
Sementara itu di waktu yang sama
Setelah menempuh jarak sekitar 3.269 kilo meter, dan waktu tempuh kurang lebih 4 jam 45 menit dengan sekali transit, pesawat yang ditumpangi oleh nenek Elina dan keluarganya itu mendarat di bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Jakarta Barat
Setelah selesai melakukan periksaan imigrasi, mereka segera berjalan keluar dari bandara itu dengan tergesa gesa, karena ingin segera menghirup udara kebebasan, setelah lepas dari belenggu kemiskinan di kota Hongkong itu
"Selamat datang dan selamat kembali!" Ucap Jasmine sambil mengangkat tangannya ke udara, dan berjingkrak jingkrak kegirangan, seperti berharap ada yang sedang menunggu kepulangan nya itu
Orang orang yang lalu lalang di bandara tersebut, hanya melirik perbuatan Jasmine yang kampungan itu, sambil menggelengkan kepala nya pertanda keheranan
"Apakah kau sudah gila Jasmine, menari nari seperti itu di tempat umum?" Bentak nenek Elina pelan
Jasmine segera menyadari kebodohannya itu, dan segera memperbaiki sikapnya yang kekanak kanakan
Danish dan Everly hanya diam saja, melihat kelakuan anak gadisnya tersebut. Dalam hatinya membatin, mungkin sikap yang ditunjukkan oleh Jasmine itu karena terlalu senang, setelah menginjakkan kakinya kembali ke Indonesia
"Ayo kita mencari tumpangan untuk pulang!" Ucap nenek Elina sedikit kesal dengan sikap Jasmine itu
Danish yang mendengar ucapan ibunya tersebut, jadi bingung sendiri, mau mau pulang kemana, dan mau mencari tumpangan apa, dia sendiri tidak tahu
Lalu dia berkata "Tapi kita mau kemana bu?. Apakah kita akan di kota ini saja, atau ke tempat lain?" Ujarnya
"Ke kota B!" Jawab ibunya asal bicara
"Yang benar saja bu, apakah ibu mau mencari mati berani kembali ke sana?" Bantah Danish pada ibunya
"Kau benar, kalau begitu kita ke pulau K saja, di sana banyak tempat subur untuk tempat bercocok tanam."
"Jasmine tidak mau nek!Jasmine mau ke kota B saja, atau ke kota yang dekat dengan kota itu, karena Jasmine ingin segera bertemu dengan Dion di sana!" Bantah Jasmine keras kepala
"Terserah kau saja!, kalau tidak mau mendengar kata nenek lagi. Pergilah !" Respon nenek Elina marah, sambil mengusir Jasmine dari hadapannya
Melihat kejadian itu, Everly, ibunya Jasmine, menengahi pertengkaran mereka, lalu berkata. "Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, karena semua penumpang yang sama dengan kita tadi, semuanya sudah pergi. Lagipula kita akan menjadi pusat perhatian mereka!" Ucap nya memberi solusi, sambil melirik sekelompok orang yang berdiri tidak jauh dari mereka
"Ya ibu tau itu, tapi kita mau pergi ke mana?" Bantah ibunya bingung
"Kita cari taksi saja dulu, agar bisa mengantarkan kita ke penginapan. Di sana baru kita bicarakan rencana selanjutnya." Usul Danish memberi solusi
"Kau benar! cepat angkat tas kalian itu, dan kita naik taksi ke penginapan!" Perintah nenek Elina cepat
Bergegas Jasmine, Chalista dan kedua orang tuanya mengambil tas kecil milik mereka, dan menuju areal parkir khusus taksi
Melalui tawar menawar yang cukup alot, padahal tarif taksi sudah di tentukan, akhirnya mereka dapat juga menaiki taksi itu, untuk mencari penginapan yang bertarif murah permalamnya
Setelah berlalu beberapa menit, akhirnya taksi yang ditumpangi oleh mereka, meninggalkan bandara tersebut, menuju ke sebuah penginapan sederhana di wilayah Jakarta Barat itu
Sesaat setelah mereka pergi, dua buah mobil warna hitam, membuntuti taksi tersebut, dalam jarak kurang lebih 100 meter darinya
Didalam mobil berwarna hitam itu, terlihat seperti seseorang sedang menelepon bos nya. Dalam teleponnya itu dia mengabarkan." Bos!, sesuai perkiraan, target sedang menuju ke sebuah penginapan yang ada di sekitar kota ini. Apa yang harus kami lakukan lagi bos?" Ucapnya meminta petunjuk
__ADS_1
"Terus ikuti saja, dan pastikan lokasi penginapan yang mereka tuju di ketahui dengan pasti!" Perintah orang di seberang telepon sana dengan tegas
"Baik bos!" Jawab si penelepon itu cepat, kemudian menutup saluran teleponnya
Sementara itu, taksi terus melaju menuju ke suatu lokasi yang lumayan ramai. Setelah memastikan bahwa penginapan itu yang mereka inginkan, akhirnya taksi tersebut berhenti, dan penumpangnya segera keluar dari dalam nya, dan bersiap siap ingin masuk ke dalam penginapan itu
Dua buah mobil yang tadi membuntuti mereka, juga berhenti tidak jauh dari taksi tersebut, tapi penumpangnya tidak keluar
Mereka hanya mengamati dari jauh, dan memastikan bahwa penumpang taksi tersebut, benar benar telah masuk kedalam penginapan itu
Selama dibuntuti itu, tidak ada penumpangnya yang menyadari, bahwa mereka terus di ikuti oleh dua buah mobil sejak dari bandara
Setelah memastikan, bahwa targetnya sudah masuk kedalam penginapan, barulah kedua mobil warna hitam tersebut, melaju di jalanan yang ramai, tapi ada dua orang penumpangnya yang tidak ikut pergi
Mereka berdua lebih memilih untuk tinggal, atau memang sengaja di tinggal di situ, untuk melakukan pengamatan terhadap targetnya
Kebetulan tak jauh dari penginapan tersebut, atau tepatnya di seberang jalan, ada sebuah hotel kelas melati berdiri megah di sana
Seperti tidak mengenali target yang diikutinya, kedua orang laki laki tersebut, berjalan meninggalkan lokasi, di mana tadi mereka diturunkan dan berjalan menuju hotel itu dengan tenang
***
"Tuan muda!" Sapa Ivory mencoba memecahkan keheningan suasana di antara mereka
Maya dan Ivory merasa malu sendiri, karena tiba tiba saja memeluk Dion dengan begitu erat
Setelah menyadari bahwa perbuatannya mereka itu sangat memalukan bagi diri sendiri, buru buru mereka melepaskan pelukan tersebut, kemudian berdiri diam di depan Dion, sembari menunduk malu
"Ivo mana berani tuan muda! Nanti tuan besar akan marah, dan mengusir ku agar menjauh dari sisi tuan muda." Jawab Ivory tetap tidak mau menuruti kemauan Dion itu, karena takut
"Aku yakin, kakek juga akan setuju dengan pendapatku ini. Kalau kau tidak mau menuruti keinginan ku, maka aku juga tidak mau berbicara pada mu!" Ucap Dion mengancam
"Bukan begitu tu.tu.. maksudku....!"
"Honey, kakak atau panggilan mesra lainnya, okay?." Ucap Dion memotong perkataan Ivory
Tapi harapan Dion tidak terkabul, karena Ivory tidak kunjung menjawab atau merespon ucapan nya tadi, dia hanya tersenyum simpul sambil menunduk malu
Setelah mengucapkan kata kata itu, Dion mengalihkan pandangannya kearah Maya, lalu berkata..
"Untuk Maya, jangan panggil aku tuan muda lagi ketika dalam situasi seperti ini, panggil saja kakak atau terserah kamu saja, ya?"
"Ba baik tuan muda! eh maksud ku kakak!" Jawab Maya terbata bata, karena dia belum terbiasa memanggil Dion seperti itu, apalagi memanggil namanya saja, dan dia pun tidak akan pernah melakukan hal tersebut selamanya
"Nah begitu labih baik." Tanggap Dion dengan cepat
"Dan satu lagi, jangan panggil kakek ku dengan sebutan tuan besar, kalau tidak dalam keadaan resmi, panggil kakek saja, sama seperti ku." Ucap Dion memberi arahan
"Kami mana berani tuan muda, eh maksud ku honey, kalau harus memanggil tuan besar dengan sebutan kakek saja. itu tidak pantas dan tidak sopan!" Tanggap Ivory memberi alasan
__ADS_1
"Siapa bilang tidak pantas dan tidak sopan?" Seru seseorang secara tiba tiba
"Kakek!
"Tuan besar!"
"Tuan besar!"
Ucap ketiganya secara bergantian, sambil menunduk hormat
"Aku sudah mendengar pembicaraan kalian tadi. dan aku setuju dengan pendapat Dion, sebaiknya mulai hari ini, kalian jangan memanggilku tuan besar lagi, tapi panggil aku dengan sebutan kakek!" Ucap tuan Birawa dengan tersenyum ramah
"Ta ta tapi tuan besar!" Jawab Ivory tidak enak hati
"Sudah aku katakan jangan panggil aku tuan besar lagi!, tapi panggil aku kakek, kecuali dalam keadaan resmi. Paham!" Bantah tuan Birawa kecewa
"Ba baik kek!" Jawab Maya dan Ivory gugup
"Hahahaha!. Itu baru calon cucu menantu ku!" Tawa tuan Birawa senang
"Oh ya kek, hampir Dion lupa!. sudah hampir sebulan ini, Dion ada mengangkat saudara dengan seorang wanita teman Dion dulu, kebetulan saat ini, dia bekerja di perusahaan kita."
"Ha bagus itu, kenapa kau tidak tidak mengatakannya pada kakek?"
"Karena disibukkan dengan urusan perusahaan, dan proyek proyek yang ada, juga oleh kompetisi yang Kakek ada kan itu, Dion jadi lupa!. Hehehe..!"
"Siapa gadis itu?" Tanya kakeknya penasaran
"Emi, atau Emily kek!" Jawab Dion singkat
Deg!
Hati Ivory berdetak kencang, dia tidak menyangka, wanita yang selama ini disangkakan bakal merebut Dion, ternyata adalah saudara angkat dari calon suaminya ini
"Duh! aku sungguh salah mengira pada sosok Emily itu. ternyata memang dia tidak berniat untuk merebut Dion dari sisiku."
"Aku harus minta maaf padanya!" Batin Ivory dalam hati
***
"Apa yang harus aku lakukan di sini, haruskah aku kembali ke kota B saja, atau ikut nenek ke pulau K?" Kata Jasmine pada diri sendiri. melamun sejenak lalu melanjutkan perkataannya
"Kalau ke kota B. dimana akan tinggal, kalau tetap memaksa mau kemana?"
"Huh!, benar benar bingung!"
Disaat Jasmine kebingungan seperti itu, tiba tiba terdengar sebuah suara mengejutkan Jasmine. "Apa lagi yang kau rencanakan Jasmine, mau berbuat hal gila lagi?" Ujarnya
"Nenek?" Ucap Jasmine terkejut
__ADS_1
"Kenapa terkejut?. Sekarang kau panggil orang tuamu dan bangun kan si Lista pemalas itu!" Perintah nenek Elina tidak sabaran
"Baik nek!" Jawab Jasmine singkat, lalu buru buru pergi