
"Itu namanya enak bagi kalian, tapi tidak enak bagi kami!" Protes Leon dengan ekspresi kesal, kemudian dia berkata lagi
"Atau bagaimana kalau kau yang kalah, seluruh anak buah mu menyatakan setia pada tuan besar kami, sedangkan kau harus mati!" Usul Leon terkesan merendahkan kemampuan Bram
"Kurang ajar!. Ternyata sifat sombong mu itu, belum berubah juga. Kau pikir bisa mengalahkan si kaki kilat ini dengan mudah?" Respon Bram tidak senang
"Ayo kita coba dan buktikan! siapa orang terkuat diantara kita berdua!" Balas Leon sambil tersenyum sinis
"Hiaaa!" Teriak Bram lantang, sambil melancarkan tendangan lurus kearah tubuh Leon, tapi dengan entengnya Leon menangkis serangan itu dengan kakinya juga
"Des! buk! Tap!
"Hehehe!. Bukan hanya kau saja yang bisa memainkan kakimu itu, aku juga bisa!. Bahkan mungkin jauh lebih baik dari apa yang kau lakukan itu!" Ucap Leon disela sela menangkis serangan Bram tersebut
"Coba yang ini!" Ujar Bram lantang, lalu melenting kan tubuhnya ke udara, dan melancarkan tendangan ganda secara bergantian kearah Leon dan sekali lagi membuat Leon sangat kesulitan untuk menangkisnya
Bahu sebelah kiri menjadi korban, disusul dengan punggungnya juga terserempet tendangan kuat itu, tapi tidak sampai membuat Leon jatuh
Karena sudah berkali kali mendapat tendangan seperti itu, Leon menjadi tidak senang. Kemudian dengan gerakan yang sama, Leon juga melenting kan tubuhnya ke udara dalam beberapa detik
Kemudian dengan gerakan cepat, Leon melancarkan tendangan ganda juga ke arah kepala Bram, tapi tidak ada satupun tendangan itu yang mengenainya. Cuma telapak tangan Bram yang sakit, akibat menangkis tendangan tersebut
Kesal dengan serangan yang tidak membuahkan hasil, Lion merubah taktiknya dengan turun ke bawah, dan menyerang kaki Bram dengan sapuan kakinya dengan gerakan cepat
Akibatnya, kaki dan paha kanan Bram,sekali lagi terkena tendangan yang cukup kuat, yang dilancarkan oleh Leon
Karena posisi Bram tidak menguntungkan, serangan tersebut membuat tubuhnya terpental dan jatuh ke belakang
Kesempatan itu digunakan oleh Leon, untuk semakin menekan posisi Bram. Kemudian dengan satu gerakan cepat, tubuh Bram yang sedang berguling guling di tanah itu, ditendang dengan sekuat tenaga oleh Leon. hingga membuat tubuh Bram terpental semakin jauh
Tapi walau sudah mendapatkan tendangan terkuat itu, Bram masih bisa bangkit walau pinggang nya terasa sakit
sejenak dia mengambil nafas, dan memperbaiki posisinya, serta mengurut pinggang nya yang tadi kena tendang oleh Leon, kemudian dia berkata
"Aku akui, kau memang kuat, dan aku tidak pernah menyangka, bahwa partner latihan ku dulu, sudah semakin kuat. Mungkin saat ini, aku tidak akan bisa melawan mu, tapi pantang bagi si kaki kilat, untuk bilang menyerah sebelum bertarung
"Kau cukup jujur Bram!. Bagaimana kalau kita hentikan pertarungan ini, dan ku tawarkan agar kau bergabung saja menjadi orang orang nya tuan besar kami. Bagaimana?" Respon Leon cukup bijaksana
"Untuk bergabung dengan orang yang hampir membunuhku, itu tidak akan pernah. Daripada mati berkalang tanah, lebih baik berputih mata!"
"Jika itu jawabanmu!, maka walaupun kita pernah berteman lama, bahkan sudah seperti saudara. Tapi saat ini, kau yang telah memilih jalan hidupmu sendiri, disebabkan oleh dendam yang tidak beralasan itu."
"Mari kita lanjutkan pertarungan kita. Menggunakan kaki dan tangan sudah. Bagaimana kalau kita menggunakan senjata?" Usul Leon pada Bram
"Baik!. Aku terima tantangan mu!" Jawabnya tegas, sambil mencabut pedang panjang yang dipegang oleh anak buahnya tersebut, kemudian dengan gerakan cepat, dia berlari ke arah Leon, sambil menebaskan pedang tersebut ke arah lehernya
"Leon yang mendapat serangan tiba tiba itu tidak menjadi gugup. Sebelum serangan itu sampai, Leon juga mencabut pedang yang dipegang oleh seorang samurai, yang ada di sampingnya itu, kemudian menangkis serangan Bram tersebut
__ADS_1
Bunyi beradunya pedang, nyaring terdengar di halaman rumah milik Melviano itu, membuat telinga yang mendengarnya terasa sakit
Hampir 10 menit pertarungan itu telah berlangsung, dan belum juga selesai. Peluh sudah bercucuran di tubuh keduanya, tapi belum ada yang menyerah atau kalah
Serangan yang dilancarkan oleh keduanya semakin intens, dan membahayakan nyawa mereka. namun belum ada yang terluka. Cuma baju yang mereka kenakan terkoyak disana sini
Dalam satu kesempatan, saat Bram sedang menusukkan pedangnya ke arah dada Leon, dengan cerdik Leon menggeser tubuhnya ke samping, kemudian membelakangi tubuh Bram, lalu dengan gerakan cepat, pedang yang ada di tangan Leon ditusukkan ke arah belakang, dan menembus tubuh Bram dengan telak
Seketika gerakan Bram terhenti, karena perutnya tertembus pedang, yang dipegang oleh sahabatnya itu. Tak lama kemudian, tubuh Bram jatuh terkulai di pelukan Leon, dan saat itu juga Bram mati, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun
"Maafkan aku kawan!. Aku terpaksa melakukan ini. Jika tidak kau yang mati, maka aku yang akan mati."
"Aku sudah berusaha untuk berbuat baik, dan membujuk mu untuk menyudahi perselisihan ini, tetapi karena hatimu penuh dengan dendam, maka kau sangat sulit sekali untuk dibujuk." Ucap Leon lirih, sambil menitikkan air mata
Lima ratus lebih anak buah Bram. ketika melihat bosnya mati ditangan Leon, menjadi tercekat diam, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Walau di antara mereka, ada 4 orang petinggi Serigala Hitam, tapi tetap saja mereka merasa ragu dan bimbang
Saat mereka sedang bimbang itulah, Leon mengarahkan pandangannya kearah anak buah Bram, dengan tatapan dingin. Mengisyaratkan ancaman yang sangat menakutkan
Walau jumlah mereka jauh lebih banyak dari anak buah Leon, tetapi orang terkuat di antara mereka sudah mati ditangannya. Maka mereka tidak bisa berbuat apa apa, dan tidak berani bertindak lebih
"Jumlah tidak bisa mengalahkan kualitas!" Itulah kejadian yang terjadi pada mereka
"Bagaimana dan?. Apakah kita akan meneruskan pertarungan ini?" Tanya anak buahnya meminta pendapat
"Diam!. Aku sedang berpikir dan mengukur kekuatan mereka. Apakah kita akan melawan atau tidak. Jika kita melawan, pasti kita akan mati. Tapi jika kita tidak melawan, maka kita akan menjadi taklukannya. Ini yang aku tidak mau!" Jawabnya penuh pertimbangan
"Kau pikirkan dengan baik kawan!, di belakang kita masih banyak orang orang lemah. Jika dibandingkan dengan para pengawal itu, kita tidak ada apa apanya dengan mereka!" Sanggah seorang komandan memberi usul
"Jadi apa yang harus kita lakukan?. Mungkin sebaiknya kita menyerah saja!" sambung salah seorang komandan lain pada temannya itu, kemudian memandang kepada anak buahnya yang lain
Mendapat tatapan seperti itu, anak buahnya cukup paham, kemudian mengangguk tanda setuju, menyerah daripada mati berputih mata
"Baiklah kalau itu pilihannya. Aku juga memikirkan keselamatan bawahan ku , serta keluarga kalian. Oleh karena itu, mari serempak setelah aku beri kode, kita jatuhkan semua senjata senjata kita, pertanda kita menyerah." Ucap komandan itu cukup bijaksana
"Baik!" Jawab mereka lirih
Setelah mendapat jawaban , komandan gangster itu, menjatuhkan pistol serta pedangnya ke tanah, lalu mengangkat tangannya ke atas, tanda menyerah
Tindakannya itu diikuti oleh seluruh anak buahnya yang lain. Dengan serentak, mereka menjatuhkan semua senjata yang mereka bawa itu, kemudian mengangkat tangannya ke atas juga
"Pilihan tepat!. Jika kalian tetap nekat melawan kami! maka hanya dengan 10 orang saja, kalian akan mati seluruhnya!" Respon Leon tegas, kemudian berkata lagi
"Cepat mundur ke belakang, dan merapat ke tembok!" Perintah Leon sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah tembok
"Mana pemimpin kalian?" Tanya Leon lagi
"Saya bos!" Jawab seorang komandan cepat, kemudian diikuti oleh 3 komandan lainnya
__ADS_1
"Cepat ambil senjata senjata itu, dan lemparkan ke depan. Tapi jangan sampai kesempatan itu kalian gunakan untuk mencelakai kami. Kalian lihat di sana, anak buah ku sudah siap dengan senjatanya. Jika bergerak mencurigakan sedikit saja, maka kalian semua akan mati karena kebodohan mu itu!" Ucap Leon penuh ancaman
"Baik kami akan patuh!" Jawab 4 orang komandan itu serempak, kemudian dengan gerakan cepat, mengambil pedang dan pistol yang ada di tanah, kemudian dilemparkannya ke depan
Setelah semua senjata itu bertumpuk sedikit lebih jauh dari mereka, Lion menyuruh kepada anak buahnya, untuk mengambil senjata senjata tersebut dengan pengawalan ketat
Lion terpaksa melakukan itu, karena dia khawatir, bekas anak buah Bram itu, akan menggunakan kesempatan tersebut, untuk balik mencelakai anak buahnya
Tapi sampai senjata terakhir yang mereka ambil, tak satupun anak buah Bram, yang berani bergerak atau berbuat macam macam
Setelah semua senjata itu terkumpul, termasuk senjata dari 20 orang pengawal Melviano, juga sisa pengawal yang lain, dikumpulkan di satu tempat, Leon dengan didampingi oleh Burqon maju beberapa langkah ke depan, kemudian memberi pengarahan
"Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa muncul dari dalam rumah itu. Menurut laporan anak buah ku, di dalam rumah ini, tidak ada siapa siapa, kecuali seorang perempuan lemah dengan 1 orang anak kecil."
"Tapi tiba tiba kalian keluar dari dalam rumah itu. Pasti ada suatu tempat yang kalian rahasiakan didalamnya." Ucap Leon dengan prediksinya yang akurat
Komandan yang menjadi pimpinan tertinggi dalam kelompok tersebut, mengangguk, kemudian berkata..
"Bener bos!. Di rumah itu ada lorong panjang, yang langsung terhubung ke markas besar kami, sepanjang kurang lebih 1 kilometer di dalam bumi."
"Lorong itu kami gunakan, untuk jalan melarikan diri, jika sewaktu waktu terjadi serangan ke markas kami." Jawab Mardika dengan jujur
"Baiklah!. Sebelum salah satu diantara kalian aku minta untuk menunjukkan jalan itu. Aku tawarkan pada kalian, memilih tunduk atau mati!" Ucap Leon serius
"Kami mengaku kalah, dan berjanji, akan selalu setia kepada tuan!" Jawab mereka serempak, walau masih ada yang berkata lain
"Jangan berjanji kepadaku, tapi berjanjilah kepada tuan besar kami, Dion Mahesa Birawa!" Teriak Leon kuat
"Apa!. Jadi orang itu adalah anak buah tuan Dion, yang sangat terkenal itu?" Batin salah seorang komandan dalam hati
"Jadi selama ini kita telah memprovokasi tuan besar itu. ini bisa gawat, jika sampai ketahuan!" Ucap mereka lirih, dalam ketakutan yang teramat dalam
Tiba tiba, mereka serempak berlutut di tanah, kemudian mengucapkan sumpah setia kepada Dion
"Karena kalian telah bersumpah setia kepada tuan besar, maka aku memaafkan kalian semua. Tapi jika di kemudian hari kalian mencoba melawan, atau mengkhianati tuan besar, maka saat itu juga, kalian dan juga keluarga kalian akan mati" Ancam Leon tidak main main, kecuali 1 bagian terakhir itu
"Sekarang dengarkan baik baik!. Kalian tetap boleh beroperasi sebagaimana mestinya, tapi bukan dalam gerakan melawan hukum. Jika hal itu kalian langgar, maka dengan tangan ku sendiri, kelompok kalian akan aku tumpas!"
"Aku atas nama tuan besar, mengangkat orang itu untuk menjadi pemimpin kalian!" Ucap Leon memberi instruksi, sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Mardika
"Bos boleh memanggil saya Dika, atau Mardika!" Ucap Dika cepat
"Baiklah Mardika!. Atas nama tuan besar, aku menunjuk mu sebagai ketua serigala hitam, dan sebagai wakilnya di kota P ini." Ucap Leon cukup jelas
"Mengenai siapa wakil mu nanti, aku serahkan pada keputusanmu!" Sambung instruksi Leon lagi
"Terima kasih bos Leon, atas kepercayaan dan kemurahan hati bos, karena telah mengampuni nyawa kami!" Respon Dika senang, dengan rasa syukur yang teramat dalam
__ADS_1
"Ayo tunjukkan!, di mana lorong itu!" Perintah Leon tegas
"Mari tuan saya tunjukkan jalannya." Ucap Mardika dengan ekspresi sopan