Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
92. Memohon belas kasihan


__ADS_3

Setelah kericuhan di pinggiran desa BS itu mereda, dan orang orang yang mencari gara gara dengan Ivory sudah diamankan, keadaan desa kembali menjadi lengang


Walaupun bulan sedang bersinar dengan terangnya, tapi tak mampu membuat suasana hati Ivory menjadi ceria


Kejadian penyerangan dan pelecehan terhadap Ivory tadi, sedikit banyak membuat hatinya menjadi kesal bercampur marah


Dia datang ke desa ini adalah untuk mengembangkan desa tersebut menjadi desa maju, tapi ada saja orang yang tidak menyukainya, karena berbagai macam alasan dan kepentingan


Itu jugalah yang dialami oleh Ivory beserta orang orangnya. Tapi syukurlah masalah itu sudah selesai, dan tidak sampai merembet ke mana mana, karena orang yang mencoba untuk menggangu nya, telah di singkirkan


***


Kini pagi pun menjelang. Hari ini Ivory berniat akan kembali ke kota B, untuk mendampingi tuan muda Dion, dalam menjalankan bisnisnya yang ada di mana mana


Tepat pukul 10 pagi, Ivory berangkat ke kota B sendirian, setelah memberikan berbagai macam instruksi kepada anak buahnya, termasuk juga 4 orang karyawan yang semalam dibawanya


Keberangkatannya diantar langsung oleh kepala desa, berikut perangkat perangkatnya, dan tak lupa pula Tiger, James, Erisha dan seluruh pengawalnya, beserta 4 orang karyawan perusahaan Birawa Group, juga 95% warga desa itu


Saat ini helikopter super puma yang membawa Ivory, sedang mengangkasa di langit kota S, menuju kota B, tempat dimana tuan muda Dion tinggal


***


"Nenek! Apa yang harus kita lakukan sekarang?, seluruh harta benda kita telah disita, sementara kita sekarang, sudah menjadi gembel dan pengemis jalanan, sama seperti yang disumpahkan oleh Dion dulu."


"Apakah sebaiknya kita menemui Dion, dan meminta maaf padanya sambil berlutut, agar dia mau membantu kita, mendapatkan pekerjaan atau setidak tidaknya, memberikan kita modal, agar kita bisa membuka usaha walaupun kecil kecilan." Ucap Jasmine memecah suasana muram, di bangunan tua yang terbengkalai milik warga sekitar


"Nenek juga bingung apa yang harus dilakukan. Dion benar benar marah kepada kita." Jawab Nenek Wolf putus asa, diam sejenak, kemudian melanjutkan berkata


"Apakah kau tidak ingat! ketika terakhir kali kita bertemu dengannya, pandangan mata nya, menyiratkan dendam yang begitu dalam. Nenek rasa, dia tidak akan mudah melupakan perlakuan kita terhadap nya selama setahun lebih itu." Sambung nenek Wolf lagi semakin tidak yakin


"Tapi nek!. Kita kan belum mencobanya dengan bersungguh sungguh. Waktu terakhir kali kita bertemu, Aku benar benar tidak menyangka, bahwa Dion sekarang ini, telah menjelma menjadi orang yang super kaya, bahkan kekayaannya mungkin mengalahkan seluruh orang kaya yang ada di negara ini." Jawab Jasmine masih saja ngotot, meyakinkan neneknya untuk meminta maaf pada Dion


"Aku juga setuju nek dengan apa yang dikatakan oleh Jasmine itu, kita sebaiknya mendatangi Dion, dan meminta maaf padanya dengan bersungguh-sungguh, agar dia mau memaafkan kita, dan memberikan pada kita modal usaha, untuk membuka perusahaan atau warung kecil kecilan bu!" Ucap Everly mendukung usul dari anaknya, Jasmine


"Saran kalian berdua itu, memang kedengarannya sangat bagus, tapi itu hanya sekedar saran, karena nenek tidak yakin, apakah Dion mau memaafkan kita atau tidak?. mengingat apa yang telah kita lakukan padanya selama ini, itu memang benar benar sangat keterlaluan!" Jawab nenek Wolf tidak yakin dan terkesan putus asa


Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke arah Danish, Brian dan Chalista, lalu berkata..


"Bagaimana denganmu Danish, Chalista dan Brian, Apakah kalian setuju, kalau kita meminta maaf pada Dion dengan bersungguh sungguh?" Ujarnya meminta dukungan pada mereka

__ADS_1


"Lista tidak tahu apa apa nek, apa yang harus dilakukan lagi, karena Lista merasa, selama ini pun banyak menghina Dion, tentu saja dia masih mengingat apa saja yang kita perbuat terhadapnya selama itu." Ucap Lista memberi saran, tapi bukan sebuah pemecahan masalah


"Begitu juga denganku nek!. Selama ini, aku menganggap sebagai orang kaya yang berkuasa, maka ketika bertemu dengannya di manapun, aku selalu menghina Dion, tapi tidak kusangka, ternyata Dion itu lebih kaya daripada aku!" Ucap Brian malu malu sambil menunduk


"Lalu bagaimana dengan mu Danish?" Tanya nenek Wolf kepadanya


"Aku terserah kalian saja, kalau kalian mendatangi Dion untuk meminta maaf, ya aku ikut saja, dan dengan tulus meminta maaf dari si Dion itu." Jawab Danish apa adanya


"Oke kalau begitu!. Kita cari informasi, di mana Dion saat ini tinggal, agar kita bisa mendatangi rumahnya, untuk meminta maaf pada Dion, juga keperluan yang lain." Ucap nenek Wolf mengakhiri pembicaraan anak beranak tersebut, yang tidak pasti, tapi nenek Wolf sangat yakin sekali


***


Kota Golden City, pukul 2.20 sore


"Maaf tuan muda, jika mengganggu istirahat siangnya." Ucap Hans sambil membungkuk


"Ada apa Hans, hingga terburu buru seperti ini?. Apakah ada masalah gawat yang terjadi?" Tanya Dion keheranan


"Bukan apa-apa tuan, cuma masalah kecil saja. Diluar ada beberapa orang yang memaksa ingin bertemu dengan tuan, walau sudah dilarang, tapi mereka tetap memaksa untuk bertemu dengan tuan muda." Jawab Hans tidak enak hati


"Apakah kau tahu siapa mereka?"


"Hemm! Ada urusan apa mereka ingin menemui ku, sehingga memaksakan kehendaknya untuk masuk?"


"Kami tidak tahu tuan muda, mereka hanya mengatakan, ingin bertemu dengan tuan muda saja, tanpa mau mengatakan yang lain."


"Baiklah!. Kebetulan aku sedang tidak sibuk saat ini, dan mempunyai waktu senggang yang cukup banyak. Aku akan menemui mereka!" Ucap Dion penuh wibawa


"Baik tuan muda!" Jawab Hans lagi sambil menunduk


Begitu sudah sampai di luar, dari arah kejauhan, atau tepatnya di depan pintu villa mewah itu, Dion bisa melihat, siapa orang yang ingin menemuinya sejak tadi


Keningnya sempat berkerut, karena memikirkan apa tujuan mereka datang menemuinya. Tapi walaupun demikian, Dion tetap mendekati mereka


Begitu Dion sudah dekat dengan mereka. tiba tiba saja orang yang ingin menemuinya, menjatuhkan lututnya ke tanah, sambil menempelkan keningnya di aspal jalan, menuju ke villa Dion


Dari balik gerbang villa yang tertutup rapat, juga ukurannya yang sangat besar itu, Dion bisa melihat kelakuan mereka, tapi dia tetap diam saja, tidak terkejut ataupun bereaksi apapun


Sementara 6 orang yang saat ini sedang berlutut di aspal itu, menunggu dengan harap harap cemas, apa yang akan dikatakan oleh Dion

__ADS_1


Tapi setelah ditunggu selama 1 menit, tidak tidak ada reaksi apa pun, maka nenek Wolf, mengangkat tubuhnya, tapi masih tetap bersimpuh di tanah, lalu berkata." Nenek atas nama keluarga kakek Wolf, dengan tulus meminta maaf kepada anak Dion, atas sikap kami yang kurang baik selama setahun lebih itu" Ujar nya sehiba mungkin, tapi..


"Langsung saja pada intinya, jangan bertele tele seperti itu!. Apa maksud kedatangan kalian ke sini?" Ucap Dion memotong perkataan dari nenek Wolf dengan sikap angkuh


Nenek Wolf benar benar terkejut, apalagi yang lainnya. Mereka tidak menyangka, bahwa Dion akan bersikap angkuh seperti itu pada mereka, berbeda sekali ketika dulu dia masih berada di bawah kaki mereka


Tapi saat ini, keenamnya tidak bisa berbuat apa apa terhadap Dion, karena sekarang Dion bukanlah orang sembarangan, sedikit saja dia tersinggung, maka mereka bisa celaka


Nenek Wolf yang sudah menguasai keterkejutannya itu, menjawab pertanyaan Dion dengan ucapan lemah lembut


"Kami datang ke sini yang pertama adalah, untuk meminta maaf, yang kedua adalah, untuk meminta bantuanmu Dion, agar anak Dion mau memberikan sedikit modal kepada kami, untuk membuka usaha kecil kecilan."


"Apakah kau tidak malu dengan ucapan mu itu nenek Wolf?, dan apakah kau tidak sadar, perbuatanmu itu, telah merendahkan harga diri mu juga yang lain?" Jawab Dion dengan muka memerah


"Dulu kalian begitu angkuh dan sombong, karena kekayaan kalian yang tidak seberapa itu, tapi sekarang apa?"


"Aku yang kalian katakan, badjingan, pecundang, benalu, pengangguran dan sampah tidak berguna ini, sekarang kalian agung agungkan, hingga rela berlutut di aspal yang panas seperti itu!" Ucap Dion berapi api sambil menahan marah


"Kami tahu kesalahan kami anak Dion!. Kami datang ke sini karena ingin mendapat kata maafmu" Ucap nenek Wolf penuh dengan penyesalan


"Aku tidak peduli dengan nasib kalian!. Sekarang lebih baik kalian pergi!, sebelum orang orang ku menyeret kalian, dan membuangnya di selokan!" Ucap Dion sambil memalingkan wajahnya


"Berilah kami kesempatan anak Dion!, agar kami bisa memperbaiki diri. Tolong jangan dendam lagi kepada kami. kami sudah mengalami hari hari buruk dan kelam, dengan mengemis dan memungut sisa sisa makanan sampah, yang dibuang oleh orang orang di jalanan." Sambung nenek Wolf sambil menangis, agar Dion jatuh hiba padanya


"Itu urusan kalian, bukan urusanku!" Jawab Dion cuek


"Dion! eh bukan tuan muda!. Mohon ampuni kami, yang selama ini bersikap arogan dan sombong kepada tuan. Hari ini, kami benar benar menyadari, bahwa diatas langit masih ada langit lagi"


"Tuan muda adalah orang kaya, dengan memiliki vila bak istana itu, kami jadi sadar, siapa tuan muda sekarang"


"Oleh karena itu, tolong ampuni kami tuan muda, dan beri kami kesempatan sekali lagi, untuk memperbaiki diri." Ucap Brian sedih, sambil membentur benturkan kepalanya ke aspal, diikuti oleh Jasmine juga yang lainnya, hingga kening mereka sedikit berdarah


"Kalian pikir hatiku akan tersentuh, tidak akan!. Walau menangis darah sekalipun, aku tidak peduli, dan sampai kapanpun, tidak akan pernah memperdulikan kalian lagi!" Jawab Dion marah sekali


"Hans! lakukan tugasmu!" Ucap Dion garang


"Baik tuan muda!" Jawab Hans cepat, dan segera memerintahkan anak buahnya, untuk mengusir nenek Wolf, dan keluarganya dengan cara menyeret dan memaksa. Tak lama kemudian


"Dion!"

__ADS_1


__ADS_2