
Tidak sampai satu jam, akta notaris yang diminta oleh Tama, sudah selesai dibuat, dan sudah berpindah tangan pula. Sekarang Adhitama tidak mempunyai jabatan apa apa lagi di hotel itu
Hidupnya antara ada dan tiada. Ancaman bakal dihabisi atau masuk penjara. jelas terbayang di pelupuk matanya
Memikirkan semua itu, dia memutuskan untuk mengembalikan semua keuntungan yang telah didapatkan oleh hotel tersebut selama bertahun tahun, termasuk juga seluruh aset yang telah berpindah tangan tersebut
Uang tabungan pribadi juga akan dikembalikan pada Birawa Group. Adhitama menginginkan dengan dia melakukan itu,tuan besar akan memaafkan perbuatannya. Tapi apakah harapannya akan terkabul, itu semua masih menjadi misteri
***
Kini Dion dan rombongannya, telah sampai di hotel itu. dengan didampingi, oleh ratusan personil pengawal keluarganya tersebut
Kedatangan rombongan Dion, tentu saja disambut dengan meriah dan penuh suka cita, dengan berbagai maksud dan tujuan dari penyambutnya
Serempak mereka langsung membungkuk hormat kearah Dion dan keluarganya tersebut. Dengan harapan, agar sikap mereka itu, mendapat respon bagus dari pemilik hotel tempat mereka bekerja
"Selamat datang tuan tuan!" Sapa general manager hotel itu dengan sikap ramahnya
'Ya, terima kasih!" Respon tuan Birawa datar
"Mana Tama Prawira?" Tanya tuan Birawa tiba tiba
"Beliau sudah meninggal dunia tuan. Kurang lebih 11 tahun yang lalu" Jawab Abimanyu, general manajer hotel tersebut dengan cepat
"Hem!. Ternyata begitu. Lalu siapa yang ditunjuk oleh Prawira untuk mengelola hotel ini?" Tanya tuan Birawa penasaran
"Pak Tama tuan!" Jawab Abimanyu
"Mana orangnya?. Kenapa dia tidak ada disini?" Tanya tuan Birawa sedikit kesal
"Dia sedang tidak ada di kota ini tuan. Dua hari yang lalu pak Tama berangkat, yang katanya ingin mengunjungi keluarganya yang sakit disana." Jawab Abimanyu apa adanya
"Aneh!.Apakah si Tama tidak tahu bahwa aku akan datang kesini?" Reaksi tuan Birawa kesal
"Tahu tuan!. Kami semua sudah dikasi tahu oleh utusan tuan. Tapi kami tidak tahu alasan pasti, kenapa pak Tama tidak ikut menyambut tuan hari ini." Jawab Abimanyu berterus terang
"Ya sudahlah. untuk masalah itu nanti akan aku selidiki." Respon tuan Birawa geram
"Sekarang tunjukkan dimana kamar kami." Ucapnya tegas
"Mari tuan tuan .Kami tunjukkan tempatnya." Jawab Abimanyu sopan, sekaligus tidak enak hati, karena membiarkan pemilik hotel berdiri lama di lobby hotel tersebut
Tak lama kemudian, Abimanyu sudah memasuki lip khusus, diikuti oleh tuan Birawa, Dion dan keluarganya itu, termasuk Iron serta Hans
Burgon. Leon dan James, yang sudah tahu alasan kenapa Adhitama tidak berani hadir menyambut pemilik hotel itu, hanya diam saja, dan belum berani menyampaikan nya pada Dion
Di samping itu Tama juga sudah mengembalikan semua keuntungan atas pengoperasian hotel tersebut, termasuk juga properti yang dia beli menggunakan uang hasil keuntungan hotel itu, pada Birawa Group melalui James
Satu yang tidak ia kembalikan, yaitu properti yang selama ini dia tempati bersama dengan keluarga istrinya itu. karena menurutnya, itu hasil kerja keras dari kakeknya selama menjadi pengelola hotel tersebut
Jadi dia memutuskan tidak melaporkan masalah properti itu pada James, burgon dan Leon. Lagipula rumah itu bukan rumahnya, tapi peninggalan dari kakeknya
__ADS_1
Kini dia sedang berada jauh dari kota P, dan memutuskan untuk tidak kembali kesana dalam masa dekat ini
Dia pergi tanpa membawa istri dan keluarganya yang lain. Mereka itu tetap tinggal di kota P, dan masih tetap menempati rumah warisan kakeknya itu
Tindakannya itu, tentu saja membuat keluarganya heran, apalagi istri dan saudara saudaranya itu
Pada awalnya mereka tetap menuntut, agar uang itu tidak dikembalikan kepada Birawa Group, tapi diberikan pada mereka saja
Namun Adhitama menolaknya dengan keras, karena ancaman kematian jauh lebih mengerikan dari pada ancaman saudara saudara istrinya itu
***
Tepat pukul 2 sore, Dion mengajak keluarganya untuk mengunjungi perusahaan, yang pernah diambil alih oleh Melviano itu
Kepergiannya ketempat itu, didampingi oleh seluruh bawahannya, kecuali James, Erisha dan Burgon. serta tiga puluh pengawal elit lainnya
Mereka ditugaskan oleh Dion, untuk menjemput orang yang dikabarkan adalah pemilik asli perusahaan tersebut, untuk dihadapkan padanya
Satu jam sebelum Dion berangkat ke pabrik dan perusahaan itu. Burgon, James, Erisha dan puluhan pengawal tersebut. bergegas meninggalkan hotel, dan langsung menuju ketempat dimana orang itu berada.
Sesampainya mereka disana, sempat menimbulkan kehebohan besar, bagi warga yang tinggal disekitar rumah gubuk milik orang itu. Bahkan ketua warga setempat sempat juga hadir, tapi tidak berani mendekat
Kedatangan mereka yang sangat mencolok itu, dengan menggunakan 10 mobil mewah, dan dua mobil land rover yang juga mewah, tentu saja mengundang perhatian warga sekitar
Hingga berbondong bondong lah mereka datang, ingin melihat siapa mereka, dan siapa yang sedang mereka cari, serta ada keperluan apa
''Lihat!. mereka menuju ke gubuk pak Sidiq. Ada apa ya mereka kesana?" Tanya salah seorang warga keheranan
"Mana aku tahu. Kenapa kau malah bertanya padaku.Tanyalah langsung pada mereka sana!" Jawab temannya itu ketus
Setelah mereka berdua sampai di depan Burgon dan rombongannya itu, dengan disaksikan oleh ratusan warganya tersebut, Kepala kampung langsung berkata dengan suara sopan pada Burgon
"Maafkan kami kalau mengganggu!. Sebagai ketua kampung, tentu kami ingin tahu juga. maksud dari kedatangan tuan tuan kesini?. Dan siapa yang ingin kalian cari?" Ujarnya ramah
"Saya Burgon, dan ini James serta itu Erisha, yang mungkin sudah kalian kenal. Sedang 30 orang itu, adalah pengawal pengawal keluarga Birawa."
"Kami datang bermaksud baik, karena ingin menemui salah seorang warga anda, yang ada di rumah ini." Jawab Burgon terus terang
"Apakah yang anda maksudkan itu pak Sidiq?" Tanya kepala kampung itu merasa ragu ragu
"Benar pak ketua!" Respon Burgon cepat
"Apakah pak Sidiq ada membuat masalah pada kalian?" Tanya kepala kampung merasa khawatir
"Tidak juga. Kami cuma diutus untuk menjemputnya saja" Jawab Burgon enteng
Baru saja Burgon selesai menjawab pertanyaan dari kepala kampung itu. Orang yang dipanggil pak Sidiq tersebut pun keluar dari dalam rumahnya
Dengan hati penuh keheranan, dia memandang kearah orang orang yang berada tidak jauh rumahnya itu. Lalu pandangan matanya tertumpu pada James dan Erisha
Seketika dia menjadi paham, bahwa orang yang pernah memberikan bingkisan padanya itu, hari ini datang kembali menemuinya. Tapi entah untuk urusan apa, dia sendiri tidak tahu
__ADS_1
Kemudian dia memutuskan untuk menemui James dan Erisha, sekedar menyapa atau berbasa basi saja sekalian untuk menanyakan, apa maksud kedatangannya mereka ke gubuk reot nya itu kali ini
Tapi sebelum Sidiq menyapa, James sudah menyapanya duluan dengan berkata. "Apa kabar pak Sidiq. Bagaimana keadaannya?" Tanya James dengan sikap ramah
"Oh tuan Jams!. kabar saya baik. Tumben datang kemari? Apakah tuan masih betah tinggal di kota ini?" Jawab Sidiq juga bersikap ramah
"Mulai hari ini jangan panggil saya dengan tuan lagi. Karena saya bukan tuan. Saya masih seorang bawahan orang lain." Respon James merendah
"Kalau begitu, bagaimana kalau saya panggil anda dengan pak Jams saja?" Respon Sidiq terlihat lucu
"Terserah pak Sidiq saja, mau panggil apa saja boleh, asal jangan tuan, sudahlah!" Respon James senang
"Oh ya, kenalkan ini teman saya Burgon, si mata dewa gelarnya.' Ucap James tiba tiba
"Salam kenal pak Sidiq. Saya Burgon. Utusan dari Birawa Group. datang kesini karena ingin menjemput bapak sekeluarga, untuk datang menghadap tuan besar. Karena ada yang akan dibicarakan dengan anda." Ucap Burgon langsung merespon perkataan dari James temannya itu, dan langsung pada intinya
"Tuan besar?. Dijemput?!. Maksud pak Burgon ini apa, Siapa tuan besar itu?" Reaksi Sidiq keheranan sekaligus khawatir
"Apakah sahabatku ini tidak mengatakan atau menceritakan, siapa tuan besar itu pada anda?" Tanya Burgon malah bingung
"Tidak pak Burgon. mereka datang hanya memberikan bingkisan serta uang dan menyebut nama Birawa saja. Apakah orang itu yang dipanggil dengan tuan besar?" Jawab Sidiq dengan sikap polosnya itu
"Kurang lebih begitulah. Tapi masih ada yang lebih dari pada itu."
"Jadi sekarang, sebaiknya anda bersiap siap ikut dengan kami, untuk menemui tuan besar itu." Jawab Burgon geli hati sendiri
" Orang ini benar benar polos. Pantas saja begitu mudah dibohongi oleh si Melviano licik itu!" Batin Burgon dalam hati
"Tunggu dulu. Apakah pak Burgon sedang tidak bercanda?. Seorang pemulung seperti saya ini, dipanggil oleh orang yang dipanggil tuan besar itu?" Tanya Sidik terkesan menyelidik
"Tidak pak Sidiq!. Apa yang dikatakan oleh teman ku ini, memang benar adanya. Anda dan keluarga, diminta untuk ikut kami, untuk menemui tuan besar." Ucap James menyela, mewakili Burgon untuk menanggapi keraguan dari Sidiq itu
Setelah mendapat jawaban tegas dan jelas seperti itu, Sidiq hanya diam saja, melongo bagai orang bingung, Lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar, seperti sedang meminta pendapat dari warga kampung itu. Tapi mereka tidak ada yang bisa memberikan jawaban
Mau tidak mau Sidiq masuk kedalam rumahnya kembali, untuk memberitahukan masalah itu pada istri dan kedua anaknya, walau sebenarnya mereka juga sudah mendengar, semua percakapan itu dari dalam rumah
Tak lama kemudian Sidiq keluar lagi untuk menemui utusan dari Dion itu ,lalu berkata.
"Baiklah kami akan ikut dengan kalian, untuk menemui tuan kalian itu, karena kami percaya, bahwa tuan tuan tidak akan mencelakai kami." Ucap Sidiq pasrah
"Kepala kampung. kami sekeluarga pergi dulu, untuk memenuhi undangan dari tuan besar mereka."
"Mudah mudahan, ini semua berjalan sesuai dengan rencana yang diatas!"
"Untuk itu kami pamit sebentar. Setelah urusan selesai, kami akan kembali lagi kesini." Ucap Sidiq dengan ciri khas orang baik
"Baiklah pak Sidiq. Kami doakan semoga ini awal yang baik untuk bapak dan keluarga."
"Jangan lupa sampaikan salam kami pada orang yang akan bapak temui itu. semoga bisa membantu kampung kita sekali lagi!" Reaksi kepala kampung tidak terduga, terkesan seperti mengharapkan sesuatu yang lebih
Tak lama kemudian. Iring iringan mobil mewah tersebut, bergerak meninggalkan kampung kumuh itu, diiringi lambaian tangan para warga, yang masih merasa penasaran, kenapa pak Sidiq teman mereka itu, dijemput oleh orang orang hebat seperti mereka
__ADS_1
Dalam hati mereka membatin, bahwa pak Sidiq termasuk orang yang beruntung, karena bisa menaiki kenderaan mewah. Sedang mereka jangankan kenderaan itu, taksi saja sangat jarang
Tapi walau bagaimanapun, banyak yang berdoa dan berharap, agar pak Sidiq tidak kenapa kenapa. Malah kalau bisa, pulang membawa berkah bagi kampung mereka