Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Hidup pilihan sendiri


__ADS_3

"Tidak mau, tidak bisa!.Yang berhutang itu Brian, bukan nenek. Kalau mau menagih ya tagih Brian di alam sana, pergi kalian ke pemakaman, bukan kesini!" Teriak nenek Elina seperti orang stress


"Kami bekerja secara profesional nek, segala sesuatu dilakukan berdasarkan fakta, daya dan kondisi, bukan ngawur seperti itu." Jawab Luan Xi kalem, sambil menggelengkan kepalanya pertanda heran


"Aku tidak mau menandatangani surat surat perjanjian itu, pergi kalian dari sini, pergi!" Teriak nenek Elina kuat mencoba mengusir mereka


"Kami akan pergi setelah nenek menandatangi berkas berkas itu, itupun akan kembali lagi bersama dengan pihak pihak penanda tangan surat surat tersebut!. Tapi sepertinya mereka sudah sampai." Tangkis Luan Xi, pengacara bank Universal itu


"Tidak! aku tidak mau, cepat kalian pergi dari sini! kalau tidak, aku akan lapor polisi!" Ancam nenek Elina kalut


"Mau lapor polisi ya?, kebetulan mereka sudah ada di luar, silakan panggil!" Ucap Luan Xi sudah mulai terpancing emosi


"Itu jauh lebih bagus!" Jawab Elina kegirangan, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan pergi keluar untuk memanggil polisi yang ada di luar


Tapi alangkah terkejutnya dia, ketika melihat serombongan petugas penyitaan, telah bersiap siap melakukan tugasnya, bahkan ada yang sudah siap dikerjakan, yaitu menempelkan stiker yang menandakan, bahwa rumah dan isinya ini telah di sita oleh pihak bank


Tak jauh dari pintu gerbang masuk, terpampang plang yang ukurannya sedang, bertuliskan kata yang sama seperti stiker yang telah di tempelkan di dinding rumahnya


Perbuatan mereka tentu saja membuat nenek Elina seperti kebakaran jenggot, walau dia tidak berjenggot, apalagi berkumis


Dengan emosi yang meluap luap, Elina membentak mereka dengan kata kata kasar dan tidak pantas." Kurang ajar, Bajingan, manusia iblis, apa yang telah kalian lakukan di rumahku?. Cepat pergi dari sini!" Bentak nenek Elina marah, sambil berusaha mencabut stiker yang telah di tempel di dinding, dan berhasil


Setelah itu, dia sedikit berlari kearah plang, yang sudah di tancapkan di tanah dekat pintu gerbang masuk, dengan niat ingin mencabutnya, tapi usahanya di halang halangi oleh beberapa orang petugas


Luan Xi, Geovanni dan Wui Cheng, yang ada di dalam rumah menjadi kesal, karena nenek Elina tak kunjung kembali juga, kemudian mereka menyusul keluar, untuk melihat apa yang terjadi di luar sana terhadapnya


Setelah ketiganya keluar, mereka melihat nenek Elina sedang bersitegang dengan beberapa orang petugas, walau tubuh tua Elina sudah tidak memungkinkan lagi untuk melawan, tapi dia tetap nekat mencabut plang tersebut untuk di buang, atau di hancurkan. "Dasar nenek stress!" Batin mereka bersamaan


"Ibu! apa yang terjadi, dan kenapa banyak petugas di sini?, lalu dimana Jasmine dan Chalista?" Tanya seseorang keheranan


"Danish!, Everly!. Baguslah kalian cepat datang. Mereka datang ingin merebut perusahaan nenek dan menyita rumah kita?" Jawab nenek Elina sambil menangis histeris


"Tuan, kalau boleh saya tahu, atas dasar apa kalian ingin menyita rumah ini dan mengambil alih perusahaan ibuku?" Tanya Danish sopan


"Baik, kami akan menjelaskan lagi duduk permasaalahannya kepada anda." Jawab Luan Xi, sesaat setelah dia datang menghampiri Danish dan ibunya serta Everly


"Rumah ini disita karena telah menjadi jaminan peminjaman sejumlah uang yang dilakukan oleh Brian, berikut perusahaannya.dan sudah jatuh tempo untuk melunasinya."


"Tapi karena nilai jual rumah ini sudah lebih dari cukup untuk membayar pinjaman itu, maka kami tidak jadi menyitanya. tapi perusahaan yang menjadi mitra kerja ibu anda, telah menggugat perusahaan itu untuk membayar ganti rugi, karena dia telah kehilangan sahamnya sebesar 40%, akibat semua uang yang di simpang di bank kami telah hilang." Sambung Luan Xi panjang lebar


"Tidak mungkin! bagaimana bisa?" Bantah Danish marah kemudian berlari kedalam rumah untuk menanyakannya pada Jasmine

__ADS_1


Tok tok tok tok!


"Jasmine!, keluar kau.. ! tapi tidak ada sahutan, maka sekali lagi Danish mengetuk pintu kamar Jasmine kuat kuat


Dor dor dor!. Kali ini bukan diketuk lagi, tapi digedor


Tak lama sesudah itu Jasmine keluar dari kamarnya, dengan headset yang masih menempel di telinga, tapi matanya menyiratkan seperti baru habis menangis dalam jangka waktu yang lama, karena matanya bengkak seperti mata panda


"Ada apa ayah?" Tanya Jasmine sesaat setelah melepas headset di telinganya


Danish yang semula marah dan emosi tadi, begitu melihat anaknya dalam kondisi linglung seperti itu, mengurungkan niatnya untuk marah kepada Jasmine, kemudian berkata pelan pada nya. "Lihatlah keluar, kita sedang dalam masalah." Ujarnya


"Memangnya ada masalah apa yah?" Tanya Jasmine masih juga ngeyel


"Keluar saja!. nanti kau akan tahu sendiri, cepat keluar!. Ayah akan memberitahu adikmu dulu." Jawab ayahnya lemah lembut


"Baik yah!" Jawab Jasmine lesu.kemudian berjalan gontai keluar


Sesampai di luar, Jasmine mendapati di pekarangan rumah neneknya, terdapat puluhan orang yang berpakaian seragam berlainan warna, sedang berdebat dengan nenek juga ibunya


Bergegas dia menghampiri keduanya, dan langsung bertanya pada neneknya." Ada apa nek?. Kenapa mereka ada di sini?" Ujarnya


"Kau tanyalah sendiri pada mereka!" Jawab nenek Elina malas meladeni cucunya itu


Jasmine pun bertanya kepada petugas itu, dan dijelaskan lagi sama seperti jawaban pada Danish tadi, malah lebih detail, sampai ke masalah masalah kecil, yang masih ada kaitannya dengan perilaku Brian, ketika meminjam uang dari bank itu


Setelah mendengar penjelasan itu, tubuh Jasmine limbung. tempat dia berpijak bergerak, seperti ingin melontarkannya ke udara. kemudian oleng dan seperti akan ambruk,


tapi segera disambut oleh ibunya Everly dengan sekuat tenaga


Seluruh dunia terasa gelap, matanya berkunang kunang, akibat terlalu lama menangis, perutnya keroncongan dan badannya lemah, akibat tidak ada asupan makanan yang masuk, maka jadilah Jasmine pingsan di pelukan ibunya


Saat itu, Danish dan Chalista sudah keluar, tapi di pipi Chalista seperti ada bekas tamparan. mungkinkah Danish yang telah menamparnya?


"Seperti yang kami sampaikan tadi, hari ini juga, kemasi barang barang kalian, dengan atau tanpa tanda tangan dari ibu dan nenek kalian itu, penyitaan semua aset yang di miliki oleh nenek Elina ini, tetap akan di laksanakan!" Ujar Luan Xi pada Danish dan yang lainya


Elina sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi, karena bukti sudah terpampang di depan mata. Mau ngotot macam manapun, dia tetap akan kalah


Jadi mau tidak mau, dia dan keluarganya, harus keluar dari dalam rumahnya sendiri , serta meninggalkannya untuk selama lamanya


Waktu yang di berikan oleh petugas itu cuma satu jam, untuk mereka mengemas pakaian serta perlengkapan mereka untuk hidup di luaran sana

__ADS_1


Dengan limbung kelimanya berjalan menuju pintu depan rumah dan memasukinya, termasuk juga Jasmine yang sudah siuman dari pingsannya itu


Setelah satu jam waktu yang diberikan habis, untuk yang terakhir kali, nenek Elina, Danish, Jasmine, Everly dan Chalista, menatap rumah yang sudah empat bulan lebih mereka tinggali itu


Ada perasaan sedih dan takut di hati mereka masing masing, ketika harus berpisah dengan satu satunya tempat yang bisa mereka diami. Setelah ini, entah apa yang akan terjadi pada mereka


Sepuluh menit telah berlalu, tapi mereka belum juga beranjak dari halaman rumah itu, sampai beberapa orang petugas menghalau mereka dengan kasar, mirip seperti


kejadian dulu, ketika mereka di usir dari rumahnya di kota B. dengan kasus yang sama ,disita !


Kini kelimanya telah berada di luar, berjalan gontai, sambil menenteng tas berisi pakaian dan beberapa bungkusan kecil, mungkin makanan bekal mereka


Apa yang mereka alami dulu, hari ini mereka alami lagi, tapi jauh lebih parah


Ini Hongkong kawan, bukan tempat lain, kehidupannya jauh lebih keras dari tempat mereka dulu, tapi apa boleh buat, tetap harus mereka jalani dengan ikhlas


Sekarang sekali lagi, mereka sudah dimiskinkan dan dipaksa jadi gelandangan, tunawisma, tunakarya, tanpa uang, tanpa tempat tinggal, tanpa kerja, dan tanpa ada yang peduli, apalagi para tetangganya itu


Bagi mereka lebih baik memikirkan keluarga mereka sendiri, daripada keluarga nenek Elina itu, maka jadinya, ketika mereka diusir dari kediamannya itu, para tetangganya cuek cuek saja, bersikap masa bodoh terhadap nasib tetangganya


Siapa yang salah dalam masalah ini?


***


"Lapor tuan muda, sesuai seperti rencana, nenek Elina dan keluarganya sudah di usir dari rumah itu, sekarang mereka sudah menjadi gelandangan kembali di kota sekeras Hongkong itu." Lapor Rams senang


"Heemmm!. Baguslah kalau begitu." Jawab Dion lesu bercampur sedih


"Dion Dion!, masih juga naif sifat mu, lelaki macam apa kau! jadi jadilah Dion. Mereka sudah berlaku aniaya padamu selama ini, masih juga kau sedih, karena terikat dengan janjimu pada kakek Wolf yang tak jelas itu!" Batinnya dalam hati


"Bukankah kau sudah menepati janjimu padanya, dengan menolong keterpurukan mereka, setelah semua hartanya kau sita, demi untuk membalaskan dendam mu pada nya!"


"Tapi apa buktinya?. Orang yang kau tolong itu, telah berbalik melawan mu. Apakah orang seperti itu yang pantas kau tolong, dengan alasan ingin membalas budi?


"Jadi sekarang, kuatkan tekadmu Dion, beri mereka pelajaran, jangan di beri ampun lagi. Tuman!" Batinnya saling berkecamuk


"Baiklah Rams, biarkan mereka seperti itu dan menjalani kesengsaraan hidup pilihan sendiri. Mulai hari ini, aku Dion tidak akan memperdulikan nasib mereka lagi!" Titah Dion tanpa ragu ragu lagi


"Hubungi Hans dan Robin disana!" Titah Dion lagi


"Baik tuan muda!" Jawab Rams hormat

__ADS_1


__ADS_2