Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Menjenguk Seorang Sahabat


__ADS_3

Seorang pria saat ini sedang bersandar pada sebuah tembok tepat didepan sebuah ruangan rawat pasien dari sebuah rumah sakit tempatnya berada. Kedatangannya tentu saja ingin menjenguk keadaan pihak yang dirinya anggap sebagai teman, namun dirinya mengurungkan niatnya untuk langsung masuk kedalam ruang rawatnya.


Tentu saat ini masih banyak pihak yang berada didalam kamar dari pihak yang ingin dirinya jenguk. Maka dari itu dirinya menunggu sampai ruang inap itu benar-benar sepi dan barulah dirinya akan masuk kedalamnya untuk menjenguk pihak yang ingin dirinya jenguk ditempat ini.


"Hmmm... walaupun dirinya sudah terluka cukup parah, tetapi ada pihak yang juga ingin membunuhnya ditempat ini" gumam Zen yang merasakan berbagai aura negatif yang bisa dirinya rasakan dan diarahkan kepada Santi yang dirawat ditempat ini.


Zen memang memutuskan untuk menjenguk wanita itu, karena bagaimanapun Zen bisa dikatakan selalu dibantu olehnya untuk menutupi semua kejadian yang dirinya lakukan. Maka dari itu, Zen saat ini datang dan mencoba untuk sekedar melihat keadaannya yang bisa dikatakan cukup parah terkena ledakan yang dirinya alami saat menjalani tugasnya.


Namun saat dirinya memperhatikan keadaan sekitar, Zen bisa merasakan bahwa saat ini berbagai pihak memang sedang mengawasi gerak-gerik Santi dan mungkin mencari cela untuk menghabisi sosoknya yang bisa dikatakan sedang terluka saat ini.


Bahkan beberapa pihak yang saat ini berada di dalam ruangan tempat dirinya berada juga bisa dikatakan memiliki niat yang sama. Tetapi ada satu hal yang membuat mereka belum melaksanakan aksi mereka ditempat ini, karena bisa dikatakan hal tersebut karena keberadaan dari Zen yang juga berada ditempat ini.


"Hmmm... tapi mereka sepertinya menyadari keberadaan diriku juga" gumam Zen kembali, disaat beberapa pihak yang ingin melukai Santi ditempat ini tidak langsung memulai aksinya.


Sepertinya mereka sangat mewaspadai keberadaan Zen, yang dimana mungkin mereka mengetahui identitasnya. Zen masih belum mengetahui identitas dirinya yang mana yang diketahui oleh mereka, namun hal tersebutlah yang menyebabkan mereka tidak menjalankan aksi mereka untuk langsung mengeksekusi rencana mereka kepada Santi.


Zen juga saat ini memutuskan untuk tidak terlalu gegabah mengambil keputusan. Karena sepertinya kelompok yang berurusan dengan Santi dan mengetahui sosoknya, sepertinya bergerak secara terorganisir dan bisa dikatakan pergerakan mereka sangat amat rapi, berbeda dari beberapa kasus kejahatan yang pernah Zen selesaikan sebelumnya.


Hal ini terlihat dari banyaknya pihak yang mengawasi Zen saat ini. Mulai dari kamera pengawas yang sudah disadap, dan beberapa pihak yang sepertinya dibayar oleh kelompok tersebut untuk mengawasi gerak-gerik dirinya dan Santi yang berada ditempat ini. Maka dari itu, dirinya saat ini akan bergerak dengan sangat hati-hati.


"Dan sepertinya wanita itu sudah tidak memiliki pengunjung lagi" Hingga akhirnya Zen memutuskan untuk tidak memikirkan keberadaan mereka lebih lama lagi, dan saat ini dirinya mulai memasuki tempat dimana Santi sedang dirawat.


Ruangan bersih saat ini memasuki pandangan dari Zen. Sosok Wanita yang dibeberapa bagian tubuhnya sedang diperban juga mulai muncul di pandangannya. Namun saat Zen sudah masuk kedalam ruangan dari Santi, Zen bisa melihat tatapan dari wanita itu yang terlihat jelas kemarahannya dari balik tatapan tersebut.


Zen tentu saja tidak tahu mengapa wanita itu menatap dirinya seperti itu. Bahkan netra matanya seakan tidak melepaskan sosok Zen dari pandangannya yang seakan sedang menatapnya dengan tatapan yang terlihat dengan jelas ada jejak kemarahan dari tatapannya itu.


Melihatnya tentu Zen tidak gentar untuk memasuki tempat itu lebih dalam, hingga akhirnya Zen sudah berdiri tepat di samping tempat tidur pasien, yang dimana Santi saat ini masih berbaring diatasnya. Tetapi, tatapan yang terlihat emosi itu masihlah terpampang pada tatapannya yang saat ini sedang menatap sosok Zen dengan sangat tajam.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu ingin menyalahkan diriku atas kemalangan yang kamu dapatkan?" tanya Zen kepada wanita itu.


Mendengarnya, akhirnya membuat Santi mulai sadar dari perilakunya. Karena bisa dibilang, dirinya sangat mengenal sosok Zen yang masih dirinya anggap berasal dari organisasi yang jahat menurutnya. Maka dari itu, Santi merasa sedikit marah dengan keberadaanya yang dirinya anggap seperti itu.


Bisa dikatakan perilakunya itu dirinya lakukan secara tidak sadar, karena memang Zen yang dirinya kenal tentu berasal dari sebuah organisasi kriminal. Apalagi penyebab dirinya terluka dan tewasnya bawahannya bisa dikatakan disebabkan oleh organisasi kriminal. Maka dari itu tanpa dirinya sadari, Santi seakan kesal dengan keberadaannya.


"Maafkan aku, Zen. Aku hanya terbawa emosi" ucapnya yang saat ini mulai kembali berbaring dengan santai pada tempat tidurnya.


Bisa dikatakan tubuh dari Santi mendapat luka bakar yang cukup serius dibeberapa bagian. Terutama pada bagian terbuka saat dirinya terkena ledakan tersebut. Lukanya saat ini mencakup bagian lengan dan lehernya yang bisa dikatakan menjadi yang terparah terkena dampak ledakan tersebut.


Wajahnya untuk saja tidak terkena luka serius, bahkan masih dikatakan mulus. Karena seperti yang diketahui, ledakan itu tidak langsung mengenai tubuh bagian depan dari Santi karena saat ledakan itu terjadi, dampak yang dirinya terima dari ledakan tersebut datang dari arah bagian belakangnya.


Maka dari itu luka bakar yang dirinya terima bisa dikatakan sangat parah pada bagian belakang tubuhnya, yang sudah diberikan perawatan secara maksimal untuk membantu pemulihan semua bekas luka yang dirinya terima atas dampak ledakan yang dirinya alami.


"Kalau begitu, apakah Kamu masih menganggap diriku sebagai teman atau tidak?" Hingga akhirnya Zen menanyakan sebuah pertanyaan kepada wanita itu, atas sikap yang dirinya tunjukan kepada dirinya tadi.


"Apa maksud perkataan darimu itu, Zen? Tentu saja aku menanggap dirimu masih menjadi temanku" ucap Santi yang saat ini mulai menatap kearah Zen, karena dirinya cukup bingung dengan perkataan yang pria itu lontarkan kepadanya.


Menurut Zen tempat dimana Santi dirawat saat ini sangatlah tidak aman untuk keberadaan dirinya. Apalagi seperti yang diketahui, ada banyak pihak ditempat ini yang mengarahkan niat jahat kepadanya. Maka dari itu, Zen ingin memindahkan tempat perawatan Santi menuju tempat yang menurutnya aman.


Apalagi Santi bukanlah prioritas bagi Zen untuk dijaga olehnya. Jadi lebih baik Zen langsung mencarikan dirinya tempat aman agar keberadaannya bisa terjamin, dan Zen tidak akan repot-repot lagi untuk membantu dirinya dalam melindungi sosoknya yang sepertinya masih menjadi incaran beberapa pihak.


"Mengapa aku harus pindah, Zen?" tanya Santi yang menanyakan maksud dari tindakan Zen tersebut.


"Karena pihak yang membuatmu seperti ini, sepertinya masih sangat kesal dengan perilaku darimu kemarin. Sehingga mereka mengirim beberapa pihak untuk menghabisi keberadaan dirimu" balas Zen yang menjelaskan maksud perkataannya kepada Santi.


Zen tidak tahu pasti rencana apa yang akan mereka lakukan terhadap sosok Santi, namun yang dirinya bisa yakin bahwa mereka berasal dari organisasi yang sama dengan pihak yang berhasil membuat Santi terluka dengan parah seperti ini. Maka dari itu, Zen bersikeras meyakinkan Santi untuk pindah dari tempat ini.

__ADS_1


Karena bisa dibilang bukan hanya beberapa pihak saja yang memang sengaja dikirim oleh organisasi itu ketempat ini. Bahkan Zen juga merasakan bahwa beberapa dokter, perawat, staf rumah sakit juga mempunyai niat yang sama jahatnya kepada sosok Santi.


Jadi kesimpulan yang Zen dapatkan dari semua hal yang sedang terjadi ditempat ini, bisa dipastikan bahwa organisasi itu sudah mengendalikan beberapa pihak yang berada ditempat ini, untuk setidaknya mencoba menghabisi sosok Santi yang baru saja menerima perawatan intensif dari kemalangan yang terjadi kepada dirinya.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi Zen. Mari kita ringkus mereka semua" Namun berbeda dengan Zen yang bergerak dengan cara berhati-hati saat ini, Santi malah mulai bersikeras agar mereka membereskan permasalahan tersebut secara langsung.


Santi terlihat mulai bangkit dari tempat tidurnya. Bahkan tangannya saat ini mulai meraih selang infus yang menancap pada lengannya dan ingin mencabutnya untuk segera menyergap pihak-pihak yang memang sudah diidentifikasi niatnya oleh Zen.


Namun tentu saja Zen menghalangi tindakan wanita itu yang ingin bergerak karena terpengaruh dengan emosi yang dirinya rasakan. Maka dari itu, Zen langsung menekan kening dari Santi menggunakan jarinya agar wanita itu tetap berbaring dengan tenang di atas tempat tidurnya.


"Lepaskan aku, Zen. Aku ingin menangkap mereka dan mencari tahu seluruh pihak yang berani-beraninya membuat masalah di kota ini" ucapnya yang bersikeras untuk beranjak dari tempatnya dan meringkus pihak-pihak tersebut.


"Lalu, kamu akan mengorbankan lagi bawahan yang akan mendengarkan perintah darimu? Sadarlah Santi, mereka bukan pihak yang bisa kamu lawan dengan hanya menggunakan status institusi milikmu saja" kata Zen yang menghalangi tindakan dari wanita tersebut.


Perkataan dari Zen memang bisa dikatakan mampu membuat Santi menghentikan niatnya sejenak. Namun masalahnya emosi yang sudah tumbuh didalam dirinya seakan mulai menghalangi niatnya yang akan berhenti, dan ingin terus menelusuri pihak yang menyebabkan dirinya menjadi seperti saat ini.


"Aku akan menangkapnya sendiri Zen. Aku tidak akan mengorbankan siapapun lagi" Dan inilah yang membuat Zen sedikit sakit kepala dengan sikap wanita itu, yang bisa dikatakan sangat amat keras kepala.


Perasaan bersalah tentu masih terdapat didalam diri Santi. Apalagi kematian bawahannya yang bersamanya dan terkena ledakan dengannya masih membekas dengan jelas pada ingatannya. Maka dari itu, dirinya ingin mengupas tuntas permasalahan yang sedang dirinya selidiki untuk membalaskan dendam bawahannya yang tewas tersebut.


Maka dari itu dirinya saat ini bersikeras kepada Zen untuk mengijinkan dirinya beranjak dari tempatnya dan ingin secara langsung menyelesaikan semua ini dengan tangannya sendiri, bahkan jika Zen saat ini tidak ingin membantu dirinya untuk melakukannya.


"Ho... berarti kamu ingin mengorbankan wanita itu kalau begitu?" tanya Zen kemudian, yang saat ini mulai mengubah pandangan Santi menuju kearah pintu ruangannya.


Sedari tadi ada seorang wanita yang terus melihat interaksi Zen dan Santi yang berada didalam ruangan tersebut. Walaupun dirinya tidak mendengar perdebatan apa yang sedang mereka lakukan, tetapi wanita itu membiarkan saja kedua orang itu terus berdebat dan tidak mengganggu urusan mereka berdua.


Apalagi tindakan Zen yang menghalangi tindakan dari Santi terlihat sangat amat intim dimata dari wanita itu, yang mengira bahwa saat ini kedua pasangan itu sedang bercanda gurau ditempat mereka berada saat ini, sehingga situasi seperti itu bisa terjadi ditempat tersebut.

__ADS_1


Hingga akhirnya kedua pasangan yang dirinya kira sedang bercanda gurau tersebut mulai menatap dirinya yang masih dengan tenang berdiri ditempatnya. Maka dari itu, setelah dirinya ditatap oleh mereka berdua barulah wanita itu mulai mendekat kearah mereka, dan memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.


"Sepertinya Ibu tidak perlu terburu-buru datang ketempat ini, Putriku. Karena sepertinya pacarmu dengan setia merawat keberadaan dirimu ditempat ini.


__ADS_2