Sang Pewaris Tunggal

Sang Pewaris Tunggal
Untuk apa uang itu


__ADS_3

"Tidak ada!. Cuma ingin menyampaikan niat mereka saja!" Jawab tuan Birawa cuek


"Niat apa kek?" Tanya Dion keheranan sekaligus penasaran, melihat sikap kakeknya itu yang lain dari biasanya


"Oh tentang itu?" Respon kakeknya cuek, dan sengaja seolah olah lupa dengan perkataannya barusan


"Tadi, salah seorang diantara mereka, berkeinginan agar kau bisa memberikan bantuan, dalam bentuk kerja sama antar dua perusahaan."


"Katanya perusahaan atau usaha yang mereka pimpin itu, saat ini tengah mengalami kesulitan."


"Jadi mereka ingin...?" Jawab tuan Birawa terputus, seperti sengaja menggantung kalimatnya sekali lagi, dengan niat ingin menggoda teman temannya


Semua orang yang melihat itu, tak terkecuali Dion, terdiam seribu bahasa. Menunggu kelanjutan perkataan dari tuan Birawa


Tapi semakin ditunggu, yang empunya cerita tidak kunjung mengatakannya


Kesal melihat itu, Delvin si penyebab cerita, memberanikan diri berkata." Maaf tuan besar kalau saya menyela!"


"Silakan paman!"Jawab Dion ramah


"Begini tuan besar!. Apa yang dikatakan oleh kakek tuan itu memang benar adanya."


"Perusaahan atau usaha kecil kami, memang sedang mengalami kesulitan keuangan, tapi kami tidak berniat melibatkan anda untuk menanggulangi kesulitan tersebut."


"Namun jika anda bermurah hati ingin membantu. Maka kami tidak berani menolaknya!" Ucap Delvin malu malu


"Hahahaha!. Cerdas! benar benar cerdas!" Respon tuan Birawa geli


"Tidak berniat menyusahkan, tapi tak mau menolak bantuan!"


"Itu apa namanya kawan?" Ledek tuan Birawa terus terang, sambil tertawa terbahak bahak


"Diam lah!. Jangan mengganggu bisnis orang tua. Pamali tau!" Ucap Delvin geram, tapi terkesan bermuka tembok


"Kalau mau pinjam uang bilang sajalah teman, jangan malu malu gitu!" Balas tuan Birawa tak mau kalah


"Ya lah!. Kami mengaku butuh bantuan, terutama dari cucu mu itu!" Sanggah Delvin berniat berdebat dengan sahabat baiknya tersebut


Walau usia mereka terpaut 10 tahun, tapi sikap Delvin tidak sungkan sungkan lagi pada tuan Birawa, karena mereka berkawan sejak kecil, tinggalnya pun bersebelahan rumah, waktu di kampung dulu


Dion yang melihat dan mendengar itu, hanya tersenyum saja, karena melihat, betapa bahagia kakeknya tersebut, ketika berkumpul bersama teman temannya


Sebenarnya Dion sudah tahu sejak awal, apa yang akan dikatakan oleh kakeknya itu, tapi dia sengaja mendiamkannya saja


Dion malah larut dalam permainan kata dari kakeknya, dan dia juga senang, karena kakeknya sengaja mengulur ulur waktu untuk menyambung perkataannya


Tapi ketika Delvin Terang terangan mengungkapnya, Maka Dion cukup memaklumi keinginan dari sahabat kakeknya itu


"Berapa yang paman butuhkan?. Katakan saja!" Ucap Dion tiba tiba


"Tak banyak tuan besar, cuma 109 juta saja!" Jawab Delvin malu malu


"Dolar atau rupiah?" Tanya Dion sekedar menegaskan


"Rupiah tentunya!" Jawab Delvin mantap


"Hahahaha!" Tawa teman temannya pecah


Kali ini bukan hanya tuan Birawa saja yang tertawa, tapi keenam temannya juga tertawa, tidak terkecuali Dion


"Untuk apa uang segitu Delvin?, membeli pisang goreng saja tidak cukup!" Ledek temannya menimpali, dan meremehkan uang ratusan juta itu


"Kau diam lah Irfan!. Itu urusan ku!" Respon Delvin marah


"Cie cie cie!. Ada yang marah nih!" Ucap Irfan membandel


"Kau juga satu Ir!. Orang sedang bernegosiasi masalah uang, malah kau kacau kan pula keadaannya!"


"Apa kau tidak merasa butuh bantuan dari tuan besar itu?" Ucap dan tanya Togar menengahi


"Siapa bilang aku tidak butuh bantuan?. Malah aku yang sangat membutuhkannya sekali!"


"Tapi ketika mendengar Delvin cuma berani meminjam 109 juta, siapa yang tidak akan tertawa mendengarnya?"


"Uang segitu cukup untuk buat usaha apa?"Tanya Irfan masih juga meremehkan


"Itu sudah lebih dari cukup kawan!, karena dari jumlah sebanyak itu, aku bisa mengembangkan usaha lain dalam hal kuliner." Jawab Delvin mantap

__ADS_1


"Ah terserah kau sajalah!" Sambut Irfan merasa kalah dalam berdebat


Dari dulu dia dan si Delvin itu, memang suka bertengkar walau dalam hal hal kecil, tapi tidak pernah sampai pecah kongsi


Mereka begitu, karena masing masing merasa hebat dari yang lain. Tapi begitu senior mereka masuk, maka pertengkaran mereka akan terhenti saat itu juga


"Hentikan!. Kalau kalian masih juga bertengkar, maka aku pastikan, bahwa tak satupun dari kalian, yang akan menerima bantuan dari cucu ku. Percaya itu!" Ucap tuan Birawa tegas, dan terkesan mengancam


"Janganlah begitu senior!. Kami yang hanya diam saja dari tadi, kenapa harus menerima konsekwensinya juga?" Ucap Tagor protes


"Kau lihatlah teman mu itu! dimana-mana selalu berdebat masalah sepele, termasuk di tempat pesta ini!" Jawab tuan Birawa kesal, tapi seperti dibuat-buat


"Tapi kami tetap protes kalau gara gara mereka berdua, kami tidak jadi mendapat bantuan!" Respon Tagor tidak terima


"Paman paman semua!. Keputusan kakek ku itu belum final. Masih ada kesempatan lain, untuk mendapatkan bantuan dari Birawa Group." Ucap Dion menimpali


"Benarkah itu senior Mahesh?" Tanya Tagor mulai lega


"Benarlah itu!. kau nya saja yang ketakutan, dan seperti kambing sedang kebakaran jenggot!" Jawab tuan Birawa membenarkan


"Hahahaha. Luar biasa! Ternyata dari tadi senior Mahesh hanya mempermainkan kita saja!" Reaksi Tagor lucu sambil tertawa


"Baiklah paman semua!. Sekarang katakan, berapa dana yang kalian butuhkan, untuk menghidupkan kembali perusahaan atau usaha kalian itu?" Ucap Dion tegas


"Saya 750 juta."


"Saya 2.5 milyar."


"Saya 370 juta saja."


"Saya 1.7 milyar."


"Saya 3 milyar."


"Bagaimana paman Delvin apakah masih tetap dengan jumlah semula?" Tanya Dion cepat, ketika melihat Delvin tidak mengutarakan maksudnya


"Tetap segitu tuan besar! Karena kami tidak sanggup untuk membayar bunganya." Jawab Delvin lemah


"Pinjaman itu tidak berbunga paman, tapi hanya berjangka." Respon Dion tegas


"Benarkah begitu tuan?" Tanya Delvin mulai penasaran


"Karena pinjaman itu bersifat sementara dan berjangka, maka silakan kalian tentukan sendiri, berapa lama kalian sanggup mengembalikan pinjaman tersebut?" Ucap Dion bertanya dan punya niat lain


"Kalau saya cukup 8 bulan saja, tapi tidak dibayar sekaligus." Jawab Delvin memulai cerita


"Apa tidak terlalu lama paman, bagaimana kalau satu bulan saja?" Reaksi Dion kurang senang


"Maaf tuan besar kalau saya lancang. Waktu sesingkat itu, apakah mungkin bagi saya bisa mengembalikan uang sebanyak itu?" Jawab Delvin mulai putus asa


"Aku rasa bisa!, karena sejak tadi, aku lihat paman orang yang paling semangat tentang masalah pinjaman itu."


"Jadi paman jangan bersikap pesimis, sebelum melakukannya!" Jawab Dion serius


"Baiklah kalau begitu tuan besar. Saya setuju dengan persyaratan itu." Sambut Delvin pasrah


"Bagus!. Itu yang aku tunggu dari tadi!" Respon Dion malah senang


"Huh!. Dasar lintah darat!" Batin salah seorang teman kakeknya dalam hati geram, dengan ekspresi gelisah


Dion yang melihat itu hanya tersenyum saja, dan tidak bersikap seperti biasanya


Dia hanya membiarkan saja kejadian itu terjadi, karena dia mempunyai rencana lain dibelakang mereka


"Lalu bagaimana dengan yang lain, apakah sudah memutuskan berapa lama jangka waktu yang dibutuhkan?" Tanya dion tiba tiba


"Tuan besar!. Jika pinjaman sejumlah itu, dikembalikan hanya dalam waktu satu bulan, tentu saja kami tidak sanggup!"


"Tapi kalau diberi waktu satu tahun atau lebih, mungkin kami bisa melunasinya semua." Jawab Wijaya meminta dispensasi


"Mungkin aku tidak bisa mengabulkannya paman. Karena jumlah yang akan dikeluarkan cukup banyak!"


"Jadi aku memutuskan memberi kalian waktu hanya satu minggu saja, untuk melunasi pinjaman itu!" Jawab Dion serius


"Apa tuan tidak salah!. Waktu sesingkat itu diberikan pada kami, sedangkan pada si Delvin satu bulan!"


"Ini tidak adil bagi kami tuan besar, senior Mahesh!" Ucap Wijaya protes

__ADS_1


"Kalian dengarkan dulu penjelasan dari cucu ku, jangan langsung menyimpulkan, sebelum dia selesai bicara. Salah itu!" Sanggah tuan Birawa mulai terpancing emosi


"Baik! baik!. Kami akan mendengarkannya." Respon Wijaya tidak enak hati


"Paman Wijaya!. Uang sejumlah 3 milyar itu, rencananya digunakan untuk apa?" Tanya Dion ingin kepastian, walau sebenarnya itu tabu untuk ditanyakan oleh penguasa sekaliber Dion


"Rencananya untuk membeli properti, yang akan diberikan pada calon menantuku." Jawab Wijaya berterus terang


"Calon menantu?. Apakah paman sudah yakin mereka akan berjodoh?" Tanya Dion geram


"Itulah masalahnya tuan besar!. Anak semata wayang ku, terus mendesak, agar dibelikan sebuah mansion mewah, yang akan dijadikan hadiah dalam perkawinannya nanti."


"Tapi sialnya, perusahaan ku sedang terancam gulung tikar, karena terus mengalami rugi."


"Apakah paman tahu penyebab ruginya perusahaan paman itu?"


"Jelas tahu tuan besar. Calon menantuku itu, setiap bulan terus meminta jatah bulanan dari anak ku, dan dia tidak bisa menolak keinginannya tersebut."


"Jadi mau tidak mau, dia terus menuruti keinginan dari calon suaminya tersebut."


"Apakah paman tidak bisa mencegah agar kejadian itu tidak terulang lagi?"


"Sudah tuan besar!. Tapi reaksi anak perempuan ku sangat ekstrim sekali. Dia mencoba bunuh diri, kalau tidak dituruti keinginannya."


"Ini masalah pemerasan!. Sebaiknya paman laporkan masalah itu pada polisi, atau serahkan saja pada kami untuk mengatasinya." Ucap Dion memberi usul


"Sudah pernah dicoba tuan besar, tapi orang tersebut selalu lolos, dan pandai berkelit dari jerat hukum."


"Dia mempunyai pendukung kuat di belakangnya. Berkali kali lolos walau sudah di tangkap, tapi tidak terbukti apa yang dilakukannya itu."


"Cukup menarik!"Respon Dion datar


"Kalau paman Togar bagaimana pula ceritanya?" Tanya Dion pada teman kakeknya yang ketiga


"Uang sebanyak 2.5 milyar itu akan saya gunakan untuk menebus ruko empat pintu, yang telah saya gadaikan senilai 780 juta rupiah."


"Sedangkan sisanya akan saya gunakan untuk mengisi ruko tersebut, dengan bahan sembilan bahan pokok."


"Sebuah rencana bagus!" Ucap Dion memuji dan mendominasi keadaan


Sedangkan kakeknya malah sibuk minum teh kesukaannya, bersama dengan Delvin serta Irfan yang sudah mulai bisa berdamai


"Paman yang lain!. Apakah kalian juga punya penjelasan?" Tanya Dion tegas, dan terkesan terburu buru karena sudah cukup lama bersama mereka


"Kasus kami hampir sama dengan kasus si Togar itu, cuma bedanya bukan menebus jaminan, namun ingin mengisi supermarket kami yang barangnya sudah mulai kosong."


"Kalau saya lain lagi tuan besar!. Dua penginapan besar yang saya miliki, fasilitasnya sudah sangat usang, hingga orang malas untuk datang ke sana."


"Jadi dengan pinjaman itu, saya berharap bisa mengganti sebagian fasilitasnya." Jawab Pambudi apa adanya


"Berapa pinjaman yang paman ajukan tadi?"


"1.7 milyar tuan besar!" Jawab Pambudi menjelaskan


"Kalau begitu, bagaimana kalau pinjaman tersebut saya batalkan?"


"Apakah paman sekalian kecewa?" Ucap Dion sekaligus bertanya


"Jelas kami sangat kecewa tuan besar!" Jawab seluruhnya serempak


"Ya mau diapakan lagi?. pinjaman kalian terlalu sedikit, dan itu tidak ada untungnya buat kami!"


"Maksud tuan?" Tanya mereka penasaran


"Bagaimana kalau aku memberikan uang, tapi bukan dalam bentuk pinjaman?"


"Masing-masing dari kalian, akan menerima 3 milyar rupiah secara tunai!"


"Kalau bukan pinjaman lalu apa namanya tuan besar?" Tanya Pambudi dan Wijaya keheranan


"Bantuan!" Jawab Dion cuek


"Maksud tuan besar?" Tanya Wijaya pura pura tidak mengerti


"Paman berdua tebak sendiri ya?" Jawab Dion enteng


"Ja..jadi?"

__ADS_1


"Ya!. Paman benar!. Uang sejumlah 3 milyar itu, akan diberikan pada kalian secara cuma cuma!. Jelas?" Jawab Dion tegas


__ADS_2