Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Kata Sepakat


__ADS_3

Satu jam kemudian, orang orang yang di panggil pun berdatangan


Mereka antara lain adalah kepala desa dan dua perangkatnya. Delapan pemilik tanah, satu kepala dusun, satu ketua rukun warga, dan satu rukun tetangga


Kedatangan mereka segera di sambut oleh pihak perguruan dengan baik, dan dipersilakan untuk mengambil tempat yang sudah di sediakan


"Salam tuan guru!" Ucap mereka serempak, memberi penghormatan pada Gentala dan guru guru yang ada di aula pertemuan itu, dengan sikap hormat


"Silakan duduk!" Jawab Gentala sopan


"Terima kasih guru!" Respon mereka patuh


"Perkenalkan!. Mereka bertiga ini adalah utusan dari tuan besar Dion dan kakeknya. Datang kemari karena ingin bernegosiasi dengan kita, terutama kalian pemilik tanah yang ada di sekitar perguruan ini."


"Untuk jelasnya!. mari kita dengarkan penuturan tuan utusan ini. Silakan tuan!" Ucap Gentala cukup sopan sekali


"Pertama yang ingin saya sampaikan adalah. mohon untuk tidak memanggil kami, terutama saya dengan sebutan tuan, karena hal itu hanya pantas di lakukan pada tuan besar Dion, dan tuan Mahesa Birawa."


"Panggil saya James saja!. Dan kedua rekan saya ini adalah Shio Lung si Dewa uang, dan yang satunya lagi adalah Erisha si dewi akuntan." Ucap James merendah. Lalu mengambil nafas, kemudian berkata lagi


"Seperti yang di amanatkan oleh tuan besar, bahwa perguruan ini akan dibangun ulang, menjadi sebuah perguruan modern lengkap dengan fasilitasnya."


"Tapi luas lahan tanahnya tidak mencukupi."


"Jadi kami berencana ingin meluaskan areal perguruan ini, dengan niat ingin membeli lahan lahan yang ada di sekeliling perguruan ini."


"Untuk itu!. Apakah saudara pemilik lahan bersedia melepaskan tanahnya untuk di beli, dan di peruntukkan untuk kepentingan perguruan?" Tanya James sangat sopan sekali, kemudian menunggu respon dari mereka yang tadi di panggil


Tapi ditunggu sekian lama, tidak ada yag berani menjawab duluan, termasuk kepala desanya, apalagi si pemilik tanah yang ingin di beli itu


Wibawa James dan rekan rekannya itu, menurut penglihatan mereka yang hadir di aula pertemuan itu, sangat mendominasi sekali, sampai membuat mereka sungkan dan malu untuk memulai, jadi akhirnya semua nya bungkam, dan diam seribu bahasa


Gentala yang melihat kecanggungan mereka, mengambil inisiatif untuk bertanya pada kepala desa dengan berkata.


"Apakah anda tahu sejarah tanah tanah yang ingin di beli, terutama ketua ketua warga dan kepala dusun?'


"Jika kalian tahu, tolong katakan pada saudara James ini, agar perundingan bisa berjalan lancar." Ucap Gentala cukup tenang


"Tuan guru, kami sebagai orang yang di percaya untuk mengepalai wilayah ini, tentu saja kami tahu sejarah tanah ini sejak dari awal, apalagi kami lahir dan besar di desa ini."


"Tapi untuk masalah tanah tersebut mau di jual apa tidak, tentu saja itu tergantung dari pemilik tanah yang bersangkutan." Jawab Reksa si kepala desa tersebut cukup lancar


"Lebih baik kita tanyakan sekali lagi, apakah mereka mau melepaskan tanhnya pada pihak perguruan atau tidak!." Ucapnya lagi


"Saudara Tarmo! Apakah anda mau melepaskan tanah milik anda pada kami?" Tanya Gentala cukup sopan padanya


"Tuan guru!. Responnya sambil menunduk


"Pada dasarnya saya tidak berkeberatan untuk melepaskan tanah milik saya itu, apalagi untuk kepentingan perguruan."


"Cuma masalahnya adalah, tanah tersebut sudah ditawar oleh seorang pengusaha dari ibukota, tapi sampai sekarang belum ada kabar sama sekali." Jawab Tarmo berterus terang


"Kapan itu terjadi pak Tarmo?" Tanya Shio Lung mewakili rekannya James itu

__ADS_1


"Sudah sekitar setahun yang lalu tuan. Tapi sampai sekarang dia tidak pernah menghubungi saya lagi."


"Apa yang dikatakan nya waktu itu?" Tanya Shio Lung lagi


"Dia mengatakan, bahwa dalam jangka tiga bulan kedepan, akan datang lagi, dan melakukan transaksi."


"Tapi ditunggu hampir setahun, dia tidak datang juga dan melakukan pembayaran." Jawab Taro apa adanya


"Kalau begitu, berarti dia telah melakukan kesalahan, karena telah ingkar janji pada pak Tarmo."


"Sudah hampir setahun dari sejak hari itu, sampai sekarang dia tidak pernah muncul lagi. berarti dia tidak jadi membelinya."


"Dengan demikian, bersediakah pak Tarmo, melepaskan tanah itu pada kami? Tanya Shio Lung terkesan memaksa


"Tapi saya takut jika dia datang, dia akan marah pada saya dan mencelakai saya serta keluarga saya!" Respon Tarmo ragu ragu


"Kalau untuk masalah itu, serahkan saja pada kami, karena mulai kemarin, perguruan serta desa ini, telah berada dibawah perlindungan dari tuan besar Dion."


"Jadi pak Tarmo tidak usah khawatir lagi." Jawab Shio Lung tegas


"Baiklah kalau begitu!. Saya bersedia menjualnya." Respon Tarmo cukup lega


"Saya juga bersedia melepaskan tanah milik saya itu!" Ucap seorang warga pemilik tanah tanpa ragu ragu lagi


"Kami juga bersedia!" Ucap pemilik tanah yang lain semangat


"Bagus itu jawaban yang ingin kami dengar!" Respon James senang


"Kalau begitu!. Tolong kepada perangkat desa untuk mengukur berapa meter luas lahan mereka masing masing, agar kami senang dalam melakukan transaksi." Ucap James tegas


"Mumpung kalian semua ada di sini. Ada baiknya kami sampaikan, apa apa saja yang akan kami lakukan di desa ini."


"Pertama, kami akan merevitalisasi akses jalan yang sudah ada, dengan aspal berkualitas bagus. dengan lebar jalan sekitar 12 meter."


"Bagi tanah warga yang terkena untuk pelebaran jalan, kami akan melakukan ganti rugi yang pantas."


"Selanjutnya kami juga akan membuat jalan baru, yang lebih dekat dari sebelumnya, dengan desa desa, atau wilayah lain di desa ini."


"Sama seperti sebelumnya, pemilik tanah akan mendapatkan ganti rugi yang pantas juga."


"Untuk itu, mohon bantuan dari seluruh perangkat desa, untuk segera menginformaikan masalah itu pada warganya."


"Hal lain yang kami lakukan di sini adalah. merombak ulang seluruh bangunan di perguruan ini, agar menjadi baru dan modern."


"Hal terpenting dan utama lainnya adalah, membangun sekolah dasar, lanjutan dan menengah jika perlu, di sekitaran perguruan ini, agar anak anak warga desa dan sekitarnya, bisa belajar di sini."


"Mengenai guru gurunya, akan kami datangkan dari kota kota lain, dan gajinya akan dibayarkan oleh Birawa Group."


"Selain itu yang terpenting lainnya adalah, membangun pusat kesehatan masyarakat di desa dan sekitarnya, yang kami lihat belum ada sama sekali di sini."


"Dan yang terakhir, kami akan membangun semua fasilitas yang di perlukan oleh warga, selain yang sudah di anggarkan dari dana desa."


"Saya ulangi lagi, karena desa ini cukup terisolir, maka kami akan membuka akses jalan dari semua arah, agar desa ini tidak terisolir lagi. Dengan menghubungkan wilayah wilayah lain di sekitaran desa ini."

__ADS_1


"Untuk itu, dimohon bantuannya dari kepala desa dan jajarannya, untuk memuluskan rencana dari tuan besar kami, agar tidak mengalami hambatan, dan birokrasi yang berbelit belit."


"Karena jika itu terjadi, mungkin kami akan meninjau ulang rencana tadi, bahkan mungkin membatalkan semuanya."


"Tuan besar Dion, tidak mau ada pihak pihak yang akan mengambil keuntungan, dengan dibukanya desa ini agar tidak terisolir."


"Jika hal itu terjadi, maka kami tidak akan segan segan lagi untuk bertindak, dan membuat perhitungan dengan siapa siapa saja yang berani mencoba menghalangi proyek besar itu."


"Untuk itu, mari kita saling bersinergi dan kerja sama, untuk melancarkan rencana besar tersebut, agar berjalan sebagai mana mestinya." Ucap James panjang lebar. Kemudian meminta kepada kepala desa untuk menanggapi rencana itu


"Saya mewakili seluruh warga. mengucapkan terima kasih atas rencana dari tuan besar Dion, dan akan selalu membantu demi mensukseskan rencananya itu."


"Sebagai kepala desa, saya akan bertanggung jawab penuh, dan akan menginformasikan kepada seluruh warga desa atas rencana besar ini." Ujar kepala desa dengan penuh semangat


"Baiklah untuk hari ini, pembicaraan di anggap selesai."


"Tapi jika ada warga yang ingin bertanya, kami persilakan!" Ucap James cukup sopan


Satu detik, dua detik, tiga, empat sampai satu menit, tidak ada pemilik tanah yang berani bertanya karena malu


Gentala yang melihat keraguan mereka, sekali lagi berinisiatif untuk membantu, dengan mengajukan pertanyaan pada James


"Mohon maaf saudara James!. Saya mewakili warga pemilik tanah, ingin bertanya pada anda, berapakah harga tanah yang akan dibayarkan pada mereka, jika bersedia menjualnya?" Tanya Gentala cukup jelas


"Oh maafkan saya tuan guru karena lupa!"


"Sesuai dengan amanat dari tuan besar Dion, Beliau memerintahkan untuk membayar tanah tanah tersebut dengan harga tinggi, dan di sesuaikan dengan harga kota dalam permeternya."


"Setelah dihitung berapa luas tanahnya, baru kami akan melakukan pembayaran."


"Jadi saya harap, hari ini atau besok, proses transaksi sudah bisa kita lakukan, karena waktu kami yang terbatas." Jawab James apa adanya


"Baiklah kalau begitu!. Mohon ijin untuk meninggalkan pertemuan ini, karena kami akan melakukan apa yang saudara minta tadi." Ucap Reksa dengan sopannya


"Baik kalau begitu. Silakan!" Jawab James cepat


***


Kota J, mansion mewah milik Bhadrika, sekitar pukul 10 malam, setelah kejadian


"Kenapa tidak ada kabar dari si pecundang Braga?"


"Sampai saat ini, kiriman paket belum juga sampai. Sebenarnya apa yang terjadi di sana?" Tanya Bhadrika atau Bhadri keheranan


"Ramos!. Cepat hubungi pecundang itu, dan tanyakan padanya, kenapa paket kita belum juga sampai?" Perintah Bhadri tegas pada anak buahnya


"Baik bos!" Respon Ramos patuh. Kemudian menghubungi Braga, tapi sudah sekian lama handhone Braga tidak bisa dihubungi


"Tidak tersambung bos!. Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Ramos minta petunjuk


"Sekarang juga kau pergi ke sana!. dan bawa 150 orang bersama mu.!"


"Jika Braga mengalami kesulitan karena hadirnya seseorang, ratakan tempat itu, dan habisi orang nya."

__ADS_1


"Tapi jika Braga sendiri yang bertingkah, seret dia ke sini, agar aku bisa memberikan hukuman berat padanya!" Perintah Bhadrika tegas sekaligus marah


"Siap bos!" Jawab Ramos patuh


__ADS_2