Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Rencana berhasil


__ADS_3

Tommy sudah benar benar gelap mata. Dia tidak peduli, apakah akan mencelakakan temannya atau tidak. Yang penting, dia bisa membalaskan dendam dan sakit hati nya pada Mona


Mona yang sudah menjadi target, saat itu masih terlena, dan belum menyadari, bahwa bahaya besar, sebentar lagi akan menghampirinya, juga teman temannya yang lain itu


Mona menjadi terlihat seperti itu, karena Tommy telah melamarnya di hadapan teman temannya yang lain, apalagi cincin yang diberikan kepadanya itu, merupakan cincin emas berbalut permata, yang tentu saja harganya sangat mahal


Sebagai seorang wanita, tentu saja dia senang, ketika dilamar dengan cincin tersebut. ditambah lagi, Tommy merupakan anak orang kaya, dan pewaris satu satunya dalam keluarga


Walaupun sebelum dilamar itu, telah terjadi percekcokan besar, yang hampir menjurus pada permusuhan abadi antara mereka. Tapi karena ditengahi oleh Riska sahabatnya itu, pertengkaran tersebut terhenti dengan sendirinya


Walau di hati Tommy dan Mona masing masing, masih menyimpan bara api dendam, tapi bara itu langsung padam, hanya karena rayuan maut dari Tommy, dengan sengaja melamar Mona, di hadapan teman temannya itu


Kini sudah satu setengah jam lebih, mereka berada di ruangan tersebut, mata mereka semakin lama semakin mengantuk, mungkin karena kekenyangan, sampai beberapa orang temannya, sudah tertidur, tanpa mampu dicegah lagi


Satu persatu dari teman teman Tommy tersebut, terkulai di sofa, di lantai, dan kepala di atas meja, tempat mereka makan itu


Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?


Ternyata tanpa mereka sadari, mereka telah meminum sejenis obat tidur cair, yang reaksinya cukup lama, dicampurkan dengan minuman segar hasil impor tersebut, dengan cara menyuntikkan cairan obat tidur itu, ke dalam botol minuman mereka masing masing


Sementara Tommy dengan cerdiknya, mengambil botol yang tidak dimasukkan obat tidur, dan dengan meyakinkan, meminumnya bersama dengan yang lain, sehingga dia tidak terkena pengaruh dari obat tidur tersebut


"Sekarang rasakan pembalasan ku Mona!. Kau sendiri yang telah memprovokasi ku, dan kau juga yang harus menanggung akibatnya!" Ucap Tommy sambil menyeringai penuh kelicikan


"Tapi tunggu dulu!, disini ada 6 orang gadis, yang semuanya lumayan cantik cantik, terutama Mona ini. Tubuhnya yang aduhai, dan bibirnya yang sangat menantang itu, membuatku sangat bergairah. Ini bisa gawat!" Monolog Tommy dalam hati, ketika dia melihat targetnya terkulai lemah di atas sofa, dengan kaki menjuntai ke bawah, dan sedikit terbuka


Di sampingnya terbaring Riska, yang juga terkulai lemah tidak sadarkan diri. Perlahan Tommy mendekati Mona dan Riska, kemudian mengamati tubuh mereka satu persatu


Jantungnya bergemuruh kencang, tidak mampu menahan keinginan yang meledak ledak itu, tapi sebisa mungkin ditahannya


Namun beberapa saat kemudian, tangan Tommy mencoba menyentuh pipi Mona, dan membelainya secara perlahan, begitu juga pada Riska, dia juga memperlakukan Riska dengan perlakuan yang tidak sepantasnya


Empat gadis lainnya, tidak luput dari kejahatan Tommy. Keempatnya juga mendapat perlakuan yang sama


"Aku sangat beruntung melihat pemandangan ini. Tidak kusangka, rencanaku akan berjalan mulus, dan tidak ada hambatan sama sekali. Saat ini juga, kalau aku mau, aku bisa memiliki kalian berenam, dan terutama kau Mona!" Gumannya lirih pada diri sendiri, kemudian berusaha memotret mereka


"Siapa suruh kau membangunkan harimau yang sedang tidur." Ucap Tommy sambil tersenyum


"Benar apa yang kau katakan itu Mona!. Aku adalah monster, dan monster itu, sekarang yang akan memakan mu disini!" Ucapnya pada diri sendiri, sambil mulutnya mendesis seperti ular, dan kepalanya meliuk ke kanan dan ke kiri


Lalu, satu persatu kancing baju pakaian yang dipakai oleh teman teman Mona, bagian atasnya telah terbuka, dan memperlihatkan pemandangan yang sangat fantastis sekali di hadapan Tommy, walau masih terhalang oleh **********


Tapi ketika tiba giliran Mona, tangan Tomny gemetar, padahal dia sudah melakukan itu, pada kelima teman temannya yang lain. Semua baju baju atasan mereka, telah terbuka, walaupun hanya sebahagian nya saja


Entah mengapa, tangannya tidak mampu melakukan perbuatan itu. Semakin lama semakin gemetar, mungkin karena dia teringat akan ancaman Mona tadi, bahwa jika dia macam macam, maka Mona tidak akan segan segan lagi untuk menghabisinya


Tapi setan hati lebih kuat dari ketakutannya tersebut. Dengan perlahan, tangan Tommy terulur ke bros baju Mona, yang cuma ada satu, dan berusaha melepaskannya

__ADS_1


Namun sebelum aksinya itu terlaksana, Mona sedikit sadar dari pengaruh obat bius tersebut, dan efeknya sudah sedikit berkurang. Dengan kondisi lemah, Mona mengerjap ngerjapkan matanya, dan berusaha melihat ke sekeliling, tapi dia tidak melihat siapa siapa didepannya


Semua teman temannya sedang terbaring di lantai, di atas sofa, di atas meja, termasuk juga Tommy, si pelaku kejahatan tersebut


Sebelumnya, begitu tommy melihat Mona menggerakkan tangannya, dia cepat cepat menjauh dari tempat Mona, kemudian merebahkan tubuhnya sendiri di sudut ruangan, dan seolah olah dia juga terkena pengaruh obat bius tersebut


Dari mulutnya, mengalir sejenis minuman berbusa, sehingga kalau diperiksa, maka kondisi Tommy jauh lebih parah dari teman temannya itu


"Apa yang terjadi?. Kenapa aku bisa terbaring seperti ini, dan siapa yang telah melakukannya?" Ucap Mona keheranan, kemudian memijit kepalanya karena pusing


"Kenapa semua pakaian teman temanku terbuka atasnya?. Kurang ajar!, siapa yang melakukan ini!" Ucapnya sambil berusaha bangun dari sofa tersebut, walau masih dalam keadaan lemah


Mona mengedarkan pandangannya ke ruangan yang lumayan luas itu. Di situ dia mendapati, semua teman temannya sedang tergeletak tidak berdaya, kemudian matanya tertuju kepada tubuh Tommy, yang sedang berbaring tengkurap di sudut ruangan, dengan mulut mengeluarkan busa


"Apa yang terjadi?. Kenapa kami semua bisa seperti ini. Apakah ini perbuatan Tommy?. Tapi kalau Tommy yang melakukannya, kenapa kondisinya separah itu?" Monolog Mona pada diri sendiri, kemudian mengedarkan pandangannya pada kelima temannya itu


"Ini tidak boleh jadi!. Jika mereka bangun, maka mereka bisa melihat kondisi tubuh temanku yang terbuka separuh itu!" Sambungnya lagi


"Riska! Riska! Sadarlah. Cepat bangun!" Ucap Mona, sambil menggoncangkan tubuh Riska kuat kuat


"Apa yang terjadi?. Kenapa kondisi kita seperti ini?" Tanya Riska panik, sesaat setelah dia bangun, dan terlepas dari pengaruh obat bius


Dia berusaha duduk, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Sama seperti Mona tadi, Riska juga menemukan, semua tubuh teman temannya sedang terkulai lemah


"Mona! siapa yang melakukan ini?" Tanya Riska panik, sambil membetulkan baju atasannya tersebut


"Aku juga tidak tahu!, begitu aku bangun, kondisi tubuh kalian sudah seperti itu!" Jawab Mona juga heran


"Justru itu yang aku heran kan. Pakaian bagian atas kalian, semua sudah terbuka, seperti sengaja dibuka oleh seseorang. Tadi begitu aku bangun, aku melihat, pakaianku masih utuh, hanya sedikit bergeser saja." Jawab Mona apa adanya


"Apakah ini perbuatan Tommy, atau orang lain?" Tanya Riska lagi


"Tidak mungkin!. Kalau ini perbuatan Tommy, kenapa dia bisa terbaring seperti itu. Coba kau lihat, dari mulutnya keluar busa, mungkin dia keracunan." Ucap Mona membantah pernyataan Riska tadi, tapi tidak menunjukkan, dimana tubuh Tommy yang sedang terbaring itu


"Ah masa bodoh!. Cepat kau bangunkan teman teman kita yang lain, dan suruh mereka.."


Belum sempat Mona menyelesaikan kata katanya itu, Raymond mulai menggerakkan badan, dan hampir mengerjapkan matanya


Bergegas Mona dan Riska, menutup kembali pakaian keempat temannya yang tadi sempat terbuka


"Apa yang sedang kalian lakukan! Kenapa kalian berbuat seperti itu, dan apa yang terjadi?" Tanya Raymond keheranan


"Nanti saja aku jelaskan!. Sekarang palingkan wajahmu, dan jangan melihat ke sini! Hardik Riska tidak senang


"Semua pakaian teman teman kita sudah terkancing kembali. dan kau Raymond, bangunkan teman teman mu itu." Perintah Riska cepat


"Kepalaku pusing, dan badanku sangat lemas. Aku belum mampu berdiri." Bantah Raymond menolak perintah dari Riska tersebut

__ADS_1


"Cepat minta bantuan kepada pengelola restoran ini, dan laporkan, apa yang terjadi disini!" Ucap Mona pada Riska


"Tidak mungkin, karena ruang yang dipesan ini adalah ruang pribadi, sebelum pemesannya keluar, mereka tidak akan mau ikut campur, kecuali kalau kita yang menginginkannya." Jawab Riska menolak


"Itulah maksudku. Sekarang cepatlah bangun. Aku takut akan terjadi masalah, karena kita berada di sini sudah cukup lama." Jawab Mona khawatir


"Dimana Tommy?" Tanya Riska seperti linglung, padahal tadi dia seperti sudah melihatnya


"Itu di sudut ruangan! Cepat kau periksa dia!"


"Kenapa aku?. Badanku lemas. Bukankah kau kekasihnya sekarang?" Bantah Riska tidak senang


Mendapat penolakan seperti itu, dengan menguatkan diri, Mona berjalan dengan tertatih tatih, mendekati tubuh Tommy, yang masih terbaring di lantai itu, kemudian dengan panik, berusaha membangunkannya secara perlahan


"Tom! Tommy!. Cepat bangun! bangun Tom!" Teriak Mona khawatir, tapi Tommy tetap tidak bangun juga


Mona kemudian mengalihkan pandangannya kearah Raymond, yang saat itu sudah bisa berdiri, walau masih sempoyongan


"Mon, cepat ke sini!. Coba lihat apa yang terjadi pada si Tommy ini?" Ujarnya dengan wajah yang benar benar khawatir


"Dan kau Riska!. Cepat bangunkan teman teman kita yang lain. Percikkan air di wajah mereka, kalau tidak bangun juga, minumkan air putih pada mereka


Riska dengan menguat nguatkan tubuhnya, berusaha membangunkan teman teman perempuannya, dengan memercikkan air ke wajah mereka, yang kebetulan air putih tersebut, tidak jauh dari tempat mereka terbaring itu


Sesaat setelah wajah mereka di percikkan air, spontan mereka tersadar, tapi masih dalam keadaan linglung, kemudian Riska mendekati teman teman prianya


Dengan cara yang sama, Riska juga memercikkan air ke wajah mereka, dan beberapa saat kemudian, mereka pun terbangun


Tommy yang kondisinya terlihat paling parah, sampai saat ini belum terbangun juga. Pandai benar dia memainkan peran sandiwaranya tersebut


Mona merasa sangat khawatir sekali, melihat kondisi Tommy yang seperti itu, kemudian dengan perlahan, Mona membelai wajah Tommy dengan kasih sayang, dan memberikan dia minum air putih


Air dingin yang mengalir di tenggorokannya, membuat Tommy tersedak, dan pura pura tersadar dari pingsannya, kemudian dia berakting pura pura linglung, sambil mengerjap ngerjapkan matanya, seperti orang yang baru sadar dari pingsannya


Dibantu oleh Raymond dan Riska, Tommy mencoba duduk, dan bersandar pada tembok yang ada di belakangnya, kemudian dengan nanar dia menatap ke seluruh ruangan tersebut, dan melihat semua teman temannya sudah terbangun, walau masih dalam keadaan lemah


"Apa yang terjadi?. Kenapa kita bisa seperti ini?. Siapa yang melakukannya?" Tanya Tommy berakting pura pura panik


"Kami juga tidak tahu Tom, mungkin Mona bisa menjelaskannya, karena dia yang pertama kali terbangun." Jawab Riska


"Aku juga tidak begitu mengerti. Begitu aku sadar tadi, lamat lamat aku melihat, seperti ada seseorang yang sedang menatapku, tapi aku tidak tahu, entah siapa."


"Setelah mataku benar benar terbuka, aku melihat tidak ada siapapun disitu, dan aku melihat Tommy sedang tengkurap di sudut ruangan, dari mulutnya keluar busa."


"Ini benar benar aneh!. Siapa yang telah melakukan ini?" Batin Riska penasaran


"Di ruangan ini cuma ada kami, orang lain tidak akan berani masuk. Sudah pasti, salah satu dari mereka, yang telah melakukan perbuatan tidak terpuji ini."

__ADS_1


"Ini tidak bisa dibiarkan!. Aku harus menghubungi pihak pengelola."


"Setelah semua teman temanku mampu berjalan, dan keluar dari ruangan ini, Aku akan menyelidikinya. Entah kenapa, aku menduga, ini semua perbuatan Tommy." monolognya dalam hati, dan bertekad ingin membongkar konspirasi terhadap mereka itu


__ADS_2