
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah nenek. Nanti di sana Rara bisa makan sepuasnya." Jawab Arnold berusaha menenangkan putri keduanya itu, dengan janji janji kosong
"Dari tadi sebentar sampai, sebentar sampai, tapi belum sampai juga pun!" Protes Rara kesal, dengan ciri khasnya sebagai seorang anak kecil
"Rara capek?. Biar papa gendong ya." Pujuk Arnold penuh kasih sayang, sambil meraih tubuh mungil Rara, lalu diletakkan di punggungnya
Rara, gadis mungil usia 10 tahun, yang tidak tahu apa apa itu, telah menjadi korban keserakahan dari ayahnya sendiri. Dalam usia segitu, dipaksa untuk merasakan pahit getirnya kehidupan jalanan. Walau di luaran sana, masih banyak anak anak seusianya, yang telah lama mengalami pahitnya hidup sebagai orang yang tidak punya
Tapi kasus Rara berbeda, dari kecil sampai usianya 10 tahun ini, dia belum pernah merasakan kesusahan seperti itu. Namun setelah ayahnya bangkrut, baru dia merasakan hidup sebagai orang miskin dan tak punya
Sedangkan kakaknya, Catherine, gadis berusia 13 tahun, sudah pernah merasakan pahit getirnya kehidupan, ketika harus terbuang dari keluarga Arnold, karena kehadirannya, tidak diterima oleh orang tuanya sendiri
Dia terpaksa dititipkan ke rumah neneknya yang hidup melarat, walau menantunya itu kaya raya
Sejak usia tiga tahun, Catherine diharuskan keluar dari rumah Arnold, hanya gara gara dia memecahkan guci antik kesayangan ayahnya itu, secara tidak sengaja
Guci peninggalan zaman kuno, dari dinasti kerajaan Cina tempo dulu, yang berharga satu miliar tersebut, pecah secara tidak sengaja, karena ditabrak oleh Catherine, ketika dia sedang berlari larian di dalam rumah mewah ayahnya itu
Tiga hari kemudian, Katherine dibawa ke rumah neneknya untuk diasuh disana, karena menurut penilaian Arnold, Catherine itu terlalu nakal dan susah diatur
Karena kejadian itulah, ibunya Jennifer menjadi marah kepada menantunya tersebut. dan sejak saat itu pula, dia bersumpah, tidak akan lagi mau menerima bantuan apapun dari Arnold menantunya itu, hingga dia rela hidup melarat dan makan seadanya
Catherine yang masih berusia balita itu tidak tahu apa apa. Dengan tekun, neneknya merawat serta membesarkannya dengan penuh kasih sayang, karena di rumah itu dia tinggal sendiri, setelah ditinggal mati oleh suaminya. Jadi kehadiran Katherine, bisa sebagai obat pelipur lara
Setelah Katherine berusia 12 tahun, baru lah Arnold tergerak hatinya, untuk membawa kembali anaknya tersebut pulang ke rumah
Tentu saja mertuanya tidak terima, dengan tindakan sewenang wenang dan seenaknya dari arnold tersebut. Dengan beringas, Monita, ibunya Jennifer itu, mengusir Arnold dari rumah sederhananya, tapi usahanya tidak berhasil
Arnold tetap memaksa, agar Katherine itu, tetap ikut pulang bersamanya, walau neneknya menghalang halangi dengan segala cara
Dibantu oleh beberapa pengawal, Arnold berhasil merebut Catherine dari tangan mertuanya itu
Bertambah benci dan dendam lah Monita pada Arnold itu, dan bersumpah, tidak akan mau menerima kedatangan Arnold tersebut sampai kapanpun
Tapi saat ini Arnold dan keluarganya tersebut, sedang menuju ke rumah mertuanya itu, untuk tinggal di sana, karena dia sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi
Apakah mereka diterima atau tidak, kita juga belum tahu kelanjutannya
***
Satu minggu kemudian
__ADS_1
Malam itu, bulan sedang bersinar dengan terangnya, cuaca cerah tanpa awan, membantu sinar bulan, menerangi sebagian permukaan bumi dengan anggunnya
Saat bulan purnama itu, Dion dan Ivory sedang duduk berdua di sebuah gazebo mewah, yang menghadap ke laut lepas. Walaupun jaraknya lumayan jauh, tapi karena terang bulan, dan banyaknya kapal yang lalu lalang di laut tersebut, Dion dan Ivory, bisa melihat aktivitas di atasnya
Ketika sedang duduk berdua itu, Dion memulai membuka suara." Ivo!. Bagaimana pendapatmu, jika kita meresmikan hubungan ini saja, jadi setiap saat, kau bisa berada di depan ku, dan menghibur ku, sama seperti malam ini." Ujarnya merayu
Ivo tidak menjawab atau langsung merespon, dia benar benar terkejut, mendengar ucapan yang spontan itu dari mulut Dion, orang yang selama ini dikenal sangat sibuk dan dingin itu
Tapi malam ini, Dion sendiri yang mengajukan pertanyaan seperti itu. Hatinya menjadi berbunga bunga, lidahnya kelu, dan tidak mampu untuk menjawab, ya atau tidak
Namun beberapa saat kemudian, hatinya bersorak gembira, berbarengan dengan rasa terkejutnya itu
Sebagai seorang gadis, pasti mendambakan dilamar oleh laki laki yang dicintainya
Ketika mendengar tawaran dari Dion itu, Ivory sangat senang sekali. Kemudian berkata." Apapun yang honey putuskan, Ivo menurut saja." Ujarnya malu malu
"Kalau begitu, berarti kau bersedia menikah dengan ku?" Tanya Dion mencoba menggoda Ivory dengan kerlingan matanya
Ivory yang digoda seperti itu menjadi malu, kemudian refleks mencubit tangan Dion dengan manja
"Ini berita bagus!. Aku harus menyampaikan berita ini pada kakek, agar dia bisa mengatur rencana melamar mu." Respon Dion senang, kemudian merengkuh tubuh ramping Ivory, dan di peluknya dengan mesra
Dengan manisnya Ivory tersenyum, kemudian memejamkan matanya, pertanda mengharapkan sesuatu
Dengan perlahan, Dion menempelkan bibirnya di bibir Ivory, kemudian menggulumnya dengan lembut, lama dan lama sekali
Waktu terasa berhenti, bulan yang bersinar terang, menunduk malu malu, ketika melihat dua sejoli sedang memadu kasih di bawah tatapannya
Hewan hewan malam, yang biasanya berterbangan, di sekitaran vila pun tidak berani melintas. Begitu juga dengan hewan hewan tanah, tidak berani mengeluarkan suara, karena takut mengganggu kemesraan sepasang sejoli itu
Awan tipis akhirnya datang, dan malu malu melintas, sambil mengintip kemesraan, dua anak manusia yang sedang dimabuk cinta
"Dunia benar benar indah terasa." Batin semua makhluk yang melihat kemesraan mereka berdua
***
Kilas balik perjalanan Arnold dan keluarga
Waktu telah menjelang petang, sebentar lagi beranjak malam, Arnold dan keluarga, akhirnya sampai di kediaman orang tua Jennifer dengan kondisi kelelahan
Rara yang sudah tertidur dalam gendongan ayahnya, terbangun karena mendengar ribut ribut antara Monita dan ayahnya itu
__ADS_1
Pertengkaran tidak bisa terelakkan lagi.Jennifer sebagai anak, tidak bisa menengahi pertengkaran tersebut. Dia hanya berusaha menyabarkan ibunya itu, agar tenang, supaya Arnold atau dirinya, bisa menjelaskan duduk perkaranya
Tidak mudah untuk menyakinkan Monita, yang sedang tersulut emosi itu untuk sabar. Tapi pada akhirnya, Monita diam juga, mungkin sudah kehabisan kata kata
"Aku minta maaf bu, karena selama ini, telah bersikap sewenang wenang pada ibu dan Katherine." Ucap Arnold membuka suara, setelah melihat ibunya sedikit tenang
"Sungguh kami menyesal, karena telah bersikap sombong seperti itu!" Ucap Arnold lagi, sambil bersimpuh di kaki ibu mertuanya tersebut
Monita hanya diam saja, malah memalingkan mukanya kearah lain karena kesal
"Katakan!. Kenapa kalian kesini?" Tanya Monita ketus, tanpa memperdulikan permohonan maaf dari Arnold tersebut
"Perusahaan Arnold bangkrut bu, disita oleh pihak bank, karena ada orang yang sudah mencuri uang perusahaan, hingga tidak mampu membayar kewajiban hutang." Jawab Jennifer terus terang
"Aku tahu sifat suami mu itu, tamak dan serakah, sudah punya perusahaan sendiri, tapi masih mau merebut perusahaan orang lain." Tangkis monita terkesan menyalahkan Arnold
"Sifatnya yang kurang baik itu, akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri!" Sanggah Monita lagi apa adanya
"Ini tidak seperti yang ibu bayangkan!" Protes Jennifer tidak terima
"Jangan berkelit lagi!. Ibu sudah tahu apa yang terjadi. Pasti suamimu itu telah membuat masalah dengan orang lain, yang kekuatannya jauh lebih besar daripada kekuatan suami mu itu!" Tangkis ibunya ketus
"Dari mana ibu tahu?" Tanya Jennifer penasaran
"Dengan sifat suamimu yang seperti itu, yang tidak pernah mengenal kata puas, pasti ingin meluaskan pengaruhnya. Harta yang didapat, dianggapnya tidak pernah cukup dan ada, maka dia berusaha merampas hak orang lain!" Jawab ibunya dengan suara berintonasi tinggi, kemudian mengambil nafas sejenak, lalu melanjutkan perkataannya lagi
"Ibu tahu masalahnya, karna ada yang menyampaikan pada ibu. dan sebenarnya ibu juga sudah tahu, apa yang terjadi pada kalian, karena sebelum kalian datang, sudah ada orang orang mu yang mengabarkan itu pada ibu."
"Ibu memang sengaja tidak menghubungi kalian, karena ibu yakin, pasti kalian akan datang kesini, karena rumah kalian disita, dan ternyata perkiraan ibu benar."
"Sekarang kalian ingin tinggal di rumah ibu kan?" Kata Monita merasa tidak senang
"Benar bu!. Hanya rumah inilah yang menjadi tumpuan kami untuk berteduh, karena semua aset aset perusahaan Arnold sudah disita, dan tidak menyisakan sedikitpun."
"Bagaimana kalau ibu menolak?" Tanya Monita masih kesal
"Ibu lihatlah si Rara ini, dia sudah sangat kelelahan. dan ibu lihatlah juga Katherine, cucu ibu itu, sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri!" Ucap Jennifer mencoba merayu ibunya, dengan menyodorkan kedua anak gadisnya tersebut
Monita mendadak tersentak, karena dari tadi dia hanya melampiaskan kekesalan dan kemarahannya saja, tanpa melihat keberadaan kedua cucunya itu
"Kemari sayang! Jangan hanya berdiri di situ!" Kata Monita sambil merentangkan tangannya ingin memeluk Katherine dan Rara
__ADS_1