
"Kesalahanmu sudah sangat fatal sekali. Kau telah berani mengancam tuan muda kami, dan seenaknya merubah namanya."
"Yang kedua, kau telah menganiaya rekanku, orang terkuat nomor 3 di tim pengawalan tuan besar Mahesa Birawa."
"Ketiga, kau telah berani melawanku, walaupun kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa tadi."
"Jadi untuk semua perbuatan busukmu itu, kau dan seluruh anak buahmu harus mati!" Ucap Hans dengan wajah dingin
"Tu.. tu..tuan Hans!. Mohon ampuni aku, dan seluruh anak buah ku. jangan hukum mati kami tuan. Ku mohon!. Sungguh kami benar benar tidak tahu dan menyesal!" Jawab Raka putus asa dan terbata bata
"Tidak bisa!. Siapapun yang berani mengancam tuan muda kami, apalagi merendahkannya, maka tak seorangpun yang akan kami biarkan hidup!" Ucap Hans menggema dalam ruangan yang cukup luas itu
"Jangankan manusia, nyamuk saja jika menggigit tuan muda, maka kami akan membuatnya mati, dan menghancurkan sarangnya!" Ucap Hans sangat berlebihan karena saking emosinya
Nyamuk sangat mudah dibunuh, apalagi menghancurkan sarangnya, tapi Hans mengumpamakan Raka seperti nyamuk. Benar benar sangat keterlaluan
"Tolong beri kami kesempatan sekali lagi tuan. Kami berjanji!, bahwa kami tidak akan mengulangi perbuatan bodoh seperti itu lagi." Ucap Raka memohon mohon
"Sekali tidak tetap tidak!. lagi pula kalian tidak berguna untuk tuan muda!. Bisa kalian hanya menindas dan memanfaatkan kelemahan orang lain."
"Jadi hama pengganggu, pengacau dan meresahkan manusia lain seperti kalian, harus dimusnahkan dari muka bumi!" Ucap Hans serius
"Tapi sebelum kau dan anak buah mu mati, kau masih punya kewajiban untuk menjelaskan kepada kami, kenapa bisa rekan ku, si dewa kematian itu, takluk pada kalian?. Aku beri waktu 2 menit untuk kau menjelaskannya." Ancam Hans dengan ancaman yang tidak main main
Takut dengan ancaman Hans yang serius itu, Walaupun dia tahu sebentar lagi akan mati, Raka tetap saja menjelaskan awal permasalahan kenapa hal itu bisa terjadi
"Aku sejujurnya tidak tahu tuan!. yang aku tahu, anak buah ku tiba tiba saja membawa seseorang, yang katanya adalah sandera untuk meminta uang tebusan, tanpa mengetahui latar belakangnya."
"Terus, bagaimana caranya kalian bisa melumpuhkan rekan ku itu?" Tanya Hans geram
"Secara acak, anak buah ku memilih mobil yang kelihatannya mewah, untuk disandera pemiliknya, guna meminta uang tebusan kepada keluarganya."
"Aksi itu selalu dilakukan, di perempatan jalan lampu merah, beberapa detik sebelum lampu hijau menyala. Anak buah ku, saat itu, mendapatkan target sebuah mobil mewah, kemudian memecahkan kacanya dengan kapak, lalu melemparkan bom asap yang tidak berbau dan berwarna ke dalam mobil tersebut."
"Setelah penumpangnya menghirup udara di dalam mobil itu, maka otomatis dia akan terbius saat itu juga."
"Setelah dia tidak sadar, beberapa anak buahku masuk ke dalam, dan mengambil alih kemudi mobil itu, lalu menguasainya, begitu lampu hijau menyala, mereka membawanya kemari. Itu saja yang kami tahu tuan."
"Kau bohong!. masih ada yang belum kau ceritakan, yaitu bagaimana caranya kau sampai bisa mengirimkan surat ancaman kepada tuan muda kami?"
"Dari saku bajunya, terdapat surat yang bercapkan nama tuan muda kalian, di situ juga tercantum domisili tempat tinggalnya."
"Berdasarkan informasi itulah, anak buahku datang ke sana, atas perintah ku, untuk meminta uang tebusan, tapi tidak kusangka, ternyata orang yang kami ancam itu adalah tuan muda kalian, orang yang seharusnya tidak pantas kami singgung."
"Lalu setelah kau tahu siapa tuan muda kami itu, dan orang orangnya, apakah kau masih berani bermimpi untuk mendapatkan tebusan satu miliar rupiah itu?" Tanya Hans mengintimidasi
__ADS_1
"Kami tidak berani tuan!, jadi aku mohon, berilah kesempatan kepada kami sekali lagi untuk hidup, agar kami bisa memperbaiki diri, dan kami menyatakan tunduk kepada tuan."
"Tunggu apalagi!. Habisi orang orang tak berguna ini!" Ucap Hans keras, ketika memberi perintah kepada anak buahnya, dengan wajah dingin dan tegas
"Tu.. tu..tu.. tuan..kumohon!
Belum sempat menyelesaikan kata katanya, Raka dikejutkan dengan pemandangan yang terjadi di depannya, dengan begitu sadisnya, seluruh anak buah Raka dibantai oleh orang orangnya Hans, tanpa belas kasihan sedikitpun, maka...
Slash!
Slash!
Jleb!
Jleb!
Secepat kilat 20 anak buah Hans mengerjakan perintah dari bosnya. Dengan menggunakan belati sepanjang 30 centimeter, mereka menghabisi anak buah Raka, dengan cara menusuk, menebas dan memenggal kepala mereka
Selain dipersenjatai dengan belati itu, anak buah Hans, juga dilengkapi dengan revolver kaliber 10, yang berisi 10 peluru, tapi jarang sekali mereka gunakan, jika tidak dalam keadaan terdesak
Kali ini untuk menghabisi Raka dan seluruh anak buahnya, mereka cukup menggunakan belati itu saja
Tapi hasilnya sangat luar biasa, tidak sampai 1 menit, seluruh anak buah Raka telah mati, yang tinggal saat ini adalah Raka sendiri, yang sedang berlutut di lantai dengan tubuh gemetaran
Kenapa mereka bisa terbentuk, dan berapa lama sudah berdiri. Dengan gamblang Raka menjelaskan duduk perkaranya, dari awal sampai akhir, dengan harapan agar nyawanya diampuni oleh Hans
Tapi seorang Hans, si tangan kilat, yang didampingi oleh Burgon, si mata dewa, pantang memberi ampunan pada orang lain, kalau alasannya tidak tepat
Maka dengan tangan dingin, Hans menghabisi nyawa Raka dengan sekali kibasan tangan nya, tetapi akibatnya, kepala Raka terlepas dari badannya, dan menggelinding mendekati kaki Hans
Hans yang sudah sangat kesal atas ucapan, tindakan dan perbuatan Raka tersebut, benar benar marah, tidak cukup dengan memenggal kepala Raka saja, kakinya melayang begitu saja, menendang kepala Raka sekuat kuatnya, hingga terbang, dan membentur dinding yang ada di depannya, sampai membuat kepala tersebut hancur saat itu juga
Setelah selesai mengeksekusi Raka dan seluruh anak buahnya, Hans memberi perintah." Bakar tubuh mereka semua, juga tempat yang mereka gunakan selama ini. Jangan ada jejak satupun yang tertinggal!" Ucap Hans tegas
"Baik bos!" Jawab anak buah Hans serempak, kemudian mengerjakan perintah dari bosnya tersebut
Sementara Hans dan Burgon, membawa tubuh Robin yang belum sadarkan diri itu, dan memasukkannya ke dalam mobil, lalu membawanya pergi
Sedangkan mobil Robin yang tadi sempat dibawa oleh anak buah Raka, dikendarai oleh anak buah Hans
Setelah selesai membumi hanguskan markas gerombolan pengacau, yang bermarkas di pinggiran kota B, mereka bergegas meninggalkan tempat itu dengan wajah yang terlihat puas
***
Keesokan harinya, setelah Dion bangun dari tidur nyenyaknya
__ADS_1
Sekitar jam 9.00 pagi, Hans dan Burgon, datang terburu buru mendatangi Dion, lalu menjatuhkan lututnya ke lantai, dengan wajah menghadap kearah Dion
Perbuatan kedua anak buahnya itu, tentu saja mengejutkan Dion, di hatinya penuh tanda tanya, untuk menjawab keingintahuan yaitu, Dion mengajukan pertanyaan kepada Hans." Ada masalah apa Hans, dan kau Burgon? kenapa begitu kalian datang, langsung berlutut di depanku?"
"Maafkan kami tuan muda, kami mengaku salah. Seharusnya malam tadi, kami memberitahu peristiwa yang sebenarnya kepada tuan muda."
"Coba ceritakan dengan jelas!. Jangan gugup seperti itu, agar aku paham."
"Waktu tuan tidak ada di vila sore menjelang magrib semalam itu, datang beberapa orang yang ke vila ini, dengan alasan ingin bertemu dengan tuan langsung. Mereka mengaku sebagai penghuni vila yang tidak jauh dari sini."
"Lalu..?"
"Ternyata mereka bukan salah satu penghuni vila disini tuan, mereka adalah gerombolan pengacau, atau preman kecil yang beroperasi di pinggiran kota B."
"Ketika tujuan mereka datang kesini tidak tercapai, karena dihalang halangi oleh ku juga yang lain, salah seorang diantara mereka melemparkan sesuatu, yang ternyata adalah surat, yang berisi ancaman."
"Maksudmu mereka mengancam ku?"
"Benar tuan!. Mereka menulis surat itu ditujukan untuk tuan, agar tuan mau menebus seseorang, yang saat itu mereka sandera, dengan uang tebusan sebesar 1 miliar rupiah."
"Seseorang, siapa itu?" Tanya Dion penasaran
"Rekan kami Robin tuan, si dewa kematian."
"Apa!. Bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan Robin, dan menaklukkannya, padahal dia sangat kuat."
"Itulah yang awalnya kami juga heran tuan, tapi setelah mereka menceritakan duduk permasalahannya, barulah kami mengerti."
"Ceritakan lebih jelas lagi!"
"Mereka melumpuhkan Robin dengan menggunakan asap tak berwarna, dan tak berbau, tapi mengandung bius, yang sangat kuat sekali, sehingga ketika dilemparkan ke dalam mobilnya, Robin menghisap asap itu, lalu pingsan"
"Setelah itu, mereka membawa lari mobil yang ditumpangi oleh Robin, berikut dengan orangnya. Setelah mereka mengetahui identitas siapa Robin, malalui surat atas nama tuan, dan tempat domisili tuan, maka mereka datang ke sini sambil mengantarkan surat ancaman tersebut"
"Lalu di mana Robin sekarang? apakah kalian meninggalkannya begitu saja?"
"Tidak tuan!. Kami sudah berhasil membebaskan Robin, tapi..."
"Tapi apa? Tanya Dion penasaran
"Kami sudah membunuh mereka semua tuan, dan membakar mayat nya, berikut dengan tempat yang mereka gunakan selama ini."
"Heemmm. begitu?. Baguslah kalau seperti itu. Tapi kenapa kalian tidak melaporkannya pada ku malam tadi?
"Maafkan kami tuan, kami tidak mau mengganggu istirahat tuan, maka kami berinisiatif untuk menyelesaikan sendiri, dan syukurlah, permasalahan itu telah selesai, karena hama pengganggu itu telah tamat riwayatnya!"
__ADS_1