Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Dasar Iblis


__ADS_3

"Ya, saya mengerti dan memaklumi tindakan anda pada mereka!" Jawab Philippe atau Philip pasrah


"Tapi mohon anda tidak menyiksa keluarga saya. Kasihan Clara masih kecil, dan Adeline sedang mengandung anak ku dua bulan." Ucap philip meminta belas kasihan


"Aku takut dia stres, dan mengakibatkan kandungannya bermasalah"


"Jadi mohon anda tidak mengintimidasinya lagi." Ucapnya lagi


"Anda tenang saja!. Kami bukan orang yang tidak beradab!"


"Istri dan anak anda tidak akan kami apa apakan, karena kami hanya ingin memastikan apa yang kami dengar tadi itu benar!"


"Setelah ada keputusan dari tuan besar kami. Maka kami akan melepaskan keluarga anda sesegera mungkin." Jawab Hartanta memberi harapan


"Tolong sampaikan salam maaf kami pada tuan besar anda!"


"Sungguh saya sangat menyesal, karena tidak bisa mendidik keluarga sendiri seperti layaknya." Respon Philip penuh harap dan menyesal


"Baiklah!. Permohonan anda akan kami sampaikan pada tuan besar kami."


"Semoga masalah ini tidak berlarut larut!"


"Satu hal yang perlu anda ketahui!, tuan besar Dion, bukanlah orang yang mudah untuk diprovokasi."


"A katanya, adalah A bagi kami juga."


"Jadi tuan Philip harap bisa memaklumi keputusannya."


"Dan kebetulan, barusan kami dapat kabar, bahwa tuan besar memutuskan untuk memperpanjang masa penahanan keluarga anda menjadi lima hari."


"Itupun setelah berkordinasi dengan pihak kedutaan anda, maka duta besar kalian menyetujui perpanjangan masa penahan nyonya Adeline dan nona Clara"


"Jadi mohon kerjasamanya dari anda."


"Setelah lima hari, mereka pasti akan dibebaskan, dan bisa kembali ke negara asal."


"Tapi satu hal lagi yang harus anda ketahui tuan Philip!, bahwa istri dan anak anda, tidak akan lagi diizinkan masuk ke negara ini sampai kapan pun!" Ucap Hartanta memberi penegasan pernyataannya


"Baiklah tuan Tanta!. Kami menerima keputusan ini!" Jawab Philip pasrah. Kemudian meninggalkan tempat itu, untuk berkordinasi dengan bawahannya


***


Desa Argomulyo sehari sebelum kejadian


"Ternyata musuh besar ayah ku itu masih kecil. lebih muda daripada usiaku." Ucap Dragon sambil mangut mangut sendirian, di ruang latihan pribadinya


"Tapi orang yang ada di sebelahnya itu, kelihatan sangat licik, tapi mudah luluh karena tekanan kuat terhadap keluarganya."


"Aku harap keduanya bisa ditemukan oleh anak buah ayah secepatnya." Ucapnya lirih pada diri sendiri.


Sejak berguru dan berlatih di perguruan Wahyu taqwa, apalagi setelah mendapatkan warisannya. Draco menjadi sangat sensitif sekali, terhadap hal hal yang bersifat metafisik di sekitarnya, juga di tempat tempat lain yang jaraknya lumayan jauh


Kekuatannya itu, berasal dari Warisan turun temurun yang didapatkannya, yang berasal dari leluhurnya ratusan tahun yang lalu, yaitu ilmu Wahyu taqwa


Wahyu taqwa itu sendiri, diciptakan oleh seorang pangeran pada masanya, yang akhirnya menjadi raja dan waliyullah sekaligus pada zamannya pula


Dengan ilmu itu, Draco bisa melihat hal hal ghaib yang ada di depannya bila dia kehendaki


Tapi walau demikian, bila ada ancaman serius yang bakal menimpa keluarganya, maka dia bisa mengetahui sehari sebelumnya dengan jelas


Seperti hari ini, saat dia sedang latihan, tiba tiba Draco melihat dengan sangat jelas, bayangan hitam dan merah sedang berdiri di atas atap bangunan, yang di belakangnya berdiri seorang laki laki gagah perkasa tanpa warna


Beberapa hari sebelumnya, dia juga sudah pernah melihat tiga bayangan tersebut saat sedang bersemedi dalam sikap Lotus nya


Tapi kali ini bayangan itu menjadi semakin jelas dan terlihat wajah aslinya


Satu sudah dewasa, satunya lagi masih muda dan sepantaran dengannya. Sementara laki laki dibelakang mereka, kisaran 40 tahunan atau lebih


Setelah memastikan apa yang dilihat dan dirasakannya itu benar, Dragon langsung menghubungi ayahnya melalui saluran telepon


Selain itu, dia juga menghubungi Abhicandra master sekaligus dewa metafisika gelarnya, tentang permasalahan itu


"Beruntung aku sudah menghubungi ayahku tentang akan adanya ancaman tersebut."


"Jika tidak ditangani dengan baik, aku khawatir ancaman itu akan menjadi kenyataan di kemudian hari."


"Semoga melalui orang orangnya, mereka bisa menemukan sosok orang yang yang bakal menjadi ancaman serius itu." Batinnya pula dalam hati

__ADS_1


Setelah berkata dan membatin seperti itu, Dragon memutuskan untuk keluar dan melihat lihat keadaan perguruan nya


Didampingi oleh Leon, serta belasan pengawalnya. Draco berkeliling komplek perguruan, melihat murid murid perguruan silatnya sedang latihan


Hampir satu jam dia berkeliling, tapi seluruh bangunan perguruan belum seluruhnya dia kunjungi sangking luasnya


Hal itu disebabkan, setiap sampai ke balai dan tempat latihan, Draco memutuskan, untuk melihat kawan kawannya latihan berbagai jenis teknik, jurus dan keterampilan lainnya


Setelah puas, dia mengajak Leon dan para pengawalnya untuk melihat tempat lain


Tapi saat dia sedang asik berjalan, Dragon bertemu dengan James, Shio Lung dan Erisha


Kebetulan mereka akan menemui tuan mudanya, untuk izin pamit buat sementara, kembali ke kota Golden City


Di tengah jalan, mereka malah bertemu dengan tuan mudanya tersebut


"Paman dan bibi sekalian!. Ada apa buru buru seperti ini?" Tanya dragon mendahului menyapa mereka


"Salam tuan muda!. Kebetulan kami ingin menemui anda untuk melapor!" Jawab James dengan sikap sopan nya itu


"Melapor untuk apa paman?. Tidak seperti biasanya?" Reaksi Dragon penasaran


"Kami bertiga ingin kembali ke kota emas, untuk melaporkan perkembangan pembangunan perguruan dan pasilitas pendukung lainnya pada ayah tuan muda." Jawab James berterus terang


"Kalau begitu sangat kebetulan sekali. Aku juga ingin pulang mengunjungi mereka." Respon Dragon senang


"Tapi sebaiknya sebelum kita pulang, informasikan dulu pada guru besar, karena dialah penanggung jawab perguruan ini hingga aku dewasa nanti!" Ucap dragon memberi usul. Kemudian mengalihkan pandangannya ketempat lain


"Ah pucuk dicinta ulam pun tiba. Itu guru besar tuan muda!. Kebetulan dia juga sedang menuju kemari !" Ucap James senang


"Paman benar!" Respon Dragon juga senang, Lalu memutuskan untuk menunggu kedatangan guru pembimbingnya di tempat dia berdiri tersebut


Tak lama kemudian, guru besar gentala pun tiba, dan langsung menyapa Dragon dengan sikap sopan nya itu


"Salam ketua muda!" Ucapnya ramah


"Terima kasih kek! dan tidak perlu sungkan seperti itu" Reaksi Dragon tidak enak hati


"Kebetulan kakek sudah datang. sekalian melaporkan saja inti masalahnya."


"Mereka bertiga ini ingin pamit buat sementara, karena ada keperluan di kota emas milik ayah ku."


"Jadi untuk sementara, perguruan ini draco titipkan pada pengawasan kakek."


"Setelah tahun baru usai, Draco akan kembali secepatnya." Ucap Dragon sudah sangat jelas


"Baiklah ketua muda!. Kakek akan menjalankan perguruan ini mewakili ketua."


"Percayakan semuanya pada kakek."


"Terima kasih atas kesediaan kakek dan pengertiannya."


"Sekarang Draco akan menghubungi ayah, agar bisa mengirimkan helikopter untuk menjemput kami." Ucapnya lega


"Paman Leon!. Hubungi anak buah paman yang lain, sebagiannya harus kembali dengan menggunakan jalan darat."


"Sementara dua belas sisanya yang ada di sini, akan ikut dengan ku menggunakan super puma milik perusahaan."


"Segera kerjakan paman!" Ucap Dragon memberi perintah


"Baik tuan muda!" Jawab Leon patuh


Dua jam kemudian, sebuah helikopter besar terlihat melayang di atas langit perguruan Wahyu taqwa, dengan satu pilot dan ko pilotnya


Tak lama kemudian, helikopter tersebut mendarat tepat di halaman istana milik dragon yang cukup luas itu, dan tidak mempengaruhi keadaan sekitarnya


Setelah berpamitan, Dion dan rombongannya segera memasuki helikopter tersebut dengan langkah tenang


Beberapa saat setelah itu pesawat heli itu mengudara di langit desa Argomulyo dengan suara khasnya yang memekakkan telinga


***


Sementara itu, perwakilan kamar dagang dan industri Eropa dan Asia, Philippe Zon, nama lengkapnya, terlihat sedang mengunjungi istri dan anaknya di kamar khusus tahanan hotel bintang lima itu


"Suami ku!. Kenapa kau menyetujui persyaratan mereka?"


"Bukankan kami tidak bersalah?. Kami hanya melampiaskan uneg uneg saja dan tidak melakukan apa apa?" Ucap Adeline sesaat suaminya masuk ke ruang tahanannya

__ADS_1


"Rossie!. Kau sadarlah! Ucapan mu itu, sudah bisa dijadikan bukti atas kesalahan mu!"


"Begitu juga dengan gadis cantik ini!" Jawab Philippe kesal


"Tapi tetap saja kami yang akan menderita pa!. Apakah kau tidak kasihan, melihat putri kecil mu itu, meringkuk kedinginan di sana?" Respon Adeline memulai sandiwaranya


"Ini bukan ruang tahanan ma, tapi sudah termasuk kamar mewah!. Bagaimana bisa kau katakan gadis kecil ku meringkuk kedinginan?"


"Seharusnya kau bersyukur karena mereka memperlakukan mu dengan baik!"


"Kalau di negara kita, entah apa yang akan petugas di sana lakukan terhadap pesakitan seperti kalian ini!"


"Jadi tolong jangan mengeluh lagi. Nikmati masa hukuman ini, untuk merenung atas kesalahan yang telah kalian perbuat itu."


"Hanya tinggal empat hari lagi masa hukuman kalian akan berakhir. dan kita sudah bisa kembali ke negara kita dengan aman."


"Lupakan segala macam dendam, karena itu tidak baik untuk kesehatan."


"Tidak bisa!. Apapun yang terjadi, Rara tetap akan membunuh Dion badjingan itu!" Jawab Clara tiba tiba


Glek!


Philip menelan ludahnya sendiri karena bergidik ngeri, mendengar anak sambungnya berkata seperti itu


Dia tidak menyangka bahwa niat jahat yang sudah ditanam oleh Adeline istrinya itu, telah menjadi berurat berakar di hati Clara sampai sedalam itu


"Papa dengar!. Anak ku telah bertekad, tetap akan melaksanakan niatnya, dan tidak perduli apapun yang akan terjadi!" Respon Adeline mengingatkan suaminya itu


"Itu semua gara gara mama, yang telah merecoki otak anak sekecil itu, dengan ceritamu yang dibuat buat."


"Jika tidak, mana mungkin dia bisa bersikap seperti itu sekarang!"


"Anak seusia Rara, biasanya masih senang bermain main. Tapi kau memaksanya dengan belajar menembak, dan membunuh binatang apa saja untuk latihan!"


"Itu semua tidak baik ma!. Jadi segeralah bertobat dan lupakan dendam itu sebelum terlambat!"


"Rara tidak mau!. Kau bukan papa ku!. Papa Rara adalah papa Tommy!" Pekik Rara kuat kuat


"Clara!" Teriak Adeline terkejut


"Kenapa?. Mama tidak terima kalau Rara tidak mengakui bahwa suami mama ini papa Rara. Begitu?" Teriak Rara balik


"Bukan seperti itu juga anak ku!. Walau dia bukan ayah kandung Rara, tapi dia itu suami mama tahu!"


"Dia yang telah menolong kita ketika kita susah dulu. Apakah kau tidak ingat itu Rara?"


"Tidak tahu dan tidak mau tahu !" Jawab Clara masih juga bersikap kasar walau pada ibunya sendiri


"Tenanglah anak ku!. Kalau pun mau membalas dendam, itu masih lama juga!"


"Tapi kau harus ingat!. Kalian berdua sudah tidak diizinkan masuk ke negara ini lagi sampai kapan pun, dan itu sudah di setujui oleh perwakilan negara kita!"


"Jadi kau tidak akan bisa melaksanakan dendam mu sampai kapanpun!" Ucap Philippe berterus terang


"Benarkah apa yang papa katakan itu?" Tanya Adeline penasaran


"Benar ma, dan ini surat perjanjiannya." Jawab Philippe apa adanya, sambil menyodorkan surat perjanjian tersebut pada istrinya


"Setelah masa hukuman kalian habis, kalian akan dideportasi dari negara ini, dengan pengawalan ketat."


"Kurang ajar!" Respon Adeline marah


"Sudahlah ma!. Kau lihat sendiri bagaimana kuatnya para pengawal tuan itu!"


"Sepuluh anak buah ku saja, yang katanya kuat kuat tersebut, tidak berdaya, ketika berhadapan dengan satu orang pengawal tuan itu."


"Menurut kabar yang ku dengar dari tuan Hartanta, jumlah pengawalnya saja sekitar lima belas ribu orang atau lebih!"


"Terdiri dari berbagai macam tingkatan dan keahlian. Di bawah komando para ahli yang berjuluk dewa dari macam macam keahliannya masing masing!"


"Baru Hartanta seorang, anak buah ku dibuat tidak berdaya, apalagi jika berhadapan dengan para panglimanya!"


"Menurut ceritanya, tuan Hartanta itu baru menduduki posisi komandan elit menengah puncak."


"Bagaimana dengan komandan tinggi dan pengawal utama lainnya?"


"Membayangkannya saja papa sudah ngeri ma, apalagi melawannya!" Ucap Philippe sambil bergidik ngeri

__ADS_1


"Tidak mau tahu!. Rara tetap akan membunuh badjingan Dion itu!" Teriak Clara kuat kuat


"Huh dasar iblis!" Batin philippe dalam hati


__ADS_2