
"Tuan! tolong ampuni aku! aku mengaku salah, dan aku berjanji, tidak akan mengulanginya lagi!" Rengek Brian menghiba kepada Hans juga Robin
"Manusia hina sepertimu, tidak pantas untuk hidup di bumi ini lagi, Tuan muda Dion sudah berbaik hati kepada kalian, dengan mengampuni nyawa kalian, bahkan rela memberikan uangnya untuk menghidupi kalian, tapi apa yang kalian lakukan padanya!" Bentak Hans murka
"Dengan liciknya kalian ingin menghancurkan tuan muda Dion. Apa kau pikir, kau punya kemampuan?" Tanya Robin, sambil mencengkram kerah baju Brian, dan mendorongnya dengan kasar
"Untuk kali ini, tolong ampuni aku tuan. aku berjanji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Semua ini kulakukan karena perintah dari nenek mertuaku itu!" Rengek Brian sambil menangis
"Aku tidak peduli dengan semua alasanmu itu, tunggu setelah saluran ini tersambung dengan tuan muda Dion, maka kau akan tahu, hukuman apa yang akan kau terima." Bantah Robin semakin kesal, ingin rasanya mencekik leher Brian dan mematahkannya
"Tuan! tolong jangan hukum kami bertiga. Maafkan kami tuan, kami cuma orang bayaran si Brian ini." Ucap salah seorang hacker itu untuk pertama kalinya
"Ternyata kalian tidak bisu! Ku kira selama ini kalian bertiga bisu, ternyata bisa berbicara juga." Ejek Robin geli sambil tertawa pelan, begitu juga dengan semua anak buahnya
"Apa yang ingin kau sampaikan bhaangsat!. Teriak Hans marah
"Pekerjaan kami adalah hacker, dan bersedia melakukan apa saja sesuai dengan bidang pekerjaan kami, jika dibayar dengan harga tinggi." Jawabnya dengan yakin
"Tapi kami tidak tahu, kalau orang yang ingin kami retas informasinya itu, adalah tuan muda kalian, orang yang seharusnya tidak layak untuk di singgung." Jawabnya terlihat gelisah
"Jadi setelah tahu, apa yang ingin kalian lakukan?" Tanya Hans dengan ekspresi datar
"Kalau masih diberikan kesempatan untuk hidup, kami berjanji, akan mengabdi kepada tuan muda kalian itu, dan akan menjadi timnya." Jawabnya asal bicara
"Kalian tidak pantas untuk menjadi orangnya tuan muda kami, kepandaian kalian bertiga, hanya seujung kuku dari kepandaian orang orang tuan muda kami itu!"
"Tapi tuan.. !
"Diam!. Sekarang kita sudah tersambung dengan orang yang akan kalian celakai itu. "Bentak Hans, Lalu berkata..
"Salam hormat tuan muda!" Ucapkan Robin, Hans dan ke 20 anak buahnya secara serempak
"Ya, salam kalian aku terima!. Hans, bawa orang orang itu menghadap kamera!"
"Baik tuan muda!"
Saat itu Brian tidak berani mengangkat wajahnya, untuk menghadap ke Dion, walaupun hanya melalui sambungan video, tapi auranya dipancarkan oleh Dion, mengisyaratkan ada ancaman kematian yang sangat mengerikan
"Kau tahu Brian!, satu hal yang paling tidak aku sukai di dunia ini adalah penghianatan!"
"Sama seperti istrimu itu, perempuan ****** yang pernah aku kenal, karena penghianatan nya itu, aku tidak segan segan lagi untuk menceraikannya, walaupun sejujurnya, dulu aku sangat mencintainya."
"Tapi karena sifat ku yang tidak menyukai penghianat, apalagi setelah berulang kali dilakukan, dengan mudahnya aku menceraikan juga menghukumnya!"
"Apalagi kau yang hanya seorang saudara sepupu dari wanita ****** itu!"
"Tuan muda! tolong maafkan aku kali ini. aku berjanji.. "
"Diam!. Siapa yang mengizinkanmu untuk bicara?"
Brian langsung menciut nyalinya, mendengar bentakan Dion yang cukup keras itu, walaupun melalui sambungan video
__ADS_1
"Sebelum semua berakhir, ada baiknya aku katakan untuk yang terakhir kali, bahwa penghianat sepertimu, juga nenek bau tanah itu, hari ini atau besok harus mati!, walaupun meminjam tangan orang lain."
"Baaamm!" ultimatum yang diucapkan oleh Dion tersebut, bagai halilintar yang menyambar di siang bolong, yang terdengar nyaring di telinga Brian
"Tuan muda aku mohon.. !"
Plak!
"Aaarrrhhk!"
"Jangan berani membantah atau menyela perkataan tuan muda!" Bentak Hans marah dan menampar wajah Brian dengan kuat
Brian yang barusan ditampar itu, kembali diam, dari sudut bibirnya, mengalir darah cukup banyak, tapi tidak segera di sekanya
Antara cemas dan takut, saling bergelayut di hatinya bercampur menjadi satu, dia tahu hukuman apa yang akan dia terima akibat mengkhianati Dion itu
Sebesar apapun usahanya untuk meminta ampunan dari Dion, tidak akan bisa merubah nasibnya hari ini, jadi dia hanya pasrah menerima hukuman apa yang akan ditimpakan kepadanya nanti
"Aku sudah muak dan jijik melihat wajah penghianat seperti mu Brian!. Sekarang susul lah saudara sepupumu si Vincent itu ke neraka!" Ucap Dion murka dan menyeramkan
"Robin!, kau tahu apa yang harus kau lakukan pada penghianat itu?" Tanya Dion dingin
"Dimengerti tuan muda!" Jawab Robin cepat
Dion segera memutuskan sambungan vidio call melalui komputernya, dia tidak sudi melihat proses ekskusi yang akan ditimpakan pada Brian dan ketiga hacker itu
Dion lebih memilih untuk tidur, karena malam sudah semakin larut
Kraaakk!, tangan kanan Brian patah
"Aaaaaarrkh.. !
Kraaak!, kali ini tangan kiri nya yang menyusul
Tak cukup sampai di situ saja, Robin juga mematahkan kaki kanan dan kiri Brian tanpa kenal ampun sekaligus, dengan menginjak kuat kuat kedua kakinya hingga patah
Kraaakk!.Kraaak !
"Aaaaaarrrrkkkk!. Teriak Brian sekuat kuatnya, karena tak sanggup lagi menahan kesakitan yang sangat luar biasa
"Lebih baik kalian bunuh saja aku, jangan menyiksaku seperti ini!" Ucapnya Brian marah di sela sela rasa sakit yang tiada tara itu
"Itu hukuman yang pantas kau terima!" Bentak Robin kuat
"Bumi, Langit dan awan! segera lakukan tugasmu!" perintah Robin tegas
"Siap bos! Jawab mereka serempak, tanpa bertanya apa yang harus mereka lakukan, mereka sudah mengetahui maksud dari perkataan Bosnya itu
Tanpa ragu ragu lagi, mereka masing masing menuju ke 3 hacker tersebut, dengan tatapan dingin dan..
Craaass!
__ADS_1
Craaass!
Craaass!
Hanya dalam hitungan detik, Ketiga hacker itu mati, dengan kepala yang terpisah dari badannya, tanpa sempat bersuara atau bergerak sedikitpun
Gerakan Bumi, Langit dan Awan sangat cepat sekali. Hanya sekali tebas, leher ketiga hacker tersebut putus, terkena tajamnya belati pendek dari bawahan Robin dan Hans tersebut
Segera setelah penyiksaan itu selesai, ditempat yang cukup terisolir itu, raungan Brian semakin menjadi jadi, tetapi dengan cepat Robin menotok leher Brian, agar tidak bersuara lagi
Karena rasa sakit yang tidak tertahankan oleh Brian, tubuhnya ambruk ke tanah, dan pingsan
"Cepat bawa tubuh tubuh tidak berguna ini, dan lemparkan ke halaman rumah si Elina itu, agar dia tahu, pengkhianat busuk seperti nya, akan mendapat hukuman yang sangat pedih dari tuan muda!"
"Siap bos! Jawab seseorang dengan cepat
Orang itu adalah mata mata yang ditugaskan oleh Dion, untuk memata matai aktivitas nenek Elina dan keluarganya di Hongkong
Mereka berada di Hongkong selama sebulan penuh, setelah itu akan digantikan oleh orang lain, yang terdiri dari 10 orang juga, begitu seterusnya sampai saat ini
***
Clear Water Bay, mension milik nenek Elina, pukul 2 dinihari
Bruk! bruk!
Dua kali suara berat terdengar, dari dua bungkusan besar yang di lemparkan ke halaman mension nenek Elina, kemudian orang yang melemparkan dua bungkusan itu bergegas pergi, menuju ke arah mension yang mereka tempati selama beberapa bulan ini
Suara berisik seperti itu, tentu saja mengganggu ketenangan tidur dari penghuninya, terutama Chalista, yang kamarnya berdekatan dengan kedua bungkusan tersebut, hingga membuatnya terbangun karena terkejut
Karena penasaran, dia menyingkapkan gorden penutup jendela kamarnya sedikit, dan matanya nanar menatap dua bungkusan besar yang ada di dekat kamarnya itu
Setelah memastikan bahwa dua benda asing yang mencurigakan itu tidak wajar, Chalista bergegas bangun dari tempat tidurnya, dan langsung menuju ke kamar Jasmine, yang berseberangan dengan kamarnya
Tok tok tok!
ditunggu beberapa saat, tapi belum juga ada respon dari Jasmine, maka Chalista sekali lagi mengetuk pintu itu sedikit lebih kuat
Tok tok tok! ketukan tangan chalista kali ini berhasil membangunkan Jasmine dari tidurnya, itu ditandai dengan adanya suara brisik dari kamar yang ditempati oleh Jasmine tersebut, kemudian..
Ckleeek! bunyi gerendel pintu ditarik dari dalam. Setelah pintu terbuka, terlihatlah Jasmine yang hanya mengenakan piyama pendek, yang hanya sekedar menutup tubuh mulusnya itu
Setelah mengucek matanya perlahan dan menguap, baru Jasmine sadar, bahwa Chalista, tengah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah gugup dan ketakutan
"Ada apa! Kenapa malam buta seperti ini, kau membangunkan kakak?" Bentaknya marah sambil menatap wajah gugup Chalista tersebut
"Gawat kak, gawat!" Ucap Chalista terbata bata tapi lumayan keras, sampai membuat penghuni mension itu terbangun
"Gawat kenapa? Coba bicara dengan jelas, tarik nafas dulu!" Hardik Jasmine tidak sabaran
"Di luar sana, di sebelah kamarku, ada 2 buah bungkusan besar yang dinilai tidak wajar sedang teronggok di tanah." Jawab Chalista dengan nafas memburu
__ADS_1
"Ada apa ini?"