Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
47. Mau apa kau


__ADS_3

"Brengsek, dasar badjingan, sekali sampah tetap sampah,." Rutuk seseorang yang barusan tadi membuka jendela karena marah


Tak lama sesudah itu, dia keluar melalui pintu depan, dan langsung menghardik Dion dengan kasarnya


"Dasar sampah!. Berani beraninya kau mengintip ke dalam rumahku. apakah kau mau dihajar?" Hardik orang yang baru saja keluar dari bangunan tersebut


Sekilas Dion melihat kearah orang yang baru saja membentak, menghardik dan sekaligus menghinanya. Tapi alangkah terkejutnya Dion, begitu melihat siapa orang yang sedang dihadapinya itu


Ditengah keterkejutannya itu, muncul lagi 4 orang yang sudah sangat dikenal oleh Dion, mereka adalah nenek Wolf, Danish, Everly dan Chalista. dan orang yang barusan tadi membentaknya adalah Brian


"Kau!" Ucap Dion singkat dan keheranan


"Ya, aku.kenapa?. ini adalah rumah dan tanah kami, berani beraninya kau datang ke sini." Ucap Brian sombong dan tak tahu diri mangaku ngaku hak milik orang lain sebagai miluknya


"Ternyata kalian di sini.aku sungguh tidak menyangka, orang yang dulunya kaya, sekarang menjadi gelandangan seperti ini." Ucap Dion merendahkan mereka semua. Dia penasaran, kenapa informasi seperti ini, tidak dilaporkan kepadanya


"Apa pedulimu, dan ingat! kami bukan gelandangan, kami hanya terusir dari rumah kami sendiri karena perbuatanmu!" Jawab Brian membela diri


"Apa bedanya!" Sanggah Dion sambil tersenyum sinis


Brian yang mendapat sanggahan seperti itu terdiam, matanya jelalatan memandang ke satu titik, di mana di tempat itu, mobil Dion terparkir dengan gagahnya, kemudian dia berkata


"Tunggu dulu!. Sepertinya kau sekarang sudah beruntung dan kaya, walau aku tidak tahu dari mana kekayaanmu itu." Sambungnya lagi. Diam sejenak kemudian melanjutkan berkata kembali


"Tunggu!." Ucapnya sambil mengingat sesuatu


"Jangan jangan kau yang telah merampok harta kami semua, karna kau ingin membalas dendam." Ujarnya asal tuduh


"Aku ingat!, ketika di dalam pesta itu, orang orang yang datang begitu menghormati mu, dan tak satu pun yang berani mengganggu mu. Jangan jangan mereka adalah orang orang mu, yang kau janjikan untuk dibayar, agar bisa merampok harta kami." Ucap Brian sekenanya, dan terus menyambung perkataannya, dengan kemarahan yang meluap luap


"Kalau tidak, bagaimana kau bisa membeli mobil mewah itu, dan yang selama ini menjadi perbincangan di kota B?" Kata Brian terkejut. begitu juga yang lain, walaupun mereka tadi sudah melihatnya, tapi sekarang baru sadar kembali, bahwa Dion adalah pemilik mobil itu


"Aku ada ide!." Sambung sebuah suara yang tiba tiba menengahi pertengkaran Dion dan Brian


"Karena kau sudah pernah menjadi menantu di keluargaku, dan selama itu menumpang hidup dan makan di rumahku, maka kau harus mengganti apa yang telah kau makan dan tumpangi itu." Ucap nenek Wolf senang. Tidak berhenti disitu saja, dia kembali mengucapkan kata kata licik kepada Dion


"Serahkan mobil, kunci dan surat surat nya kepadaku. Lumayan bisa dijual, dan uangnya bisa aku pergunakan untuk belanja, membeli rumah dan lain sebagainya." Sambung nenek Wolf semakin senang

__ADS_1


Brian yang otaknya yang kotor, dan hati yang penuh dengan kedengkian, menyetujui apa yang nenek mertuanya ucapkan tadi


Dengan kegembiraan yang meluap luap diapun berkata. "Benar itu nek, si sampah itu walaupun sekarang nasibnya sudah berubah, tapi dia tetap saja berhutang dengan keluarga kita."


"Karena dia berhutang, maka dia wajib membayar hutangnya, dengan cara menyerahkan mobil mewah itu kepada kita. Kalau dia menolak, aku akan patah kan tangannya." Ucap Brian dengan sombong. Dia lupa siapa Dion yang sesungguhnya


Everly yang dari tadi masih diam saja, ikut ikutan memberi dukungan kepada ibu mertuanya dengan tersenyum


"Aku setuju bu, jika si sampah itu, harus mengembalikan apa yang telah dia makan, dan membayar sewa selama setahun tinggal di rumah ibu." Ucapnya mulai menjilat


Danis yang biasanya hanya diam saja, kali ini dia benar benar mati kutu, tidak bisa berkomentar apapun, tetapi tiba tiba perutnya disikut oleh istrinya, agar ikut berkomentar, maka mau tidak mau dia pun berkata


"Kami sebenarnya tidak tahu bagaimana kau bisa memiliki mobil itu, padahal selama ini, kau dikenal sebagai gelandangan, pengangguran, pecundang, dan sampah yang tidak berguna."


"Tapi hari ini, dengan mata kepala kami sendiri, kami melihat, kau mengendarai mobil mewah itu, dan kami tidak tahu apa maksud kedatanganmu ke sini."


"Untuk menghargai dan menghormati nenek mertuamu itu, maka serahkan mobil itu kepada nenek, jika tidak..?" Ucap Danish menggantung


Dion yang mendengar kata kata tersebut, tersenyum sinis, kemudian dia berkata


"Aku ingin lihat, sampai di mana kekuatan kalian untuk merebut mobil mewah ku itu." Tambah Dion lagi


"Dan satu hal yang perlu kalian ketahui, kalian tidak perlu repot repot mencari tahu, bagaimana aku bisa bangkit dari keterpurukan ku, setelah kalian usir dari rumah itu." Ucapnya sambil menahan marah


"Sekali Dion tetaplah Dion. Apapun yang diucapkan nya, akan tetap dilaksanakan, walau sesulit apapun." Ucapnya mantap dan tidak kenal takut


Brian yang mendengar ucapan tersebut, emosinya menjadi naik, begitu juga dengan yang lain. Dengan geram dia berkata." Beraninya kau, berkata seperti itu di hadapan nenek!" Ucapnya masih dengan sikap sombong, sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Dion


Dion yang menjadi sasaran tunjuk itu, dengan tenang berkata


"Dan kau pengantin malang, sudahlah hartamu habis disita, ditangkap oleh pihak berwajib pula, kemudian digelandang dari tempat pesta seperti penjahat besar. Hari ini masih bisa berkoar koar ingin mengancam ku. Jangan mimpi kau!" Ucap Dion merendahkan Brian


"Kau enak enak duduk di sini, setelah berhasil melarikan diri, dan bersikap egois, meninggalkan Jasmine sendirian di penjara. Sungguh kau manusia naif, dan benar benar tidak berguna." Ucap Dion menghina


"Kurang ajar kau!" Ucapnya marah, sambil berlari kearah Dion dan melesatkan pukulannya ke wajah Dion. tapi..


Plak! buk!

__ADS_1


"Aaaarrrggh." Teriak Brian kesakitan, dengan tubuh terdorong mundur beberapa langkah bebelakang


Mulutnya mengeluarkan darah, akibat ditampar oleh Dion. Badannya sedikit membungkuk, karena merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya, akibat terkena tendangan yang cukup kuat dari Dion


Chalista yang melihat kejadian itu menjadi emosi, dan berteriak marah dengan memaki Dion, tanpa memikirkan lagi perasaannya


"Dasar binatang kau!. Anjing saja kalau dikasih makan, akan tetap setia kepada tuannya, tapi kau lebih hina daripada anjing itu!" Teriak Chalista benar benar marah


"Benar!. Kau itu lebih hina daripada anjing. Percuma selama ini kami memberi kau makan dan tumpangan, ternyata kau adalah binatang yang tidak bisa membalas budi!" Sambung Everly juga emosi


Dion yang dihina habis habisan oleh mantan keluarganya, menjadi sangat marah, ingin rasanya dia merobek mulut kedua perempuan tersebut, tapi pantang baginya untuk menjatuhkan tangan kepada perempuan, kalau tidak terpaksa


Namun emosinya sudah tidak bisa tertahankan lagi, dengan tenang dia berjalan mendekati Brian, yang saat ini bukan sedang menunduk, tapi sedang berlutut di tanah sambil meringis kesakitan


Brian tidak menyadari kedatangan Dion, tiba tiba saja dia merasakan kerah baju bagian belakangnya, ditarik oleh Dion dengan keras, sehingga wajahnya mendongak ke atas mengarah kepada Dion


Sementara dia memfokuskan diri, untuk melihat siapa yang telah berbuat seperti itu kepadanya, tiba tiba tamparan yang sangat kuat menimpa wajahnya, sehingga membuat dia terjatuh dan berguling guling di tanah


Tak cukup sampai disitu, Dion kembali menyiksa Brian, dengan menendang perutnya kuat kuat, hingga menambah penderitaan Brian Semakin menjadi


Nenek Wolf dan Danish tidak bisa berbuat apa apa, apalagi Everly dan Chalista. Mereka sudah tahu akan kekuatan Dion, kalau mereka maju membantu Brian, maka mereka juga akan disiksa oleh Dion dengan sadisnya


Dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan, bagaimana Dion dengan tega dan tanpa belas kasihan, menganiaya Brian yang tubuhnya sudah terluka, sempoyongan dan kesakitan itu


Tamparan dan tendangan Dion yang cukup kuat tadi, sukses membuat tubuh Brian terbang menjauh, dengan luka yang semakin parah. Darah segar masih tetap keluar dari mulutnya yang bengkak, dua giginya tercabut dengan paksa akibat tamparan kuat itu


Setelah selesai menyiksa Brian, Dion mengalihkan pandangannya ke arah mereka berempat, hingga membuat tubuh mereka gemetaran, lutut kaku, seperti tidak bisa digerakkan lagi


Seperti tadi, dengan tenang dan mulut menyeringai, seperti psikopat, Dion melangkah mendekati mereka berempat, setelah dekat, dia menatap keempatnya dengan tatapan mata yang mengancam


Nenek Wolf. Danish, Everly dan Chalista semakin ketakutan, tubuh keempatnya tidak mampu digerakkan, akibat aura kemarahan yang dipancarkan oleh mata Dion


Sekitar 1 menit hal itu berlangsung, Dion masih tetap tidak bersuara. Dia hanya menatap mereka berempat dengan tatapan kebencian yang sangat dalam


Tidak tahan mendapat tatapan yang mematikan itu, Chalista memberanikan diri berkata


"Mau apa kau?" Teriaknya kuat dan takut takut

__ADS_1


__ADS_2