
"Uuuhhhh!" Keluh Dion puas, setelah menyelesaikan jurus terakhirnya, dalam mengarungi lautan cinta dengan Ivory
Dia tidak mau tahu dengan ketukan di depan pintu kamarnya.
Sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang. Begitulah yang terjadi dengan Dion. Kebutuhan jauh lebih utama dari sekedar membukakan pintu
Setelah semua itu selesai dan sudah berpakaian, Dion segera menuju ke pintu dan membukakannya
"Kakek!" Ucapnya terkejut
"Kenapa lama sekali kau bangun. Sudah dari tadi kakek ada di depan pintu?" Jawab kakeknya kurang senang
"Emmm!" Respon Dion serba salah
Mau marah, kakeknya! Mau menjawab tidak mungkin!. "Ah orang tua ini, macam tidak pernah muda saja!. Batinnya jengkel
"Ada apa kek?" Tanya Dion penasaran
"Cepat berkemas dan temui anak buah mu itu!. Mereka sedang menunggu mu di aula pertemuan!" Jawab tuan Birawa ketus dengan nada tinggi karena kesal di cueki
"Sabar kek!. Dion siap siap dulu." Jawab Dion santai, kemudian menutup pintu, lalu bersiap pergi mandi
"Dasar anak muda!" Gumamnya kesal, tapi setelah itu dia tersenyum geli, lalu pergi begitu saja
"Huh dasar mengganggu saja kau kakek!" Rutuk semua penghuni dan benda yang ada di dekat kamar Dion dan sekitarnya.
Mungkin begitulah kira kira bunyi kalimat ketidak senangan mereka, yang melihat kelakuan tuan Birawa pada cucunya Dion, karena telah berani menggangunya
"Ada apa pa?. Kenapa kakek mendatangi kita. tidak biasanya?" Tanya Ivory keheranan
"Tau tuh kakek, mengganggu saja!" Jawab Dion ketus
"Hus!. Jangan kuat kuat, nanti kakek mendengarnya!" Sergah Ivory sambil tersenyum geli
"Biarin!" Jawab Dion cuek, menggunakan bahasa gaul anak muda. Kata sakti yang selalu diucapkannya waktu sekolah dan kuliah dulu
"Huh papa ini!" Respon Ivory geram, kemudian mencium pipi dan mengecup bibir suaminya dengan ganas, lalu menggigitnya perlahan
"Mau lagi?" Tanya Dion menggoda
"Ah malas lah, capek!" Jawab Ivory manja, tapi memberikan akses pada suaminya dengan pose menggoda
"Tunggu apa lagi!. Hidangan lezat sudah tersedia di depan mata, sikat saja Dion!" Batinnya dalam hati
Tanpa memperdulikan alam sekitarnya. juga orang orang yang sedang ada perlu dengannya, Dion kembali merengkuh kenikmatan hidup berumah tangga dengan istrinya, Ivory
Maka terjadilah ronde yang entah ke berapa. Penyatuan cinta dua manusia. mengguncangkan sendi sendi lutut yang meronta. Tolong!. Katanya dalam kekosongan
***
Tak lama kemudian, Dion terlihat sudah siap, dan berniat ingin pergi menemui anak buahnya, untuk membicarakan rencana mengunjungi suatu tempat, yang bakal merubah perjalanan hidup anaknya, Draco!
"Salam tuan besar!' Sapa seluruh petinggi pengawalnya termasuk juga puluhan pengawal elit lainnya itu
"Terima kasih, duduklah!' Respon Dion tegas
__ADS_1
"Apakah semuanya telah hadir?" Tanya Dion selanjutnya
"Tinggal menunggu tuan senior dan tuan muda saja tuan besar!? Jawab Iron cepat
"Kalau begitu sambil menunggu mereka datang, termasuk istri ku. ada lebih baiknya kalian dengarkan instruksi ini baik baik!" Ucap Dion dengan intonasi sangat jelas sekali
Tapi tak lama setelah itu, Tuan Birawa, Ivory dan Dragon pun datang. Mereka yang berstatus sebagai bawahan, langsung memberikan salam pada tuannya dengan sikap hormat
Setelah basa basi itu selesai, mereka bertiga segera mengambil tempat, dan duduk dengan tenangnya, mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh penguasa Birawa Group itu
Tanpa mau membuang waktu lagi, Dion segera mengambil momen tersebut dengan berkata.
"Aku sangat yakin, bahwa Draco akan tinggal lama di perguruan itu."
"Maka aku berencana akan merubah tempat tersebut menjadi sebuah perguruan silat modern, tapi tetap bernuansa alam. lengkap dengan fasilitasnya."
"Berhubung usia Draco hampir mendekati usia sekolah umum, maka aku juga berencana akan membangun sebuah sekolah dasar yang guru gurunya diambil dari luar dengan gaji tinggi."
"Seratus orang pengawal elit dengan dua orang komandan utama, termasuk juga Leon, aku tugaskan untuk menjaga anak ku selama menuntut ilmu!"
"Keselamatannya di sana, menjadi tanggung jawab pengawal yang ditugaskan nanti."
"Untuk paman Iron! aku tugaskan untuk menyeleksi pengawal yang dimaksud. Besok baru kita akan berangkat ke sana."
"Beri info pada pemimpinnya, katakan bahwa kita akan mengunjungi tempat tersebut besok!"
"Buat persiapan yang matang!. Aku tidak mau anak ku terancam keselamatannya ketika di sana."
"Selain belajar ilmu olah tubuh dan kesaktian, Draco juga harus belajar ilmu ilmu umum yang diperlukan."
"Betul juga apa yang kakek katakan itu. Cuma masalahnya James, Shio Lung dan Erisha, saat ini sedang tidak ada ditempat."
"Kalau ada mereka, hal itu akan mudah dilakukan." Jawab Dion cepat
"Jangan terus tergantung pada mereka bertiga. karena mereka saat ini sedang menangani dua proyek besar."
"Satu di pulau S, dan yang satunya lagi di kota Teluk Berlian." Ucap tuan Birawa seperti kesal
"Baiklah kek!. Aku akan menugaskan pada Burgon dan anak buahnya, untuk hari ini juga pergi ke kota S itu. dan mencari sebidang tanah di sana." Respon Dion patuh
"Bagus!. Tunggu apa lagi Burgon!. Bawa orang orang mu secukupnya ke sana, cari dan temukan tanah yang diperlukan!" Perintah tuan Birawa tegas
"Baik tuan senior!" Jawab Burgon patuh, kemudian meminta ijin untuk meninggalkan aula tersebut
"Pa!. Apakah rencana mu itu bisa ditunda untuk beberapa hari lagi?" Tanya Ivory menyela
"Maksud mama?" Respon Dion penasaran
"Maksudnya adalah, Draco untuk sebulan ini tetap tinggal dengan kita. nanti setelah waktunya tiba baru kita antar ke sana." Jawab Ivory berharap
"Oh itu sudah tentu, besok kita hanya bernat mengunjungi perguruan itu saja, sekaligus melaporkan rencana anak kita akan berguru di perguruan itu."
"Papa yakin mereka juga sedang menunggu Draco, karena menurut keterangan Burgon, sudah sangat lama mereka menunggu kesempatan untuk bertemu dengan calon pewaris perguruan tersebut."
"Jadi kedatangan anak kita ini, pasti sudah di ketahui oleh mereka, karena Burgon sudah menyampaikannya pada pimpinan perguruan itu."
__ADS_1
"Sekarang kita hanya perlu mempersiapkan, siapa siapa saja yang akan ditugaskan untuk menjaga Draco nanti."
"Untuk pertemuan kali ini, ku anggap sudah selesai."
"Kalian boleh pergi, dan mempersiapkan rencana ku tadi sesegera mungkin!" Ucap Dion tegas
"Baik tuan besar!" Jawab mereka serempak. Kemudian satu persatu meninggalkan aula tersebut kecuali Hans dan Leon
"Bagaimana keluargamu yang di kota J itu Hans. apakah kau tidak berniat untuk memindahkan mereka ke sini?" Tanya Dion tiba tiba
"Memang ada rencana kearah itu tuan besar, tapi belum ada kesempatan untuk membicarakannya dengan tuan." Jawab Hans berterus terang
"Kenapa?" Tanya Dio penasaran
"Karena tuan akhir akhir ini sangat sibuk sekali, dan banyak hal yang jauh lebih penting dari pada mengurusi ijin untuk kepentingan ku sendiri tuan!" Jawab Hans ragu ragu
"Kau salah Hans!. Sebagai orang kepercayaan ku, seharusnya kau lebih bersikap terbuka pada ku.!"
"Bukankah kau sudah cukup lama berada di dekat ku? Tapi kenapa kau pendam masalah itu selama ini?" Protes Dion kurang senang
"Maaf kan saya tuan besar, kalau tindakan saya ini salah, saya akan memperbaikinya." Respon Hans tidak enak hati
"Sekarang juga kau hubungi istri dan anak mu itu!, katakan pada mereka, bahwa ada perintah dari tuan mu, meminta mereka untuk pindah ke kota Golden City ini!"
"Jika mereka berani menolak!, kau akan dihukum!. Mengerti?" Ucap Dion tegas
"Mengerti tuan besar!" Jawab Hans senang
"Beralih padamu Leon!. Sebagai pendamping pribadi anak ku, apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Tanya Dion tegas, beralih perhatiannya pada bawahannya yang lain
"Sa.. sa..saya.." Jawab Leon terputus putus
"Sekarang juga kau hubungi keluarga mu!. Pindahkan mereka ke sini!" Ucap Dion dengan perintah tegasnya itu
"Masalah rumah akan disediakan secara gratis, termasuk juga buat Hans dan keluarganya tersebut
"Mulai saat ini tidak boleh saling berjauhan satu sama lain. Kalian harus tetap berkumpul, agar semakin semangat dalam bekerja."
"Baik tuan besar!" Jawab Leon dan Hans serempak
"Kalian berdua boleh keluar!" Perintah Dion tegas
"Baik!"
"Anak ku Draco!. Kau sudah dengar tadi, bahwa besok kita akan mengunjungi perguruan silat dimana kau akan belajar di sana."
"Jadi sebelum kita pergi, apakah ada yang ingin kau katakan?" Ucap Dion pada anak nya itu?"
"Ya ayah!. Draco cuma minta agar paman Leon tidak harus selalu mengawal ku, karena jika itu dilakukan, Draco khawatir pihak perguruan tidak akan mengijinkannya." Jawab Draco sedikit ragu
"Kalau untuk masalah itu kau tidak usah khawatir, karena besok ayah akan mengatakannya pada calon guru mu itu."
"Ayah yakin dia akan mengijinkannya." Jawab Dion tegas, mengatasi keraguan anaknya tersebut
"Baik yah!" Respon Draco patuh
__ADS_1