
Kileni merasa sangat bahagia saat ini, apalagi dengan mata kepalanya sendiri, dirinya menyaksikan kedua sosok yang merupakan Ibu kandungnya dan sosok yang dirinya sebagai Ayahnya, sepertinya hubungan mereka mulai dekat bahkan mereka terlihat seperti sepasang keluarga saat ini.
Ayahnya saat ini sedang menggenggam tangan Ibu kandungnya. Bahkan Kileni baru melihat ekspresi Ibunya yang seakan sangat malu dengan perlakuan Ayahnya itu, yang sampai saat ini masih menggendong dirinya dan berjalan bersamaan seperti sebuah keluarga kecil yang utuh dan sangat amat bahagia.
Apalagi dengan terang-terangan Ayahnya berkata bahwa Ibunya merupakan calon Istrinya. Maka dari itu, Kileni merasa senang bahwa harapannya tentang Ibu kandungnya dan sosok yang dirinya anggap sebagai Ayah itu menikah bisa terwujud karena hubungan mereka sudah berkembang seperti saat ini.
"Berarti, nanti Kileni akan tinggal di rumah Ayah bersama Ibu bukan?" ucap gadis kecil itu yang sudah membayangkan kehidupannya dengan Ayah dan Ibu-ibunya nanti.
"Memang. Tapi masalahnya, Ibumu seakan tidak ingin menikah dengan Ayahmu ini, Kileni" balas Zen yang mencoba menggoda Alice saat ini.
Mendengar perkataannya, tentu kedua pihak yang bersamanya mulai terkejut. Kileni tentu terkejut bahwa kenyataannya hubungan mereka berdua belumlah berjalan seperti apa yang dirinya pikirkan, sedangkan Alice terkejut dengan pernyataan Zen yang saat ini malah terang-terangan membahas masalah hubungan mereka didepan Kileni saat ini.
Memang Alice masih bingung dengan perasaannya. Tentu didalam dirinya sudah tumbuh dengan subur sebuah perasaan cinta untuk Zen. Namun masalahnya dirinya masih kepikiran dengan banyaknya wanita yang bersama pria tersebut yang membuat Alice tidak bisa memberikan sebuah keputusan atas perasaannya secara langsung.
"Kenapa Ibu?" hingga pemikirannya itu mulai terhenti disaat Putrinya saat ini akhirnya semakin memusingkan dirinya.
Kileni termasuk menjadi alasan Alice masih memikirkan keputusannya. Memang gadis kecilnya tersebut sangat dekat dengan Zen bahkan semua Istri-istrinya. Namun dirinya masih takut bahwa saat ini mereka hanya memanfaatkan sosok putrinya saja agar dirinya mau untuk dipinang oleh Zen sebagai Istrinya.
Apalagi kegagalan dalam rumah tangganya yang pertama, dan trauma yang dirinya terima dari sosok yang harusnya mengayomi dirinya, masih membekas dengan jelas didalam benaknya. Jadi, dirinya masih ragu-ragu untuk menerima perasaan dari Zen, karena dirinya takut dikecewakan untuk kedua kalinya.
"Jangan mendesak Ibumu, Kileni. Walaupun memang nantinya Ayah dan Ibumu tidak bersatu, kamu tetap menjadi Putri Ayah, oke" balas Zen yang memang tidak menekan permalasahan ini lebih lanjut, karena saat ini dirinya bisa merasakan perasaan Alice tentang keadaannya.
__ADS_1
Mendengarkan perkataan Zen, Kileni hanya mengangguk saja saat ini. Apalagi sebenarnya dirinya hanya berharap kedua sosok yang dirinya anggap sebagai orang tau itu bisa bersatu. Namun dirinya juga tahu, bahwa dirinya tidak boleh egois, karena mungkin nantinya Ibunya akan sedih dengan perkataannya yang seakan memaksa kehendaknya.
"Baiklah, Ayah" dan begitulah ucapan Kileni yang mencoba menerima keputusan Ayahnya, walaupun kedua orang yang berjalan bersamanya itu bisa merasakan ada sebuah nada kesedihan dari perkataannya tadi.
Tentu pemikiran Alice semakin bimbang dibuatnya. Apalagi mendengar perkataan Putrinya itu. Alice merasa bersalah saat ini, karena dirinya sangat tahu harapan dari Kileni tentang hubungannya dengan Zen. Tapi walaupun ada rasa cinta dari dirinya, Alice merasa takut dengan menjalani sebuah hubungan kembali.
Sikap Zen yang perhatian memang sama seperti mendiang suaminya. Bahkan mereka sama-sama membuat hati Alice seakan melayang dengan sikap mereka berdua. Namun dirinya takut, bahwa kedepannya sifat mantan suaminya akan sama dengan Zen nantinya setelah mereka menikah.
Rasa trauma itulah yang tidak ingin dirasakan oleh Alice. Maka dari itu, dirinya ingin memikirkan secara matang-matang tentang keputusannya yang ingin memiliki sebuah hubungan. Hingga suara dari Kileni yang terlihat sedih itu langsung meruntuhkan sebuah dinding tinggi yang sedang memagari hatinya.
Bagi seorang Ibu, seharusnya Alice tidak hanya memikirkan perasannya saja saat ini. Apalagi bisa dilihat dengan jelas bahwa selama ini Putrinya membutuhkan kehangatan sebuah keluarga, namun dirinya tidak bisa memberikannya.
Dan hal itulah yang membuat Alice merasa sangat amat bersalah, karena dirinya saat ini seakan memikirkan permasalahannya sendiri dan tidak memikirkan perasaan Putrinya dari sudut pandangnya.
Maka dari itu, Alice sudah bertekad untuk tidak membuat kesalahan lagi, dan yang terpenting dirinya harus memfokuskan kebahagiaan Putrinya saat ini.
"Bukan begit-" namun belumlah dirinya mengungkapkan apa yang ingin dirinya sampaikan, saat ini Alice dikejutkan dengan Zen yang melepaskan genggaman tangannya.
"Maafkan Ayah, Kileni. Bisakah kamu pindah menuju gendongan Ibumu?" ucap Zen yang menyerahkan Kileni kepada Alice saat ini.
Cukup terkejut memang apa yang dilakukan oleh pria itu, karena memang terlihat sikapnya mulai berubah sepenuhnya. Hingga Kileni yang awalnya berada di gendongannya saat ini sudah berpindah tempat menuju gendongan Alice, setelah pria itu dengan bergegas menyerahkan gadis kecil itu kepadanya.
__ADS_1
"Ayah ada urusan sebentar, Oke. Jadi, kamu bersama Ibumu" balas Zen yang saat ini mengecup singkat kening dari Kileni.
Kileni tentu hanya mengangguk saja mendengarkan perkataan Ayahnya, karena memang dirinya tahu bahwa saat ini ada sesuatu yang harus dilakukan olehnya. Apalagi sebagai Putri yang baik, Kileni menganggap bahwa dirinya harus mendengarkan semua perkataan kedua orang Tuannya. Maka dari itu, dirinya langsung mengiyakan perkataan dari Zen.
"Lalu, kamu pergilah menuju perusahaan Vero, dan temui dirinya disana. Aku sudah menjelaskan detailnya, dan kamu hanya tinggal mendiskusikan berbagai hal dengannya" balas Zen sebelum memang dirinya meninggalkan sepasang Ibu dan anak itu disana.
"Apa maksudmu, Zen?" dan begitulah balasan dari Alice yang bisa dikatakan sangat kebingungan dengan sikapnya.
"Kamu akan tahu disaat kamu bertemu dengan dirinya" Balas Zen yang saat ini juga mengecup ringan kening dari Alice sebelum dirinya beranjak dari sana.
Sikap Zen itu tentu membuat Alice sangat terkejut. Bahkan wajahnya mulai merona malu, saat pria itu dengan terang-terangan menunjukkan sebuah perhatian yang romantis kepadanya. Hingga sebuah kecupan lembut itu akhirnya terlepas dan saat ini sosok Zen mulai menunjukan sebuah senyum menawannya kepada dirinya.
"Kileni, pastikan Ibumu pergi menemui Mamamu Vero, oke" ucap Zen sekali lagi yang sebelum dirinya beranjak dari sana.
"Baik Ayah." balas Kileni bersemangat, setelah melihat interaksi kedua pihak tersebut.
Dengan tergesa-gesa, Zen saat ini seakan mulai menghilang dari hadapan pasangan Ibu dan Anak itu. Hingga akhirnya pada jalan trotoar yang mereka lewati itu, hanya tersisa sosok Alice dan Kileni yang masih menatap kepergian Zen yang bisa dibilang menghilang secara tiba-tiba didepan mereka, dan saat ini keberadaannya sudah menghilang sepenuhnya.
Tentu Kileni sudah tahu bahwa Ayahnya memiliki kekuatan super. Tetapi ini pertama kali dirinya melihat Ayahnya melakukannya didepannya, dan membuat gadis itu cukup tercengang. Hingga akhirnya dirinya mulai menyadari, bahwa saat ini dirinya harus menjalankan tugas yang diberikan Ayahnya kepada dirinya.
"Ayo Ibu, kita akan menemui Mama Vero saat ini"
__ADS_1