
Dor! Dor!
Prank!
"Dasar bodoh!. Kenapa kalian bisa ketahuan?" Ujar seorang wanita kisaran 30 tahun dengan mimik muka kurang senang, setelah memuntahkan dua buah peluru dari pistolnya
Akibat dari tembakannya itu, sebuah guci besar, hancur berkeping keping, diterjang peluru yang ditembakkan oleh wanita tersebut
"Kami tidak tahu nyonya!. Kemungkinan Denny dan si Komar itu terlalu mencolok dalam memata matai pemilik Birawa itu. Hingga dengan mudah kegiatan mereka diketahui." Jawab Parez takut takut
"Bukankah sudah kukatakan, lakukan pengintaian itu secara alami, tapi kenapa masih juga ketahuan oleh mereka?" Bentak Erviana kesal. Kemudian diam, mengambil nafas dalam, lalu berkata lagi
"Jika begini caranya. Bagaimana aku bisa membalaskan dendam, dan merebut kembali perusahaan yang seharusnya sudah menjadi milik ku itu?"
Prank!
Sebuah gelas kaca melayang kedinding, pecah berantakan di lantai, akibat dilemparkan oleh wanita yang sedang emosi itu
"Lalu bagaimana dengan anak buahmu yang lain. apakah mereka juga ketahuan?" Tanya Erviana masih dengan ekspresi kesal
"Mereka saat ini masih aman aman saja nyonya. Karena tugas mereka hanya mengarahkan, bukan ikut memata matai orang itu." Jawab Parez apa adanya
"Hubungi anak buahmu yang lain, agar sementara menghentikan kegiatan.Tarik seluruhnya dari lokasi, jangan menampakkan diri dulu!" Perintah Erviana tegas
"Baik nyonya!" Jawab Parez patuh. Kemudian meminta ijin untuk pergi dari ruangan itu, guna menghubungi bawahannya agar segera kembali ke markas
"Tunggulah kau Dion!. Kau boleh merasa menang saat ini. Gara gara anak buahmu, Melviano mati, dan aku gagal mendapatkan perusahaannya itu!" Ucap Erviana geram.Lalu diam sejenak, tak lama kemudian berkata lagi.
"Jangan kau pikir aku akan diam saja!. Kau terlalu meremehkan monster betina ini."
"Walau anak buah mu banyak, tapi kekuatan anak buahku, jauh melampaui kekuatan anak buah mu itu!" Ucapnya kuat, disertai dengan keyakinan yang sangat tinggi sekali
"Dengan dukungan suamiku. Aku akan memanfaatkannya untuk membuat perusahaan mu hancur!. Agar kau bisa merasakan, bagaimana sakitnya kehilangan orang yang disayang, juga kehilangan perusahaan mu!" Ucapnya garang, sambil menyeringai buas. Kemudian keluar dari ruangan, dan masih tetap menenteng pistol kebanggaannya tersebut
***
Sementara itu. Dion saat ini sedang berhadapan dengan puluhan manajerial mall. bahkan pemilik mall beserta dewan direksi, juga hadir disitu
"Apakah anda bisa bertanggung jawab, atas insiden penembakan itu?. Gara gara anak buah anda. mall kami menjadi sorotan publik. Bahkan pihak kepolisian sudah meminta klarifikasi pada kami!" Ucap Anggoro cukup kuat, seorang pemilik mall, sekaligus direktur utama mall tersebut
Sejenak dia mengambil nafas, dan menenangkan gejolak hatinya, agar tidak terlepas kendali. "Gara gara kejadian itu. pihak pengembang dan penanam modal besar di mall ini, berniat akan menarik balik modalnya!"
"Jika hal itu sampai terjadi. maka andalah yang harus bertanggungjawab!" Ucapnya terkesan marah
"Siapa namamu?. dan berapa harga mall ini. sebutkan saja!" Jawab Dion dingin bercampur kesal
"Apa!.Kau ingin membeli mall ini?. Apakah anda sedang tidak bercanda?" Tanya Anggoro terkejut
"Kalau ya kenapa?" Respon Dion cepat
"Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk membahas hal yang tidak perlu disini. Dan aku tidak suka terlalu banyak basa basi!. Cepat kau sebutkan, berapa harga yang kau inginkan, agar mall ini menjadi milik ku!" Jawab Dion tegas
"Bukan begitu juga teman!. kami hanya ingin meminta pertanggungjawaban mu, itu saja!" Respon Anggoro tidak enak hati
__ADS_1
"Pertanggungjawaban bagaimana yang kau inginkan?. Apakah kau ingin meminta ganti rugi atas insiden itu?."
"Ya. anda benar!" Jawab Anggoro tanpa ditutup tutupi lagi
"Kalau begitu!. Kenapa kau tidak jual saja mall ini, agar kau tidak menanggung rugi serta tuntutan dari pihak luar?"
"Kau sebutkan saja berapa harga nominal mall mu ini. Aku jamin dalam beberapa detik, kerugian mu sudah terbayar lunas!" Ucap Dion dengan suara tegas
"Siapa sebenarnya anda?" Tanya Anggoro dengan ekspresi khawatir
"Kau tidak perlu tahu siapa aku!. Yang perlu kau tahu adalah, aku tidak suka berbasa basi!. Itu saja!" Jawab Dion dengan ekspresi dingin
Anggoro tidak langsung menjawab. Dia malah memandang seluruh anak buahnya tersebut, seperti sedang meminta pendapat dari mereka
Tapi semakin dipandang , mereka semakin menunduk diam ,dan tak tahu mau jawab apa, karena mereka hanya karyawan bawahan Anggoro, walau status mereka sebagai petinggi mall
Sebaliknya di pihak Anggoro, keningnya berkerut semakin dalam, tanda bingung mau jawab apa. Dalam hatinya membatin. "Jika aku jual mall ini, lalu apa lahan usahaku lagi?. Karena hanya mall inilah, satu satunya usaha yang ku miliki."
Tapi jika dia tetap bertahan tidak mau menjualnya, maka kerugian yang dia tanggung akan semakin besar
Anggoro tahu dampak yang ditimbulkan dari kejadian tersebut. Dalam beberapa bulan, jumlah pengunjung pasti akan turun, karena mereka merasa takut, kejadian itu akan terulang lagi, dan mungkin akan menimpa mereka
Memikirkan semua itu. tanpa pikir panjang lagi, Anggoro langsung berkata
"JIka anda sanggup membayar dengan harga 4,7 triliun, maka mall ini beserta isinya akan menjadi milik anda!" Ucapnya sinis, ingin mencoba menggertak Dion
"Berikan nomor rekening mu!" Respon Dion cepat
"A..apa?" Respon Anggoro terkejut
B..ba..baik!" Jawab Anggoro gugup, serta malu malu
Tak lama kemudian. Hanya dalam tempo singkat, bahkan tak sampai satu menit. masuk sebuah notifikasi ke handphone Anggoro, yang menyatakan bahwa uang sejumlah 4.7 triliun, telah masuk ke rekeningnya nya
"I..I..ini!. Bagaimana mungkin?" Ucap Anggoro terbata bata
"SI si siapa sebenarnya anda?. Kenapa anda tidak melakukan tawar menawar, tapi langsung saja menyetujui harga yang saya sebutkan itu?" Ucap Anggoro keheranan
"Sudah aku katakan!, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk meladeni hal sekecil ini." Jawab Dion dengan sikap angkuhnya itu. Lalu berdiri dari kursinya dan berkata.
"Untuk masalah serah terima dan pengurusan surat suratnya, nanti akan ditangani oleh orang orang ku!."
"Permisi?" Ucap Dion datar
"Tuan!. Mohon maafkan sikap kami pada anda. Kalau boleh kami tahu, dengan siapa kami sedang berhadapan?" Tanya Anggoro dengan sikap sopan nya itu
"Dion Mahesa Birawa!. Cucu tunggal pemilik Birawa Group. Pewaris dan pemilik perusahaan itu sekarang!" Jawab Dion dengan ekspresi dingin. kemudian bergegas meninggalkan kantor Anggoro, tanpa mengulangi kata permisi lagi, karena sudah terlalu kesal
Bam!
Bagai mendengar petir disiang bolong. Semua orang yang ada didalam kantor Anggoro terkejut. tidak terkecuali Anggoro sendiri
Sungguh mereka tidak menyangka. akan bermasalah dengan pewaris sekaligus pemilik Birawa Group, yang sudah sangat terkenal itu
__ADS_1
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Perkara sudah terjadi. Mau tidak mau mereka harus menanggung konsekwensinya.
Apakah akan dipertahankan, atau harus dipecat. karena sikap arogan mereka sebelumnya pada Dion
Memikirkan semua itu, dua puluh dua orang petinggi mall, termasuk juga general manajernya. memandang kearah Anggoro, mantan bosnya tersebut, seperti ingin meminta pendapat
"Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pemilik baru itu, Statusnya tidak biasa."
"Kalian sendiri tahu, siapa dia itu, dan bagaimana Birawa Group berkiprah dalam bisnis yang menggurita. Kita hanya debu yang menempel didinding perusahaannya saja!"
"Jadi aku tidak bisa menolong nasib kalian nanti!" Ucap Anggoro putus asa
"Matilah kita!. Tadi aku sempat mengintimidasi orang itu." Ucap seorang Deputy general manajer mall itu khawatir
"Aku juga sempat menunjuk mukanya tadi." Sambung seorang manajer layanan bangunan dengan nada gemetar
"Apapun yang terjadi. Aku pasrah!" Sambung seorang manajer HRD dengan raut muka masam dan pasrah
"Kau ini bagaimana Tono?. Kenapa tidak mengabarkan pada kami siapa tuan itu tadi. Ha!" Bentak Anggoro kesal pada
kepala satpamnya itu
"Saya mana tahu pak!. Tugas kami hanya untuk menangani keamanan mall ini. bukan untuk menginterogasi orang, kecuali kalau orang itu berbuat salah!" Ucap Tono membela diri
"Sama saja!. Intinya dengan kau membawa orang itu kemari, karena perbuatan anak buahnya itu, kita semua jadi susah, bahkan bakalan dipecat!. Tahu kau?" Bentak seorang manajer pemasaran gusar
"Itu sudah resiko pekerjaan pak!. Kalau kita bersikap baik. ya selamatlah!. Tapi kalau sudah menyinggung orang seperti itu, maka bersiap siaplah untuk dipecat!" Jawab Tono cuek, dan pergi begitu saja dari dalam kantor mantan bosnya itu
"Mau kemana kau?. Jangan kurang ajar seperti itu!.Kau harus bertanggung jawab!" Teriak seorang manajer keuangan pada satpam mall itu
"Berani melangkah sedikit saja, kau akan kami pecat!" Ancam nya garang
"Pecat?. Apakah kau tidak sadar posisimu saja sedang terancam, malah mau memecat ku, Mimpi!" Balas Tono dengan sikap cueknya itu. Lalu benar benar pergi meninggalkan mereka
"Dasar kurang ajar!. Berani beraninya dia meninggalkan kita begitu saja!. Dasar manusia tidak tahu balas budi!". Maki seorang manajer pemasaran mall itu kesal
"Biarkan saja!. Jangan terlalu dipikirkan. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah nasib kita sendiri. apakah tetap dipakai atau dipecat setelah acara serah terima mall ini." Respon seorang manajer keuangan menenangkan teman temannya
"Nanti setelah kita tahu posisi kita, baru kita buat perhitungan dengan satpam itu!" Ucapnya lagi seperti berharap, bakal dipakai lagi oleh pemilik baru mall tersebut
***
Selagi mereka terus berdebat, akan segala kemungkinan, yang akan mereka hadapi. Dion menghubungi James, Shio Lung dan Erisha untuk datang ke mall, di lokasi yang sudah dia kasi tahu itu.
Tak sampai setengah jam, ketiganya sudah sampai ke tempat yang sudah ditunjuk itu. dan langsung menuju ke kantor Anggoro, didampingi oleh tiga puluh orang pengawal elit, untuk melakukan proses serah terima
Setelah segala surat menyurat ditandatangani oleh kedua belah pihak. disaksikan oleh dua orang notaris, dan satu orang pengacara daerah. Shio Lung berkata.
"Tuan besar sudah memerintahkan kepada kami, agar memecat semua petinggi mall, termasuk seorang satpam di mall ini."
"Jadi silakan kalian bersiap siap, untuk meninggalkan mall ini sekarang juga!? Ucapnya lagi
"Tuan!. Apakah tidak ada pertimbangan lain, agar kami tetap dipertahan di mall ini?" Tanya seorang Deputy general manajer mencoba keberuntungannya
__ADS_1
"Apa yang sudah diperintahkan oleh tuan besar, itulah yang harus kalian laksanakan!, dan tidak ada acara tawar menawar lagi!" Jawab James tegas
"Jadi Silakan tinggalkan ruangan ini, karena kami akan menggunakannya untuk bekerja!" Ucap Shio Lung dengan ekspresi dingin