Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Dianggap saudara


__ADS_3

"Apakah pendengaran kami ini tidak salah tuan besar?. Uang sebanyak 3 milyar rupiah, diberikan secara cuma cuma begitu saja pada kami?" Tanya Wijaya ingin penegasan


"Benar sekali paman. Malah jika perlu, jumlahnya akan ditambah jika masih kurang." Jawab Dion tegas


"Oh tidak, tidak!. Itu sudah lebih dari cukup, dan kami sangat berterima kasih pada anda!" Sambut Wijaya mewakili teman temannya yang lain


"Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati kami paman Wijaya, yaitu tentang penggunaan uang tersebut."


"Tadi paman ada mengatakan, bahwa uang sebanyak itu, diperuntukkan untuk membeli properti buat pernikahan anak paman."


"Benar tuan!. Saya memang berniat ingin membelikan rumah buat anak gadis kesayangan saya, karena setelah ibunya meninggal, dia selalu murung dan tidak punya semangat hidup."


"Jadi apa salahnya, kalau saya menuruti keinginannya untuk memiliki rumah sendiri bersama dengan calonnya itu?" Jawab Wijaya penuh harap


"Kami tidak menyalahkan pendapat paman itu. Tapi kalau boleh memberikan usul, paman lihatlah pada teman teman paman yang lainnya itu!"


"Mereka menggunakan uang tersebut untuk usaha, tapi paman malah ingin menyenangkan hati orang yang belum tentu menjadi keluarga!"


"Begini saja!. Bagaimana kalau masalah itu paman serahkan saja pada kami, agar bisa secepatnya bertindak dan memberi pelajaran pada si tukang peras tersebut?" Ucap Dion memberikan usul


"Saya tidak berani tuan besar, karena putri saya selalu mengancam akan bunuh diri jika keinginannya ditolak."


"Lagi pula calonnya itu mengatakan, akan meninggalkan anak saya kalau keinginannya tidak terpenuhi!" Jawab Wijaya terus terang dan putus asa


"Masalah itu paman jangan khawatir!. Kami mempunyai banyak pengawal yang masih lajang."


"Jika laki laki brengsek itu meninggalkan anak paman, maka salah satu dari mereka akan bersedia menggantikan posisinya."


"Tentang laki laki itu, paman serahkan saja pada kami untuk diberi pelajaran!"


"Maaf tuan kalau saya selalu merepotkan!" Respon Wijaya tidak enak hati


"Paman tenang saja dan jangan terlalu dirisaukan!"


"Sebagai seorang teman dari kakek ku, bahagia kalian adalah bahagia kakek ku, sedih kalian adalah sedihnya kakek ku juga."


"Mumpung kami masih bisa membantu, kenapa tidak dilakukan?"


"Kalian adalah teman baik kakek ku, berarti kalian adalah keluarga ku juga, dan kalian sudah menunjukkan, bagaimana komitmen kalian dalam pertemanan."


"Jadi di sini aku tegaskan!, bahwa siapapun yang mengganggu hidup kalian, itu berarti mengganggu hidup kami."


"Bagi mereka yang berani mencari masalah dengan kalian, berarti mencari masalah dengan Birawa Group!" Ucap Dion tegas dan penuh intimidasi


"Kalian dengar itu?. Bukankah kalian merasa, bahwa kalian adalah orang yang sangat beruntung, karena bertemu dengan cucuku?" Ucap tuan Birawa datang menyela, dan terkesan membanggakan cucunya tersebut


"Senior benar!. Baru kali ini kami jumpai, ada pengusaha royal dan tegas seperti cucumu itu!"


"Biasanya bagi pengusaha lain, memberi atau melindungi karena ingin keuntungan besar!"


"Tapi kali ini, lain dari pada yang lain. Jadi kami merasa, bahwa kami adalah orang yang paling beruntung di dunia ini!" Jawab Pambudi berterus terang


"Tapi kalian jangan salah menilai. Kalau bukan karena teman baikku, jangan harap cucuku akan bersikap lembut pada kalian!"


"Dia akan baik pada orang yang berbuat baik!. Dia akan kejam kalau ada orang yang berani mengganggu keluarganya!"


"Seluruh orang orangnya, dianggap sebagai keluarga. termasuk kalian ini!"


"Bagi siapa yang berani berbuat jahat, apalagi memusuhinya, maka bersiap siaplah untuk dihancurkan!"


"Untuk itu ke depannya, berusahalah menjalin koneksi dengan cucuku ini, termasuk dengan anak buahnya."


"Aku jamin!, hidup dan usaha kalian akan berjalan lancar."


"Apalagi jika kalian mau menikahkan anak gadis kalian, dengan beberapa orang pengawal yang kami punya."

__ADS_1


"Maka itu bisa menambah hubungan kekeluargaan dan persahabatan kita semakin bertambah erat."


"Apakah kalian setuju?" Tanya tuan Birawa terlalu bersemangat


"Bagus!. Beberapa diantara kami, masih mempunyai anak gadis yang masih lajang, dan sudah cukup umur untuk menikah."


"Jika senior bisa menjembataninya, maka kami akan sangat berterima kasih sekali." Ucap Togar bersemangat


"Hahahaha!. Kau terlalu semangat Togar!. Dasar mata duitan!" Ledek tuan Birawa


"Eits jangan salah!. Senior sendiri yang menawarkan, kenapa tidak kami beli?" Jawab Togar berkelit


"Betul! betul!. Kau tak salah kawan!!" Respon tuan Birawa setuju, kemudian tertawa bersama


"Oh ya! Wijaya!. Bagaimana tentang calon menantu mu itu, apakah kau akan menyerahkan masalahnya pada cucu ku?" Tanya tuan Birawa ingin tahu


"Sejujurnya memang ingin, tapi aku khawatir anak ku akan berbuat nekad, karena sudah terlalu cinta pada kekasihnya itu." Jawab Wijaya tidak semangat


"Paman jangan khawatir!. Aku bisa menyelesaikan masalah itu dalam sekejap mata ."


"Tapi tolong paman tunjukkan wajah orang itu, agar anak buah ku bisa menemukannya."


"Baik!. Kebetulan di hp jadul ku ini, ada tersimpan poto calon anak ku itu, kalau belum terhapus!"


"Mudah mudahan masih ada. Tapi mohon tuan tunggu sebentar!" Ucapnya penuh harap


"Ah ini dia!" Teriaknya sedikit kuat. Kemudian menyodorkan hp nya kearah Dion, agar dia bisa melihat poto laki laki brengsek tersebut dengan mudah


Begitu handphone sudah di tangan, kulit kening Dion sedikit berkerut, dan seperti mengingat, siapa laki laki di balik wajah itu


Tapi tak lama kemudian dia berkata. "Apakah ini orangnya paman?" Tanya Dion penasaran


"Benar tuan besar!. Itulah orang nya!" Jawab Wijaya cepat


"Hans!. apakah kau kenal dengan orang ini?" Tanya Dion ingin tahu


"Bagaimana dengan mu Robin?" Tanya Dion lagi


"Saya juga tidak kenal tuan besar!. Jawab Robin seperti ragu ragu


"Apakah orang sebanyak ini, tidak satupun yang mengenal atau pernah berjumpa dengannya?" Tanya Dion kesal


"Paman Iron!. Coba kau ingat ingat, siapa tahu pernah bertemu dengan orang ini."


"Kalau tidak ingat juga, tanyakan pada anak buah mu. Kemungkinan salah satu diantara mereka, ada yang kenal atau pernah berjumpa dengannya!" Ucap Dion semakin kesal


"Maaf tuan besar!. Paman juga tidak kenal dengan orang itu!"


"Tapi paman akan membawa poto itu, untuk ditunjukkan pada anak buah Burgon!" Jawab Iron memberi harapan


"Paman Wijaya!. Tak mungkin kau tidak kenal dan tidak tahu, nama, pekerjaan dan alamat tempat tinggal calon menantu mu itu?" Tanya Dion penasaran


"Itulah salahnya. Saya tidak pernah menanyakan hal hal pribadi laki laki tersebut."


"Cuma yang saya dengar dari anak ku, orang itu berprofesi sebagai pengusaha. Tapi pengusaha macam apa saya juga kurang tahu." Jawab Wijaya apa adanya


"Jadi selama anak paman berhubungan dengan kaki laki itu, dia tidak pernah menemui paman dan memperkenalkan dirinya sendiri?" Cecar Dion terus-menerus


"Ada!. Pernah sekali dia datang, dan itu pun tidak berlangsung lama, karena waktu itu, saya sedang terburu-buru untuk pergi ke luar daerah."


"Jadi waktu itu saya belum sempat menanyakan dimana dia tinggal dan apa pekerjaannya."


"Kenapa paman tidak berusaha untuk menanyakan hal itu pada anak gadis paman?" Cecar Dion lagi


"Itulah masalahnya tuan besar, dan itulah kebodohan ku!"

__ADS_1


"Karena terlalu sayang pada anak, maka saya tidak berani untuk menanyakannya secara detail tentangnya."


"Tapi saya berjanji, setelah pulang dari sini, saya akan menanyakan nya langsung pada anakku!" Ucap Wijaya mulai semangat


"Untuk apa repot repot cucu ku. Kirim saja poto itu pada Rams, juga guru gurunya tersebut!"


"Suruh mereka mencari data datanya di internet. Kakek yakin, dalam waktu yang tidak lama, informasi tentang orang tersebut, akan muncul di permukaan." Ucap tuan Birawa datang memberi usul


"Kakek benar!. Kenapa Dion sampai melupakan mereka?" Respon Dion mengakui kesalahannya


Kemudian dia berhenti sejenak berbicara untuk mengambil nafas, tapi tak lama kemudian Dion pun berkata.


"Paman Wijaya!. Tolong kirimkan foto itu kepada ku. Nanti akan aku terus kan kepada anak buah ku." Ujarnya


"Baik tuan besar!" Jawab Wijaya patuh


Entah mengapa, sikap dan tutur kata serta Prabawa, yang dimiliki serta ditunjukkan oleh Dion, mampu membuat orang orang yang sedang berhadapan dengannya menjadi tunduk dan segan pada nya


Tidak seperti pada tuan Birawa, mereka bersikap biasa-biasa saja. Tapi begitu berhadapan dengan Dion, mereka tidak berani berbicara sembarang kata


Kalau pada tuan Birawa, mereka hanya memanggil dengan sebutan senior saja, tanpa embel-embel kata tuan di depannya


Tapi ketika berbicara dengan Dion, mereka tidak berani untuk tidak menyebutkan kata tuan besar padanya. Baik di depan maupun di belakang sebutannya, karena Prabawa yang di tunjukkan oleh Dion tidak mampu mereka tepis begitu saja


Itulah salah satu kelebihan dari Dion, pemimpin tertinggi, sekaligus penguasa Birawa Group, yang membawahi puluhan ribu anak buahnya


Apalagi setelah Dion memutuskan, untuk memberikan sejumlah uang sebanyak 3 miliar rupiah kepada masing-masing mereka


Rasa hormat yang sudah tertanam di hati, menjadi semakin tinggi, dan rasa kagum mereka semakin besar kepada Dion


Tuan Birawa yang melihat itu hanya tersenyum saja. Dalam hatinya membatin. "Sungguh aku sangat beruntung, memiliki seorang cucu yang hebat seperti dia!"


"Kemanapun dia pergi, akan selalu dihormati oleh orang-orang, apalagi oleh anak buahnya."


"Rasa hormat orang-orang tersebut, jauh lebih besar padanya daripada kepadaku."


"Tapi walau demikian, aku sebagai kakeknya, tidak merasa risih dan iri. Malah kagum dan bangga padanya."


"Kakek!. Coba lihat ini!" Teriak Dion sedikit keras


"Apa yang ingin kau tunjukan cucu ku?" Reaksi tuan Birawa penasaran


"Kakek lihatlah sendiri, apa yang ada di handphone Dion!" Jawab Dion cepat


"Vincent?" Teriak tuan Birawa sedikit keras juga


"Bukankah kata mu dia sudah mati beberapa tahun lalu?" Reaksi tuan Birawa penasaran


"ini Vincent lain kek!. Wajahnya saja tidak sama!" Ucap Dion menyanggah dugaan kakeknya tersebut


"Paman Wijaya!. Apakah nama calon menantu mu itu Vincent?" Tanya Dion ingin tahu


"Benar tuan besar!, itulah namanya. Tapi anakku selalu memanggilnya dengan sebutan Vinod." Jawab paman Wijaya apa adanya


"Apakah paman tahu, kalau pekerjaan calon menantu Paman itu, adalah seorang pengedar, pemakai sekaligus bandar narkoba?" Tanya Dion ingin menguji


"Selain itu dia mantan residivis dalam kasus yang sama."


"Dan sekarang tengah menjadi buronan pihak berwajib, baik lokal maupun internasional, karena dia pemasok sekaligus bandarnya!"


"Apa?. Apakah benar apa yang tuan katakan itu?" Tanya paman Wijaya seakan tidak percaya


"Paman lihatlah sendiri!. Aku akan mengirimkan informasi tersebut ke hp paman." Jawab Dion enteng


"Baik!. Saya tunggu!" respon Wijaya tidak sabar

__ADS_1


Tak lama kemudian, informasi yang dikirimkan oleh Dion sudah muncul di handphone milik paman Wijaya, dan bergegas dia membacanya


"Kurang ajar!. brengsek!. Jadi selama ini dia telah membohongiku!"


__ADS_2