
"Baik!" Ucap mereka serempak, dan langsung keluar dari kantor besar milik anggoro sebelumnya, menuju ke ruang kantornya masing masing. Untuk mengambil barang barang pribadi mereka
Setelah keluar dari kantor. Semua wajah para bekas petinggi mall itu tampak lesu. Seperti sudah kehilangan gairah untuk hidup
Sirna sudah harapan mereka untuk berkarir, di mall yang selama belasan tahun, menjadi tempat mereka untuk mengais rejeki
Semua karyawan yang melihat mereka bersikap seperti itu, tentu saja merasa heran. Di kepala mereka penuh dengan tanda tanya
"Ada apa dengan bos bos kita itu? Tidak biasanya mereka bersikap seperti itu?"
"Apakah gara gara kasus penembakan di tempat parkir tadi, hingga membuat mereka mendapat teguran dari tuan Anggoro?" Tanya salah seorang karyawati di bagian penjualan parfum merk ternama penasaran
"Manalah aku tahu!. kan dari tadi kita sibuk mengikuti berita perkembangan kasus tersebut."
"Kalaupun mereka bersikap seperti itu ya wajar, karena sedikit banyaknya mereka juga terkena imbasnya!" Jawab temannya sesama karyawan di gerai parfum itu apa adanya
"Sudah! sudah!. Jangan bahas masalah yang bukan urusan kita. Jangan sok tahu padahal kita tidak tahu!" Hardik pimpinan gerai tersebut sedikit kesal. karena dari tadi mereka terus saja ngerumpi
Di bagian lain
"Sejak peristiwa itu. hanya ada beberapa orang pelanggan yang menghampiri gerai kita, Kalau begini terus, lama lama kita akan rugi, tidak dapat komisi dari bos mall ini." Ucap seorang karyawan mall di bagian pakaian anak anak
"Eh. kemari semua!. Ada desas desus yang aku dengar, yang menyatakan bahwa mall ini telah berpindah tangan ke orang lain!" Ucap seorang karyawan dengan nafas terputus putus
"Kau tahu dari mana?" Tanya temannya seakan tidak percaya
"Berita besar seperti itu, mana bisa disembunyikan dari pendengaran ku. Aku dengar sendiri dari supervisor keuangan." Jawabnya semangat
"Pantas saja aku lihat, beberapa petinggi mall itu keluar dari dalam kantornya dengan muka masam, ternyata itu penyebabnya!"
"Bukan hanya itu saja. Semua petinggi mall ini terkena pemutusan hubungan kerja. Semuanya dipecat!" Respon pembawa berita itu tampak semangat
"Kenapa kau malah semangat seperti itu.?. Bukankah bos bos kita itu, sudah kehilangan mata pencaharian mereka?" Tanya temannya keheranan
"Biarin saja!. Sebagian dari mereka telah bersikap sombong pada kita, Rasain kalau sekarang mereka sudah dipecat. Syukur!" Ucap si pembawa berita itu dengan wajah senang
"Hush!" Diam!.Jangan kuat kuat!" Hardik seorang karyawan yang mempunyai sikap pendiam itu kesal
Tak lama sesudah karyawan pendiam tersebut berkata seperti itu. Beberapa manajer, bahkan General manager mall lewat didepan mereka, tanpa menoleh apalagi senyum pada mereka
Rata rata wajah bekas petinggi mall masam ketika lewat itu, mungkin karena dampak dari pemecatan mereka yang tiba tiba tersebut
Setelah beberapa bekas petinggi mall lewat, keluar Anggoro, didampingi oleh James. Shio Lung dan Erisha, serta 30 pengawal elit yang berpenampilan sangat macho sekali
Kedatangan mereka sempat membuat suasana ramai menjadi hening. Banyak karyawan dan beberapa orang pengunjung, sama sama menoleh kearah rombongan Anggoro itu. Seperti sedang meminta penjelasan, apa yang sebenarnya telah terjadi? dan siapa mereka?
Tapi semua pertanyaan itu lewat begitu saja, karena tidak ada yang bisa memberikan jawabannya pasti. Maka jadilah suasana tersebut menguap, dan hilang tertiup angin
Sementara itu, Anggoro terlihat sedang menuju ke mobilnya. Tapi sebelum masuk, dia sempat berkata pada James maupun Shio Lung
"Sampaikan salam maaf saya pada tuan besar!. Semoga kedepannya bisa lebih baik." Ucapnya kuat penuh harap
"Akan kami sampaikan!" Jawab James cepat
***
__ADS_1
Hotel bintang lima. Grand Sriwijaya Hotel
Sore itu. Dion sedang duduk di balkon kamarnya, sambil melihat panorama sore menjelang petang
Saat ini dia sedang sendiri. Sementara Ivory tengah membuatkan minuman untuk suaminya.
Tak lama sesudah itu, terdengar bunyi bel merdu dari dalam kamar, atau suite mewah tersebut, pertanda ada orang yang ingin bertamu
Hans yang sedang duduk didepan suite, bersama dengan 10 orang pengawal elit, bergegas berdiri untuk memberi salam, pada orang yang telah memencet bel, di depan suite Dion itu, yang ternyata adalah tuan Birawa
"Salam tuan senior!" Ucap mereka serempak, sambil membungkukkan setengah badan mereka ke arah tuan Birawa
"Ya, Berdirilah!" Respon tuan Birawa tegas
"Terima kasih tuan senior!" Jawab mereka serempak
Sementara dari dalam kamar, Ivory yang sedang membuatkan minuman untuk suaminya, ketika mendengar ada bunyi bel, dan juga melihat ke layar monitor CCTV, bergegas membukakan pintu untuk menemui kakek mertuanya tersebut
"Salam kakek!" Sapa Ivory sesaat setelah membukakan pintu untuk tuan Birawa itu
"Mana suamimu?" Tanya tuan Birawa tanpa berbasa basi lagi
"Dion sedang ada di balkon kek!" Jawab Ivory apa adanya
"Baik!?" Respon nya singkat. kemudian memasuki kamar suite tempat Dion dan Ivory menginap, dan langsung menuju balkon suite tersebut
"Kakek!" Ucap Dion terkejut, lalu buru buru berdiri untuk menyambut kedatangan kakeknya itu
"Duduk saja ditempat mu. pandai lah kakek akan duduk sendiri di sini." Respon tuan Birawa datar
"Masalah itu tidak kakek anggap besar. Itu hanya mainan anak anak kecil!" Jawab tuan Birawa enteng
"Lalu masalah apa kek?" Tanya Dion penasaran
"Masalah Anggoro yang tadi kau ceritakan itu. Apakah kau tidak mengenalnya lagi ?" Tanya tuan Birawa menyelidik
"Sepertinya Dion tidak kenal atau tidak ingat sama sekali padanya kek!" Jawab Dion apa adanya
"Anggoro dan Bagaspati, dua kakak adik, dulunya pernah bekerja pada kakek, walau hanya 8 tahun lamanya. Tapi cukup membuat kakek jengkel."
"Saat itu, mereka berdua datang. Meminta pada kakek, agar membantunya membangun usaha perhotelan, mall, dan pertambangan. Tapi kakek tidak meladeninya. Walau pada akhirnya memberikan bantuan juga."
"Uang yang mereka pinjam saat itu lumayan banyak. Tapi kakek tidak tahu, apakah uang tersebut memang digunakan untuk membangun usaha atau tidak, kakek juga kurang tahu."
"Mumpung kita masih ada di kotanya ini. Perintahkan anak buah mu untuk menemukan keberadaan Anggoro kembali, terutama si Bagaspati tersebut. Karena dialah yang paling banyak memakai uang dari Birawa Group kita!"
"Lalu apa hubungannya dengan Dion kek?. Tadi kakek ada menanyakan, apakah Dion kenal dengan Anggoro itu apa tidak?. maksudnya apa kek?" Tanya Dion penasaran
"Oh. Waktu itu kedua orang tuamu masih hidup. Mereka berdua adalah bawahan langsung dari ayah mu. dan selalu datang menemuinya."
"Umur mu waktu itu, baru genap 10 tahun. Mereka sempat berbicara padamu dan sangat menyukai mu. dan kau pun menyukai mereka karena sikap mereka yang ramah."
"Tapi setelah mereka keluar dari perusahaan, praktis kakek dan mereka tidak pernah lagi bertemu."
"Jadi kakek ingin kau bawa si Anggoro itu kehadapan kakek, dan temukan juga adiknya!"
__ADS_1
"Maksud kakek si Bagaspati itu ya?" Tanya Dion cepat, hanya untuk memastikan saja
"Ya. kau benar!. Lakukan sekarang, Besok pagi bawa keduanya untuk menghadap kakek!"
"Baik!" Jawab Dion cepat. kemudian menghubungi Hans untuk segera masuk
"Kasi tahu Burgon dan anak buahnya itu, untuk mencari dan menemukan keberadaan Anggoro dan adiknya si Bagaspati. Besok pagi bawa keduanya untuk menemui kakek!" Perintah Dion tegas
"Baik tuan besar!" Jawab Hans patuh. kemudian meminta ijin untuk mengerjakan tugas
Sepeninggal Hans. tuan Birawa menyeruput teh kesukaannya dengan perlahan, setelah itu baru dia membuka suara.
"Mumpung kita sedang berada di pulau yang sangat terkenal akan bahan tambangnya itu. Bagaimana kalau kita membuat perusahaan tambang di sini?" Tanya tuan Birawa langsung pada intinya
"Apakah kakek yakin?" Tanya Dion sedikit meragukan niat dari kakeknya itu
"Kenapa tidak!. Kekayaan alam yang ada di provinsi ini, sangat melimpah sekali. dengan kita membuka usaha di bidang pertambangan. setidaknya kita telah membantu usaha pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan!"
"Dengan membuka usaha disini, akan banyak tenaga kerja lokal yang akan terserap. dan itu membantu perekonomian mereka menjadi sedikit lebih baik!" Respon tuan Birawa bersemangat sekali
"Menurut kakek, beberapa bahan tambang yang ada di pulau ini, harus kita kuasai. Diantaranya adalah, minyak bumi, gas alam dan batu bara."
"Jika kita bisa menguasai sekitar 60 persen bahan tambang disini, maka kakek yakin, perusahaan kita akan semakin dikenal oleh dunia." Ucap tuan Birawa tegas, ketika dengan sengaja mendatangi kamar Dion
"Apakah kakek yakin, kalau usaha pertambangan itu akan menguntungkan bagi kita?" Tanya Dion sedikit meragukan niat baik dari kakeknya itu
"Kenapa tidak?. Saat ini dunia sedang mengalami krisis energi. Jika kita bisa bermain didalamnya, mungkin kita bisa sedikit mengurangi masalah itu. maka untung yang akan kita dapatkan, bisa menjadi berlipat ganda." Jawab tuan Birawa cepat
"Perusahaan tambang kita sudah sangat banyak. Apakah harus menambah lagi kek. Memang di daerah ini belum ada. tapi ditempat lain sudah banyak sekali" Bantah Dion mencoba mengingatkan kakeknya itu
"Jumlah perusahaan kita memang banyak, tapi produksinya semakin lama semakin menurun, karena kita harus bersaing dengan perusahaan lain, terutama perusahaan asing itu."
"Jadi kakek mengusulkan, agar kau menugaskan pada James Erisha dan Shio Lung, untuk mencari segala kemungkinan, apakah perusahaan kita bisa turut meramaikan dunia pertambangan di bumi Sriwijaya ini atau tidak." Ucap tuan Birawa tetap ngotot untuk membuat perusahaan di pulau S ini
"Baiklah kalau itu mau kakek!. Dion akan mendukung usulan kakek itu, dan akan mengerjakannya dengan segala upaya, serta kemampuan yang bisa dilakukan." Respon Dion tegas
"Bagus!. Itu baru namanya pengusaha yang mempunyai misi dan visi kedepan." Sambut kakeknya senang
"Kalau begitu kakek permisi dulu. Ada sesuatu yang harus kakek lakukan segera!" Ucap tuan Birawa cepat
"Baik kek!" Jawab Dion singkat, tanpa bertanya lagi, pekerjaan apa yang akan dilakukan oleh kakeknya itu
***
Di suatu tempat komplek mansion mewah milik Anggoro
"Kenapa kau jual usaha mall mu itu kak?" Tanya Bagaspati terkesan kesal atas keputusan kakaknya tersebut
"Apakah kau sanggup menolak sejumlah uang yang sangat banyak itu?. 4.7 triliun bukanlah jumlah yang sedikit."
"Dengan uang itu, aku bisa mendirikan perusahaan baru. misalnya perkebunan, pertambangan atau kembali membangun usaha ritel lain, yang jauh lebih besar dari mall yang telah aku bangun itu!" Jawab Anggoro dengan keyakinan tinggi sekali
"Memangnya siapa orang yang telah sanggup membeli mall mu yang tidak seberapa itu?" Tanya Bagaspati penasaran
"Dion Mahesa Birawa, cucu tunggal tuan Mahesa Birawa, pemilik perusahaan Birawa Group, tempat kita bekerja dulu." Jawab Anggoro berterus terang
__ADS_1
"Apa?" Respon Bagaspati terkejut