merawat kulitmu saat ini” ucap Zen, sambil menunjukan senyum menyeramkan miliknya itu.
Air kencing, darah, dan keringat saat ini sudah membasahi bagian bawah dari tempat dimana pria itu sedang duduk. Tetapi Zen tidak memperdulikannya dan bersiap untuk melanjutkan perawatan dari seseorang yang mengalami sebuah masalah kulit pada dirinya.
Karena seperti yang bisa dilihat, wajah pria itu saat ini dipenuhi dengan berbagai jenis luka dan beberapa belatung sudah menggerogoti lukanya. Maka dari itu, Zen dengan senang hati akan merawat apa yang terjadi kepadanya, agar pria itu bisa berhenti mengeluh tentang apa yang terjadi kepadanya.
Berbeda dengan Zen yang tulus merawat pria yang saat ini terlihat sangat ketakutan itu, pria yang sedang dirawat Zen saat ini malah semakin ketakutan. Karena memang dirinya melihat kekejaman dari pria yang sudah melakukan semua ini kepada dirinya. Apalagi dengan mata kepalanya sendiri, pria itu saat ini sudah siap memeras potongan lemon yang dirinya potong tadi pada luka-luka miliknya.
“Baiklah, mari mulai” ucap Zen yang sudah mulai memeras irisan lemon yang sudah dipotongnya tadi, dan meneteskannya kepada luka dari pria tersebut.
“AHHHHHHHHHHHH”
Teriakan menyakitkan mulai terdengar kembali, setelah Zen memulai kembali aksinya dalam menyiksa pria didepannya. Tentu Zen yang melakukan semua itu tidak merasa terganggu, dan malah menikmati apa yang sedang dirinya lakukan kepada pria yang saat ini merintih kesakitan.
Apalagi memang Zen tidak akan menyiksanya jika memang pria itu memang sengaja diancam oleh seseorang untuk melukainya. Tetapi, Zen menemukan sesuatu yang membuat pria itu pantas untuk menerima hukuman yang sedang Zen lakukan kepadanya saat ini.
Karena memang, pria yang sedang disiksa oleh Zen saat ini, mempunyai sebuah rahasia yang besar dan rahasia tersebut bahkan digunakan oleh pihak yang mengancamnya untuk mencelakai Zen. Rahasia itulah yang membuat Zen muak, dan memutuskan untuk menyiksanya saat ini.
Jadi, Zen saat ini memutuskan bersenang-senang dengan pria tersebut, setelah mengetahui kejahatan bejat yang dirinya lakukan kepada beberapa orang. Apalagi terlihat pria itu sepertinya tidak merasa bersalah atas apa yang dirinya lakukan pada orang-orang yang menjadi korban kebejatan yang dirinya lakukan itu.
“Oh... lihatlah. Kelabang yang keluar dari dalam mulutmu, sepertinya sangat menyukai cairan darah bercampur dengan air lemon” ucap Zen kemudian, yang mulai menggunakan kedua tangannya untuk kembali memeras dua buah irisan lemon yang baru.
Dan begitulah kediaman mewah itu menjadi saksi kekejaman dari seseorang, yang saat ini sudah merasa sudah puas dengan apa yang baru saja dirinya lakukan kepada orang yang dirinya siksa sedemikian rupa. Dengan melihat korban kekejamannya sudah tak berdaya, akhirnya Zen memutuskan untuk menyudahi apa yang sedang dirinya lakukan itu.
Tentu sebelum dirinya menyudahi apa yang dirinya lakukan, Zen saat ini mulai mengambil beberapa hewan peliharaan kesayangannya, yang sedari tadi membantu aksinya dalam merawat seseorang yang sedang dirinya siksa sedari tadi.
__ADS_1
“Cih... aku tahu kamu sangat merindukanku, King. Tapi kamu harus kembali” ucap Zen, kepada peliharaan kalajengking kesayangannya dan mulai mengirimkannya kembali menuju neraka.
Zen memang menggunakan berbagai peliharaannya untuk menyiksa orang didepannya. Mulai dari Kelabang, Kalajengking, belatung, katak beracun dan sebagainya, hanya untuk kesenangannya yang senang menyiksa seseorang saat ini.
Memang karena dirinya pemimpin dari neraka, yang bertugas menghukum jiwa manusia yang bersalah. Membuat perbuatan penyiksaan yang sering dirinya lakukan merupakan hal yang lumrah bagi dirinya. Apalagi dirinya sudah terbiasa melakukan itu pada saat dirinya masih tinggal di Neraka.
“Sekarang, kamu hanya tinggal tunjukan hasil perawatan kulitmu itu kepada seorang wanita yang akan melihatmu sebentar lagi, untuk membuktikan bahwa kondisinya tidak baik-baik saja, oke” ucap Zen kemudian, kepada pria yang hanya menyahuti perkataannya dengan sebuah rintihan kesakitan.
"Jawaban yang bijak" balas Zen kemudian, yang menanggap rintihan pria itu, sebagai jawaban positif dari apa yang dirinya lontarkan tadi.
Zen akhirnya langsung menghubungi Santi untuk memberitahukan dirinya keberadaan tempat ini. Apalagi selain Zen sudah berjanji untuk memberitahukan dirinya, Zen juga ingin membuktikan bahwa wanita itu benar-benar tidak baik-baik saja dengan kondisi mentalnya saat ini. Jadi, Zen sudah mempersiapkan sebuah hadiah untuknya.
Dan apa yang direncakan oleh Zen itu bisa dikatakan berhasil, karena dirinya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Santi sudah pingsan karena ketakutan, dari sebuah pemandangan yang sering dirinya lihat didalam mimpi yang sering dirinya alami beberapa hari ini.
Bahkan beberapa anak buah dari Santi, saat ini tidak memperdulikan keadaan korban yang terlihat sangat mengenaskan yang berhasil mereka temukan. Namun lebih memilih untuk membantu komandan mereka yang sudah tidak sadarkan diri ditempatnya.
“Hm... karena semuanya sudah selesai, mari kembali” gumam Zen dengan perasaannya yang senang, dan mulai beranjak dari tempatnya.
“Kamu tidak apa-apa, Zen?” Namun saat dirinya baru saja menginjakkan kaki pada kediaman tersebut, dirinya mendapatkan sambutan dari orang yang tidak disangka oleh dirinya akan datang menyambut kedatangannya.
Seorang wanita yang bisa dikatakan sangat gelisah, memang sangat mengkhawatirkan keberadaannya setelah melihat pemberitaan yang terjadi. Jadi, setelah mengetahui siapa yang saat ini sudah kembali pada kediaman tempat dirinya menginap, wanita tersebut langsung memeriksa dan menanyakan keadaannya.
Bisa terlihat raut wajah wanita itu cukup panik, karena dirinya sangat khawatir bahwa Zen akan terluka parah akibat perbuatannya. Walaupun sebenarnya bukan dirinya penyebab dari kejadian yang dialami Zen, tetapi wanita itu tetap merasa bersalah dan menanggap semua itu adalah kesalahannya.
“Aku baik-baik saja. Jadi, kamu tenanglah” balas Zen, kepada Anabelle yang menyambutnya.
Anabelle masih merasa bersalah, karena atas keberadaannya membuat beberapa orang yang menurutnya baik dengan keberadaannya akan terluka. Memang secara harafiah, dirinya merasa bersalah akibat skandal yang diperbuatnya dan sedang ramai pemberitaannya saat ini.
Apalagi kejadian yang dialami oleh Zen tadi, terjadi setelah klarifikasi yang dilakukan oleh orang yang sangat membencinya, sehingga membuat masalahnya semakin keruh. Jadi dirinya menanggap bahwa semua kejadian yang sudah terjadi, memang merupakan kesalahannya.
“Tetapi, kamu benar-benar baik-baik saja bukan?” tanya Anabelle memastikan.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja” balas Zen menekankan bahwa dirinya memang baik-baik saja.
Namun belum juga keributan yang dilakukan oleh Anabelle itu mereda, saat ini Vero juga akhirnya kembali dari perusahaannya. Apalagi Vero langsung melontarkan sebuah informasi kepada Zen, yang akan membuat mereka berdua melakukan perjalanan bisnis keesokan harinya.
“Jakarta?” tanya Zen memastikan kembali, perkataan yang dilontarkan oleh wanita yang baru saja pulang dari perusahannya itu.
“Iya. Kamu akan menemaniku untuk menuju Jakarta keesokan harinya” balas Vero kemudian.
Memang Vero harus menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi di perusahaannya secepat mungkin. Maka dari itu, dirinya memutuskan untuk langsung menuju Jakarta dan menyelesaikan semua hal yang menghalangi proses dari kemajuan perusahannya.
“Apa ini karena diriku lagi?” tanya Anabelle kemudian, yang ikut bergabung dengan dengan percakapan mereka berdua.
Memang Vero menggunakan skandal yang menjerat dirinya dan Anabelle, untuk dapat menarik atensi dari beberapa pihak. Apalagi apa yang dirinya lakukan itu, untuk membuat sebuah promosi yang efektif, dengan menggunakan atensi yang dirinya dapatkan.
Walaupun awalnya apa yang dirinya lakukan itu bisa dikatakan berhasil. Namun klarifikasi dari seorang mega bintang kemarin, akhirnya membuat apa yang dirinya lakukan itu, seakan menjadi sebuah bumerang bagi dirinya. Dan bisa terlihat saat ini yang dimana beberapa sponsor mulai menarik diri, dari keikutsertaan mereka pada projek yang dikerjakan oleh perusahaan milik Vero.
“Tenanglah. Kamu tidak usah khawatir. Aku bisa mengurusnya” ucap Vero kemudian.
Vero sama sekali tidak menyesal mengikut sertakan Anabelle dalam projek yang akan dirinya lakukan. Walaupun wanita itu bisa membuat apa yang dirinya kerjakan akan gagal, tetapi dirinya percaya diri bahwa apa yang dirinya lakukan nanti akan berhasil.
Entah dari mana dirinya mendapatkan keyakinan seperti itu, tetapi dirinya sangat percaya apa yang dirinya lakukan saat ini sudah benar, dan dirinya hanya menunggu hasil keras kerjanya itu untuk berhasil. Jadi, Vero tidak mempermasalahkan apa yang terjadi saat ini dan berusaha dengan keras untuk memperbaikinya.
“Lagipula, pihak StraFlix tidak mempermasalahkan keberadaan dirimu untuk memproduksi projek yang mereka danai separuhnya. Jadi, kamu tenang saja” lanjut Vero meyakinkan Anabelle.
Dan inilah yang membuat Anabelle merasa sangat bersalah. Karena memang orang-orang baik yang dirinya temui saat ini, masih mempercayai dirinya sepenuhnya. Jadi, dirinya memutuskan akan membayar semua kepercayaan itu kepada mereka, dengan melakukan yang terbaik atas apa yang mereka akan lakukan kelak.
“Baiklah. Terima kasih Vero” ucap Anabelle kemudian.
Disisi lain, Zen saat ini semakin kesal dengan tindakan mereka berdua yang sedang mengobrol dihadapan dirinya. Apalagi niat awal Zen ingin menyantap makanan lezat, setelah menyelesaikan sebuah kegiatan yang menyenangkan bagi dirinya.
Tetapi kesenangannya itu harus tertunda, setelah kegiatannya dihalangi oleh dua orang yang saat ini saling menguatkan satu sama lainnya. Zen sebenarnya tidak mempermasalahkan mereka berdua untuk melakukan hal tersebut. Tetapi seharusnya mereka tidak menghalangi jalannya juga.
__ADS_1
“Bisakah kalian berdua sudahi apa yang kalian lakukan, karena aku sudah sangat lapar saat ini”