
Vero sudah berada pada mobil yang ditumpanginya setelah kembali menuju ke area hotel yang disewanya dengan perasaan kekecewaan yang sangat amat dalam.
Sebuah projek besar yang yang dia yakini akan dapat mengembalikan keadaan perusahaannya, saat ini sepertinya harus gagal, karena perbuatan ayah tirinya yang menggunakan seluruh uang dari perusahaannya dan dirinya tidak tahu digunakan untuk apa.
“Apa yang harus aku lakukan Kel?” ucap Vero yang entah mengapa semangatnya sudah pudar sedari tadi.
“Tenanglah Vero. Kita bisa mencari jalan keluar dari permasalahan ini kembali” balas Sahabatnya.
Kelly tentu saja akan selalu ada untuk sahabat yang sudah dianggap sebagai saudaranya itu. Dan dirinya berusaha sebisa mungkin untuk membuat sahabatnya itu bisa kembali bersemangat seperti sebelumnya.
“Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa lagi Kel.” balas Vero sambil menatap area luar dari mobil yang dikendarainya dengan tatapan yang kosong.
“Tenanglah. Apapun yang terjadi, aku selalu berada di sisimu Vero” ucap Kelly yang masih mencoba menguatkan sahabatnya itu.
Thomas atau ayah tiri dari Vero, memang memiliki saham terbesar dari beberapa perusahaan yang dimiliki oleh Vero. Sehingga walaupun Vero merupakan CEO dari semua perusahaannya, tetap saja keputusan Ayah tirinya sangat bisa mempengaruhi beberapa orang.
Termasuk beberapa dewan direksi yang dapat diyakinkan oleh Ayah dari Vero saat dirinya akan menggunakan dana cadangan milik perusahaannya. Vero juga sampai saat ini juga bingung, mengapa para dewan direksi perusahaannya sangat mudah mengikuti perkataan Ayah tirinya itu.
Bahkan dirinya saja cukup kesusahan meyakinkan mereka, namun jika Ayah tirinya itu membuat keputusan apapun, mereka seakan selalu menyetujui usulnya bahkan tidak memikirkan resiko yang terjadi dan menyebabkan perusahannya sudah berada diujung tanduk saat ini.
“Terima kasih Kel. Kamu masih setia bersamaku hingga saat ini” ucap Vero yang saat ini sudah menggenggam tangan sahabatnya itu.
Kelly hanya mengangguk saja, sambil mencoba menguatkan Vero yang terlihat sangat kacau, hingga akhirnya mereka sudah tiba pada hotel yang mereka sewa. Setelah turun dari kendaraan yang mereka tumpangi, akhirnya mereka memutuskan untuk menuju kearah kamar mereka masing-masing.
“Apa kamu yakin tidak ingin aku temani?” tanya Kelly sekali lagi kepada sahabatnya itu.
“Aku ingin sendirian saat ini Kel. Jadi terima kasih atas tawaranmu” ucap Vero yang langsung memasuki kamarnya.
Tentu Kelly hanya membiarkan apa yang ingin dilakukan oleh sahabatnya itu, dan dirinya berniat untuk masuk kedalam kamarnya, karena memang beberapa hari ini dirinya disibukan dengan berbagai tugas yang diberikan oleh Vero dan sangat kelelahan.
Disisi lain, Vero yang sudah masuk kedalam kamarnya langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Perlahan air matanya mulai keluar dari matanya karena dirinya sudah merasa tidak kuat dengan apa yang dialaminya.
__ADS_1
“Ibu, Nenek apa yang harus aku lakukan?” ucapnya sambil terisak.
Vero sudah berusaha sekeras mungkin untuk mempertahankan perusahaan yang dibuat dari nol oleh Neneknya. Namun nyatanya, saat ini perusahaan tersebut sepertinya sudah mulai hancur, karena perilaku biadab dari ayah tirinya hingga saat ini.
Jujur, Vero sudah merasa tidak kuat menjalani ini semua. Namun karena mengingat tentang Nenek dan Ibunya yang membesarkan perusahaan ini, mau tidak mau dirinya harus berusaha dengan keras mempertahankannya.
“Tapi aku sudah tidak kuat Ibu, Nenek” gumam Vero kemudian yang sudah merasa tidak kuat dengan keadaannya sekarang.
Dirinya berhasil mendapatkan sebuah kerja sama menguntungkan, bahkan pihak yang akan bekerja sama dengannya siap menggelontorkan setengah biaya produksi dari apa yang akan dirinya lakukan.
Namun dana yang awalnya dirinya gunakan sebagai modal, ternyata sudah dihabiskan oleh Ayahnya dan saat ini membuatnya tambah sakit kepala memikirkannya. Apalagi dirinya sudah menandatangani kontrak dengan pihak yang akan bekerja sama dengannya.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Vero kemudian
.
.
Setelah mendapatkan laporan dari rekannya tadi, tentu Santi sangat mengenal siapa yang melakukan pembantaian yang sedang dirinya coba selidiki itu. Dengan tubuh dari korban yang sudah tidak berbentuk itu, tentu saja dirinya tahu dalang yang melakukannya.
“Mereka hampir saja menculik seorang gadis Santi. Jadi aku menyelamatkannya” balas Zen kemudian.
“Tetapi, bukankah kamu bisa melaporkan kepada pihak kepolisian terlebih dahulu. Dan juga, kamu bisa tidak membunuh mereka dan menyelamatkan gadis itu saja bukan?” ucap Santi kemudian.
“Tetapi mereka memiliki senjata. Jadi aku terpaksa membunuh mereka” elak Zen sekali lagi.
Tentu Santi sudah mengetahui akan percuma saja berdebat dengan Zen. Tapi dirinya berusaha sebisa mungkin mencegah pria itu untuk selalu membunuh sesuka hatinya karena perbuatan itu merupakan perbuatan yang salah.
“Bisakah lain kali jika kamu ingin membantai seseorang, beritahu diriku terlebih dahulu?” ucap Santi yang memohon, agar setidaknya dirinya bisa mencegah Zen melakukan tindakan kriminal kembali.
“Hahh... baiklah... baiklah. Lain kali jika ada yang membuatku kesal aku akan menghubungimu terlebih dahulu” balas Zen yang cukup malas terus berdebat dengan Santi.
__ADS_1
Memang semenjak kejadian pembantaian oleh Zen yang disaksikan langsung oleh Santi, entah mengapa hubungan mereka semakin dekat. Bahkan entah mengapa Santi menganggap Zen sudah seperti sahabat dekatnya saat ini.
Jadi sebagai sahabat, tentu Santi tidak membiarkan orang yang dia anggap sahabat itu melakukan sesuatu yang salah dan terus mengingatkannya.
“Baiklah. Dan juga kapan kamu kembali kesini?” tanya Santi kemudian.
“Aku tidak tahu. Karena aku masih mempunyai banyak urusan disini, terlebih lagi dengan apa yang sedang aku saksikan saat ini” balas Zen saat sedang memperhatikan seseorang yang saat ini sepertinya sedang menyelidiki sesuatu.
"Apa yang sedang kamu saksikan? Apakah orang yang akan kamu bantai lagi?" tanya Santi yang khawatir Zen akan kembali membantai orang saat ini.
"Mungkin. Tetapi sepertinya tidak sekarang" balas Zen.
"Apa maksudmu yang tidak sekarang!" teriak Santi dari balik sambungan telfonnya itu, karena merasa Zen terlalu menganggap remeh sebuah nyawa.
Akhirnya percakapan mereka akhirnya berakhir setelah Zen menyudahi percakapannya itu, karena malas meladeni wanita yang sepertinya sangat tempramental kepadanya. Apalagi dirinya saat ini sedang mengawasi beberapa individu yang sedang diawasinya sedari tadi.
“Cih... belum selesai permasalahan dengan para Vampire, sekarang kelompok Anomanex berada ditempat ini” ucap Zen.
“Lalu, apakah kita harus membantai mereka Tuan?” tanya Mira kemudian.
Zen tentu mengetahui penyebab kedatangan para anggota Anomanex ketempat ini. Yaitu menyelidiki tentang kematian rekan mereka dan mencari jejak keberadaan mahluk yang mereka cari yaitu Kana.
“Jangan, lebih baik aku menandai mereka dengan auraku sehingga aku bisa mengetahui lokasi markas mereka, sama seperti aku mengetahui markas lokasi para Vampire yang sebentar lagi akan aku bantai” ucap Zen.
Tentu Zen sudah mengetahui keberadaan dari pihak yang menyuruh setengah Vampire yang bernama Black itu berada. Memang dirinya belum punya waktu untuk membantai mereka, namun sebentar lagi pasti mereka semua akan musnah karena berani-beraninya mengacaukan kediaman miliknya.
“Tapi, sepertinya kelompok Anomanex akan susah dibasmi Tuan. Apalagi dengan Demi-God yang sedang kita lihat saat ini” ucap Mira.
Memang Zen dan Mira tidak menyangka yang datang untuk menyelidiki tempat ini merupakan seorang Demi-God. Jadi dipastikan kelompok tersebut cukup kuat jika Zen benar-benar ingin membantai mereka
“Cih... hanya seorang Demi-God.”
__ADS_1