Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Saingan bisnis kecil


__ADS_3

Tiga hari kemudian


Aktivitas berjalan sebagai mana biasa. Tidak ada kejadian besar yang terjadi. kecuali sesuatu hal yang terjadi pada tuan Birawa


Dalam usianya yang menginjak 77 tahun, dia sedikit mengalami gejala pengapuran pada tulang sendinya.


Walaupun sudah ditangani oleh dokter ahli, juga oleh dewa obat melalui ramuan saktinya, tapi tetap saja yang namanya orang tua, mengalami penderitaan itu


"Bagaimana hasil diagnosa dokter ahli tulang tadi kek?" Tanya Dion ingin tahu


"Ada sedikit pengapuran pada sendi kaki sebelah kanan, dan pergeseran tulang panggul bagian pinggang, yang pernah cedera puluhan tahun lalu."


"Sekarang kembali terasa, karena kecerobohan kakek


sendiri." Jawab tuan Birawa apa adanya


"Maafkan Dion kek, karena tidak selalu bisa menjaga kakek kemanapun kakek pergi." Respon Dion tidak enak hati


"Itu bukan salah mu cucuku. Semua itu terjadi sebelum kau ada di dunia ini."


"Bahkan ayah ibumu pun, belum ada saat itu, karena kakek belum menikah." Jawab tuan Birawa cepat


"Kakeknya saja yang kurang hati hati waktu olahraga kemarin!" Jawab tuan Birawa cepat


"Memang apa yang dulu terjadi pada kakek?" Tanya Dion ingin tahu


"Kakek pernah di serang oleh seseorang, oleh orang suruhan dari lawan bisnis kakek. hingga menyebabkan cedera serius di tulang panggul dan pinggang. "


"Ditambah lagi faktor umur dan kecerobohannya diri sendiri, maka terjadilah lagi hal itu sekarang !" Jawab tuan Birawa berterus terang, dan pikirannya kembali melayang ke masa lalu


Prang! Prang!


"Apa yang kalian lakukan?. Kenapa menghancurkan gerobak dagangan ku?" Ucap Mahesa Birawa, atau yang biasa di panggil oleh orang kampung dan teman temannya dengan sebutan Mahesh, dengan ekspresi marah


"Ini akibatnya jika berani melawan juragan Parto!" Jawab Deden bermuka garang


"Memang apa yang telah aku lakukan ha?" Tanya Mahesh geram


"Dengan hadirnya kau!, usaha juragan Parto jadi lesu. Banyak pelanggan yang lari dengan membeli dagangan mu!" Jawab Deden ketus


"Yang namanya dagang!, siapa saja boleh melakukannya, termasuk aku!"


"Kalian tidak boleh melarang, orang lain berjualan, karena takut tersaingi!" Bantah Mahesh muda melawan


"Aahh!. Aku tidak mau tahu. Pokoknya mulai hari ini, kau tidak boleh berjualan lagi di kampung ini!"


"Jika kau tetap membandel, maka aku dan anak buah ku, akan menghancurkan semua dagangan mu, berikut gerobak gerobak mu ini!. Mengerti?" Sanggah Deden tak mau tahu


"Aku tidak mau dan tak mau tahu!"


"Prinsip ku!. Selagi itu halal dan tidak menyalahi aturan, maka aku tetap akan berjualan di tempat ini!"


"Mengenai juragan Parto, itu bukan urusan ku!"


"Jika mau bersaing, maka bersaing lah secara sehat. bukan dengan cara seperti ini!" Bantah Mahesh tidak mau kalah


"Dasar cari mati!"


"Kawan kawan!. Cepat hancurkan semua gerobak gerobak ini, dan seret bedebah itu, untuk di hadapkan pada juragan Parto!" Ucap Deden memberi perintah


"Baik bos!" Jawab anak buahnya patuh


Semenit kemudian, tiga dari tujuh gerobak milik Mahesh, telah di hancurkan oleh anak buah Deden. Sedangkan empat lainnya masih utuh, karena dipertahankan oleh Mahesh dan anak buahnya


Melihat itu semua, emosi Deden jadi memuncak, dan imbasnya adalah, tubuh Mahesh yang menjadi korban


Sebuah tendangan kuat, yang dilancarkan oleh Deden, telak mengenai pinggang serta pinggulnya


Hal itu bisa terjadi, karena Deden secara licik menyerangnya, saat Mahesh lengah, dan sedang menghadapi lawannya yang lain


Tendangan tersebut, tentu saja mengakibatkan tubuh Mahesh terjatuh, karena hilang keseimbangan. Pinggangnya terasa sangat sakit sekali


Tak cukup sampai di situ saja, Deden berusaha merangsek ke arah Mahesh, yang sudah tergeletak lemah di tanah, dengan niat ingin menghabisinya

__ADS_1


Tapi secara tiba-tiba, puluhan batu dan kayu melayang, dan berseliweran di sekitar areal perkelahian itu


Ternyata yang membuat batu dan kayu beterbangan tersebut, adalah para penduduk kampung, yang bersimpati pada Mahesa Birawa


Warga kampung yang melihat ketidakadilan tersebut, merasa geram, dan sudah sangat muak sekali, atas perlakuan kasar dari Deden dan anak buahnya


Tanpa mempedulikan keselamatan lagi, mereka meluruh kearah Deden dan anak buahnya, dengan membawa berbagai macam senjata, termasuk besi ukuran satu meter


Tak sempat untuk melarikan diri, Deden dan anak buahnya, sekuat tenaga melawan serangan dari penduduk kampung tersebut. Tapi akhirnya mereka kalah juga, dengan tubuh penuh luka dan babak belur


Diantara para penyerang, ada juga beberapa orang jawara kampung, antara lain Delvin, Irfan dan Pambudi, tidak termasuk Togar


"Kau tidak apa apa Mahesh?" Tanya salah seorang diantara mereka


"Tidak apa apa!. Cuma pinggang ku saja yang sakit!" Jawab Mahesh mencoba menguatnguat kan diri


"Tapi gerobak gerobak mu hancur, sedangkan isinya tumpah semua!" Protes Togar tidak terima


"Gerobak masih bisa dibuat lagi, begitu juga dengan barang dagangannya!"


"Sedangkan 3 orang anak buah ku yang terluka, itu perlu penanganan khusus, karena mereka adalah tulang punggung keluarga."


"Mau tidak mau aku harus bertanggung jawab, atas kesembuhan mereka."


"Jika kalian berbaik hati, tolong bawa mereka ke rumah sakit, agar diobati di sana." Ucap ucap Mahesa Birawa penuh permohonan, sambil meringis menahan sakit


"Baik!. Kami akan membawa mereka ke rumah sakit. Tapi bagaimana dengan engkau?" Tanya Pambudi penasaran


"Aku tidak apa-apa, dan masih bisa jalan sendiri."


"Mudah mudahan dalam satu atau dua hari ini, pinggangku tidak akan sakit lagi." Jawab Mahesh mencoba mengelak


"Tidak!. Kau juga harus memeriksakan diri ke rumah sakit!"


"Aku takut tulang pinggul atau pinggang mu kenapa kenapa!" Bantah Delvin tegas


"Baiklah kalau begitu. Aku akan ikut kalian." Jawab Mahesh pasrah


"Laporkan pada kepala kampung, agar dia bisa menyelesaikan permasalahan ini!"


"Sedangkan kami akan membawa anak buah Mahesh yang terluka ke rumah sakit."


"Setelah urusan selesai, baru kita membuat perhitungan dengan juragan Parto, yang selama ini terus menekan dan meresahkan masyarakat!" Ucap Irfan memberi perintah


"Hei!. Sejak kapan kau bertindak sebagai ketua, dan sejak kapan kau berhak membuat perintah?"


"Bukan kah aku ketuanya, tapi kenapa kau yang memberikan perintah pada penduduk kampung ini?" Ucap Delvin protes


"Siapapun yang memberi perintah, kau atau aku, saat ini sama saja!"


"Bukan saatnya untuk berdebat pada hal-hal yang tidak perlu!"


"Jika mau dijadikan ketua atau senior kita, maka Mahesa Birawa lah yang berhak, karena dia lebih tua dari kita!"


"Sudah! sudah! sudah!. Ini bukan saatnya untuk bertengkar!"


"Cepat bawa orang-orang ku ke rumah sakit, berikut denganku!" ucap Mahesa Birawa dengan suara kuat


"Baik ketua!" Jawab keempat temannya tersebut cepat. Kemudian bergegas membawa Mahesa atau Mahesh, serta 3 orang anak buahnya ke rumah sakit, dengan menggunakan kereta kuda, dan 1 kendaraan pickup pengangkut barang


***


Satu jam kemudian, mereka sudah berada di rumah sakit kota kecil, dan sudah pula diobati serta dirawat di sana


Khusus untuk Mahesa Birawa, cidera yang dia alami, tidak biasa, dan itu harus ditangani oleh dokter ahli


Walaupun dari luar cederanya tidak terlihat, tetapi efeknya bisa dirasakan setiap saat oleh Birawa


Satu jam setelah dia berada di rumah sakit, barulah dia merasakan sakit yang teramat sangat


Dokter yang menanganinya, tidak mampu mendiagnosa apa yang sebenarnya terjadi. karena alat-alat yang ada di situ belum lengkap


Maka sebagai alternatifnya, Mahesa Birawa harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, dan peralatannya lengkap

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan pinggangku dokter?" Tanya Mahesa Birawa pada dokter rumah sakit besar yang menanganinya


"Tulang pinggul anda bergeser karena benturan yang sangat kuat sekali!"


"Apakah anda ada barusan terjatuh atau tertimpa sesuatu?" Tanya dokter ahli tersebut penasaran


"Bukan terjatuh atau tertimpa sesuatu, tapi ditendang oleh seseorang dengan kuat, ketika terjadi perkelahian di kampung." Jawab Mahesa Birawa berterus terang


"Jika memang itu yang terjadi, maka anda perlu penanganan khusus, seperti pergi ke ahli tulang untuk operasi, tapi biayanya cukup besar."


"Kalau saya tidak mau operasi, apakah ada alternatif lain dokter?" Tanya Mahesa Birawa ingin tahu


"Ada!. Seperti yang saya katakan tadi, anda bisa pergi ke ahli tulang, atau ke terapis, untuk menarik tulang anda ke posisi semula."


"Bagaimana dengan operasi?. Apakah bisa dijamin bahwa tulang pinggul saya akan kembali normal?"


"Baik terapis atau operasi, tidak di bisa menjamin, 100 persen tulang pinggul anda akan kembali normal seperti semula."


"Namun jika tidak ditangani dua duanya, saya khawatir akan terjadi pembengkakan dalam masa 3 atau 1 minggu kedepan!" Jawab dokter tersebut khawatir


"Jadi apa yang harus saya lakukan dokter?" Ucap Mahesa Birawa muda bertanya


"Saran saya!. Anda harus operasi dalam masa dekat ini. Atau pergi ke terapis untuk mengembalikan posisi tulang pinggul anda ke tempat semula."


"Bukan hanya itu saja, dikawatirkan ginjal Anda terkena akibat tendangan kuat itu."


"Apakah anda merasa mual?" Tanya dokter itu ingin tahu


"Tidak dokter, cuma pusing saja!" Jawab Mahesa Birawa apa adanya


"Baguslah kalau begitu!. Sekarang pinggang anda harus di rontgen." Respon dokter tersebut senang


"Terserah dokter saja!" Jawab Mahesa Birawa pasrah


"Apakah Anda masih bisa berjalan anak muda?" Tanya dokter itu lagi


"Sepertinya pinggang saya semakin sakit dokter, ditambah dengan sendi kaki kanan saya juga sakit." Jawab Mahesh berterus terang


"Kalau begitu anda berbaringlah di sini, agar perawat-perawat rumah sakit ini, bisa membawa anda ke ruang rontgen itu."


"Baik!" Jawab Mahesa Birawa singkat, kemudian naik ke tempat tidur dorong khusus pasien, untuk dibawa ke ruang yang dimaksud


"Perawat!. Tolong bawa tuan ini ke ruang rontgen, dan lakukan prosedur yang benar padanya!" Ucap dokter tersebut memberi perintah


"Baik dokter!" Jawab 2 orang perawat patuh, kemudian membawa Mahesa Birawa ke ruang rontgen tersebut


***


satu setengah jam kemudian, hasil yang diinginkan sudah bisa dilihat


Di dalam plastik film berwarna hitam, terlihat tengkorak pinggang Birawa memang terdapat cidera, yang ditandai dengan warna hitam bercampur sedikit bercak merah transparan, pertanda mengalami pendarahan di areal tersebut


Setelah diteliti dengan seksama, diputuskan bahwa Mahesa Birawa harus dirawat dalam beberapa hari, dan setelah waktunya tepat kemungkinan akan diadakan operasi


Berita tersebut disampaikan kepada kawan-kawan yang tadi membawanya ke tempat itu, termasuk kepada keluarga pamannya


***


Setengah bulan kemudian, Mahesa Birawa sudah diizinkan untuk pulang, tapi masih rawat jalan. Sedangkan tiga orang anak buahnya, hanya membutuhkan perawatan selama 3 hari di rumah sakit lain kota


Selama proses rawat inap itu, 4 orang sahabat karibnya tersebut, terus menjaganya secara bergiliran, dibantu oleh beberapa orang penduduk kampung. karena alasan jaraknya lumayan jauh dari kampung mereka


Sedangkan keluarga pamannya, hanya satu kali datang menjenguk Mahesa Birawa di rumah sakit, apalagi kedua sepupunya itu


Sementara dua keponakannya yang masih kecil, sama sekali belum pernah pergi menjenguk pamannya di rumah sakit tersebut


***


"Kita harus membuat perhitungan dengan juragan Parto, dan ini tidak bisa terus dibiarkan!"


"Semakin hari sikapnya semakin kurang ajar, dan arogan sekali!" Ucap Togar memberi usul pada Mahesa Birawa juga teman temannya yang lain


"Memang apa yang akan kau lakukan pada si Parto itu?"

__ADS_1


__ADS_2