
"Mau bermain main dengan si mata langit ya?"
"Kalian pikir bisa lolos dari pengawasan ku ha!" Ucap Taraka atau Tara dingin, sambil menyeringai buas
"Kalau si bodoh itu mungkin bisa kalian kelabui, tapi aku si mata malaikat, jangan coba coba!" Ucapnya pada diri sendiri, terkesan membanggakan diri pula
"Dasar manusia idiot!" Maki Tara geram. Kemudian bergegas pergi untuk menemui tuan besarnya di villa
Tapi di tengah jalan dia berpapasan dengan Abhicandra, si dewa metafisika, yang juga sedang melangkah secara tergesa gesa
"Kebetulan sekali ketemu dengan mu di sini adik keempat. Aku tebak kau pasti ingin menemui tuan besar juga?" Ucap Abhicandra cepat
"Benar sekali kakak ketiga. Mata malaikatku ini mana bisa dibohongi, walau bahaya masih jauh mengintai." Jawab Tara apa adanya
"Sama dengan ku!. Kebetulan aku di hubungi oleh tuan muda tentang hal yang sama seperti yang kau lihat itu!" Respon Abhicandra cuek
"Kalau begitu tunggu apa lagi?"
"Mari kita temui tuan besar untuk mengabarkan hal ini sebelum terlambat!" Sambut Taraka cemas
"Tapi tunggu dulu!. Apakah kakak ada melihat murid bodoh ku itu?" Tanya Taraka tiba tiba
"Sudah tiga hari ini dia tidak kelihatan. Biasanya dia wara Wiri di sekitar sini, tapi entah kenapa sekarang tidak kelihatan lagi." Jawab Abhicandra apa adanya
"Ha itu dia!" Teriak Tara kuat
"Salam hormat guru!" Sapa Burgon cepat
"Kemana saja kau selama tiga hari ini?. Kenapa kau tidak kelihatan?" Tanya Taraka guru dari Burgon itu kesal
"Maaf guru kalau murid salah!"
"Saya dan anak buah saya sedang menjalankan tugas, karena kami mendapat laporan, kalau ada beberapa orang yang mencurigakan masuk, dan mengawasi beberapa buah perusahaan tuan besar di kota sekitaran sini." Jawab Burgon berterus terang
"Kenapa bisa kebetulan begini?" Ucap Taraka keheranan
"Itu tandanya murid mu tidak bodoh, karena dia duluan yang mendapatkan kabar itu sebelum kita!" Jawab Abhicandra lugas, terkesan membela Burgon
"Ah sudah lah!. Ayo kita temui tuan besar dan tuan senior, untuk mengabarkan hal ini." Respon Taraka kurang senang
Lima menit kemudian, mereka bertiga sudah berada di depan Dion, yang kebetulan saat itu sedang duduk bersama dengan istri juga kakeknya
Bersama mereka ada Emily, Adiwilaga, Iron, Hans, juga komandan tinggi Langit, Awan dan Bumi, termasuk juga komandan elit Eric
"Aku sudah tahu alasan kalian ramai ramai datang ke sini dengan tergesa gesa." Ucap Dion sebelum ketiganya memberikan salam
"Duduklah!" Ucapnya lagi
"Terima kasih tuan besar!" Jawab ketiganya serempak
Setelah mereka duduk Dion langsung berkata. "Kebetulan sekali kalian datang!"
"Baru saja aku mengeluarkan perintah untuk memanggil kalian bertiga kemari!"
"Tapi sebelum terlaksana, kalian yang datang duluan menemui ku !" Ucap Dion pada ketiganya
"Maaf tuan besar kalau kami lancang!"
"Baru saja saya terhubung dengan tuan muda, dan mengatakan, bahwa akan ada bahaya mengintai yang cukup besar akhir tahun ini." Ucap Taraka berterus terang
"Saya juga demikian tuan besar, dari penglihatan ku, akhir tahun ini, akan datang bahaya besar seperti yang di sampaikan oleh saudara ku Abhicandra ini!"
"Di mana sekelompok orang, berencana ingin membakar beberapa buah perusahaan tuan, diberbagai kota dan tempat." Sambung Tara membenarkan
"Benar apa yang dikatakan oleh guruku tuan besar!. Anak buah ku telah melihat pergerakan yang mencurigakan di kota M, Kota S dan kota J."
"Kemungkinan di kota kota lain juga ada, tapi belum ada laporan dari mereka." Ucap Burgon memperkuat laporan guru dan paman gurunya tersebut
"Sesuai dengan apa yang dirasakan oleh putra ku. Akhir malam tahun ini, akan terjadi bencana besar di perusahaan ku."
"Awalnya aku tidak tahu apa bencana tersebut, tapi setelah kalian datang dan menjelaskan tentang itu, aku baru tahu, bahwa ada orang yang ingin membakar bangunan perusahaan ku." Respon Dion terkejut. Lalu memandang kakeknya, dan berkata.
"Bagaimana menurut kakek?" Ujarnya bertanya
"Mungkin ini ada kaitannya dengan musuh-musuh Birawa Group, yang akan mengambil kesempatan saat semua orang lengah, termasuk kita."
__ADS_1
"Jadi kakek sarankan, agar kau memobilisasi seluruh kekuatan yang kita punya, untuk bersiaga 24 jam, di 233 perusahaan kita."
"Jika perlu minta bantuan kepolisian, atau pihak pihak terkait, untuk menjaga perusahaan tersebut."
"Jangan pikirkan masalah biaya. yang penting usaha mereka bisa kita gagalkan." Jawab tuan Birawa panjang lebar
"Bukan itu yang Dion pikirkan kek. Tapi siapa dalang dibalik rencana tersebut, itu yang perlu kita temukan!" Bantah Dion cepat
"Kalau masalah minta bantuan pihak lain, itu Dion setuju."
"Tapi masalahnya adalah, apakah mereka bersedia membantu kita, menjelang satu atau tiga hari sebelum malam akhir tahun baru ini?"
"Sedangkan mereka, pasti juga telah di perintahkan oleh atasannya, untuk berjaga di malam pergantian tahun baru?" Respon Dion pesimis
"Itu masalah gampang, kalau kita mengirimkan surat resmi dari perusahaan, kepada atasannya langsung, pasti mereka bersedia melakukannya!" Jawab tuan Birawa optimis
"Baik! Dion ikut saran kakek saja." Respon Dion pasrah
"Maaf tuan besar dan tuan senior kalau saya lancang!" Ucap Adiwilaga sopan
"Silakan paman Adi!" Jawab Dion cepat
"Menurut saya tentang mengerahkan semua kekuatan, juga minta bantuan pada pihak lain itu bagus."
"Tapi ada yang jauh lebih penting dari itu semua. Yaitu menemukan siapa dalang dibalik itu secepat mungkin!" Ucap Adiwilaga mantap
"Bagaimana caranya paman Adi, Sedangkan musuh belum terlihat?" Tanya Dion menguji keseriusan bawahannya
"Bukankah Burgon sudah menyampaikan tadi, bahwa anak buahnya telah menemukan kejanggalan pada pergerakan beberapa orang di tempat lain?"
"Dari situ kita bisa menyimpulkan, bahwa orang orang itu kemungkinannya adalah para eksekutornya."
"Tangkap dan interogasi, atau ikuti pergerakan mereka sampai ke tempat dimana mereka menginap atau tinggal."
"Kirim orang orang terbaik untuk mematamatai mereka."
"Saya yakin dengan cara itu akan ketahuan, siapa dalang dibalik rencana tersebut." Jawab Adiwilaga mantap
"Bagus!. Aku setuju dengan saran mu paman Adi!" Respon Dion senang
"Jika mencurigakan, segera tangkap dan lakukan prosedur yang benar, untuk mendapatkan informasi dari orang itu!" Perintah Dion tegas
"Baik tuan besar!" Jawab Burgon patuh
"Paman Tara dan paman Abi!. Bersediakah kalian membantu murid mu ini, untuk menyelidiki dan menangkap para eksekutor tersebut?"
"Tolong juga untuk mengerahkan segala kemampuan kalian, untuk menemukan siapa siapa saja dalang dibalik rencana jahat itu!"
"Jika sudah ketahuan dan dipastikan secara benar, tugas berikutnya aku serahkan paman Adi juga ketua Iron, untuk memerangi mereka!" Ucap Dion tegas dan mantap
"Tanpa diminta pun kami akan melakukannya tuan besar."
"Karena kami telah berjanji dan menyanggupi tunduk di bawah perintah tuan, maka kami akan melakukan yang terbaik, demi melindungi tuan dan keluarga tuan termasuk Birawa Group ." Jawab keduanya mantap
"Bagus!" Respon Dion semakin senang
"Emily!. Kau urus tentang surat menyurat itu pada pihak kepolisian juga tentara yang ada!"
"Aku ingin hari ini atau paling lambat besok, surat itu sudah diterima oleh kepala dua institusi tersebut!" Perintah Dion pada adiknya
"Baik kak!" Jawab Emily patuh
"Burgon!. Kalau tidak salah!. kau tadi ada mengatakan, bahwa pergerakan yang mencurigakan itu ada di kota S, kota M dan kota J." Ucap Dion pada Burgon
"Benar tuan besar!" Jawab Burgon mantap
"Bisakah kau tarik benang merahnya, menuju ke satu titik, yang mengarah pada siapa dalang di balik rencana jahat itu?" Tanya Dion cepat dan masih mengandung teka teki besar
"Kalau di rilis dari awal, siapa siapa saja musuh besar Birawa Group di tiga kota itu, saya bisa menyimpulkan, bahwa ada salah satu keturunan orang jahat itu yang ingin membalas dendam "
"Salah satunya adalah keturunan Aminata, Braga Bagaspati, Arnold dan yang lainnya." Jawab Burgon cepat dengan analisa jitunya tersebut
"Tunggu dulu!. Kau tadi ada menyebutkan nama Arnold!"
"Aku ingat, bahwa dia adalah salah satu musuh besar kakek ku dulu!"
__ADS_1
"Perusahaannya telah aku buat bangkrut, dan banyak meninggalkan hutang yang besar!"
"Apakah mungkin ini perbuatannya?" Ucap Dion bertanya
"Bisa jadi tuan besar!. Bukankah Intel yang kita tugaskan untuk terus mengawasinya mengatakan, bahwa akhir akhir ini dia terus ulang alik kota J dan kota S itu?" Jawab Burgon yakin
"Lalu apa hubungannya antara itu semua?" Tanya Dion masih belum mengerti
"Tempat yang dia kunjungi setelah kembali dari kota J adalah, sebuah mansion di perumahaan mewah yang ada di kota tersebut."
"Bisa jadi kedatangannya ke mansion itu adalah, untuk menemui anak buahnya, dan memberikan instruksi pada mereka?" Jawab Burgon cepat
"Aku percaya dengan apa yang kau katakan barusan. cuma masalahnya adalah, bagaimana si Arnold itu bisa bangkit kembali secepat itu?" Tanya Dion tak habis mengerti
"Kau jangan lupa cucuku!. Si Arnold itu orang licik, yang pandai menjilat atasan, juga punya seribu macam cara untuk bangkit dari keterpurukannya!" Sela tuan Birawa menengahi, dan mematahkan keraguan dari cucunya itu
"Di kota J itu masih banyak musuh musuh saingan bisnis kakek."
"Kemungkinan salah satu dari mereka adalah, orang kuat dan kaya, yang bisa membiayai gerakan balas dendamnya pada kakek juga Birawa Group!" Ucap tuan Birawa sangat yakin
"Kalau terus ada permusuhan, balas membalas dendam, dan saling berusaha menghancurkan satu sama lain, mau sampai kapan dunia ini akan aman?" Ucap Dion tak habis pikir
"Kau jangan lupa cucu ku!. Jangankan usaha besar, persaingan bisnis juga melanda usaha kecil."
"Contohnya seperti yang kakek alami dulu, waktu kakek menjadi juragan bakso dan makanan lain, banyak pengusaha lain, yang iri dengan kemajuan usaha kakek."
"Kenapa itu bisa terjadi?. Itu semua karena bakso dan makanan lain yang dijajakan oleh anak buah kakek, diminati oleh pelanggan dan habis terus setiap harinya."
"Dari situ kakek mulai di intimidasi dan difitnah, bahwa kakek katanya memakai penglaris dan memakai bahan-bahan berbahaya."
"Intinya mereka ingin agar usaha kakek bangkrut, dan usaha mereka akan kembali berjaya."
"Namun kakek tidak mau menyerah, dengan pembuktian dan uji klinis, akhirnya kakek memenangkan gugatan perkara itu, dan akhirnya kakek berkembang dan merambah ke usaha usaha lain." Ucap tuan Birawa berterus terang, hingga mengejutkan mereka semua
"Tidak Dion sangka, dulunya kakek adalah pedagang kecil, yang selalu menghadapi saingan bisnis, yang iri atas kemajuan usaha kakek."
"Dion jadi malu sendiri kek!" Ucap Dion menyesali keraguannya
"Tak perlu kau sesali cucu ku!. Dalam urusan bisnis, mustahil tidak ada persaingan!"
"Itu semua merambah ke segala lini, bahkan sampai ke dunia internasional."
"Di negara kita ini, hal itu sudah biasa terjadi "
"Jangankan pada orang lain, usaha keluarga saja banyak yang bersaing, untuk mendapatkan kedudukan tinggi, agar bisa mengambil banyak keuntungan."
"Apalagi yang bukan keluarga."
"Pedagang kelontong, pedagang kaki lima, pedagang sembilan bahan pokok, bahkan pedagang online saja, juga mengalami persaingan ketat."
"Kalau tak pandai pandai membawa diri dan menjalankan perahu layar usahanya, maka bersiap siapkah untuk bangkrut!"
"Bohong jika ada yang mengatakan, bahwa usahanya lancar lancar saja tanpa hambatan!"
"Pasti ada saja keluhan dari pelanggan."
"Salah inilah, rasa tak enaklah, kurang bumbu lah, kurang promosi, kurang ramah dan lain sebagainya."
"Itu semua sudah jamak terjadi cucu ku."
"Usaha besar, usaha kecil, sama saja permasalahannya."
"Dari itu semua, akan menimbulkan persaingan."
"Berbagai macam cara akan mereka lakukan, demi sukses dan berjayanya usaha mereka."
"Kalau kalah dalam persaingan itu, maka dendam lah yang akan bicara. Dan itulah yang sekarang sedang melanda perusahaan kita."
"Oleh karena itu!, kau sebagai pemimpin tertinggi Birawa Group, harus pandai pandai mensiasati, agar usaha yang telah kakek bangun dengan susah payah ini, tidak hancur karena sabotase dari pihak lain."
"Untuk itu mulai sekarang!, bersiap siaplah menyambut dan menghancurkan, para pembuat fitnah itu."
"Selalu ingatlah!. Selagi nafsu serakah masih ada di hati orang orang, didukung pula oleh adanya setan dan iblis. maka persaingan bisnis yang tidak sehat, tetap akan ada di dunia ini."
"Kadang kadang manusia itu, lebih setan dari setan itu sendiri." Ucap tuan Birawa menggurui cucunya tersebut
__ADS_1