Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Kepentok cinta Ivory tidak senang


__ADS_3

keesokan harinya 200 pekerja yang diminta untuk diberangkatkan ke pulau itu. sekarang sudah berada di lokasi perkemahan, dan langsung ditempatkan pada tendanya masing masing


Karena lokasi perkemahan yang lapang sudah tidak tersedia, maka Dion memerintahkan pada anak buahnya, untuk membersihkan lokasi lain sehari sebelum nya


Di lokasi itulah sekarang 200 pekerja ditempatkan, dengan menggunakan tenda lain, lengkap dengan perlengkapannya


Selain mereka, dion juga meminta 20 juru masak laki laki, agar juga dikirimkan, guna melayani para pekerja itu dalam hal makanan dan keperluan lainnya


Praktis yang datang saat itu adalah, 220 orang pekerja, ditambah dengan 100 pengawal baru, dan tiga komandan tingkat tinggi, pengganti komandan Bumi, Eric serta Rudolf


Seminggu kemudian


Keinginan tuan Birawa dan Emily terpenuhi, dengan ikut dalam petualangan memasuki belantara pulau K tersebut


Dalam petualangan itu, banyak yang mereka alami, termasuk saat dihadang oleh sekawanan babi hutan, juga oleh binatang binatang lainnya


Tapi semua itu bisa diatasi, berkat adanya para pengawal, yang dengan sigap melindungi mereka


Tapi ada satu kejadian yang sangat membekas di benak tuan Birawa dan Emily, yaitu saat dia terserempak dengan ular besar, yang hampir merenggut nyawa keduanya


Beruntung Iron dan pengawal lainnya bertindak cepat, dengan menembak ular besar tersebut hingga mati


Kejadian tersebut membuat tuan Birawa juga Emily menjadi trauma, dan tidak mau lagi masuk ke dalam hutan sampai kapan pun kalau tidak terpaksa


Bukan hanya itu saja. Di rawa rawa juga tanah lembab hutan tersebut, juga banyak hidup binatang penghisap darah. yang sempat hinggap di kaki tuan Birawa, para pengawal juga Emily


Kejadian tersebut, tentu saja membuat tuan Birawa apalagi Emily menjadi ketakutan, Beruntung saat itu, Rudolf sedang berada di dekatnya, dan dengan sigap membuang hewan penghisap darah tersebut dari kaki mulus Emily


Kejadian romantis itu, tentu saja membuat keduanya menjadi malu, dan semakin membuat perasaan keduanya menjadi tidak karuan


"Maafkan ketidaksopanan saya nona muda!" Ucap Rudolf cepat, sambil menundukkan kepalanya ke arah Emily


Dia melakukan itu karena terpaksa. Dimana dia harus menyentuh kali Emily, untuk membuang pacet penghisap darah, agar tidak melukai kaki mulusnya


"Tidak masalah kak Rudolf!.. Bukan disengaja juga!"Jawab Emily mencoba bersikap bijak


"Mari lanjutkan perjalanan, karena kita berdua sudah tertinggal jauh dari rombongan." Ucap Rudolf mengingatkan


"Aku takut melangkah!. Takut ada binatang itu lagi!" Jawab Emily berterus terang


"Saya jamin tidak akan ada lagi nona muda!" Sambut Rudolf memberi semangat


"Tidak mau!. Aku benar benar takut untuk menginjak tanah berair ini!" Jawab Emily tetap menolak


"Jadi saya harus bagaimana nona?" Tanya Rudolf kebingungan


"Kau bisa gendong aku, atau buat tandu, agar aku bisa duduk di belakang punggung mu itu." Jawab Emily enteng saja, dan sudah melupakan status dan rasa gengsinya tersebut


"Ta..tapi...?" Respon Rudolf ragu ragu


"Lakukan saja!. Aku tidak mau terluka saat ini!" Ucap Emily tegas


"Ba ba baik nona muda!" Jawab Rudolf gugup. Kemudian bergegas merendahkan tubuhnya, agar Emily bisa menyandarkan tubuhnya di punggung. Lalu seperti tanpa beban mengangkat tubuh Emily, dengan perasaan bercampur aduk


Walau sulit tapi tetap dilakukannya juga. Beruntung tubuh Emily tidak terlalu berat, walau kelihatan montok dan berisi


Kemudian dengan langkah tertatih tatih karena medan yang cukup berat,.Rudolf terus membawa Emily keluar dari tempat berair tersebut, dan akhirnya sampai juga di dataran kering, dimana saat itu, ada beberapa orang pengawal yang sengaja menunggu mereka di sana


Kejadian itu, tentu saja membuat Rudolf dan Emily menjadi malu. Tapi pengalaman tersebut, sangat membekas di hati keduanya, terutama bagi Rudolf sendiri.


Bagaimana tidak, gadis yang selama ini terus diimpikan, saat itu tengah berada dalam gendongannya, dan seperti sedang menikmati digendong oleh Rudolf. Laki laki yang ingin menjadikannya sebagai istri

__ADS_1


"Apakah aku sudah mulai menyukai pria ini?" Monolog Emily dalam hati waktu itu, dan semakin membenamkan wajah cantiknya di bahu Rudolf


"Oh Tuhan!. Apakah ini berkah atau musibah?.


"Gadis yang paling aku idamkan, saat ini tengah menempel manja di punggungku?"


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Haruskah aku berteriak dan mengumumkan pada semua, bahwa saat ini aku adalah pria yang paling beruntung di dunia?" Batin Rudolf bertalu talu dalam hati


"Kak Rudolf!.Mau sampai kapan menggendong ku?"Ucap


Emily malu malu


"Eh iya iya. maaf!" Jawab Rudolf gugup. Kemudian menurunkan Emily dengan gerakan cepat


Duk!


"Aaahh!" Jerit Emily lirih, saat kepalanya berbenturan dengan kepala Rudolf sangking tergesa gesa gerakannya, saat menurunkan tubuh Emily dari punggungnya


"Pelan pelan kenapa kak!. Kan jadi sakit kepalaku!" Ucap Emily protes


"Maaf! maaf kan saya nona muda !" Jawab Rudolf semakin gugup dan ketakutan


Tak mau terjadi lagi, Rudolf buru buru melangkah, berniat menjauhi nona Emily. Tapi sial, belum juga bergerak, kakinya sudah tersangkut di akar pohon, dan jatuh di dekat kaki Emily


Gedebuk!


"Hugh!" Keluh Rudolf lirih, ketika terjatuh itu


Bukan itu yang dikeluhkannya, tapi rasa malu yang teramat sangat atas ketidak seimbangan sikapnya saat itu


Hal itu tentu saja membuat Rudolf terkejut, lalu buru buru menyambut tubuh Emily yang sedang hilang keseimbangan tersebut. dan hasilnya, tubuh Rudolf tertindih oleh tubuh Emily, seperti orang yang sedang berpelukan di tanah


Sontak saja keduanya diam membisu dan saling berpandang pandangan, tidak tahu apa yang harus di lakukan selanjutnya


Beruntung empat orang pengawal yang tadi ada di situ, sudah pada pergi, karena di beri kode oleh Rudolf. Kalau mereka masih ada di sana alangkah malunya Rudolf, karena mereka bisa melihat kejadian tersebut


Tubuh Emily masih tetap berada di atas tubuh Rudolf, Tanpa berkata, tanpa bersuara Hanya senyum merekah yang tersungging di bibir Emily dan itu sangat manis sekali


Antara rasa malu dan keenakan, berbaur jadi satu.Tidak ada yang berusaha untuk menyudahinya, hingga terdengar sebuah suara cukup kuat, dan mengejutkan mereka berdua


"Mau sampai kapan kalian berpelukan dan berpandang pandangan seperti itu?" Ucap seseorang yang ternyata berasal dari tuan Birawa


"Kakek!" Teriak Emily kuat. Lalu buru buru melepaskan pelukannya dari tubuh Rudolf


"Tuan senior!." Ucap Rudolf pula ketakutan


"Apa yang telah kau lakukan pada cucuku Rudolf?" Ucap tuan Birawa pura pura marah


"Tu tu tuan senior!. Ini tidak seperti yang tuan lihat!"


"Sa. sa saya hanya berniat ingin menolong agar nona Emily tidak jatuh menimpa tanah!" Jawab Rudolf gugup


"Bohong!. Sudah jelas jelas kau sengaja mencari kesempatan, untuk memeluk cucuku. Begitu kan?" Bantah tuan Birawa tidak mau menerima alasan dari Rudolf tersebut


"Bu Bu bukan begitu tuan senior!. Sa sa saya hanya.."


"Diam!. Cepat bangun dan bimbing cucu ku agar tidak jatuh lagi!" Bentak tuan Birawa tegas. Tapi ujung kalimatnya sungguh membuat hati Rudolf berbunga bunga


"Fiuh!. selamat!" Batinnya

__ADS_1


"Ternyata seberat ini cobaan ketika sedang jatuh cinta ya?" Monolognya dalam hati


"Eh bukan berat. Malah enak!" Monolognya lagi


***


Lokasi perkemahan satu setengah jam kemudian


"Kenapa kakek dan rombongan belum juga keluar dari dalam hutan ya?" Tanya Dion pada diri sendiri, tapi ditanggapi oleh Ivory


"Mana mama tahu pa!. Mungkin mereka mendapat rintangan akibat medannya yang cukup berat."


"Tapi sebentar lagi pasti mereka akan sampai juga." Jawab Ivory dengan lemah lembut, berniat menenangkan kegelisahan suaminya tersebut


"Setengah jam lagi mereka belum muncul, kalian susul kakek juga adik ku ke sana!" Ucap Dion tegas, sekaligus perintah untuk Adiwilaga, Eric juga Bumi untuk mengerjakannya


"Sekarang juga kami akan mencari mereka tuan besar!" Ucap Adiwilaga semangat


"Pergilah!. Bawa pengawal secukupnya, dan segera temukan mereka!" Jawab Dion cepat


"Baik tuan besar!" Jawab ketiganya serempak


Namun belum juga mereka berdiri dari tempat duduknya. Seorang pengawal tampak berlari ke arah Dion dengan tergesa gesa


"Ada apa pengawal?" Tanya Dion tidak sabaran


"Ma. ma maaf saya tuan besar!. Tuan senior dan nona Emily sudah keluar dari dalam hutan."


"Sekarang mereka sedang menuju ke perkemahan ini!"


"Tapi sepertinya nona Emily mengalami kecelakaan dalam hutan lebat di bawah sana!" Jawab pengawal tersebut berterus terang


"Apa katamu?. Siapa yang berani mencelakai adik ku?" Respon Dion dengan ekspresi marah


"Sudah pa!. Lebih baik kita susul saja mereka ke sana!" Ucap Ivory lembut, dan berniat meredam kemarahan dari suaminya tersebut


Tak lama kemudian, apa yang dilaporkan oleh pengawal itu menjadi kenyataan


Tuan Birawa, Iron, Emily, Rudolf, dan puluhan pengawal, terlihat memasuki perkemahan


Tapi ada satu kejadian, yang membuat kening Dion dan Ivory mendadak berkerut, dimana Emily saat itu tengah di gendong oleh Rudolf di punggungnya


"Katakan apa yang terjadi pada adikku?" Tanya Dion penasaran


"Tenangkan dirimu cucu ku!. Emily hanya terkilir saja, saat sedang melewati jembatan kecil menuju air terjun di bawah sana!" Jawab tuan Birawa apa adanya


"Lalu apa yang kalian lakukan untuk menyelamatkan adik ku?" Tanya Dion pada pengawal yang menyertai mereka


"Itu bukan salah mereka kak!. Lily yang salah, karena tidak hati hati saat melangkah."


"Sudah! sudah!. Kenapa di ributkan?. Hanya masalah kecil saja!" Respon Ivory kurang senang


"Masalah kecil kata mu?" Kau lihat!. Kaki Emily bengkak begitu!" Jawab Dion dengan suara kuat


"Papa membentak ku?" Ucap Ivory mulai marah


"Bu bukan begitu ma!" Jawab Dion tidak enak hati


"Dari pada kita berdebat. lebih baik cepat obati kaki adik mu itu!. Aku pergi!" Ucap Ivory ketus, lalu buru buru pergi


"Cepat panggil dewa obat kemari!" Ucap Dion memberi perintah. Lalu buru buru menyusul istrinya untuk meminta maaf

__ADS_1


__ADS_2