
"Tidak!. Ini tidak mungkin!. Bagaimana ini bisa terjadi. dan siapa yang melakukannya?" Teriak Adeline histeris, ketika mendapati Tommy mati secara mengenaskan seperti itu
"Tommy....!" Teriak Adeline sekuat kuatnya. Meluahkan semua perasaan sedih dan marahnya itu, sambil memeluk tubuh suaminya erat erat, lalu mengguncang nya kuat kuat
"Ma...! Papa kenapa?" Tanya Clara keheranan
"Papa mu sudah mati nak!" Jawab Adeline sambil menangis
"Mati itu apa ma!" Reaksi Clara bingung.
Adeline tidak langsung menjawab pertanyaan anak gadis nya itu. Dia berpikir sejenak untuk mencari jawaban, yang mudah dicerna oleh pemikiran anak seusianya itu
"Mati itu artinya, papa tidak bisa bersama kita lagi. Papa harus pergi ke tempat jauh, dan tidak bisa menemani Clara kemana mana!" Jawab Adeline sedih, sambil menyeka air matanya
"Berarti papa tak sayang Clara dong!, karena tidak mau mengajak Clara pergi" Bantah nya sedih
"Kau salah nak!. Papa sangat sayang pada Clara. Demi Clara, papa rela mati!. Oleh karena itu, setelah Clara besar nanti!. Cari orang yang telah membunuh papa ya!" Ucap Adeline dengan ucapan salahnya itu
"Berarti papa mati dibunuh ya ma?. Sama seperti kalau paman Pierre membunuh sapi sapi itu?" Respon Clara polos
"Benar Clara!. Papa mu mati karena dibunuh oleh musuh musuhnya itu." Jawab Adeline licik. mencoba mempengaruhi alam bawah sadar anaknya tersebut, untuk menjadi mesin pembunuh di suatu hari nanti
"Memangnya siapa musuh papa itu ma?. Dan musuh itu apa?" Tanya Clara kembali, sambil menyentuh tangan ayahnya
"Musuh itu artinya orang yang tidak suka dengan papa. Karena tidak suka itulah, orang tersebut membunuh papa, dengan ditembak seperti ini!" Jawab Adeline mengarang cerita
"Lalu siapa musuh papa itu ma?" Tanya Clara penasaran
"Dion dan orang orangnya!" Jawab Adeline sekenanya saja
"Dion itu siapa ma?. Apakah sama seperti sapi sapi itu?"Ujarnya kebingungan
"Bukan!. Dion itu manusia. Tinggalnya jauh dari sini. Nanti setelah Clara besar, mama akan bawa Clara kesana." Reaksi Adeline licik, dengan sorot mata penuh dendam, dan tetap masih memeluk tubuh dingin suaminya itu
Padahal dia belum tahu secara pasti, siapa orang yang telah membunuh suaminya tersebut.
Tapi firasatnya mengatakan, kalau Tommy mati karena dibunuh oleh orang orang nya Dion, atas perintahnya juga
"Janji ya ma!. Clara ingin mencubit Dion itu, agar tidak nakal!" Jawab Clara senang
"Kalau dicubit itu tidak sakit sayang!. Tapi kalau ditembak atau ditusuk seperti papa ini, baru dia akan merasa sakit." Ucap Adeline geli bercampur sedih
"Jadi Clara harus menembaknya ya ma. Tidak boleh dicubit?" Ucap Clara bingung
"Ya sayang!. Dion itu harus ditembak macam papa ini." Jawab Adeline cepat, dan pengajaran yang diberikan padanya seperti membekas di hati Clara
"Baik ma!. Nanti Clara akan tembak Dion itu di kepalanya, macam papa ini!" Tekad nya seperti memahami apa yang diajarkan oleh mama nya itu
__ADS_1
"Harus dikepalainya ya sayang! agar Dion tidak nakal lagi." Sambut Adeline cepat. dengan doktrin salahnya itu pada Clara
"Baik ma!. Clara akan belajar menembak macam paman Pierre itu. Biar Clara bisa menembak Dion nanti." Jawab Clara patuh
"Bagus!. Itu baru anak mama!" Respon Adeline senang, dan sedikit terhibur atas kepolosan anak gadisnya tersebut
"Ayo kita urus mayat papa, juga paman paman Clara itu." Ucap Adeline memberi usul, sambil bangkit dari duduknya, dan segera menghubungi pihak kepolisian setempat, untuk melaporkan kasus pembunuhan tersebut
***
Sementara itu. Kasus tewasnya Tommy, telah didengar oleh Dion dan ivory, juga kakeknya itu
Dion sangat berterima kasih pada Robin dan anak buahnya, karena telah berhasil menghabisi Tommy musuh bebuyutan nya tersebut
"Dengan tewasnya Tommy, diharapkan berkurang juga musuh musuh kita itu. Dan kehidupan kita akan kembali tenang." Ucap Dion pada Ivory
"Papa benar!. Malah mama ingin merayakan kematian Tommy itu dengan makan makan di restoran kebanggaan kita itu!" Respon Ivory cepat dan antusias sekali
"Mama ni ada ada saja!. Masak orang mati kita berpesta pesta pula!. Bagaimana dengan perasaan istrinya itu, tentu saat ini dia sedang berduka." Reaksi Dion bingung
"Siapa suruh ingin membunuhku!. Padahal Ivo tidak bersalah padanya. Kenal pun tidak!. Tapi berani beraninya dia menyuruh orang untuk mencelakai ku. Ya itu balasannya!" Jawab Ivory geram
"Sudahlah sayang!. Kita lupakan dulu masalah itu. Mari kita temui anak kita." Ucap Dion cukup bijaksana
***
Dion seperti biasa, yang akhir akhir ini suka lari pagi. Dengan alasan ingin tetap sehat. Saat ini tengah berada di jalanan yang agak sepi, karena waktu masih terlalu pagi, dan belum banyak orang yang beraktivitas disana
Hari ini, Dion hanya ditemani oleh Hans tanpa pengawal lain, karena menurutnya. Keadaan sudah aman, dan tidak ada gangguan lagi
Hampir satu jam Dion dan Hans berada di jalanan. Tapi tanpa sengaja Dion menabrak seseorang, hingga terjatuh ke aspal. Kaca matanya pecah, karena tertimpa tubuhnya sendiri
"Maaf kan saya pak tua!. Saya tidak sengaja." Ucap Dion menyesal
"Oh tidak apa apa anak muda. Aku sendiri yang salah. karena menyebrang jalan tidak melihat lihat dulu, langsung saja lari." Jawab pak tua itu merendah, sambil berusaha berdiri
Dion yang melihat orang itu seperti kesulitan untuk berdiri, bergegas membantunya. dan tak lama kemudian. Orang tersebut sudah berdiri tegak
"Terima kasih anak muda. dan maafkan orang tua pikun ini, karena berlari tak melihat lihat lagi." Ucapnya sambil berusaha berlalu dari hadapan Dion
"Tunggu pak tua!. Bagaimana dengan kacamatamu ini?. Bukankah anda menderita rabun jauh?" Ucap Dion berusaha berbuat baik pada orang tersebut
"Oh tidak masalah!. Aku bisa membelinya lagi. Untuk sementara ada tongkat ini, untuk memandu ku ketika berjalan!" Jawab orang tua tersebut enteng, sambil melambaikan tangannya kearah Dion
"Hehehehe!. Umpan sudah dipasang, dan ikannya sudah hampir memakannya. Tinggal menarik ikannya saja nanti." Kekeh orang tua itu licik, sambil berjalan tertatih tatih, di jalanan lengang itu
"Dasar pengawal bodoh!. Bisa bisanya dia tidak mengenaliku lagi!. Apakah mungkin karena penampilanku yang sudah brewokan ini, sehingga dia tidak mengenaliku lagi." Batin orang tua itu lagi sambil tersenyum licik
__ADS_1
"Siapa orang tua itu. Perasaan aku tidak pernah melihatnya!" Ucap Dion lirih, kemudian memandang Hans, yang tak jauh dari tempat berdiri nya itu
"Saya juga tidak mengenalnya tuan besar. Mungkin baru kali ini ketemu, jadi praktis kita tidak mengenalnya." Jawab Hans apa adanya. Tetapi pikirannya seperti melayang ke masa lalu, namun segera ditepisnya, karena dia merasa tidak mungkin
Sementara itu dari kejauhan, ada beberapa orang yang sedang mengawasi aktivitas Dion dan orang tua tersebut.
Tugas mereka hanya memantau, dan mengawasi dari jauh, bukan untuk menyerang atau mencelakai seseorang
Untuk saat ini, mereka sedang mencari segala kemungkinan, agar bisa masuk dalam lingkup kehidupan Dion, atau minimal masuk dalam perusahaannya
"Maaf tuan besar!. Sebaiknya tuan hati hati pada orang yang baru dikenal seperti orang tua itu tadi. Siapa tahu orang tersebut adalah musuh, yang berpura pura berbuat baik pada kita. Tapi sesungguhnya sedang merencanakan sesuatu." Ucap Hans dengan prediksi yang hampir tepat
"Jangan terlalu berburuk sangka pada seseorang, apalagi pada orangtua itu!" Respon Dion kurang senang
"Coba kau lihat tubuh renta nya itu. berjalan saja susah! Sudah tidak layak dikatakan sebagai orang yang berniat tidak baik, apalagi dikatakan musuh." Jawab Dion dengan argumennya sendiri
"Baik tuan besar!" Jawab Hans cepat. Tetapi dalam hatinya membatin, bahwa dia harus berhati hati ketika bertemu dengan orang tua itu lagi
"Besok jika tuan besar ingin lari pagi seperti ini. aku harus menugaskan kepada puluhan anak buah ku, untuk mengawasi tuan besar dari jauh."
"Aku takut orang tua itu punya maksud tertentu, karena sepintas tadi aku melihat, seperti ada 4 orang yang sedang mengawasi orang tersebut."
"Mungkin empat orang itu, adalah bawahan orang tua itu, yang berpura pura berpenampilan lemah dan lusuh seperti itu." Batin Hans dalam hati, sambil mengimbangi lari tuan besarnya yang sudah lari duluan
***
"Kail sudah diikat, dan umpan pun sudah dipasang. Tinggal ikannya saja yang akan memakan umpan tersebut." Ucap Orang tua itu pada keempat anak buahnya, sambil tersenyum licik
"Strategi tuan memang jempolan. Penguasa kota itu tidak menyadari, bahwa dia telah masuk perangkap!" Reaksi anak buahnya senang
"Tapi jangan lupa!. terus cari keberadaan Eric, anak Carlos itu!. Jika bertemu dengannya, cepat tangkap, dan bawa anak tersebut ke hadapanku!" Ucap Braga tegas, orang yang tadi di panggil pak tua oleh Dion itu
"Maaf tuan!. Siapa orang yang mengawal Dion tadi?" Tanya Danendra atau Nendra itu penasaran
"Hans!. orang yang telah membunuh saudaramu itu, delapan belas tahun yang lalu!" Jawab Brata apa adanya
"Ternyata dia orangnya!. Aku ingin cepat cepat memberi pelajaran pada orang itu!. Agar dia tahu, bahwa keluargaku tidak mudah untuk dikalahkan!" Responnya cepat dan marah
"Jangan bertindak gegabah!, karena orang yang bernama Hans itu, sekarang telah menjadi pengawal Dion juga Birawa."
"Dia orang kuat, bekas bodyguard bayaran, sekaligus komandan gangster terkuat di kota S dulu."
"Sekarang mereka sepertinya sudah bergabung dengan Birawa itu."
"Pekerjaan kita kedepannya akan semakin sulit. Oleh karena itu, kita, terutama kau Nendra, harus berhati hati. karena mereka bukan orang sembarangan!"
"Kalau Hans bergabung dengan Birawa.Tentu Iron, Robin juga Leon pasti ada disini juga. Ini akan semakin sulit bagi kita"
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, musuh musuhku dulu, sudah menjadi bawahan Birawa!" Batin Brata dalam hati, dengan ekspresi marah