Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Kepergian


__ADS_3

Pagi harinya, seorang wanita sudah disibukan dengan berbagai hal, mulai merapikan beberapa hal yang belum dirinya rapikan, hingga dirinya saat ini sudah bersiap untuk meninggalkan tempat dimana dirinya berada saat ini. Beberapa koper dan sebuah tas sudah siap dia bawa dan saat ini dirinya mulai menatap sekeliling kamar tempat tinggalnya yang akan dirinya tinggalkan itu.


“Sampai jumpa...” gumam Angel berkata dengan pelan dan mulai mengendong tasnya dan menarik kopernya yang dimana pada bagian atas kopernya ada sebuah boneka cokelat yang sangat berarti bagi dirinya.


Perasaan sedih Angel perlahan mulai berkurang setelah dirinya membuka pintu kediamannya dan menemukan Zen yang sudah berdiri tepat di samping pintu kediamannya dan terlihat sedang menunggu dirinya keluar dari dalam kediamannya.


“Kenapa Kakak tidak memanggilku jika sudah sampai Kak?” tanya Angel kepada Zen yang sedang bersandar pada tombok dari kamar kos-kosan yang disewanya.


“Aku baru saja sampai” balas Zen sambil tersenyum kepada wanita yang baru saja keluar dari dalam kediamannya itu.


Zen sebenarnya sudah sampai sedari tadi, namun karena dirinya merasakan perasaan sedih Angel yang masih berada didalam kamarnya, Zen memutuskan untuk membiarkan saja wanita itu untuk menikmati waktu terakhirnya berada ditempat ini.


“Benarkah?” balas Angel yang mulai menyeret kopernya keluar kamarnya setelah mendapat anggukan dari Zen.


“Ah... barang-barang milikku ada yang aku tinggalkan, jadi Kakak bisa mengambilnya jika Kakak membutuhkan” balas Angel sambil menunjuk beberapa barang yang masih dirinya tinggalkan didalam kamar kontrakannya.


Walaupun barangnya tidak banyak, tetapi beberapa benda yang dirinya tidak bisa bawa seperti lemari pakaiannya, meja dan sebagainya masih Angel tinggalkan. Memang Angel berniat akan memberikannya semua kepada tetangganya, namun jika Zen menginginkannya Angel dengan senang hati akan memberikannya.


“Tidak usah, lagipula barang pada kediamanku sudah banyak” balas Zen yang menolak pemberian dari Angel.


Zen langsung mengambil koper dari dari Angel untuk membantunya dan menariknya lalu beranjak terlebih dahulu keluar dari area kediaman milik Angel. Sedangkan Angel yang melihat itu langsung mengunci pintu kamar kosan miliknya dan langsung mengikuti Zen yang sudah beranjak terlebih dahulu.


“Sabar Kak, aku akan mengembalikan kunci kamarku dulu. Sambil menunggu, bisakah Kakak memesankan kita taksi online untuk mengantarkan kita menuju terminal?” tanya Angel sambil menunjukan kunci kamar yang sedang dirinya pegang kepada Zen.


“Tidak perlu, aku sudah meminta tolong kepada temanku untuk mengantarkan dirimu” balas Zen kemudian.


Angel hanya mengangguk saja mendengar perkataan Zen, dan mulai berjalan menuju kediaman pemilik kos yang disewanya untuk mengembalikan kunci kamarnya, sedangkan Zen saat ini sudah berjalan keluar dari area kos tempat tinggal Angel.


“Biar saya bantu Tuan” balas Bari yang saat ini sedang menunggu Zen tepat di arah jalan didepan area kos yang disewa Angel dan mulai mengambil koper yang dibawa oleh Zen.

__ADS_1


“Hemm” balas Zen dan menyerahkan koper dari Angel dan membiarkan Bari memasukan koper itu kedalam bagasi mobil yang dibawanya.


Sebuah Honda Civic yang entah dari mana Bari dapatkan saat ini sudah dipersiapkan olehnya untuk mengantarkan Tuannya beserta Angel. Namun satu hal yang membuat Zen bingung, dari mana bawahannya itu mendapatkan mobil ini.


“Apakah kamu mencoret nama dari pemilik mobil ini agar dirimu bisa membawa mobilnya?” Ucap Zen yang masih memperhatikan bawahannya tersebut dan mobil yang dibawanya.


“Ini mobil anda tuan” Balas Bari dan membuat Zen hanya mengerutkan keningnya mendengar hal itu.


“Sejak kapan aku memiliki mobil?” Tanya Zen kemudian, karena memang dirinya tidak pernah sekalipun membeli mobil untuk dirinya.


“Sejak awal anda tinggal di kota ini, Tuan Alfred sudah membelikan anda beberapa kendaraan seperti mobil ini salah satunya Tuan” jelas Bari.


Memang saat datang menuju kediaman Angel, Zen memang berjalan terlebih dahulu dan menyuruh Bari menyusulnya, setelah Bari mengatakan bahwa dirinya bisa mengantarkan dirinya dan Angel menuju sebuah terminal menggunakan sebuah kendaraan.


“Lalu kenapa aku tidak mengetahui bahwa aku memiliki sebuah mobil?” tanya Zen yang masih kebingungan, apakah benar dirinya mempunyai sebuah mobil.


“Semua kendaraan anda terparkir rapi pada Basemen dari Apartemen anda Tuan. Dan hingga saat ini anda belum sama sekali mengunjungi tempat itu, padahal semua kendaraan anda berada di sana” balas Bari.


Memang nama pemilik gedung tersebut saat ini adalah Bari, karena semua bawahan dari Zen tidak ingin menyebarkan identitas tuannya secara sembarangan karena itulah permintaan dari Zen, jadi sebisa mungkin mereka menyembunyikannya.


“Benarkah?” balas Zen dan dijawab anggukan oleh Bari.


Namun sedang asik mengobrol, Angel yang langkahnya sengaja dia buat cepat, saat ini mulai menghampiri kedua orang yang saat ini masih memperdebatkan apakah benar Zen mempunyai mobil atau tidak.


“Maaf membuatmu menunggu lama Kak” kata Angel yang saat ini sudah berkumpul bersama Zen dan Bari.


“Tenanglah, lagipula masih banyak waktu untuk jadwal keberangkatan dirimu.” Jawab Zen sambil memperhatikan waktu pada jam tangan yang sebenarnya dirinya dapatkan dari hasil sebuah taruhan.


“Dan juga perkenalkan ini temanku Bari” kata Zen sambil memperkenalkan Bari kepada Angel.

__ADS_1


Angel dengan senyum ramah yang terpampang diwajahnya tentu saja mulai memperkenalkan dirinya kepada teman dari Zen. Namun ada satu yang mengganggunya saat ini, karena sepertinya dirinya pernah bertemu dengan pria yang dikenalkan kepadanya itu.


“Bari” balas Bari yang memperkenalkan dirinya kepada Angel.


“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya Kak?” tanya Angel kepada Bari, karena memang Angel merasa pernah melihatnya pada suatu tempat.


“Sepertinya tidak. Karena ini pertama kalinya saya bertemu dengan anda nona” balas Bari yang masih menggunakan perkataan yang sopan.


Tentu saja Angel pernah bertemu dengan Bari. Karena Bari merupakan pria yang mengantarkan dirinya kembali menuju kediamannya saat dirinya akan diperkosa dulu, atas perintah yang diberikan oleh Zen pada saat itu.


“Benarkah, apakah hanya perasaanku saja ya...” gumam Angel.


“Sudahlah, bukankah kita harus mencari sarapan terlebih dulu.” Kata Zen yang memotong kebingungan Angel yang merasa dirinya pernah bertemu dengan Bari.


“Kalau begitu silahkan masuk. Saya akan mengantarkan kalian berdua” kata Bari yang mulai membukakan pintu mobil yang dibawanya.


Angel sebenarnya sangat bingung dengan tingkah dari Bari, karena pria itu saat ini seakan sangat sungkan kepada dirinya dan kepada Zen. Namun karena sudah dipersilahkan masuk, akhirnya dirinya mulai memasuki mobil yang sudah dibukakan oleh Bari dan duduk pada bangku belakang bersama Zen.


Mobil yang dikendarai oleh Bari sudah melaju, yang dimana mereka memutuskan untuk membawa Angel menuju sebuah kedai untuk sekedar sarapan, sebelum akhirnya mereka membawa Angel menuju terminal.


“Apakah bosmu tidak marah Kak Bari jika mengetahui bahwa mobilnya kamu bawa untuk dijadikan kendaraan dari seorang pengemudi taksi online?” tanya Angel, setelah mereka sudah masuk kedalam mobil yang dibawa oleh Bari kembali setelah mereka sudah selesai sarapan pada sebuah kedai makanan.


“Bos saya sangat baik, dan tidak mempermasalahkan saya untuk membawa kendaraannya untuk digunakan sebagai sarana saya bekerja Nona” balas Bari dan membuat Zen hanya mengangguk mendengar perkataan anak buahnya itu dan menyetujui perkataannya.


Memang Bari sempat menceritakan tentang dirinya sedikit saat mereka sarapan tadi. Tentu saja dirinya menyembunyikan fakta bahwa dirinya merupakan malaikat maut dan mengatakan bahwa pekerjaannya merupakan sopir pribadi dan menjadi pengemudi taksi online.


“Wah... Kakak sangat beruntung kalau begitu bertemu dengan bos yang sangat pengertian” balas Angel dan membuat Zen kembali menganggukkan kepalanya.


Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Bari sudah sampai pada sebuah terminal bus tempat dimana Angel akan berangkat dari sana untuk menuju kota tujuannya. Setelah memarkirkan kendaraannya, Zen mulai membantu Angel untuk membawa kopernya menuju tempat tunggu dari bus yang akan ditumpanginya.

__ADS_1


Tiket perjalanannya memang sudah dibeli oleh Angel dan saat ini dirinya sudah bersiap untuk berangkat dan hanya menunggu bus yang ditumpanginya untuk berangkat. Sambil mengobrol ringan ditempat itu bersama Zen dan Bari, akhirnya panggilan penumpang untuk bus yang akan dinaiki oleh Angel mulai terdengar.


“Sudah waktunya ya...”


__ADS_2