Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Nekat


__ADS_3

Sebuah mobil ambulan mulai terparkir dengan rapi di samping sebuah ruas jalan raya, yang dimana jalan itu akan menuntun orang yang berada didalam ambulan tersebut menuju sebuah mansion yang sangatlah besar.


Memang pengendara ambulan itu tidak ingin mengendarai kendaraannya mendekati mansion tersebut, karena menurut salah satu dari mereka, mereka akan menyerang tempat itu dari tempat mereka berada saat ini.


Setelah mesin mobil ambulan itu dimatikan, turunlah beberapa orang dari dalamnya yang terdiri dari dua orang pria dan wanita. Ketiga orang yang turun itu memang menggunakan setelan berwarna hitam, yang dimana seorang lagi seakan menanggap dirinya tidak sepatutnya berada ditempat ini.


“Kediaman mereka ada diujung jalan ini Tuan Zen” kata Bari yang juga sudah mengeluarkan senjatanya dan bersiap untuk membasmi beberapa serangga yang berani mengganggu ketenangan tuannya.


“Baiklah, mari kita berangkat” balas Zen yang akan beranjak dari sana.


Namun saat mereka akan beranjak, langkah mereka mulai dihalangi oleh Santi yang saat ini sangat bingung dengan perilaku ketiga orang yang bersamanya, karena mereka akan menyerang sebuah tempat secara langsung tanpa memikirkan rencana untuk melakukannya.


“Apakah kalian ingin bunuh diri?” kata Santi yang masih belum mengerti jalan pikiran dari ketiga orang tersebut.


“Siapa yang ingin bunuh diri?” tanya Zen kembali sambil menunjukan ekspresi datarnya itu.


“Kalian akan menyerang seorang pebisnis bawah tanah yang terkenal, dan kalian akan menyerang tempatnya melalui pintu depan kediamannya dan hanya menggunakan sebuah pistol?” tanya Santi yang masih mengutuk kebodohan ketiga orang tersebut.


“Marci tidak membawa Pistol, bahkan dirinya tidak membawa senjata” balas Zen kemudian menjawab pertanyaan dari Santi yang membuat Santi mengerutkan dahinya karena mendengar Zen menjawabnya seperti itu.


Setelah Zen menjawab pertanyaan Santi, mereka mulai melanjutkan langkahnya kembali namun Santi kembali menahan kepergian mereka, karena menurutnya rencana ketiga orang itu bisa dikatakan sangat bodoh dan hanya membuat mereka mengantar nyawa saja pergi ketempat itu.


“Aku tahu kalian sangat hebat, tetapi memasuki tempat yang dipenuhi orang yang mempunyai senjata sangatlah beresiko. Apalagi dua diantara kalian hanya menggunakan sebuah pistol dan sebuah modal nekat saja” balas Santi.


Santi tentu mengetahui tempat yang akan menjadi tempat pembantaian yang akan dilakukan oleh Zen dan rekannya. Tempat tersebut merupakan kediaman dari pebisnis sukses di kota ini, terlebih lagi bisnis di dunia bawahnya.

__ADS_1


Pelacur, pornografi, perdagangan manusia, narkotika dan sebagainya yang menyangkut bisnis bawah tanah dikelola oleh orang yang tinggal di sana, dan membuat dirinya sangatlah kaya. Santi sempat ingin menangkap orang-orang tersebut, namun sayangnya mereka selalu terlepas dari jeratan hukum yang digunakan oleh Santi.


“Dengar, aku sudah menyelidiki mereka selama dua tahun dan mencoba menjerat mereka, tetapi sampai saat ini aku tidak bisa melakukannya. Aku mengetahui semua informasi pria yang tinggal didalamnya beserta pengawalnya yang dilengkapi skill bertempur, yang membuatnya menjadi salah satu orang yang tidak bisa disentuh di wilayah ini” kata Santi menjelaskan tentang siapa sebenarnya pria yang akan mereka serang tersebut.


“Cih... apa susahnya melawan mereka... benarkan Bari?” ucap Zen kemudian dan mendapatkan anggukan dari Bari.


Santi saat ini tidak tahu harus berbuat apa lagi karena sepertinya otak kedua manusia yang dia ajak berbicara itu sepertinya sudah rusak, karena mereka masih menganggap remeh tempat yang akan mereka serang.


“Tapi tuan, bukankah lebih baik kita tidak mengajak mereka berdua, takutnya mereka akan menghambat kegiatan kita” kata Bari yang memberikan usulnya.


“Hm... kamu benar. Walaupun Marci tidak akan menghambat kita, tetapi Santi sepertinya akan menghambat pergerakan kita” balas Zen kemudian.


“Apa maks-”


“Lebih baik kita tugaskan mereka menjadi pengintai saja Tuan” ucap Bari yang menghalangi Santi untuk berbicara.


Santi saat ini masih dibuat terpana dan tidak tahu harus melakukan apa melihat tindakan ketiga orang yang bersamanya. Santi hanya menghela nafasnya saja karena memang sangat susah berkomunikasi dengan ketiga orang tersebut dan dirinya memilih untuk mengikuti mereka saja.


Memang mansion yang akan Zen serang lokasinya sangat terisolasi dari area keramaian karena letaknya diarea yang masih belum di jamah oleh pembangunan, dikarenakan memang lokasinya berada disekitar perbukitan dan jauh dari pemukiman terdekat.


“Wow... mereka ternyata sudah mengantisipasi orang untuk mengawasi lokasi ini tuan” kata Bari yang menemukan sebuah jebakan saat mereka sudah mendaki menaiki sebuah bukit di lokasi dekat dengan mansion yang akan mereka serang.


“Hm... sepertinya benar kata Santi. Penjaga kediaman itu sangat berpengalaman” balas Zen yang mulai menghindari jebakan yang ditemukan oleh Bari dan melanjutkan perjalanannya.


“Berhati-hatilah Nona Santi, karena sepertinya anda yang paling rentan terkena jebakan ditempat ini” ucap Bari yang memperingati Santi.

__ADS_1


Santi yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan mulai merasa kesal saat ini, karena dirinya merasa diremehkan oleh ketiga orang yang sudah mendahului dirinya dan berjalan dengan santai didepannya.


“Cih.... siapa yang kamu sebut rent-“


“Klik”


Namun saat Santi ingin mengejar ketertinggalan langkahnya, dirinya tidak sengaja menginjak sebuah ranjau. Santi merasa bingung saat ini, karena walaupun memang dirinya berjalan dengan perasaan kesal, namun dirinya masih mengikuti langkah yang pernah dipijak oleh ketiga orang yang mendahuluinya.


Ketiga orang yang mendengar sebuah suara, langsung berbalik menatap kearah Santi yang berdiri dengan tenang ditempatnya, dan bisa dilihat raut wajah ketakutannya mulai muncul karena dirinya memang sudah menginjak sebuah ranjau peledak.


“Hahh.. untung aku mendengarkan perkataanmu tadi Bari. Kalau tidak kita akan kerepotan mengurusnya saat menyerang tempat itu” gumam Zen yang langsung menatap kearah Marci.


“Untuk saat ini, Nasibnya tidak mempengaruhi jalannya tatanan Nasib Tuan Zen” balas Marci yang mengerti arti tatapan Zen yang diberikan kepadanya, yaitu meminta keterangan dari nasib milik Santi apakah akan berakhir ditempat ini atau tidak.


“Cih... mari selamatkan dirinya” balas Zen yang akhirnya memutuskan kembali kearah Santi bersama Bari dan Marci dan memutuskan menyelamatkannya.


Walaupun Marci berkata bahwa nasibnya tidak akan mempengaruhi tatanan nasib, atau bisa dikatakan jika dirinya hidup atau mati tidak ada efeknya dengan putaran nasib. Tetapi Zen memilih untuk menyelamatkannya, karena memang menurutnya gadis itu akan berguna dimasa depan.


Ketiga orang tersebut akhirnya tiba ditempat dimana Santi berada, namun tatapan Santi saat ini sudah terlihat kosong karena dirinya mengetahui bahwa dirinya akan tamat hari ini, karena ranjau yang dia injak pasti akan meledak.


“Tenanglah, Bari merupakan ahli peledak yang sangat handal” ucap Zen berbohong, untuk menenangkan wanita yang saat ini sudah mulai gemetaran.


Santi hanya diam saja, karena memang dirinya sangat mengenal ranjau yang diinjaknya. Ranjau itu pastilah akan meledak apapun yang terjadi, dan dirinya juga tidak pernah mendengar ada orang yang berhasil menjinakkan ranjau yang sedang diinjaknya.


“Bukankah sudah kubilang untuk berhati-hati Nona Santi” gumam Bari yang mulai berjongkok dan melihat ranjau tersebut lebih detail.

__ADS_1


Bari saat ini mulai menggali dan mencari bagian hulu ledak dari ranjau yang diinjak oleh Santi. Setelah dirinya menemukannya, Bari langsung menyentuhnya dan mengeluarkan sedikit kekuatannya untuk menonaktifkan ranjau tersebut.


“Ya.. bergeraklah. Ranjau itu tidak akan meledak lagi”


__ADS_2