Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Menyerahlah


__ADS_3

"Apa Dion tidak salah dengar?. Mungkinkah itu orang yang sama?" Ucap Dion penuh dengan tanda tanya


"Kakek rasa juga begitu. lebih baik kita cari informasinya dulu apakah benar itu Braga yang kita cari selama ini." Jawab tuan Birawa juga terkejut


"Anak Dion juga tuan Birawa!. Apakah kalian kenal dengan orang yang saya sebut tadi?" Tanya Gentala keheranan


"Kalau yang guru sebutkan tadi adalah Braga asal kota S sana. orang tersebut adalah buronan kami selama ini."


"Tapi jika bukan pun kami tetap akan memburunya!" Jawab Dion mantap


"Mengenai asal usul dia sebenarnya masih belum jelas, karena sikap mereka yang tertutup, dan seperti sedang menyembunyikan sesuatu."


"Hampir setahunan ini mereka berdiam di desa kami, dan melakukan bisnis jual beli tanah, serta barang komoditas bahan pokok, yang mereka bawa dari kota."


"Awal mulanya, masyarakat desa senang dengan kehadiran mereka, karena rata rata sikap serta pembawaannya sangat baik, dan suka menolong warga. apalagi ketuanya itu"


"Tapi lama kelamaan sikap asli mereka mulai terlihat. Dalam dua bulan terakhir ini, mereka mulai bersikap sewenang wenang, dan tidak kenal belas kasihan."


"Kalau warga desa tidak bisa mengembalikan uang yang dipinjam dari juragan Braga tersebut. maka tanah, rumah bahkan anak gadis mereka akan mereka ambil secara paksa."


"Apakah selama ini aparat desa tidak mengetahuinya?" Tanya Dion penasaran


"Mereka sendirilah aparat desa ini, karena dalam pemilihan kepala desa enam bulan lalu, Braga menang mutlak, dengan mengalahkan pesaingnya dengan cara licik."


"Setelah menjadi kepala desa, empat bulan awalnya, sikap Braga sangat baik, tapi setelah masuk bulan ke lima, mulai terlihat tujuan utamanya mencalonkan diri sebagai kepala desa."


"Lalu apa usaha guru dan murid murid perguruan ini, untuk mengatasi kesewenangan mereka? "Tanya Dion ingin tahu


"Selama ini kami hanya bisa memantau dan berusaha meluruskan tindakan mereka."


"Tapi karena kepala desanya terpilih secara sah, walau telah terjadi kecurangan besar, kami tidak bisa berbuat apa apa."


"Cuma yang bisa kami lakukan adalah memberi pengertian pada warga, agar tidak berhubungan dengan Braga, terutama dalam masalah keuangan."


"Karena aktivitas itulah, sering kali terjadi salah paham, bahkan bentrokan fisik sering sekali terjadi, antara murid perguruan dengan anak buahnya itu"


"Kalau nak Dion ingin mencari penyelesainnya, maka lebih baik batalkan saja, karena mereka orang yang berkuasa di desa ini." Ucap Gentala khawatir


"Bukankah murid murid perguruan ini hebat hebat apalagi guru guru nya?"


"Tapi kenapa tidak mau sekalian bergerak, berantas mereka hingga tidak tersisa, atau minta legalitas dari pihak kepolisian, untuk mengatasi mereka?" Tanya Dion penasaran


"Sudah pernah di coba tapi tanggapan mereka tetap sama."


"Pihak kepolisian tidak menemukan pelanggaran yang bisa menjerat mereka, karena setiap transaksi yang dilakukan, mereka menggunakan surat perjanjian, dan ditandatangani diatas materai."


"Jadi mereka tidak bisa menindaknya."


"Begitulah kesulitan yang selama ini kami hadapi." Jawab Gentala apa adanya


"Hem!. Ternyata begitu!" Respon Dion mengerti


"Burgon!. Kirim orang orang mu untuk menyelidiki mereka."


"Pastikan bahwa mereka adalah orang yang selama ini kita cari!"


"Paman Iron dan kalian bertiga!. Instruksikan pada bawahan mu, agar bersiap siap untuk berperang!"

__ADS_1


"Aku tidak mau tempat dimana anak ku bakal tinggal, ada pengacau dan rentenir seperti itu!"


"Musnahkan mereka!. Baik secara terang terangan, maupun secara sembunyi sembunyi."


"Aku mau hari ini, atau sampai besok, sebelum kita kembali, desa ini sudah bersih dari hama pengganggu, dan tidak ada lagi kekacauan yang terjadi!"


"Kerjakan sekarang!" Perintah Dion tegas


"Baik tuan besar!" Jawab Iron dan yang lainnya patuh. Kemudian meminta izin untuk meninggalkan tempat pertemuan tersebut


"Sungguh berkuasa murid guru besar itu. Hanya dengan sekali perintah, semua anak buahnya patuh, dan langsung mengerjakannya tanpa protes sedikitpun." Ucap seorang guru pada teman yang duduk disampingnya itu


"Aku rasa juga demikian, latar belakangnya tidak biasa, anak buah nya saja sebanyak itu, dan kulihat mereka kuat kuat"


"Jika kita bertarung dengan salah satu dari mereka, mungkin kita akan kalah."


"Jadi sebaiknya kita jaga sikap, dan jangan macam macam dengannya."


"Apalagi anaknya bakal menjadi pemimpin di perguruan ini, dan kita tidak bisa protes dengan alasan anak tersebut masih kecil." Jawab temannya yang lainnya itu sambil berbisik


"Guru guru semua!. Mulai saat ini, kalian tidak usah khawatir lagi. Karena hari ini atau paling lama besok. orang yang bernama Braga itu akan hilang dari muka bumi!"


"Percayakan semua masalah tersebut pada kami, dan aku jamin!. dalam waktu yang tidak lama. kekacauan yang disebabkan oleh Braga dan anak buahnya itu, akan bisa diatasi oleh anak buah ku dengan mudah."


"Dulu mereka kalah dalam bertarung, dan melarikan diri sampai ke sini."


"Tidak ku sangka, hari ini buronan kami itu, ada di desa ini."


"Jadi sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui."


"Baiklah kalau itu keputusan kalian!. Kami hanya berdoa, semoga usaha kalian akan berhasil, dan pengacau itu terusir dari desa ini." Respon Gentala senang


***


Empat jam kemudian


"Lapor tuan.! Mata mata yang kita susupkan ke perguruan itu, mengabarkan bahwa musuh besar kita, saat ini sedang berada di desa kita."


"Apa yang harus kita lakukan tuan?" Ucap seorang ketua kelompok Braga ketakutan


"Gawat!.Kalau mereka mengetahui bahwa kita ada di desa ini, maka kita semua akan dihabisi oleh mereka!"


"Selama ini kita aman aman saja, dan jauh dari ancaman, tapi sekarang ketenangan kita bakal terusik dengan kedatangan mereka."


"Cepat kau kumpulkan semua anak buahmu!. Katakan pada mereka, aku ingin bicara. Sekarang!" Respon Braga panik


"Baik tuan!" Jawab anak buahnya itu patuh


Sepuluh menit kemudian, seluruh anak buah Braga yang berjumlah 80 orang itu, termasuk 6 orang penyusup di perguruan tersebut, sekarang sudah berkumpul di belakang rumah besar milik Braga, dan siap mendengarkan arahan dari tuannya


"Kalian semua dengarkan baik baik!. Seperti yang sudah kalian dengar, bahwa musuh besar kita, saat ini tengah berada di desa ini, Jika kita ketahuan, maka bisa dipastikan kita semua akan habis!"


"Untuk itu, cepat kumpulkan semua harta benda kita, dan masukkan kedalam mobil mobil besar itu!"


"Aku tidak mau mati di sini!" Teriak Braga kuat


"Tidak perlu kau lakukan itu Braga!, karena hari ini kau dan anak buah mu akan mati!" Ucap Iron bernada ancaman

__ADS_1


"Kau?" Respon Braga terkejut


"Ya. ini aku. teman lama mu!"


"Apakah kau sudah tidak kenal lagi padaku Braga?" Jawab Iron bernada ejekan


"Bagaimana mungkin?" Ucap Braga masih tidak percaya


"Tidak ada yang tidak mungkin bagi tuan besar dan anak buahnya."


"Sekarang menyerah lah!. agar hukuman mu bisa diperingan." Jawab Iron cuek


"Tidak akan!. Lagi pula sekarang ini aku adalah kepala desa, yang di pilih secara sah oleh warga. dan dilindungi oleh undang undang pemerintahan!"


"Kalau kau membunuh ku!, maka kau akan berhadapan dengan pihak pemerintah, dan kau akan ditangkap, karena telah membunuh jajarannya!" Jawab Braga kuat. Yakin dengan dukungannya sebagai seorang kepala desa


"Benarkah?" Respon seseorang yang tiba tiba muncul di depan mereka


"Tu...tu tuan Birawa!" Ucap Braga terkejut


"Kau lihatlah sekeliling mu!, mereka adalah orang orang desa, yang telah kau aniaya dan kau peras selama ini."


"Ada banyak pengaduan yang masuk ke kami, yang mengatakan, bahwa kau telah menyalah gunakan wewenang mu sebagai seorang kepala desa."


''Contohnya adalah bapak ini!. Kau rampas seluruh hartanya, bahkan anak gadisnya juga kau rampas. dengan alasan tidak mampu membayar hutang yang bunganya sangat mencekik sekali."


"Itukah yang kau katakan kepala desa?" Ejek tuan Birawa menohok sekali


"Itu semua bohong!. Aku tidak pernah melakukannya. Itu hanya fitnah, dengan niat menjatuhkan ku!" Bantah Braga tidak mau kalah


"Bagai mana dengan yang ini?" Ucap Tuan Birawa keras, sambil meminta 7 orang warga desa untuk maju


"Tapi..?" Respon mereka ragu ragu


"Kalian jangan takut! si Braga itu tidak akan bisa berbuat apa pada kalian, karena sebentar lagi dia akan mati!" Ucap tuan Birawa membesarkan hati mereka agar berani maju


"Hahahaha!. Rencana mu tidak akan berhasil Birawa. mereka adalah orang orang ku, yang telah banyak mendapat bantuan dari ku!"


"Jika kau menganggap mereka bisa kau jadikan saksi untuk menjebak ku, kau salah besar Birawa!"


"Mereka adalah orang setia ku, yang sanggup melakukan apa saja demi kepala desa nya!" Teriak Braga geli, karena sudah merasa akan menang


"Bukankah kau yang akan kalah Braga?" Ucap Dion geram, dan muncul tiba tiba


"Hey hey hey!. Ternyata tuan besar Dion!. Kiranya sudah lama tidak bertemu. Apa kabarnya tuan muda eh tuan besar Dion?" Ucap Braga sangat menyebalkan sekali


Whuuuss!


Plak!


Buk!


"Uuugghh!. Kurang ajar!" Teriak Braga marah, ketika tiba tiba mulut dan wajah nya, di tampar dan pukul oleh seseorang dengan kuat


"Siapa yang berani memukul ku?" Ucap Braga marah


"Aku!" Jawab seseorang yang tiba tiba saja muncul di depan nya sambil tersenyum sinis

__ADS_1


__ADS_2