Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Mau melawan


__ADS_3

"Baik tuan besar!" Jawab Durga cepat. kemudian mengatur agar anak buahnya tersebut menempati posisinya masing masing


"Siapkan senjata kalian!. Jika mereka berbuat macam macam. Tembak saja!" Perintah Durga tegas


"Siap laksanakan!" Jawab mereka serempak dengan suara bergemuruh


"Kau dengar itu!. Sepertinya mereka sedang menyambut kedatangan kita ke sini!" Respon Leon geram


"Jika mempelajari suara mereka, yang bersemangat seperti itu, berarti mereka sedang mempersiapkan sesuatu." Sambungnya lagi, kemudian beralih menghadap para pengawal yang dibawanya tersebut


"Semua dengarkan baik baik! kedatangan kita sepertinya tidak diterima oleh si Melviano itu. Maka kita harus mengubah rencana." ucap Leon memberi instruksi, tapi bukan dengan suara kuat, namun bisa didengar dengan baik oleh seluruh anak buahnya itu


"Bagi menjadi 4 kelompok. 1 masuk dari belakang, dua lagi dari samping, sedangkan sisanya masuk dari pintu depan. Kerjakan!" Perintah Leon tegas


Dengan langkah senyap, maklum rata rata dari mereka adalah assassin, samurai dan ninja, kelompok yang sudah dibagi itu menjalankan strategi yang sudah diatur oleh Leon


Begitu mereka sudah sampai di posisi, dengan entengnya mereka melompati pagar, tanpa suara sedikitpun, kemudian bersembunyi dan menyamarkan diri di belakang anak buah Durga yang sedang bersembunyi tersebut


Setelah semuanya menempati posisinya masing masing, Leon dan Burgon membuka pintu dengan paksa, karena pintu tersebut setelah digedor gedor beberapa kali, tidak juga dibuka


Maka dengan terpaksa, Leon dan Burgon, menggunakan kekuatannya membuka paksa pintu gerbang tersebut


Begitu mereka ingin masuk, terdengar serentetan tembakan ke arah mereka, tetapi dengan gesitnya, mereka menangkis atau menghindar dari peluru peluru yang sedang mengarah kepada mereka itu


"Hentikan!" Teriak Leon keras


"Kami datang kesini dengan damai, bukan untuk berperang seperti ini!" Ucapnya juga keras


"Kami datang hanya ingin bertemu dengan tuan kalian!. untuk merundingkan sesuatu hal yang penting!"


"Jadi sebelum terjadi pertumpahan darah, hentikan tembakan kalian!. Jika tidak jangan menyesali resiko yang akan kalian tanggung!" Ucap Leon marah


Seketika bunyi tembakan tersebut berhenti, dan tidak ada lagi peluru yang mengarah kepada mereka


Kemudian dari arah samping, keluar seseorang berperawakan tegap, didampingi oleh 3 pengawalnya. Orang tersebut adalah Durga, komandan tertinggi pasukan pengawal keluarga Melviano


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menghancurkan pintu gerbang itu?" Tanya Durga kurang senang


"Kami tidak berniat menghancurkan pintu itu, tetapi kalian sejak dari tadi, tidak mau membukakan pintu buat kami, padahal kedatangan kami kesini dengan niat baik. bukan untuk mencari permusuhan!" Jawab Burgon sangat diplomatis sekali


"Kami datang ke sini, hanya untuk bertemu dengan tuan kalian. Jadi dimana dia?" Ucap Burgon balik bertanya


"Tuan kami tidak bisa ditemui, karena dia tidak punya waktu untuk melayani kalian!" Jawab Durga dengan sikap angkuh dan sombong


"Baginikah adab kalian dalam menyambut tamu? Tanya Leon sudah mulai kesal


"Kalian bukan tamu, tapi musuh kami!, karena kalian memaksa masuk, walaupun kami tidak mengizinkannya!" Sanggah Durga juga kesal


"Lagi Lagi kami harus kau salahkan!. Kenapa kalian tidak menyalahkan diri sendiri, dan tidak menyambut tamu yang datang dengan niat baik?" Bantah Leon dengan ekspresi marah


"Niat baik atau tidaknya!, kalau tuan kami tidak mau menerima kedatangan kalian, apa yang bisa kalian lakukan?" Tanya Durga masih tetap bersikap angkuh


"Apakah kau yakin dengan jawabanmu itu?. Aku peringatkan sekali lagi, dan tidak akan ku ulangi kata kataku ini. Kami datang ke sini karena ingin bertemu dengan tuan Melviano, karena ada hal penting yang ingin kami bicarakan dengannya!" Jawab Leon kesal, dan sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya tersebut. Kemudian dia berkata lagi


"Kerusuhan ini bisa selesai, kalau tuan kalian mau menemui kami. Tetapi kalau kalian masih tetap bersikeras menyembunyikan tuan kalian itu. atau orang yang telah memantik perselisihan ini! Maka kami tidak akan segan segan lagi untuk bertindak!" Ancam Leon serius

__ADS_1


"Ini rumah dan wilayah kami!. Kalian tidak berhak berbuat macam macam di sini!" Bantah Durga ketus


"Berhak atau tidaknya, itu bukan jawaban yang bagus. Tetapi sebagai tuan rumah, seharusnya kalian bertanya terlebih dahulu, sebelum menembaki kami tadi!" Bantah Leon juga tidak kalah ketus


"Sudah aku katakan! bahwa tuan Melviano tidak bisa kalian temui!. Kalau kalian tetap memaksa, maka anak buah ku akan menghabisi kalian semua!" Sambut Durga dengan intimidasi kacangan itu


"Apakah kau yakin dengan kekuatanmu itu?. Apakah kau pikir kami yang ada di hadapanmu ini, akan merasa takut, karena ditodong dengan senjata senjata amatiran itu?" Ucap Burgon menengahi perselisihan tersebut


"Kau lihatlah para pengawal tuan besar kami! Mereka semuanya bersenjata. Sedangkan kalian hanya bertangan kosong!. Apakah kalian yakin, akan bisa menang melawan kami?" Tanya Durga membanggakan anak buahnya tersebut


"Kau masih juga bersikap sombong!. Apakah kau pikir, dengan senjata yang dipegang oleh anak buahmu itu, akan membuat kami mati?. Mimpi!" Jawab Leon sambil tersenyum sinis


"Baik!. Kalau kalian tidak percaya dengan apa yang aku katakan tadi!. Maka saksikanlah."


"Habisi mereka semua!" Perintah Durga tegas


Satu detik, 2 detik, 3 detik dan seterusnya, tidak ada reaksi apa apa dari anak buahnya tersebut, sehingga membuat Durga menjadi kebingungan sendiri


Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ternyata anak buahnya tersebut, sekarang sedang ditodong dengan senjata api juga katana dari arah belakang, Sementara senjata senjata mereka, sekarang sudah jatuh ke tangan penodongnya itu


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Durga masih juga tidak mengerti


"Dasar bodoh!. Apakah kau tidak tahu, bagaimana strategi perang?. Kau hanya mengandalkan dan menyembunyikan anak buahmu, di tempat yang sangat mudah diketahui, tapi kau tidak mengetahui siapa orang orang yang aku bawa itu!" Jawab Leon sambil menyeringai bengis


"Kurang ajar!. Kalian telah berbuat licik!" Teriak Durga marah


"Yang licik itu siapa, kau atau kami?. Sedari awal sudah aku katakan, bahwa kedatangan kami kesini dengan niat baik, dan bukan untuk mencari permusuhan. Tapi kau dengan angkuhnya tetap menjawab, bahkan mengancam akan menghabisi kami!" Respon Leon cuek


"Sekarang kau lihatlah seluruh anak buahmu itu. Nyawanya telah berada di tangan anak buahku. Lalu apa yang akan kau katakan lagi. Masihkah bisa bersikap sombong?" Ledek Leon sambil menggelengkan kepalanya


"Sekarang menyerahlah, dan katakan. di mana tuan besarmu itu?. Jika tidak kau tunjukan!, maka aku akan menghancurkan rumah ini!" Ancam Leon tidak main main


"Tuan besar kami ada di dalam, memang sengaja bersembunyi, agar kalian tidak bisa menemukannya." Jawab Durga berterus terang


"Dasar bodoh!. Hanya semut kecil seperti kalian! sudah berani melawan kami. Cari mati saja!" Hardik Burgon penuh intimidasi


"Bawa mereka ke sini, dan paksa mereka berlulut!. Kalau tidak mau tunduk juga, potong kakinya!" Perintah Leon sangat mengimtimidasi sekali


Tanpa diperintah dua kali, seluruh pengawal Melviano, yang berjumlah sekitar 40 orang itu. Bergegas datang tanpa diperintah lagi. Dengan tangan di atas kepala, kemudian menjatuhkan lututnya ketanah, pertanda menyerah


"Sekarang katakan!, di mana sebenarnya tuan mu itu!" Tanya Leon sekali lagi


"Aku ada di sini!" Ucap seseorang yang tiba tiba keluar dari dalam rumah, dikawal oleh 20 orang bersenjata api


Tapi tanpa diduga, kedua puluh pengawal tersebut, tiba tiba saja melepaskan tembakan kearah Leon dan Burgon, yang saat itu sedang berada di didepan anak buah Durga, dan


Dor! dor! dor!


Dor! dor! dor!


Bunyi tembakan menggema disekitaran mansion itu, arah peluru yang ditembakkan oleh mereka tidak terarah, hingga banyak para pengawal yang terkena peluru nyasar dan langsung mati


Sementara yang lainnya, bertiarap diantara mayat mayat kawannya tersebut


Sementara bagi Leon dan Burgon, Sebagai seorang pengawal tingkat tinggi, mereka berdua dan anak buahnya itu, dengan mudahnya menghindari tembakan tersebut

__ADS_1


Persekiaan detik kemudian, beberapa orang ninja dan assassin. menghilang dari tempat mereka berdiri, lalu muncul dibelakang pengawal Melviano itu, dan langsung mengekskusi mereka


Tanpa kenal ampun, katana panjang yang mereka pegang itu, melayang kearah leher pengawal tersebut dengan kecepatan tinggi, dan sedetik kemudian seluruh kepala mereka menggelinding dilantai


Seketika bunyi tembakan yang diarahkan kepada Leon dan Burgon itu terhenti, karena para penembak tersebut semuanya sudah mati


Melviano yang menyaksikan kejadian itu, lututnya gemetar, kemudian tanpa diperintah, dia menjatuhkan lututnya ke atas lantai, kemudian berkata


"Tolong ampuni aku!. akulah yang salah, karena telah membiarkan anak buahku itu, bersikap arogan pada mu." Ucap Melviano merendah


"Aku sudah mendengar apa yang kau katakan itu. Kau datang ke sini hanya ingin bertemu denganku, dan ingin menanyakan sesuatu hal yang penting, tetapi anak buahku yang bodoh itu, masih tetap bersikeras menghalangi kalian untuk bertemu dengan ku. Malah dengan sombongnya mengancam akan menghabisi kalian." Ucap Melviano sambil menunduk


"Kami sudah diperintahkan oleh tuan besar kami, agar tidak mencari permusuhan. Kami datang secara baik baik, untuk menanyakan, apakah kau terlibat atau tidak dengan pembunuhan tiga intelijen Birawa Group itu?" Respon Leon tegas dan apa adanya


"Yang melakukan itu bukanlah aku, tetapi Jasmine dan anak buahku, yang sekarang telah menjadi anak buahnya itu!" Jawab Melviano berterus terang


"Lalu di mana kau sembunyikan si Jasmin itu?" Tanya Leon cepat


"Aku yakin! Jasmine ada disini. karena menurut orang tuanya, Jasmine telah pergi dari rumahnya, dan bersembunyi disini."


"Iya !. Dia memang ada di rumahku. Sekarang dia ada di dalam. dan kalian boleh masuk dan berbuat apa saja terhadapnya!" Ucap melviano seperti ingin menyelamatkan diri


"Bangunlah!. Kau seorang tuan besar, tidak pantas bersimpuh seperti itu!" Ucap Leon berwibawa


"Terima kasih tuan!. Kalau boleh aku tahu, dengan siapa saat ini saya sedang berhadapan?" Tanya Melviano tiba tiba


"Dewa perang dan si mata Dewa!" Jawab Leon singkat


"Apa!. Jadi yang datang ingin menemuiku adalah si dewa perang dan si mata Dewa yang sangat terkenal itu?" Tanya Melviano ketakutan


"Benar apa yang kau katakan itu. tapi sayangnya anak buahmu tidak mengizinkanku untuk bertemu denganmu!. Jadi apa yang harus aku lakukan?"


Tanpa menjawab pertanyaan dari Leon tersebut, Melviano mengambil senjata yang tergeletak di lantai, kemudian tanpa diduga, dia menembakkan senjata tersebut ke arah Durga. Seketika itu, Durga ambruk ke tanah, dan tak lama kemudian mati


Saat tubuh Durga ambruk ke tanah, dan mengelepar gelepar karena kesakitan, beberapa anak buah Leon keluar dari dalam rumah, sambil membawa Jasmine, yang meronta ronta karena tidak diterima diperlakukan seperti itu


"Dasar iblis!. Kalian tidak pantas disebut manusia!. Kenapa kau perlakukan seorang perempuan seburuk ini?" Tanya Jasmine marah, sambil mengeluarkan sumpah serapah nya, pada orang orang yang menangkapnya tersebut


Plak! plak!


Dua kali tamparan kuat mengenai wajah Jasmine, yang dilayangkan oleh Melviano, hingga membuatnya terjatuh kebawah, dengan mulut mengeluarkan darah pula.Tak sampai disitu saja, Melviano menendang tubuh Jasmine yang sedang berusaha berdiri itu dengan sekuat tenaga


Tak ayal tubuh lemah Jasmine, yang diperlakukan seperti itu, terguling guling ditanah, dadanya sesak perutnya sakit. akibat tendangan kuat itu


Tanpa memperdulikan jeritan dari mulut Jasmine. Sekali lagi Melviano berusaha untuk menendang Jasmine, tapi tanpa diduga, Jasmine sudah meraih sepucuk pistol, yang tergeletak tidak jauh darinya, kemudian langsung menembakkannya ke dada Melviano hingga tembus, walau belum sampai roboh


Ketika Jasmine sekali lagi ingin menembakkan senjatanya itu. Melviano dengan cepat, menembakkan senjata yang masih dipegangnya, kearah kepala dan dada Jasmine. Akibatnya tubuh Jasmine seketika tidak bergerak lagi. Mati!


Tak lama kemudian, tubuh Melviano juga ambruk ke tanah, menimpa tubuh Jasmine yang sudah tidak bernyawa itu


Dua orang manusia, yang pada awalnya dimabuk asmara, kini telah mati secara mengenaskan, karena saling bunuh satu sama lain


Sisa pengawal yang masih hidup, menggigil ketakutan, sambil berlutut di tanah. Mereka berharap, tidak akan dihabisi oleh Leon, Burgon dan anak buahnya tersebut


Sementara disisi lain, dari balik kaca hitam, seorang perempuan kisaran 30 tahun, dengan anak laki laki kecil berumur 3 tahun, menyaksikan semua kejadian itu

__ADS_1


"Bison!. Kau lihatlah wajah wajah orang yang telah membunuh ayahmu itu. Suatu saat nanti, balas kan dendam ayahmu pada mereka!" Ucap perempuan tersebut dengan ekspresi dingin


__ADS_2