Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
44. Semut saja bisa marah


__ADS_3

Melihat Dion tidak menjawab pertanyaan salah seorang security atau satpam tersebut, komandan mereka menjadi marah, kemudian menghampiri Dion dan membentaknya


"Apakah kau tuli!, hingga tidak mendengar pertanyaan anak buah ku?. Sekarang jawab!, apa keperluanmu datang ke bank ini?" Tanya komandan satpam dengan berkacak pinggang dan bersikap sombong


Mendapat pertanyaan kasar seperti itu, Dion bukannya menjawab, malah matanya menatap tajam, kearah komandan arogan tersebut


"Dasar sialan, bajingan, gembel!. Kau benar benar tuli. bangsat !" Ucapnya memprovokasi Dion, sambil tangannya terulur, ingin menampar atau mendorong Dion, agar menjauh dari pintu masuk bank tersebut


Mendapat perlakuan kasar seperti itu lagi, bukannya membuat Dion takut, tapi malah mendekatkan diri kepada komandan tersebut kemudian dia menyodorkan wajahnya meminta untuk ditampar


"Mau menamparku, kenapa berhenti, ini wajah ku. sekarang tamparlah!" Ucap Dion memprovokasi


"Kurang ajar kau! ditanya baik baik, kau malah mencoba melawan kami semua." Jawab komandan satpam tersebut semakin marah


Seketika tangannya terangkat dan melayang ke wajah Dion, tapi satu jengkal sebelum sampai, tangan Dion secepat kilat bergerak, menangkap tangan yang melayang menuju wajahnya, kemudian mendorongnya kuat kuat ke depan


Karena posisi komandan satpam itu kurang stabil, hingga membuatnya terdorong ke belakang, dan menabrak anak buahnya sendiri hingga sama sama terjatuh


Dua orang satpam yang tersisa, hanya bisa melongo, melihat komandan serta rekannya jatuh, akibat hanya didorong ringan oleh Dion


Tetapi sedetik kemudian, kesadaran mereka kembali, dan mencoba untuk membalas perlakuan Dion, kepada komandan dan rekannya tadi


Serentak keduanya mengambil tongkat pendek, yang ada di pinggang masing masing, kemudian mengangkatnya, mencoba menakut nakuti Dion agar mundur


Kalau bukan Dion, pasti orang yang diatakuti tersebut menjadi ketakutan, tapi berbeda dengan Dion, dengan santainya Dion menangkap dan merebut kedua tongkat tersebut, kemudian membantingnya ke lantai, diiringi dengan tendangan ringan kaki kanan dan kirinya ke tubuh kedua satpam tersebut


Dion kali ini bersungguh sungguh, padahal kedua satpam itu hanya sekedar menakuti Dion, agar dia mundur menjauh, tapi dia telah terpancing emosi, karena ketidaktahuannya


Hal itu mungkin buntut dari kejadian di depan toko yang disinggahinya tadi, sehingga kejadian barusan di depan pintu masuk bank amex, telah membuatnya salah paham


Perasaan Dion sekarang mudah tersinggung. Apakah dia sekarang sudah benar benar berubah, tidak bisa lagi menahan emosinya walau sesaat


Tapi nasi sudah menjadi bubur, niat baik dari hatinya, malah menjadi huru hara seperti itu. Sebenarnya Dion sudah bosan dengan penyelesaian setiap masalah dengan kekerasan. Kalau bisa dia lebih memilih berdamai jika itu memungkinkan


Tapi orang orang yang dihadapinya terus saja memprovokasi dan menghinanya. Sekali diperlakukan seperti itu, mungkin dia bisa sabar, tapi lama lama hilang juga kesabarannya

__ADS_1


Dion membatin, semut saja kalau diganggu akan menggigit, dan menyerang pengganggunya, apalagi dia sebagai manusia. Tapi ah sudahlah. Apapun masalah yang timbul, dia siap menerima resikonya. kemudian mendorong pintu kaca, dan masuk kedalam bank tersebut


Keributan yang terjadi sekitar beberapa menit, di depan pintu masuk bank amek, telah menarik perhatian nasabah yang ada di dalam, berikut semua karyawannya


Tapi mereka percaya, 4 orang satpam kuat yang menjaga pintu masuk, akan bisa mengatasi masalah kecil seperti itu


Tapi apa dinanya, orang yang disangka kuat, ternyata sekarang sudah terduduk lesu di depan pintu masuk bank tersebut


Ketika Dion mencoba masuk ke dalam, mereka tidak bisa lagi menghalangi, dan akhirnya Dion pun masuk ke dalam, dibarengi dengan tatapan semua nasabah dan karyawan bank tersebut tidak senang


Sebelumnya, orang orang yang melihat kegaduhan di pintu masuk bank amek tersebut menjadi heran, kenapa 4 orang satpam yang terkenal kuat dan sudah terlatih itu, begitu mudahnya dijatuhkan oleh orang yang kelihatannya lemah


Tapi itulah kenyataannya. Kalau diurut urut, kejadian itu bukan sepenuhnya kesalahan dari Dion, Dion hanya ingin mengecek saldo tabungannya di bank tersebut saja, dan rencananya akan sesuai prosedur, datang, masuk, ambil nomor antri dan menunggu panggilan, begitu saja


Tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan harapan, 4 orang satpam yang menjaga pintu masuk bank itu, tidak mengizinkan Dion masuk, dan memprovokasi serta menghina Dion habis habisan. Hal itulah yang telah membuat keributan kecil itu terjadi


Mereka hanya melihat penampilan orang saja, tetapi tidak melihat isinya, padahal pada saat itu, Dion berpakaian cukup rapi, walaupun tidak mengenakan jas, karena pada dasarnya, Dion tidak begitu suka untuk berpakaian formal seperti kebanyakan orang- orang kaya dan lain sebagainya


Manajer bank, yang mendapat laporan telah terjadi keributan di depan pintu masuk, buru buru turun ke bawah, tapi begitu dia sampai, keributan tersebut sudah usai, dan orang yang membuat keributan sudah tidak ada lagi di luar, lalu di mana dia?


Setelah 1 menit dia mencari, dia tidak menemukan keberadaan orang tersebut. kemudian dia menghampiri karyawan bank, dan menanyakan, apakah orang yang membuat keributan di luar tadi masuk kedalam, atau meninggalkan bank tersebut


Karyawan yang ditanya segera mengedarkan pandangannya ke lobi bank, dan matanya terhenti, ketika melihat orang yang telah membuat keributan di luar tadi, sedang duduk dengan santainya menunggu antrian


"Itu orangnya tuan!" Ucap karyawan bank tersebut dengan sopan


Manajer bank yang bertanya tadi, dengan sigap membalikkan badannya, kearah orang yang ditunjuk oleh karyawan yang ditanya olehnya tadi


Begitu dia melihat keadaan Dion, dia tidak yakin, apakah orang tersebut yang telah mampu mengalahkan 4 orang satpam bank itu?


Dion kelihatannya tenang, dan tidak ada tanda tanda yang mencurigakan. Sebelumnya, manajer tersebut ingin melaporkan kejadian tersebut ke polisi, untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan


Tapi nalurinya berkata, bahwa Dion bukanlah ancaman, tetapi mungkin sebagai anugerah yang dikirim oleh langit kepada bank tersebut


Lalu dengan tenangnya dia melangkah mendekati Dion dan berkata

__ADS_1


"Mohon maaf. Apakah anda sudah mengambil nomor antrian?" Tanya manajer bank tersebut sopan


Dion menolehkan kepalanya, kearah orang yang sedang berdiri di sisi kirinya, kemudian menjawab


"Oh ya, aku sudah mengambil nomor Antrian dan 10 orang lagi, maka aku akan mendapatkan pelayanan dari bank ini." Jawab Dion santai. Manajer bank tersebut pun menanggapinya, dan bertanya


"Kalau boleh tahu, dan ini maaf. Kenapa Anda membuat keributan di luar seperti tadi?"


"Aku sebenarnya tidak ingin membuat keributan, tapi satpam itu telah menghalangi jalanku untuk masuk ke dalam, mungkin mereka mencurigai ku, karena melihat penampilanku yang dekil ini." Ucap Dion merendahkan diri


"Aku paham kalau begitu. Tapi apakah anda akan bertransaksi, atau hanya ingin mengecek saldo di rekening?" Tanya manajer bank tersebut masih tetap sopan


"Ya benar. Kalau boleh tahu, dengan siapa saat ini aku berbicara?" Tanya Dion juga sopan


"Aku Devan Leonardo, biasa di panggil Devan atau Leo saja, salah seorang manajer di bank ini." Jawabnya merendah, kemudian melanjutkan perkataannya


"Dengan siapa saat ini aku berhadapan?" Tanya Devan kepada Dion


"Aku Dion. datang hanya sekedar ingin mengecek, apakah kartu ku ini, masih berfungsi atau tidak, sekaligus ingin mengetahui jumlah saldo yang ada di rekeningnya kalaupun ada." Ucap Dion tenang


Manajer bank, begitu melihat kartu yang dikeluarkan oleh Dion adalah kartu hitam, seketika lututnya bergetar, dan keningnya berkerut, tanda dia memahami, siapa orang yang tengah di wawancaranya itu


Belasan tahun dia sudah bekerja di bank tersebut, sedikit banyaknya dia mengetahui tentang adanya kartu hitam, yang dikeluarkan oleh bank tempat dia bekerja. kemudian dengan gugup dan sopan dia bertanya


"Apakah ini kartu anda tuan?" Tanya manajer tersebut ragu rahu


Dion menyadari keraguan dari manajer bank tersebut, kemudian dia menjawab..


"Ya benar. Kebetulan sekretaris ku yang telah memberikannya beberapa saat yang lalu. Ada apa ya?" Tanya Dion keheranan


"Kalau begitu mari ikut saya tuan. Untuk nasabah terhormat seperti tuan, tempatnya bukanlah disini, tapi langsung di ruangan direktur Richard, saya akan mengantarkan tuan ke sana." Ucapnya sopan


"Aku rasa tidak perlu, biarkan aku menunggu antrian saja." Jawab Dion tenang


"Tidak bisa tuan. Di lobi ini, tuan tidak akan bisa bertransaksi. Satu satunya agar kartu dan rekening tuan bisa di aktifkan, adalah di ruang direktur, karena hanya dialah yang berhak untuk mengaktifkannya

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Mari tunjukkan jalannya."


__ADS_2